√ Muassis NU Ke-23 KH Muhammad Ma'roef Kedunglo -->

Muassis NU Ke-23 KH Muhammad Ma'roef Kedunglo

Ibnu Rusyd
26 May 2021

Ad1

Ad2

KH. Muhammad Ma'roef Kedunglo - Beliau KH. Muhammad Ma'roef Kedunglo Muassis NU Ke-23 dalam Buku Muassis NU Manaqib 26 Pendiri Nahdlatul Ulama, karya Amriul Ulum, seperti apak itu lengkapnya, langsung saja.

Syaikhona Kholil pernah dawuh tentang sosok Kiai Muhammad Ma'roef: 

"Ini orangnya yang akan menghabiskan Ilmuku" (Syaikhona Kholil)

Garis Keturunan


Nama Kiai Muhammad Ma'roef tidak asing di kawasan Jawa Timur, terlebih untuk Kota Kediri. Beliau adalah seorang ulama yang alim, yang menguasi Ilmu Lahir dan Batin dan doanya dikenal mustajab serta banyak mempunyai karamah.

Kiai Muhammad Ma'roef atau yang lebih akrab dipanggil Mhab Ma'roef Kedunglo lahir pada 1852 di Dusun Klampok Arum, Dsa Badal Ngadiluwih Kabupaten Kediri. Beliau adalah keturunan ulama yang Alim, yaitu Kia Abdul Majid yang merupakan pendiri Pondok Klampok Arum, selatan Masjid Badal. 

Muassis NU Ke-23 KH Muhammad Ma'roef Kedunglo

Ayahnya ini merupakan sosok yang sangat dihormati dan ditokohkan di daeranya. Kia Abdul Madjid merupakan ahli tirakatan (Riyadhah), sehingga tidak mengherankan jika kelak anaknya juga akan menjadi orang yang ahli riyadhah.

Kia Muhammad Ma'roef adalah anak kesembilan dari sepuluh bersaudara. Terdiri dari tiga perempuan dan tujuh laki-laki. Keseluruhan anak kiai Abdul Majid adalah; 

  1. Nyai Bul Kijah, 
  2. Kiai Muhajir, 
  3. Kia Ikrom, 
  4. Kiai Rohmat, 
  5. Kiai Abdul Alim, 
  6. Kiai Jamal, 
  7. Nyai Mustaqin, 
  8. Kiai Abdullah, 
  9. Kiai Moh. Ma'roef dan
  10. Nyai Suratun

Riwayat Pendidikan


Mualnya Kia Muhammad Ma'roef belajar ilmu agama kepada kedua orang tuanya. Masa-masa ini dilaluinya hanya sebentar. Ibunya telah wafat ketika umur beliau masih kecil. Kemudian tidak lama dari kewafatan ibunya, Kia Abdul Majid juga ikut menyusul istri tercintanya. Beliau menjadi yatim piatu yang diasuh oleh kakak sulungnya, Nyai Bu Kijah.

Selama mengasuh Kiai Muhammad Ma'roef, Nyai Bul Kijah sering mengeluh sebab adinya tidak kunjung bisa membaca Al-Qur'an. Untuk menanggulangi masalah ini, Nyai Bul Kijah menyuruhnya untuk ridadhah puasa Senin dan Kamis supaya hatinya terbuka dengan hidayah Allah. Perintah itu dilaksanakan Kiai Muhammad Ma'roef dengan penuh ketaatan. Akhirnya, atas izin Allah, beliau terbuka mata hatinya. Beliau bisa membaca al-Qur'an dengan baik dan benar. Nyai Bul Kijah merasa sangat bahagia.

Setelah menerima pendidikan dari kakak sulungnya, Kia Muhammad Ma'roef melanjutkan belajarnya ke daerah Cepoko Nganjuk. Jarak antara rumahnya dari Pesantren Cepoko ini ditempunya dengan jalan kaki karena kondisi ekonominya yang saat itu memprihatinkan. Di Pesantren Cepoko ini, beliau belajar kepada Kiai Muh.

