√ Mengutamakan Kewajiban Daripada Menuntut Hak - Yukti Kulla Dzii Haqqin Haqqoh -->

Mengutamakan Kewajiban Daripada Menuntut Hak - Yukti Kulla Dzii Haqqin Haqqoh

Ibnu Rusyd
05 February 2021

Ad1

Ad2

Kita Harus Mengutamakan Kewajiban Daripada Menuntut Hak Sebab 


Dalam Buku RISALAH Penjelasan Mengenai Sholawat Wahidiyah Dan Ajaranya halaman 25-28 diuraikan tentang Ajaran Wahidiyah fokus tentang Yukti Kulla Dzii Haqqin Haqqoh Mengutamakan Kewajiban Daripada Menuntut Hak atau Kita Harus Mengutamakan Kewajiban Daripada Menuntut Hak Sebab, seperti apakah itu penerapan dalam kehidupan kita, mari kita terapkan bersama-sama dengan tepat.


Didalam hubungan antar manusia dengan manusia didalam masyarakat, antara manusia dengan sesama makhluq pada umumnya, bahkan antara manusia dengan Tuhan Allah Maha Pencipta, selalu timbul dua hal, Yaitu HAK dan KEWAJIBAN.


Apa yang menjadi hak dari yang satu, pada umumnya merupakan kewajiban bagi yang lain. Jika seseorang melakukan suatu perbuatan untuk orang lain, perbuatan boleh digolongkan sebagai kewajiban, maka dia ada mempunyai hak dari orang lain itu. 


Akan tetapi terhadap Tuhan, kita sebagai hamba tidak wajar menyebut kewajiban Tuhan terhadap hamba-Nya, atau hak hamba dari Tuhannya. Sebab Tuhan adalah mutlak Maha Kuasa Maha Memiliki, Maha segala-galanya. Ini bidang adab, harus kita bedakan dengan hubungan-hubungan kepada lainnya.


Mengutamakan Kewajiban Daripada Menuntut Hak - Yukti Kulla Dzii Haqqin Haqqoh

Yang dimaksud YUKTI KULLA DZII HAQQIN HAQQOH ialah supaya kita mengutamakan pemenuhan kewajiban tanpa menuntut hak!. Jadi mengutamakan haknya pihak lain. Jika kewajiban dilaksanakan dengan baik, otomatis dia memperoleh apa yang menjadi haknya!.


Contoh Penerapan Yukti Kulla Dzii Haqqin Haqqoh:


Pertama, Orang tua berkewajiban membimbing dan mendidik anak. Maka si anak ada mempunyai hak mendapat bimbingan dari orang tua. Sebaliknya, si anak berkewajiban taat kepada orang tuanya, maka orang tua ada mempunyai hak ditaati oleh si anak.


Maka yang harus diutamakan oleh kedua belah pihak ialah : Orang tua wajib membimbing dan mendidik anak, tanpa memperhitungkan hak ditaati oleh anak, terkecuali untuk maksud mendidik. Dan si anak wajib taat kepada orang tua, tanpa memperhitungkan haknya mendapat bimbingan dan didikan dari orang tua.


Kedua, Seorang suami ada hak mendapat layanan yang baik dari sang istri. Maka memberikan layanan yang baik kepada sang suami adalah kewajiban istri.


Sebaliknya, sang istri ada hak mendapat bimbingan dan nafkah dari sang suami. Maka membimbing dan memberi nafkah kepada istri adalah kewajiban sang suami.


Jadi yang harus diutamakan oleh kedua pihak ialah :


Sang istri harus melayani suami dengan baik tanpa menuntut nafkah dan lain-lain yang menjadi haknya. Sang suami harus memberi bimbingan dan memberi nafkah kepada istri dengan baik, tanpa menuntut layanan dari istrinya yang memang menjadi haknya.


Ketiga, Seorang pekerja atau karyawan ada hak menerima upah dari majikan. Maka membayar upah adalah kewajiban majikan. Majikan ada hak mendapat tenaga kerja dari pekerja. Maka memberikan tenaganya dengan baik adalah kewajiban pekerja. 


