√ Kuliah Wahidiyah Dalam Rangka Mujahadah Pengamalan Ulang 40 Hari -->

Islam

Kuliah Wahidiyah Dalam Rangka Mujahadah Pengamalan Ulang 40 Hari

Ibnu Rusyd
Friday, January 1, 2021

Ad1

Ad2

Mujahadah  Pengamalan  Ulang  40 Hari


Tepat pada Tanggal 2 Januari 2021 Tahun baru ini, kita bersama akan mengadakan Pengamalan Ulang 40 hari atau sering kita sebut mujahadah 40 harian yang dilaksanakan oleh Pengamal Sholawat Wahidiyah seluruh Dunia.


Seperti apakah materi atau penjelasana sebagai pengantar Mujahadah  Pengamalan  Ulang  40 Hari pada tahun 1993 tepatnya MALAM JUM'At LEGI Tanggal 5 Mei 1993 M./ 15 Dzul Qo'dah 1413 H. waktu  Antara jam 19:00 - 22:.00 WIB. yang disampaikan oleh Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat melaui buku atau tulisan yang akan kita sampaikan pada kesepatan kali ini di setiap Jama'ah Wahidiyah Desa/Kampung/Lingkungan yang berada di seluruh daerah yaitu :


Kuliah Wahidiyah Dalam Rangka Mujahadah Pengamalan Ulang 40 Hari


السلا م عليكم ورحمة الله وبر كا ته

بسم الله الرحمن الرحيم

اَلْحَمْــــــدُ للهِ الَّـــــــــذِى أَتاَناَ * باِ لْـــوَاحِـــــــدِيَّةِ بِفَضْـــــــلِ ربِّنَا

أَلْحَمْدُ للهِ الصَّــــلاَ ةُ وَالسَّـــــــلاَمْ * عَلَيـْــــــكَ وَاْلآلِ أَياَ خَـــــــيْرَ اْلأَناَمْ

رَبٌّ كَرِيمْ وَأَنـْتَ ذُوْ خُلُقٍ عَظِيمْ * فَاشْفَعْ لَناَ فَاشْفَعْ لَناَ عِنْدَ الْكَرِيمْ

يَآ أَيّـُهَـــا الْغَـــــــوْثُ سَــــــــلاَمُ اللهِ * عَلَــــــــــــــــــيْكَ رَبِّني بـِــــإِذْنِ اللهِ

وَانْظُـــــــــرْ إِلَىَّ سَيِّدِي بِنَظْــــــرَةٍ * مُوْصِـــــــــــــلَةٍ لِلْـــــــحَضْرَةِ الْعَلِيَّةِ

اما بعد

Para hadirin hadirot, Ayyuhal Mujaahidiin wal Mujahidaat, hadaakumulloh.


Pertama-tama marilah kita panjatkan puja-puji syukur ke hadirot Alloh SWT atas segala nikmat karunia-NYA yang dilimpahkan kepada kita dalam sega¬la masa, khususnya pada malam Jum'at Sayyidul Ayyam ini kita dapat berkumpul bersama-sama memulai Mujahadah Pengamalan Ulang 40 Hari dengan bacaan Alhamdu Lillahi Robbil 'Alamiin.


Kuliah Wahidiyah Dalam Rangka Mujahadah Pengamalan Ulang 40 Hari

Sanjungan sholawat selam barokah semoga senantiasa tercurah kepangkuan Junjungan kita Kanjeng Rosuululloh SAW dan kepada para Anbiya wal Mursalin wal Malaikatil Muqorrobiin 'alaihimussholaatu was salam wa Alihim wa Ashaabihim wa Taabi'ihim dan ke pada Hadroti Ghoutsi Hadzaz-Zaman wa 'Awaanihi wa saairi Auliyaai Ahbaabillahi min awalihim ila akhirihim rodiyallohu Ta'ala 'anhum  wa a'aada  'alaina min barookaatihim wa syafaa' aatihim wa karomaatihim wa amaddanaa biamdaadihim !. Amiin yaa Robbal alamiin !. 


Sekali lagi semoga para beliau-beliau tersebut senantiasa mencurahkan syafa'at tarbiyah barokah karomah nadhroh,  jangkungan doa restunya sehingga acara yang kita laksanakan ini benar-benar diridloi Alloh wa Rosuulihi SAW, membuahkan manfaat maslahah barokah yang sebanyak-banyaknya fiddiini wad-dunya wal akhiroh, khususnya, dalam Perjuangan Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW ! " Amiin !    Amiin i    Amiin Ya Robbal 'Alamiin.


