√ Peranan Hati Dalam Kehidupan Manusia -->

Peranan Hati Dalam Kehidupan Manusia

Ibnu Rusyd
28 February 2021

Ad1

Ad2

Peranan Hati Dalam Kehidupan Manusia - Cara kerja hati nurani itu seperti apa, perlu kita ketahui bersama agar kita hidup di dunia ini bisa menjalankan dengan sepenuh hati. Tentunya dalam hati kita bertanya, seperti apakah Peranan Hati Dalam Kehidupan Manusia yang kita ketahui bersama. 

Dalam kesempatan kali ini akan kami sampaikan Peranan Hati Dalam Kehidupan manusia diambil dari Bahan Up Grading Da'i Wahidiyah Bagian A, yang menjelaskan secara jelas Peranan Hati Dalam Kehidupan manusiasemoga bermanfaat sebagi berikut:

Daftar Isi :

1. Pengertian Hati Nurani
2. Peranan Hati Nurani Dalam Kehidupan Manusia
3. Fungsi Hati Nurani Dalam Kehidupan Manusia
4. Metode - Metode Penjernihan Hati
5. Kesimpulan

Pengertian Hati Nurani 

Hati nurani adalah suatu proses kognitif yang menghasilkan perasaan dan pengaitan secara rasional berdasarkan pandangan moral atau sistem nilai seseorang sebagimana dalam wikipedia.org.

Kemudian bahwa Kenyataan manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam dua badan yaitu badan jasmani dan badan rohani. Dan masing-masing kedua badan jasmani dan rohani tersebut mempunyai tuntutan kebutuhan sendiri-sendiri yang kedua-duanya harus dipenuhi. Semua manusia pasti menginginkan kebahagiaan hidup lahir dan batin, di dunia dan di akhirat. 

Adalah suatu kenyataan yang tidak dapat diingkari lebih-lebih dihapus bahwa kebahagiaan hidup itu bisa dirasakan jika terdapat ada keseimbangan dan keserasian antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. 

Dengan kata lain kebutuhan rohani harus dipenuhi seimbang dan serasi dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Kalau hanya salah satu atau ya keduanya akan tetapi tidak selaras, tidak serasi, maka jelas tidak mungkin bisa mengenyam kebahagiaan yang diinginkan itu. 

Kebutuhan rohani tersebut dapat dirumuskan dalam bentuk atau suasana rasa selamat rasa aman, rasa tenang dan rasa tentram. Sedangkan kebutuhan jasmani hanya menghasilkan rasa senang dan puas yang sifatnya sangat relatif dan sementara sekali.

Alloh SWT mengutus para Rasul dan para Nabi sejak Nabi Adam 'ala Nabiyyina wa 'alaihis sholaatu wasallam sampai Rasul yang terakhir yakni Junjungan kita Nabi Besar Muhammad Rasuululloh shollalloohu 'alaihi wa sallam dengan dibekali kitab-kitab suci yang memuat berita-berita samawi, tidak lain adalah untuk menyampaikan konsepsi Allah dan untuk membimbing ummat manusia menuju kepada kebahagiaan hidup lahir batin dunia sampai Akhirat yang menjadi tuntutan setiap insan. 

Itulan yang dibawa dan disampaikan oleh Nabi Besar Muhammad Rasuulullah shallalloohu 'alaihi wasallam dan ditujukan atau diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia. Suatu rahmat atau kasih sayang Allah yang diperuntukkan bagi seluruh alam semesta. Alam manusia, alam jin, alam musyahadah, alam Malakut, alam dunia dan alam ukrowi.
 
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ

Artinya kurang lebih : "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia." (Q Surat Ke-34 Saba' Ayat 28)

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Artinya kurang lebih : "Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. "(Al Qur'an Surat Ke 21 Surat Al Anbiya' Ayat 108)

Peranan Hati Nurani Dalam Kehidupan Manusia

Hati nurani pastinya pasti punya peranan yang sangat penting, pada titik berat konsepsi Islam yang bertujuan membahagiakan manusia tersebut diletakkan di dalam hati manusia. Sebab hati manusia itulah yang menjadi motor penggerak segala aktifitas hidupnya, segala gerak dan laku manusia. Hati merupakan kendali dari pada segala macam perbuatan. 