Jadi yang harus diutamakan oleh kedua pihak : Majikan membayar upah pekerja, dan pekerja mencurahkan tenaganya.


Demikian seterusnya, Segala hubungan dalam bentuk apa saja selalu timbul HAK dan KEWAJIBAN. Kita supaya belajar mengutamakan KEWAJIBAN dari pada menuntut HAK !. Terkecuali, jika ada atau terjadi hal-hal yang menyimpang dari semestinya atau kurang sesuai dengan keadaan, kita boleh mengadakan usaha perbaikan untuk memperbaiki apa-apa yang menjadi hak kita. Akan tetapi jangan dihubung-hubungkan dengan pemenuhan kewajiban !. Jadi bidangnya harus dipisah-pisahkan antara hak dan kewajiban.


Terhadap Allah SWT Tuhan kita, kita hanya harus memperhatikan dan melaksanakan kewajiban-kewajiban kita. Sama sekali jangan sampai memperhitungkan atau memandang atau "NGLIRIK" pada hak !. Dan kita yakin bahwa Tuhan selalu tepat janji-NYA. Sebagai contoh kita perhatikan firman Allah dalam surat no. 40 Al Mu'min ayat 60 :


وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ

Artinya kurang lebih :


"Dan Tuhanmu berfirman : "mohonlah kepada-KU, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu . . . ." (40 - Al Mukmin : 60).


Yang harus kita perhatikan dan kita laksanakan adalah "UD'UUNII"-nya !. Berdoalah, memohonlah !. Soal "ASTAJIB LAKUM", itu haknya Tuhan!. Tidak wajar kita sebagai hamba melirik hak dan kekuasaan Tuhan yang Maha. segala Maha itu !. Ini bidang adab !. Harus kita pegang teguh !. Lebih-lebih terhadap Tuhan kita !.


Baca Juga : Kisah Orang Yang Bershalawat 


Mengutamakan Kewajiban Daripada Menuntut Hak


Jika prinsip "MENGUTAMAKAN KEWAJIBAN DARIPADA MENUNTUT HAK" ini dilaksanakan dengan baik, kita yakin masyarakat akan menjadi baik dan harmonis. Sekalipun berbeda-beda keadaan sosial-nya, berbeda-beda kedudukan dan tingkatnya, berbeda-beda lapangan hidup dan pekerjaannya, namun akan senantiasa menjadi satu dalam hati. Keadaan seperti itu bisa terwujud, jika di dalam menjalankan kewajiban-kewajiban masing-masing selalu dijiwai keikhlasan dan kesadaran pengabdian diri kepada Tuhan. Bekerja, beramal, berbuat, bertindak demi semata-mata untuk mengabdikan diri dengan ikhlas kepada Allah Tuhannya. LILLAHI TA'ALA !. Demi untuk Tuhan Yang Maha Esa !. 


Disamping itu sadar bahwa dirinya tidak berkemampuan apa-apa, melainkan Tuhan juga yang memberi. Sadar BILLAH !. Dengan demikian, sifat tamak dan rakus sama sekali tidak terdapat didalam kamus hatinya.


Semua ummat beragama, agama apa saja diberi kemampuan oleh Tuhan dapat menerapkan LILLAH BILLAH ini. Lebih-lebih bagi ummat Islam, disamping kesadaran LILLAH BILLAH dikuatkan lagi dengan ke sadaran LIRROSUL BIRROSUL. Tidak disangsikan lagi jika betul-betul konsekuen menjalankannya, ummat Islam benar-benar menjadi seperti di firmankan Allah. "KHOIRO UMMATIN" - sebaik-baiknya ummat. 


Semoga dalam uraian singkat ini, Kita Harus Mengutamakan Kewajiban Daripada Menuntut Hak Sebab, atau bisa menerapkan Mengutamakan Kewajiban Daripada Menuntut Hak - Yukti Kulla Dzii Haqqin Haqqoh dalam kehidupan sehari-hari.