√ Siapa Mujaddid Abad Ini ? -->

Siapa Mujaddid Abad Ini ?

Ibnu Rusyd
09 February 2021

Ad1

Ad2

Keputusan Masalah Ngadiluwih : Perihal Mujaddid

 

Dalam hati kita para pecinta kekasih Allah ingin mengatakan Siapa Mujaddid Abad Ini, Mujaddid Abad 21, Mujaddid Abad 20, Mujaddid Abad 19, Mujaddid Abad 14, Mujaddid Abad 13, dan seterusnya. Dalam kesepatan kali ini akan kami sampaikan Perihal Mujaddid sebagai salah satu permasalahan yang dijadikan keputusan Musyawarah yang terjadi di Ngadiluwih Kediri Jawa Timur Indonesia atau dikenal dengan istilah Piagam Ngadiluwih, adapun isinya keputusah sebagai berikut: 


Siapa Mujaddid Abad Ini


Pada tiap menghadapi abad Hijriyah, Allah SWT mengutus seseorang dengan tugas memperbaiki urusan-urusan agama (Islam), yang disebut dalam hadits Nabi di bawah ini : 


قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ اْلاُمَّةِ عَلَى رَأْسِ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُّجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا (رواه أبو داود والحاكم وصححه البيقى عن أبى هريرة رضى الله عنه) 


Dan Mujaddid, dalam melaksanakan tugasnya tidak ditentukan oleh dalil-dalil Nash  maupun dalil-dalil furu'.


Dalam satu qurun waktu, Allah SWT kadang-kadang menurunkan atau mengutus seorang saja Mujaddid, tetapi kadang-kadang lebih dari seorang.


Ghoutsu Zaman


Dalam hal lebih dari seorang, biasanya tiap Mujaddid mengemban tugas yang berlainan. Misalnya yang seorang Mujaddid bidang Fiqih, yang lain bidang tauhid dan tahqiq. Mujaddid yang mengemban bidang tauhid-tahqiq ini lazimnya disebut "Ghoutsu Zaman", yaitu ratunya para wali di qurun zaman itu. 


Imam Al Ghozali RA - Mujaddid Abad 5


Dan ada juga seorang Mujaddid yang sekaligus mengemban berbagai bidang (fikih, tauhid-tahqiq dirangkap sekaligus) seperti Imam Al Ghozali RA yang hidup di abad ke 5 hijriyah, yang sekaligus Beliau juga sebagai Ghouts Zaman dizamanya. 


Demikian pula : Syaikh Abdulloh Muhammad Bin All Baalawii Alhaddad (Shohibu Rotibul Haddad) adalah Mujaddid yang merangkap sekaligus bidang fikih dan bidang tauhid-tahqiq (THORIQOH AL-ALAWIYAH), dan juga sebagai Ghouts Zaman di zamannya. 


Fakhrurrozi Rofii, Mujaddid Abad 6


Masih banyak contoh-contoh lain: di abad ke 6 hijriyah kita kenal Fakhrurrozi Rofii, bidang fiqih dan Syaikh Muhyiddin Ibnu Arobi, bidang tauhid wat-tahqiq. Pada abad ke 11 kita kenal Syaikh Ahmad Ibnu Hajar dan Imam Muhammad Romli, bidang fiqih serta Ahmad al Umari an Naqshobandi, bidang tauhid Wattahqiq/bidang thoriqoh.


Demikian itulah yang diterangkan dalam Kitab-kitab Ghoyatut Talkhish, Yawaqit dan Al Bahjatus Saniyah.


وَفِىْ بُغْيَةِ اْلمُسْتَرْسِدِيْنَ: اَلْمُرَادُ بِمَنْ يُجَدِّدُ أَمْرَالدِّيْنِ مَنْ يُقَرِّرُ الشَّرَائعُ وَاْلاَحْكَامَ لَا اْلمُجْتَهِدُ اْلمُطْلَقُ (بغية : 6-7)


وَقَدْ يَكُوْنُ اْلمُجَدِّدُ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدٍ لِاَنَّ لَفْظَ مَنْ هُنَا لِلْجَمْعِ لَا لِلْمُفْرَدِ, فَنَقُوْلُ مَثَلًا عَلَى رَأْسِ ثَلَاثِ مِائَةٍ ابْنِ سُرَيْحٍ فِى اْلفِقْهِ وَاْلاَشْعَرِيُّ فِى الأُصُوْلِ وَالنَّسَائِى فِى اْلحَدِيْثِ (سراج الطالبين ثانى: 5-6)


Tentang Mujaddid atau Ghouts Zaman pada Kurun waktu sekarang ini, yaitu kurun menjelang abad ke-15 sebagai akhir abad ke-14, baik buku-buku ajaran Sholawat Wahidiyah maupun Muallif atau Pencipta Sholawat Wahidiyah sendiri tidak pemah manunjukan siapa orangnya yang manjadi Mujaddid tauhid. 