Perbuatan yang baik dan menguntungkan keluar dari dan digerakkan oleh hati yang baik. Perbuatan buruk dan jahat yang merugikan juga dikomando oleh hati yang jahat. Hati yang jahat yaitu hati yang diliputi oleh lumpur kotor dari bentuk ananiyah,  'ujub, riyak dan takabbur.

"Ananiyah" adalah sikap "ke-akuan" atau egosentris yang memproduksi 'ujub, riyak, takabbur dan sebangsanya yang di dalam Islam disebut sebagai suatu unsur yang menjadi perusak nilai-nilai amal dalam pandangan Alloh dan oleh karena itu membawa akibat kerugian dan kerusakan bagi ummat manusia.
'Ujub, didefinisikan sebagai:

اَلْعُجْبُ أَنْ يَرَى أَنَّ لَهُ حَوْلًا وَقُوَّةً

yaitu sikap mental yang mengaku atau merasa bahwa dirinya memiliki kemampuan atau kekuatan sendiri, tidak menyadari bahwa kekuatan dan kemampuan tersebut adalah pemberian dari Alloh SWT. Itu-lah 'ujub perusak nilai amal.

Jika perasaan mempunyai kekuatan atau kemampuan sen-diri itu mengembang menjadi rasa mempunyai kelebihan dari pada orang lain, namanya takabbur. Adapun riyak, adalah pendemonstrasian 'ujub itu kepada lain orang, pendemonstrasian secara nyata ataupun secara samar-samar.

Sikap hati kotor yang jahat seperti itulah yang menjadi sumber dan penyebab utama manusia tidak memperoleh rasa kebahagiaan. Refleksi dari pada sikap hati kotor seperti itu terwujud dalam bentuk perbuatan semena-mena sesuka hatinya. Tidak peduli apakah merugikan orang lain atau masyarakat, yang penting aku senang, aku maunya begitu, pokoknya aku puas. Segala sesuatu diukur menurut kemauan dan kesenangan nafsunya. Biar orang lain menderita, biar orang lain rugi, itu salahnya sendiri.

Kebahagiaan bukan hanya sekedar rasa senang karena kebutuhan jasmaninya tercukupi, karena kepentingan jasma-ninya yang bersifat kebendaan terpenuhi. Bukan hanya itu. Malah, banyak sekali kejadian dalam kehidupan bahwa terpenuhinya kebutuhan jasmani itu justru mendatangkan hancurnya rasa kebahagiaan. Kebahagiaan adalah perpaduan dari pada rasa senang, rasa puas, rasa aman dan selamat, rasa tenang dan tentram. 

Rasa senang dan puas atau ada yang menyebutnya "enjoy life" bisa ditimbulkan dari kecu-kupan kebutuhan fisik yang bersifat kebendaan dan materi-alis. Akan tetapi rasa selamat, rasa aman, rasa tenang dan tentram hanya dapat dimiliki oleh hati yang bersih dan jernih yang di dalamnya tumbuh taman indahnya iman dan kesadaran kepada Alloh Tuhan Yang Maha Esa.

Materi pokok konsep kebahagiaan menurut konsepsi Al Qur'an adalah IMAN dan TAQWA, Iman dan taqwa yang mewujudkan IHSAN.

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ


Artinya kurang lebih : "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (Surat Ke-7 Al A'raf Ayat 96).

Seperti dijelaskan di muka bahwa titik berat konsepsi kebahagiaan menurut Islam difokuskan di dalam hati manusia. Pelaksanaan IMAN dan ISLAM tersebut harus diolah dan dicerna oleh dan di dalam hati manusia. 

Hati yang masih kotor akibat polusi ananiyah seperti diterangkan di muka, jelas tidak mungkin bisa mencerna dan mengolah secara tepat. Dan seandainya dipaksakan misalnya, akan berakibat salah langkah di dalam perjalanan atau di dalam proses menuju cita-cita bahagia yang diidam-idamkan.

