√ Dana Box Sebagai Sarana Perjuangan -->

Dana Box Sebagai Sarana Perjuangan

Ibnu Rusyd
26 February 2021

Ad1

Ad2

Dana Box Sebagai Sarana Perjuangan


Setiap kebaikan harus diperjuangkan dan mempertahankan kebaikan termasuk memperjuangkannya, dalam memperjuangkan kebaikan dinamakan ibadah, terlebih-lebih memperjuangkan penyiaran dan pengamalan Sholawat Wahidiyah, adalah hal yang sangat wajib dan penting adanya.


Wahidiyah Sarana Perjuangan


Memperjuangkan kebaikan adalah sunnah Rosul dan juga merupakan wasiat para orang terdahulu yang shalih yang lazim disebut salafus sholihin Allah SWT juga sangat menganjurkan kepada kaum muslimin untuk selalu berjuang dalam kebaikan menuju kasih Allah yang mulia, sebagaimana firman-Nya dalam Surat Ke 9  At Taubah Ayat 41 :


اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ


Artinya : "Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (At Taubah Ayat 41)


Dari ayat ِsurat At Taubah Ayat 41 di atas dapat kita jabarkan dalam beberapa pengertian, yaitu :


  1. Berangkat untuk berjuang adalah kewajiban dari Allah SWT, dimana perintah itu tidak pandang bulu, baik kaya, miskin, baik pandai atau bodoh atau baik tua atau muda, dan perintah itu bersifat "seruan umum," yang bersifat mobilisasi.
  2. Dibalik kalimat "Khifafan wa tsiqolan", berarti tidak ada alasan untuk menolak tidak berjuang.
  3. Orang berjuang, harus berbareng antara harta dan raga, sebab keduanya merupakan sarana dan prasarana.
  4. Menurut urutannya, berjuang yang pertama dan utama adalah dengan harta benda, sebab bagi janda-janda, dia bisa berjuang adalah dengan hartanya.
  5. Bagi orang miskin, jalan perjuangannya adalah yang kedua, yaitu dengan raga dan jiwanya.
  6. Bagi orang kaya yang sehat jasmani dan rohani, harta benda dan jiwa raga adalah kewajiban bersama dalam melakukan perjuangan.
  7. Kalimat "fii sabilillah" artinya adalah jalan kebaikan artinya   semua   kebaikan   menurut   syara' harus diperjuangkan.
  8. Adapun kalimat "in kuntum ta'lamun", sebab diantara kaum muslimin banyak yang tidak mau mengerti, yang artinya pura-pura tidak mengerti. 


Perjuangan Penyiaran Sholawat Wahidiyah


Perjuangan penyiaran Sholawat Wahidiyah adalah kewajiban yang tidak boleh ditawar-tawar lagi, sebab, memperjuangkan Sholawat Wahidiyah berarti memperjuangkan ajaran Allah didasari Penerapan Ajaran "Lillah Billah", yaitu yaitu merupakan ajaran para Rosul dan para Nabi 'alaihimus sholatu wassalam, yang perjuangan itu diteruskan oleh para Rosulullah para orang-orang shalih sebelum kita.


Kami belum pernah mendengar bahwa perjuangan para Rosul dan para Nabi itu mudah dan ringan, maka demikian juga perjuangan Wahidiyah ini, amat berat dan amat sukar, sebab perjuangan Wahidiyah adalah warisan perjuangan para Rosul dan para Nabi itu, yaitu didasari dengan penerapan Lillah billah.


Dengan demikian, maka perjuangan Wahidiyah ini amat keteguhan hati, keberanian jiwa, dan besarnya tekad dan dengan semboyan "jika perjuangan yang haq telah datang, maka pasti perkara batal akan sirna."


Penulis tidak berkata, bahwa selain Wahidiyah adalah tidak baik dan bakal sirna, hanya maksud penulis, bahwa semua ajaran yang diluar yang tidak didasari "Lillah billah" meskipun dibalut dengan apapun bentuknya pasti akan sirna, sebab dia adalah batal.


Baca Juga : Doa Agar Dagangan Laris Dan Berkah


Perjuangan Wahidiyah


Perjuangan Wahidiyah bukanlah perjuangan fisik, atau perjuangan yang kasat mata, sebab perjuangan Wahidiyah adalah perjuangan "mental Rohani yang berpangkal pada adab dan akhlaq", jadi perjuangan Wahidiyah sangat berat.


Perjuangan para Rosul dan para Nabi, terutama sekali perjuangan Rosululloh Muhammad SAW, itu terdiri dalam dua sisi, sisi pertama adalah "Tasyri' Islami", dimana perjuangan itu telah selesai dan sempurna di masa beliau masih hidup, tetapi sisi yang kedua, yaitu sisi "Innama Bu'istu Li Utamimma Maka Rimal Akhlaq" yaitu membangun mental manusia seutuhnya, adalah perjuangan yang belum selesai dan kini diwariskan pada kita.


Gejala-gejala yang ada yang dapat kita rasakan disaat ini, "Makarimu Akhlaq" bukan semakin tegak, akan tetapi semakin terkikis dengan budaya-budaya barat, misalnya pesta ulang tahun yang bernuansa non Islami, pesta kawin perak atau kawin emas yang hanya bersifat seremonial, perhelatan perkawinan yang cenderung melanggar syara' yaitu dengan pola standing party, dimana dalam pesta tua muda, besar kecil, dan laki-laki perempuan beraduk menjadi satu, makan dan minum bersama-sama sambil berdiri, dimana   pengantinnya   tidak mendapat doa se kalimah pun.