Baca Juga : Sejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah Ra


Namun menurut keyakinan sebagian pengamal Sholawat Wahidiyah, Mujaddid atau Ghouts Hadzaz Zaman (yang mengemban tugas bidang tauhid-tahqiq) adalah Wuallif atau Pencipta Sholawat Wahidiyah itu sendiri. Weskipun keyakinan ini hanya timbul dari khusnudhon saja, tetapi adalah khusnudhhon yang dilandasi dengan dasar-dasar yang positif dan nyata.


Dasar-dasarnya :


Pertama, Bahwa nama-nama para Mujaddid dari abad ke-1 sampai abad ke-12 hijriah yang tercantum dalam Kitab Ghoyatut Talkhis itu hanya berdasarkan khusnuddon saja dan bukan dari tahaqquq yang dibuktikan. 


Misalnya, Imam Jalaluddin menyebut nama Mujaddid di abad ke-3 adalah "fulan" au "fulan". Mujaddid di abad ke-4 adalah "fulan" au "fulan", dan seterusnya hingga abad ke-9, Kata auاو  itu menunjukkan bukti bahwa ketetapannya itu berdasarkan husnudhon saja.


Ke-dua, Bahwa Sholawat Wahidiyah dilahirkan dengan dilengkapi ajaran-ajaran yang praktis untuk mengetrapkan ajaran Islam yang mencakup bidang syariat dan haqiqot dengan menggunakan istilah Lillah-Billah, Lirrosul-Birrosuul dan Lilghouts-Bilghouts.


Adapun tehnik pengetrapannya ajaran yang demikian itu belum pernah ada dan belum pernah diajarkan oleh para ulama kepada khalayak umurn, sebelum lahirnya Sholawat Wahidiyah. 


Suatu contoh mengenai syarif at-haqiqot  sebagai  yang tercanturn dalam Kitab Syarah Atqiyaa' :


اَلشَّرِيْعَةُ وُجُوْدُ اْلأَفْعَالِ لِلَّهِ وَاْلحَقِيْقَةُ شُهُوْدُ اْلأَعْمَالِ بِاللَّهِ


Tentang Lillah-Billah, Lirrosul-Birrosuul yang sebelumnya sudah kita jelaskan di tulisan sebelumnya.


Baca Juga : Sholawat Wahidiyah dan Ajarannya


Langsung saja kita memasuki pembahasan tentang KESIMPULAN :


Wajarlah bilamana kita berkhus nuddhon bahma shohibul Wahidiyah sebagai Ghoutsu Hadzaz Zaman (Ghoutsu di qurun zaman sekarang ini), karena ajaran yang dibawakan selain bidang-bidang syari'fat, Beliau lebih-lebih mengutamakan bidang ma'rifat. Sama halnya dengan tanda-tanda yang di-pakai oleh para ulama sebagai dasar meyakinkan identitas seorang Ghouts yang terdapat pada Kitab-kitab tasawuf.


اِنَّ حَقِيْقَةَ الصُّوْفِىِّ فَقِيْهُ عَمِلَ بِعِلْمِهِ لَا غَيْرُ, فَأَوْرَثَهُ اللَّهُ بِعِلْمِهِ الاِطْلَاعَ عَلىَ دَقَائِقِ الشَّرِيْعَةِ وَأَسْرَارِهَا حَتَّى صَارَ أَحَدُهُمْ مُجْتَهِدًا فِى الطَّرِيْقِ وَالْاَسْرَارِ, كَمَا هُوَ شَأْنُ اْلأَئِمَّةِ اْلمُجْتَهِدِيْنَ فِى اْلفُرُوْعِ الشَّرْعِيَّةِ. (اليواقيت الثانى: 92)


kembali kepada Allah wa Rosulihi SAW secara konsekwen lahir batin, dengan rangkaian doa dalam, Sholawat Wahidiyah :


ففروا الى الله


(LARILAH KEMBALI KEPADA ALLOH) 


Yang dimaksud dengan doa "Fafirru Ilallah," yang diangkat dari firman Allah dalam Al Qur-an itu adalah : Kita sebagai pribadi, kita sebagai keluarga, kita sebagai bangsa Indonesia, bahkan sebagai masyarakat ummat manusia Jamiil 'Alamin tanpa pandang bulu, diajak atau dihimbau untuk sadar dan kembali kepada Alloh wa Rosulihi SAW, dengan melepaskan diri dari belenggu imperialisme nafsu yang senantiasa menjerumuskan kita dan yang sangat dikecam oleh Alloh wa Rosulihi SAW.