Hati manusia dalam kodratnya adalah sangat peka sekali terhadap pengaruh-pengaruh, pengaruh yang baik yang menguntungkan ataupun pengaruh yang jahat yang meru-gikan dan menyesatkan. Baik pengaruh yang datang dari luar maupun pengaruh dari dalam diri sendiri. 

Hanya hati yang sudah bebas dari polusi ananiyah, bebas dari impri-alis nafsu sajalah yang mampu menyelenggarakan proses perjalanan mencapai kebahagiaan hidup. 

Bersabda Rosuululloh shollalloohu 'alaihi wasallam :

إِنَّ فِى الْجَسَدِ لَمُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ (رواه البخارى ومسلم عن النعمان بن بشير)


Artinya kurang lebih : "Ingatlah, di dalam tubuh ada segumpal daging ; apabila segumpal daging itu baik, menjadi baik pulalah seluruh tubuh, dan apabila buruk, menjadi buruk dan rusak pulalah seluruh tubuh ; ketahuilah yaitu HATI."

Fungsi Hati Nurani Dalam Kehidupan Manusia

Sesungguhnya  manusia itu diciptakan oleh  Alloh SWT dalam sebagus-bagus dan sesempurna-sempurnanya bentuk kejadian, akan tetapi sayang, mereka senantiasa menjurus berlarut-larut hanyut oleh arus polusi kejahatan, penyelewengan dan penyalah gunaan yang disangkanya bisa menda-tangkan bahagia bagi dirinya. Maka akibat itulah kemudian oleh Alloh dijungkir balikkan menjadi serendah-rendahnya dan sehina-hinanya makhluq.

Firman Alloh dalam Surat Ke-95 At-Tiin Ayat 4-5: 

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ  ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سَافِلِيْنَۙ

Artinya kurang lebih : "Sungguh, KAMI telah menciptakan 'manusia dalam sebagus-bagusnya bentuk, kemudian (akibat polah tingkah mereka) KAMI jungkir balikkan menjadi yang paling hina di antara yang hina."

Disamping manusia oleh Alloh diciptakan dalam bentuk yang paling bagus, Alloh memberikan penghargaan paling tinggi kepada manusia di antara makhluq-makhluq lainnya yaitu dengan menjadikannya diberi fungsi (kegunaan) sebagai "KHOLIFAH" atau "wakil" Alloh di bumi. Dan pemberian fungsi kholifah ini diproklamirkan (diumumkan) oleh Alloh di muka para Malaikah sebagai firman-NYA :

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً 

Artinya kurang lebih :  Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (Q Surat Al Baqarah Ayat 30)

Konsekwensi praktis dari penunjukan manusia sebagai kholifah Allah di bumi tersebut adalah Allah memberi manusia dua bentuk kekuatan atau kemampuan yaitu kekuatan batin dan kekuatan lahir,  kekuatan rohani  dan kekuatan jasmani sebagai sarana utama bagi kehidupan rohani dan kehidupan jasmaninya.  

Sehingga dengan demikian manusia dapat  bertafakkur, bertadabbur, berangan-angan, berencana dan sebagainya, disamping dapat beramal dan berbuat dengan kemampuan jasmaninya.

Sebagai kholifah atau wakil, sudah seharusnyalah manusia dalam segala gerak dan laku perbuatannya senan-tiasa ada kontak hubungan dengan yang mewakilkan, yakni Alloh SWT. Jika tidak, pasti akan terjeromos kejalan yang sesat yang tidak sesuai dengan yang digariskan oleh yang mewakilkan. Akibatnya akan menjadi hancur brantakan dan masih harus mempertanggung jawabkan perbuatan sesat yang dijalankannya. 

Hubungan antara manusia sebagai makhluq dengan Alloh Penciptanya, atau antara manusia sebagai khalifah dan Allah yang menjadikannya itulah yang merupakan kunci pembuka pintu bahagia bagi manusia.