Dekadensi akhlaq ini sudah mengimbas dalam semua generasi santri, kecuali sedikit yang masih mempertahankan ala santrinya, sehingga mereka dipandang sebelah mata bagai rusa masuk kampung.


Perjuangan Rosulullah SAW, dibidang "Tasyri' Islam" disebut kelompok ajaran Lillah, dimana disana terdapat beberapa ketentuan syara', sedang perjuangan Rosulullah SAW, dibidang makarimul akhlaq ini dikelompokkan dalam ajaran Billah, dimana disana hanya diperlukan pengertian, atau kesadaran.


Meniti-niti gejala-gejala yang penulis uraikan diatas, maka lapangan perjuangan Wahidiyah yang meliputi Lillah dan Billah ini, sangat luas dan komplek sekali. Sebab perjuangan Wahidiyah ini tidak memihak kepada orang bodoh saja, bahkan perjuangan Wahidiyah ini juga kepada para cerdik pandai, dimana para cerdik pandai itu belum tersentuh sadar Lillah Billah.


Kesadaran Lillah Billah


Kesadaran Lillah Billah hanya dapat diperoleh melalui petunjuk Allah wa Rosulillah SAW, yang dimaksud, bukan setiap para cerdik pandai, pasti sudah sadar Lillah Billah bukan, sebab barang siapa bertambah ilmunya tetapi tidak dibarengi petunjuk dari Allah, maka dia bahkan semakin jauh dari Alaoh, demikian disebutkan dalam Hadits :


من ازداد علماً ولم يزدد هدى لم يزد من الله إلا بعداً (رواه ابو منصور والديلمى عن جابر رضى الله عنه)


Artinya : "Barang siapa bertambah ilmunya dan tidak bertambah hidayahnya, tidak bertambah terhadap Allah kecuali semakin jauh"Hadits riwayat Abu Mansur dari Jabir RA.


Dari hadits diatas, bahwa orang yang bertambah ilmunya maka tidak secara pasti bertambah hidayahnya, maka walaupun seseorang bertambah ilmunya, tapi bila tidak dibarengi bertambah hidayahnya, ilmunya itu malah menarik orang pandai itu semakin jauh dari Allah, dimana dia malah tidak sadar Lillah Billah, atau bahkan menentangnya.


Bertambahnya ilmu dan bertambahnya kekayaan adalah sama, artinya keduanya tidak dijamin dengan bertambahnya hidayah, oleh karena itu banyak juuga orang yang bertambah kaya, malah bertambah juga kekufurannya terhadap Allah, padahal semestinya orang yang bertambah kekayaannya terus bertambah syukurnya kepada Allah SWT.


Tongkat Nabi Musa As


Oleh karena itu antara orang yang bertambah ilmu dan antara orang yang bertambah kekayaannya, keduanya sama-sama diperingatkan Allah SWT, pada tongkat Nabi Musa 'alaihis salam, sebagai berikut: 


Dana Box Sebagai Sarana Perjuangan


كُلُّ عَالِمٍ اَلَّذِي لَمْ يَنْفَعْ بِعِلْمِهِ هُوَ وَ اِبْلِيْسُ سَوَاءٌ كُلُّ غَنِيٍّ اَلَّذِي لَمْ يَنْفَعْ بِغِنَاهُ هُوَ وَقَارُوْنَ سَوَاءٌ كُلُّ فَقِيْرٍ اَلَّذِي لَمْ يَصْبِرْ عَلَى فَقْرِهِ هُوَ وَاْلكَلْبُ سَوَاءٌ كُلُّ سُلْطَانٍ اَلَّذِى لَمْ يَعْدِلْ بِسُلْطَانِيَّتِهِ هُوَ وَفِرْعَوْنُ سَوَاءٌ


Artinya : "Setiap orang yang berilmu dan tidak dapat mengambil manfaat dari ilmunya, maka ia dan iblis sama saja. Setiap orang kaya dan ia tidak dapat mengambi manfaat dari kekayaannya, maka ia dan Qorun sama saja. Setiap orang yang fakir dan tidak bisa bersabar atas kefakirannya, maka ia dan anjing sama saja. Setiap penguasa yang tidak bisa adil ketika ia berkuasa, maka ia dan Fir'aun sama saja".


Perjuangan Wahidiyah sangat memberi kesempatan kepada kita para cendekiawan, para ilmuwan, para hartawan dan para miskin, untuk tidak seperti apa yang digambarkan yang tertulis pada tongkat Nabi Musa alaihis salam itu.


Kepada orang yang pintar, ayo kita berjuang dan gunakan kepintaran saudara itu untuk memenuhi panggilan "fafiirru ilalloh wa Rosulihi SAW", begitu juga orang-orang miskin, do'a saudara sangat di dengar Allah SWT. maka berserulah "Allohumma barik fima kholaqta wa hadziihil baldahya Allah".


Dan kepada para aghniya' yang berlebih harta, ayo giatkan dana box demi kelancaran perjuangan Wahidiyah, sehingga gema Lillah Billah membahana di persada atau seluruh dunia ini.


Penulis mengajak seluruh manusia tanpa pandang bulu untuk berdana box, sebab dana box adalah ibarat setetes air yang disangka orang seolah air yang tidak bermanfaat, tetapi setelah terkumpul dan mengalir dalam satu muara akan nampak seperti danau yang menakjubkan.


Penulis mengajak dan menunjukkan kepada para pembaca untuk tidak mengecilkan barang kecil yang berhasil guna yang amat besar.


Itulah salah satu Hikmah dari 7 Hikmah dan hikmah lainnya Dana Box fokus Dana Box Sebagai Sarana Perjuangan, semoga kita bisa istiqomah dalam berdana Box.