Demikian pula bahwa Ghouts senantiasa memikirkan keadaan umat dan masyarakat termasuk di dalamnya pribadi kita bangsa kita Indonesia dan Jamiil Alamin bahkan segenap makhluk Allah, terbukti dengan ajaran Beliau dalam Sholawat Wahidiyah pula :


اَللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْمَا خَلَقْتَ وَهَذِهِ اْلبَلْدَةْ.


Beliau selalu bijaksana dalam memberikan tuntunan dan adil dalam memberikan keputusan. Dalam memberlkan amanat atau fatwanya Beliau tidak pemah memihak, tidak pernah menyinggung atau mencemohkan pihak lain. 


Beliau senantiasa menyerukan persatuan dan kesatuan, tolong-menolong dan saling membantu disegala bidang. Mendahulukan mana yang lebih penting dan lebih banyak manfaatnya bagi masyarakat:


تقديم الأهم فالاهم - ثم الأنفع فالأنفع 


Diajarkan pula agar kita mengutamakan melaksanakan kewajiban dari pada menuntut hak :


يؤتى كل ذى حق حقه


Di dalam berbakti kepada Allah mengikuti jejak dan bimbingan Rosululloh SAW, seorang Ghouts mengerahkan segenap kemampuan dan kekuatannya terutama kekuatan dan kemampuan batiniyahnya, bermunajah ke hadirat Alloh, memohon rahmah dan maghfiroh atau pengampunan bagi Jamiil Alamin pada umumnya. Dengan ketulusan hati yang jujur dan ikhlas Beliau menyatakan dihadapan Alloh wa Rosulihi SAW dengan :


"Yaa Allah, demi kebesaran nama-MU dan kamuliaan nabi-MU Shollallohu Alaihi Wa Sallam, jika Engkau kehendaki, izinkanlah aku mengorbankan segala apa yang Engkau berikan kepadaku lahir maupun batin, sebagai pengorbanan untuk menebus kesejahteraan ummat manusia hamba-MU yang Engkau ridloi di dunia maupun di akherat. Yaa Alloh, aku bersedia memikul segala resiko yang bagaimanapun keadaamya, deml keselamatan dan kesejah-teraan para ummat".


Demikianlah lebih kurang jika kita baca bunyi hati nurani para Ghoutsu Zaman. Hal ini dapat kita simpulkan dari akhwaliyah para Beliau itu seperti yang diuraikan dalam kitab-kitab manaqib atau biografi mereka. Disebutkan pula diantaranya fungsi Ghoutsu Zaman dalam hubungan perjuangan Rohaniyah bagi segenap makhluk, sebagai berikut :


Siapa Mujaddid Abad Ini


لَوْلَا وَاحِدُ الزَّمَانِ يَتَوَجَّهُ اِلَى اللَّهِ فِى أَمْرِ اْلخَلَائِقِ لَفَجَأَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ فَأَهْلَكَهُمْ (تقريب الاصول: 53)


Artinya : "Jika tidak ada seorang "WAHIDUZ-ZAMAN" bertawajjuh memohon kehadirat Allah bagi perkara atau urusan segenap  makhluk, pastilah datang balak dari Allah yang mengejutkan makhluk dan membikin rusak mereka".


Demikianlah pentingnya fungsi Ghoutsu Zaman atau disebut juga Wahiduz Zaman atau Sulthonul Aulia' atau Quthbul Aqthob itu.


وَاَمَّا اْلغَوْثُ فَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ قُطْبٍ عَظِيْمٍ وَرَجُلٍ عَزِيْزٍ وَسَيِّدٍ كَرِيْمٍ يَحْتَاجُ اِلَيْهِ النَّاسُ عِنْدَ اْلاِضْطِرَارِ فِى تَبْيِيْنِ مَا خَفِىَ مِنَ اْلأُمُوْرِ اْلمُهِمَّةِ وَاْلأَسْرَارِ وَ يُطْلَبُ مِنْهُ الدُّعَاءُ وَهُوَ مُسْتَجَابُ الدُّعَاءِ .... الخ (جامع الاصول ص 4)


اِذَا مَاتَ الْقُطْبُ اْلغَوْثُ اِنْفَرَدَ اللَّهُ بِتِلْكَ اْلخَلْوَةِ لِقُطْبٍ اَخَرَ. (يواقيت ثانى ص: 80


Itulah hasil Keputusan Musyawarah Ngadiluwih Kediri yang di dalamnya membahas Perihal Mujaddid permasalahan ke 3 setidaknya bisa memberikan penjelasan Siapa Mujaddid Abad Ini tidak fokus membahas ; Mujaddid Abad 21, Mujaddid Abad 20, Mujaddid Abad 19, Mujaddid Abad 14, Mujaddid Abad 13, dan seterusnya, semoga bermanfaat.