Metode - Metode Penjernihan Hati

Untuk mencapai kondisi rohaniyah yang mempunyai kontak hubungan dengan Allah atau "HABLUN MINALLOH" yang dibutuhkan oleh setiap insan yang ingin mengenyam kebahagiaan hidup tersebut, para Ulama dari  zaman ke zaman, dari generasi  ke generasi telah memilihkan  berbagai metode positif dan efektif yang sesuai dengan situasi dan kondisi zamannya masing-masing berdasarkan 'aqidah dan Qoidah yang dihayatinya. 
   
Antara lain ada yang menggunakan bacaan dzikir kalimah thoyyibah "LAA ILAAHA   ILLALLOH" dengan diatur  begitu  rupa melalui  beberapa  latifah setiap manusia. Dan   ada   yang   dengan bacaan  "ALLOH   ALLOH" sekian ribu pada setiap latifah. 

Ada lagi yang dengan menggunakan pembacaan Al Qur'an dan lain-lain, dan ada pula yang dengan menggunakan bacaan sholawat kepada Nabi Besar Muhammad  shollalloohu  'alaihi  wasallam
   
Dan sebagainya dan sebagainya, masing-masing   disertai   alasan dan dasar serta dalil-dalil sebagai pedomannya. Yang memilih bentuk dzikir, menggunakan dasar firman Alloh  Surat Ar Ra'd Ayat 28;

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ  اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ 

Artinya kurang lebih : "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

Sabda Rosuululloh shollalloohu 'alaihi wasallam :

لِكُلِّ شَيْءٍ سِقَالَةٌ وَسِقَالَةُ قُلُوْبِ اْلمُؤْمِنِيْنَ ذِكْرُ اللَّهِ (رواه البيهقى عن ابن عمر)

Artinya kurang lebih : "Segala sesuatu itu ada pencucinya dan pencuci hati adalah dzikir Alloh." (Hadits riwayat Baihaqi dari Ibnu Umar).

Hati yang tidak dzikir kepada Allah diancam dengan kecelakaan sebagaimana firman Allah SWT:

فَوَيْلٌ لِّلْقٰسِيَةِ قُلُوْبُهُمْ مِّنْ ذِكْرِ اللّٰهِ اُولٰۤىِٕكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Artinya kurang lebih : "Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (Al Qur'an Surat 39 Az Zumar Ayat 22).

Adapun yang menggunakan methode membaca Al Qur'an sebagai penjernih hati berpedoman kepada antara lain firman Alloh Surat 17- Al Isro' Ayat 82 :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ

Artinya kurang lebih : Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman  ...".

Semua bacaan-bacaan tersebut, baik bacaan dzikir kalimah thoyyibah atau dhikir lafal Allah Allah maupun bacaan Al Qur'an memang nyata-nyata besar sekali manfaat dan faedahnya bagi menjernihkan hati. 

Akan tetapi tidak semudah begitu saja dilakukan, melainkan ada syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi. Jika tidak memenuhi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuannya, bahkan bisa membawa akibat yang sebaliknya. 

Pada umumnya, syarat-syarat tersebut tidak mudah bisa dipenuhi oleh orang awam, orang kebanyakan seperti kita-kita ini. Antara lain syarat-syaratnya berdzikir ialah:

  1. Harus disertai hudurnya hati kepada Alloh.
  2. Harus ada guru pemberi  ijazah dan penuntun yang kaamil yang disebut Mursyid kamil. Jika tidak, pasti akan tergoda oleh syaitan dan yang bersangkutan tidak merasa.
  3. Harus ikhlas dalam melaksanakannya.
Jika   syarat-syarat   itu   tidak   terpenuhi, dikatakan oleh Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz dalam karya tulisnya kitab "Irsyaadul 'Ibaad" halaman 60 :

Peranan Hati Dalam Kehidupan Manusia

Artinya : "Menurut pendapat yang shoheh dan terpilih, maka yang dimaksud dari pada dzikir adalah hudurnya hati. Maka se-harusnyalah kondisi hudurnya hati itu menjadi tujuannya orang yang dzikir sehingga berusaha menjadi hati yang sadar kepada Allah. Dan apabila orang dzikir Allah tetapi hatinya lupa dari Allah, ia bukanlah orang yang dzikir kepada Allah melainkan orang yang lupa hatinya dari Allah, hanya lisannya saja yang hubungan. Maka sewajar-nyalah ia harus bertobat".