Setelah di Pesantren Cepoko, Kiai Muhammad Ma'roef tirakatnya luar biasa. Sering kali, beliau hanya makan seminggu sekali, tepanya ketika hari Jum'at tiba. Itupun makannya dari sisa-sisa intip (Nasi hangus) hasil masakan para santri yang ada di dapur pesantren. Terkadang hanya untuk menjanggal perutnya, beliau memakan buah pace yang ditanamnya sendiri di lingkungan pesantren. Beliau juga terkadang bekerja di ladang orang untuk memanjatkan kelapa dengan upah sebutir kelapa yang bagus.

Karena merasa iba dan kasihan, sang pemilik ladang kelapa akhirnya memberikan sebagian ladangnya kepada Kia Muhammad Ma'roef untuk ditanami kelapa sendiri supaya hasilnya nanti bisa dinikmatinya untuk biaya selama hidup di pesantren. Kia Muhammad Ma'roef belajar di Pesantren Cemoko ini kurang lebih selama tujuh tahun. Ilmu-ilmu dari Kiai Muh bisa diserapnya dengan baik.

Setelah menjalani pendidikan di Pesantren Cepoko asuhan Kiai Muh, Kiai Muhammad Ma'roef melanjutkan belajarnya menuju Pesantren yang ada di daerah semarang. Tepatnya beliau Mondok di Pesantren Kiai Shaleh Darat yang terkenal dengan kealimannya di bumi Jawa. Beberapa santri Kiai Shaleh Darat yang menjadi ulama besar kelak adalah : 
  • KH. Hasyim Asy'ari (kelak yang menjadi Rais Akbar Nahdlatul Ulama), 
  • Kiai Ridwan Mujahid Semarang (Kelak yang menajadi Mustasyah Nahdlatul Uama), 
  • Kiai Raden Asnawi Kudus dan 
  • Kiai Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis (kelak yang mendirikan organisasi Muhammadiyah), 

Beliau belajar di Pesantren Shalah Darat selama dua Tahun.

Dari pesantren yang diasuh Kia Shaleh Darat, KH. Muhammad Ma'roef kemudian melanjutkan belajarnya menuju daerah Tuban, tepatnya di Pesantren Langitan. Di Pesantren Langitan ini, beliau hanya bermukin selama setahun. Setelah itu, beliau kembali ke Kampung halamannya, waktu itu, umur beliau sudah memasuki usia tiga puluh tahun.

Ketika sudah bermukim di tanah kelahirannya sosok Kia Muhammad Ma'roef menjadi perhatian salah seorang Kiai. Kiai itu adalah Kyai Shaleh Banjar Mlati. Kia Shaleh Banjar Mlati ini sangat tertarik dengan sosok Kiai Muhammad Ma'roef yang sudah lama mengembara dalam dunia pesantren. Akhirnya, Kiai Shaleh Banjar berniat menikahkan putrinya yang bernama Nyai Hasanah dengan Kiai Muhammad Ma'roef.

Pernikahannya dengan Nyai Hasanah tidak menyurutkan niat Kiai Muhammad Ma'roef untuk melanjutkan menuntut ilmu. Dengan bekal dari mertuannya, beliau melanjutkan belajarnya ke pesentren kedemangan Bangkalan yang diasuh oleh Syikhona Kholil (Mbah Kholil). 

Syaikhona Kholil merupakan ulama legendaris madura yang terkenal dengan kewaliannya. Konon, untuk menuju Pesantren Syaikhona Kholil, beliau ketika menyebrangi lautan yang membelah pulau Jawa dan madura dilaluinya dengan berenang. Kedatangan beliay ke Kedemangan ini diketahui oleh Syaikhona Kholil Bangkalan. Sehingga, beliau langsung menyebutnya sendiri. Syaikhona Kholil pernah dawuh tentang sosok Kiai Muhammad Ma'roef: "Ini orangnya yang akan menghabiskan Ilmuku".

Membangun Rumah Tangga


Selama hidupnya, Kiai Muhammad Ma'roef pernah menikah beberapa kali. Namun istri beliau yang memberi keturunan banyak adalah Nyai Hasanah, Putri Kiai Shaleh Banjar Mlati. Dari pernikahannya ini, beliau diberi sembilan keturunan, yaitu, Nyai Musthoinah, Kiai Moh. Yasin, Nyai Aminah, Nyai Siti Saroh, Siti Asiyah, Nyai Romlah, Kiai Abdul Madjid, Kiai Ahmad Malik, Qomaruzzaman (wafat ketika masih kecil).