Demikian juga membaca AL Qur'an ada syarat-syarat dan adab-adab yang harus dipenuhi. Antara lain sebagaimana yang diterangkan di dalam kitab Durrun-Nadhiim Fi Adabi Qur'anil 'Adhiim halaman 8 sebagai berikut :

  1. Harus dengan ikhlas dalam membacanya, tidak ada harapan apapun dengan bacaannya itu.
  2. Hatinya harus hudlur kepada Allah, sebab membaca Al-Qur'an adalah munajah kepada Allah.
  3. Ketika membaca seakan-akan ia menyaksikan Alloh atau merasa dilihat oleh Allah.
  4. Harus memenuhi adab takzhim terhadap AL Qur'an yang sebaik-baiknya.
  5. Harus meresapi arti ayat yang dibaca dengan penuh hidmat, jika perlu disertai menangis, bahkan jika tidak bisa menangis supaya usaha bisanya menangis. Menangis karena terharu dan kagum.
  6. Makhrojnya harus dijaga, bidang tajwidnya harus dipenu¬hi, bacaannya harus dengan tartil.
Jika syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi, dikhawatirkan sekali termasuk

رُبَّ تَالٍ لِلْقُرْاَنِ وَاْلقُرْاَنُ يَلْعَنُهُ. قَالَهُ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ

Artinya kurang lebih : "Banyak  (diantara)  pembaca Al Qur'an dan Al Qur'an melak-nati padanya".

Metode - Metode Penjernihan Hati Yang Paling Ringan dan Mudah

Diantara  metode-metode penjernihan hati tersebut yang paling ringan,  paling mudah karena tidak ada syarat-syarat yang mengundang risiko yang berat sehingga bisa dilakukan oleh sembarang orang siapapun juga dan pasti diterima oleh Allah SWT, tanpa disyaratkan ada Guru Mursyid yang membimbingnya, tanpa memerlukan sanad, adalah methode membaca sholawat kepada Nabi Besar Muhammad Rosuululloh shollalloohu 'alaihi wasallam.

Orang yang membaca sholawat dicatat sebagai orang yang dzikir kepada Allah. Jadi di samping ada kontak hubungan dengan Nabi, sekaligus bernilai ada kontak hubungan kepada Allah. 

Antara lain lagi, begitu membaca sholawat, begitu menerima syafa'at pertolongan dari Rosuululloh shollalloohu 'alaihi wasallam disamping juga memperoleh imbalan sholawat dari Allah dan dari para Malaikat.
 
Insya Allah dalam kesempatan lain kita membahas mengenai hal sholawat. Dalam hubungannya dengan penjernihan hati dengan menggunakan bacaan sholawat, bersabda Rosuululloh shollalloohu 'alaihi wasallam :

لِكُلِّ شَيْءٍ طَهَارَةٌ وَغَسْلٌ وَطَهَارَةُ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَغَسْلُهَا مِنَ الصَّدَاءِ الصَّلَاةُ عَلَيَّ (فى سعادة الدارين 501)

Artinya : "Segala sesuatu itu ada alat pencuci dan pembasuh, adapun alat pencuci hati orang-orang mukmin dan pebasuhnya dari kotoran yang sudah melekat/sudah berkarat itu dengan membaca sholawat kepada-KU".

Sholawat yang dimaksud adalah segala macam sholawat. Semua macam sholawat sama-sama memberi manfaat bagi se pembacanya. Hanya yang berbeda adalah macamnya manfaat. 

Dan ini antara lain tergantung pada redaksi do'a-do'a yang termasuk implikasi dari pada sholawat yang bersangkutan, di samping kepribadian Muallif Pencipta Sholawat itu. 

Sekalipun di dalam pengamalan sholawat tidak syaratkan harus ada guru Mursyid atau guru yang membimbingnya, akan tetapi tentu ada gurunya itu lebih utama, lebih terjamin, lebih meyakinkan.