Dengan istrinya yang bernama Nyai Maunah dari Klampok Arum Badal, Kiai Muhammad Ma'roef dikaruniai Putri yang bernama Fatimah. Dengan Istri yang bernama Nyai Msyrifah dari Sanggrahan, Kiai Muhammad Ma'roef dikaruniai dua putra, yakni : Moh. Zainuddin (wafat ketika masih kecil) dan Maimunah.

Mendirikan Pesantren


Usai menamatkan belajarnya dari Pesantren Kholil, Kiai Muhammad Ma'roef berkeinginan mendirikan pesantren. Dalam memilih tempat yang akan dibangun pesantren, beliau sangat berhati-hati. Supaya mendapatkan petunjuk, daerah mana yang cocok, beliau membaca Sholawat Nariyah sebanyak 4.444 kali. Akhirnya, beliau mendapatkan petunjuk Allah untuk membangun sebuah pesantren disebelah barat sungai Brantas di antara dua jembatan kembar.

Ada beberapa alasan mengapa Kiai Muhammad Ma'roef memilih membangun pesantrennya dekat dengan sungai Brantas, yaitu, Pondoknya nanti akan memiliki beberapa keistimewaan. Pertama, dekat pasar, kedua, dekat sungai, ketiga, apabila ke arah timur, dekat kota. Tanah yang hendak didirikan pesantren Kiai Muhammad Ma'roefini, akhirnya dibeli oleh mertuanya dan dberikan kepada beliau untuk dijadikan sebagai pesantren. Pesantren itu diberinya nama Kedunglo, nama Kedunglo berasal dari kondisi tanah yang waktu itu berupa kedung, semacam danau dan di sana terdapat pohon lo yang besar. Sehingga, dari nama Kedunglo ini, beliau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Ma'roef Kedunglo.

Mendengar Kiai Muhammad Ma'roef mendirikan pesantren, banyak santri yang berduyun-duyun untuk belajar kepadanya. Anehnya, meskipun animo masyarakat tinggi untuk belajar kepadanya, namun beliau itu karakternya tidak suka mempunyai banyak santri. Saat ditanya, mengapa beliau tidak suka mempunyai banyak murid, beliau menjawab: "Aku tidak memelihara banyak santri, disamping repot, kalau punya banyak santri, pondok ini jadi kotor. Karena itu saya mohono kepada Allah, agar santri saya tidak lebh dari 40 orang. Kalau lebih dari lima puluh, ada yang ndugal (nakal) dan akhirnya pondok ini jadi rusuh".

Memang benar, setelah diteliti, santri Kiai Muhammad Ma'roef tidak pernah lebih dari 40 orang, kalau lebih dari empat puluh orang, pasti ada yang berhenti dan pulang. Santri-santri beliau kebanyakan menjadi orang alim dan sakti, sebab beliau sendiri yang mendidik dan memantau langsung para santinya. Santri-santri beliau yang mejadi orang besar antara lain adalah Kiai Dalhar (Watu Congol Magelang), Kiai Musyafak (Kaliwungu Kendal), Kiai Dimyati (Tremas, Jawa Timur), Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Mubasyir Mundir, Kiai Marzuqi (Solo), dan KH. Maimoen Zubair 9Sarang Rembang).

Gemar Mengamalkan Sholawat


Bagi seorang Musim, membaca Shalawat merupakan sebuah keharusan sebab bacaan shalawat ini juga menjadi bacaan yang dibaca di dalam shalat, yakni, ketika melaksanakan Tasyahud.

Membaca Shalawat bagi KH. Muhammad Ma'roef tidak hanya di saat mengerjakan Shalat, namun, lebih daripada itu. Kiai Muhammad Ma'roef menyuruh keluarganya untuk mengamalkan bacaan shalawat "Shallallohu ala Muhammad". Ada yang diwajibkan membaca shalawat sebanyak 100 kali, 1.000 kali dan 10.000 kali, semua in tergantung dengan usia dan kemampuan yang bersangkutan.

Dari cintanya Kia Muhammad Ma'roef dengan amalan shalawat, maka tidak mengherankan jika kelak ada salah satu keturunannya yang menciptakan Sholawat Wahidiyah yang banyak diamalkan oleh umat Islam.