Bagi kita para Pengamal Sholawat Wahidiyah mengapa menempatkan alternatif pilihan kepada Sholawat Wahidiyah, tentu memakai berbagai macam pertimbangan dan dari beberapa segi, antara lain :

PERTAMA, Faedah Sholawat Wahidiyah untuk menjernihkan hati dan kesadaran atau ma'rifat Billah wa Rosuulihi SAW, sedangkan hal tersebut hukumnya wajib dimiliki setiap insan.

KE-DUA, Pengamalannya begitu mudah, praktis dan memberi hasil yang effektif yang cocok dengan tuntutan kebutuhan di dalam zaman pergolakan hidup seperti sekarang ini, yakni ketenangan batin dan ketentraman jiwa.

KE-TIGA, Pengamalannya tidak mempunyai tendensi berupa apapun. Tujuannya semata-mata mengarah kepada memperdekat diri kepada Alloh dan Rosul-NYA shollalloohu 'alaihi wasallam tanpa ada gangguan terhadap aktifitas amal-amal ibadah yang sudah ada.

KE-EMPAT, Sholawat Wahidiyah terdiri dari beberapa rangkaian do'a-do'a yang isinya sangat dibutuhkan oleh setiap insan. Baik sebagai insan pribadi beserta keluarga dan insan sosial beserta masyarakat, bangsa dan negaranya, y
aitu antara lain :
  • do'a memohon ma'rifat kesadaran kepada Alloh dan Rosul-NYA SAW.
  • doa memohon maghfiroh, memohon kenikmatan, memohon ma'rifat, memohon mahabbah dicintai dan mencintai Alloh, memohon ridlo dan diridloi Alloh yang sesem-purna mungkin dan sebagainya.
  • do'a memohon kemudahan dalam segala urusan.
  • do'a memohon dibukakan jalan dan diberi hidayah petunjuk.
  • do'a memohon kerukunan, kesatuan dan persatuan bangsa.
  • do'a memohon berkah kebaikan bagi pribadi, keluarga, bangsa dan negara, bagi para pemimpin dan masyarakat di segala bidang, bahkan memohoii berkah bagi segala makhluq ciptaan Alloh dan sebagainya dan sebagainya, yang bagi kita bangsa Indonesia yang sedang berada dalam alam pembangunan bangsa dan negara ini kita rasakan sangat kita butuhkan.

KE-LIMA
, Cara pengamalannya diatur dengan begitu tertib terutama bidang adab, adab terhadap Allah dan adab terhadap Rosuululloh SAW.

KE-ENEM, Di samping Sholawat Wahidiyah sebagai amalan doa atau wirid, di sana ada diberikan ajaran dan tuntunan tentang kesadaran atau Ma'rifat kepada Allah wa Rosuulihi shollalloohu 'alaihi wasallam khususnya dan tentang pemeliharaan hati dan sikap mental atau bidang akhlaq pada umumnya. Disamping itu juga mengandung suatu Perjuangan, yakni perjuangan Wahidiyah atau Perjuangan Fafirruu Ilalloohi wa Rosuulihi SAW !.

KE-TUJUH, Sholawat Wahidiyah dan Kandungannya semua berlandaskan pada Al Qur'an dan Al Hadits serta telah memperoleh tanggapan/rekomendasi Pemerintah Republik Indonesia !.

Kesimpulan

Pernanan hati sangatlah penting bagi manusia sebagaimana dalam hadist rosulillah Sholallohu 'Alaihi Wasallam : "Ingatlah, di dalam tubuh ada segumpal daging ; apabila segumpal daging itu baik, menjadi baik pulalah seluruh tubuh, dan apabila buruk, menjadi buruk dan rusak pulalah seluruh tubuh ; ketahuilah yaitu HATI." Dari hadist itu, bisa disimpulkan bahwa peran hati sangatlah penting dan penting.

Semoga kita termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah Wa Rosuulihi shollallohu 'alaihi wasallam, termasuk orang-orang yang senantiasa memperoleh hidayah dan pertolongan-NYA, memperoleh syafa'at dan tarbiyah Rosuululloh shollallohu 'alaihi wasallam. Amiin !.