Tatkala ada tamu-tamu yang sowan kepada Kiai Muhammad Ma'roef dan mereka meminta ingin mengamalkan sebuah doa darinya, maka beliau cukup memerintahkan mereka utnuk mengamalkan sebuah sholawat saja.

Musytasayar NU dan Mendoakan para Pejuang


Ketika KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Wahab Hasbullah serta beberapa ulama pesantren lainnya mendeklarasikan beridirnya Nahdlatul Ulama, Kiai Muhammad Ma'roef mendapatkan kehormatan untuk menjadi Anggota Dewan Mustasyar bersama dengan KH. Raden Asnawi, KH. Raden Hambali, KH. Ridwan Mujahid, dan Syaikh Al-Ghanaim al-Mishri.

Di Nahdlatul Ulama, KH Muhammad Ma'roef dikenal sebagai sosok yang alim dan terkenal mujarab doanya. Beliau sering dimintai untuk membcakan doa di beberapa muktamar yang diselenggarakan oleh NU. Ketika Bahstul masail yang diselenggarakan Nahdlatul Ulama mengalami jalan buntu, maka saat permasalahan itu disowankan kepada KH. Muhammad Ma'roef Kedunglo akan menemui solusinya. Bahkan, beliau memberi tahu jawabannya itu ada di kita ini, halaman sekian. Begitulah kealiman KH. Muhammad Ma'roef Kedunglo.

Selain dikenal sebagai ulama yang alim serta mustajab doannya, KH. Mohammad Ma'roef juga dikenal sebagai seoran ulama yang ahli Hikmah. Saat Negara Indonesia sadang dalam kegentingan sebab datangnya Belanda yang memboceng NICA, banyak pejuang yang datang ke kediaman KH. Muahmmad Ma'roef untuk minta doa supaya dapat kebal senjata. Dengan bekal doa dari KH Muhammad Ma'roef, para pejuang menjadi lebih bersemangat untuk mengusir penjajah yang ingin menguasi Indonesia lagi dan banyak yang tidak mampu ditembak.

Kembali Ke Rahmatullah


Jika Allah mengasihi Hamba-nya, maka ketka nyawa hamba tersebut mau dicabut, maka Allah akan memberikan kabar terlebih dahulu sehingga hamba tersebut menyiapkan bekal berupa amal kebaikan. Malaikat Rahmah turun dari langit memberikan kabar gembira di saat detik-detik kematian-nya agar takut dengan mambawa janji-janji Allah yang berupa kanikmatan yang telah diperlihatkan kepadanya.

Ketika usianya menginjak 105 tahun, Kiai Muhammad Ma'roef terserang peryakit sehingga tidak kuat untuk mengerjakan shalat berjamaah di masjid. Sehingga tugas-tugas beliau untuk mengajar dilimpahkan kepada santrinya yang senior (Mbah Makhsum, Mbah Ruba'i, Mbah Mahfud dan Mbah Mukhsin).

Meskipun sakit, Kia Muhammad Ma'roef masih memikirkan pembangunan Pondoknya dan memikirkan sedekah, Sebab, selain membaca Shalawat, beliau juga gemar sekali bersedekah, anaknya pernah berkata kepadanya : "Pak, sakit-sakit kok mencari uang, buat apa?" Belaiu menjawab : "Ya Buat sedekah".

Kiai Muhammad Ma'roef wafat pada hari rabu Wage setelah Maghrib di bulan Muharram 1375 H./ 1955 M. Pada keesokan harinya, beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Kedunglo sebagaimana permintaaan beliau sebelum wafat.

Sumber bacaan :


Fadeli, H. Sulaiman dan Mohammad Subhan, S.Sos. Antologi NU, Buku Satu, Khalista Surabaya. 2020.

M. Solahuddin. Nakhoda Nahdliyyin. Nous Pustaka Utama Kediri. 2013

M. Solahuddin. Napak Tilas Masyayikh; Biografi Pendiri Pesantren Tua Di Jawa dan Madura. Buku Kedua. Nous Pustaka Utama. Kediri 2013

Zubair, KH. Maimoen Tarajim Masyiyikhi Al Ma'ahid Ad Diniyyah bi Sarang al Qudama' Al Anwar Rembang Tanpa Tahun

http://pengamalwahidiyah.org