Para hadirin hadirot,


Pada malam ini, insya Alloh seluruh Pengamal Wahidiyah di manapun berada secara serempak memu¬lai Mujahadah Pengamalan Ulang 40 Hari. Mujahadah Pengamalan 40 Hari atau 7 Hari, boleh diibaratkan semacam "maskawinnya" Pengamal Wahidiyah. Marilah kita laksanakan sebaik-baiknya dan setepat-tepatnya mengikuti dan sesuai dengan tuntunan dan bimbingan Hadrotul Mukarrom Embah Yahi Muallif Sholawat Wahidiyah RA wa QS. Dan marilah saudara-saudara kita Pengamal Wahidiyah yang kebetulan tidak bisa hadir malam ini di sini, mari kita ajak untuk bersungguh-sungguh dalam "tajaddud" - memperbaharui "maskawin" Pengamalan 40 Hari ini !. Pe¬ngamalan harian selanjutnya kita laksanakan di rumah / tempat masing-masing, tetapi setiap malam -Jum' at kita laksanakan berjamaah seperti sekarang ini sesuai dengan instruksi PSW Pusat !.


Para hadirin hadirot ! .


Setiap pengamalan Sholawat Wahidiyah atau Mujahadah, bahkan seharusnya di dalam mengamalkan sholawat apa saja, bahkan dalam menjalankan amal ibadah apa saja, ada adab-adab yang harus kita penuhi. Adab lahir dan adab batin. Adab penting sekali harus kita utamakan, oleh karena termasuk hal yang'menentukan. Para Ulama Shufi menegaskan :


مُرَاعَاةُ اْلاَدَبْ مُقَدَّمٌ عَلَى امْتِثَالِ اْلاَوَامِرِ  


"Memelihara adab dengan tepat harus didahulukan sebelum melaksanakan bermacam-macam perintah".


Mengerjakan sesuatu perintah tetapi tidak memakai adab yang serasi, adalah perbuatan terkecam, tidak dikehendaki di dalam Islam. Satu contoh; Seorang ibu mengutus putranya yang masih kecil. "Nak, belikan garam, atau gula,  ini uangnya". Si anak menerima uangnya dengan tangan kiri lalu lari-lari ke toko. Garam atau gula yang baru dibelinya lalu dilemparkan ke muka ibunya sambil berkata "ini bu garamnya". Ibunya geleng-geleng kepala sambil mengelus dada menahan rasa jengkel. Itu anak namanya kurang adab, anak kurang ajar.


Firman Alloh dalam Al Qur'an Surat An-Nisaa Ayat 103 :


فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ


Artinya : "Kemudian apabila kamu telah merasa aman (Tenang), maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa).( Al Qur'an Surat An-Nisaa Ayat 103)


Jadi adabnya, menentramkan atau menenangkan hati lebih dahulu, "notho penggalih" untuk sungguh-sungguh hudzur kepada Alloh, baru kemudian mengerjakan atau memulai sholatnya.


Ada sebagian Pengamal Wahidiyah di dalam "notho penggalih" menenangkan hati sebelum mengucapkan niat sholat,  ia membiasakan nidak tasyaffu'an dan istighotsah dengan membaca :


يَا سَيِّدِىْ يَا رَسُوْلَ اللهْ يَا سَيِّدِىْ يَا اَيُّهَا الْغَوْث يَا حَضْرَاتِكُمْ اَغِيْثُوْنَا وَاشْفَعُوْالَنَا عِنْدَرَبِّكُمْ فِى هَذِهِ الصَّلَاةْ


Artinya:  "Duhai Rosululloh, duhai Ghoutsu Zaman, tolong,  bantu dan syafa'atilah kami dihadapan Tuhan-Mu di dalam kami me¬ngerjakan sholat ini"  !.


Kemudian baru membaca niat sholat dan seterusnya.


Di dalam Perjuangan Kesadaran Fafirruu Ilal-lohi Wa Rosuulihi SAW, masalah adab sangat diuta-makan sekali. Hadrotul Mukarrom Embah Yahi, Mual¬lif Sholawat Wahidiyah RA wa QS berulang-ulang kali mendawuhkan ungkapan para Ula Shufi:


اَلْمَرْءُ يَدْخُلُ اْلجَنَّةَ بِعَمَلِهِ وَيَصِلُ اِلَى اللهِ باِدَبِهِ


Artinya : "Seseorang bisa masuk surga sebab amalnya, dan berhasil bisa wushul kepada Alloh sebab adab-nya".


Yang dimaksud adab di sini adalah adab secara luas. Adab kepada Alloh Wa Rosuulihi SAW terutama adab kepada orang tua kepada ibu bapak,  adab kepada guru, adab kepada murid, adab kepada pemimpin atasannya, adab kepada bawahannya, adab kepada saudara, adab kepada kawan dan teman, adab kepada tetangga, adab dalam hubungan masyarakat. Bahkan adab terhadap sesama makhluq ciptaan Alloh pada umumnya. Istilah lain yang lebih luas disebut AKHLAQUL KARIIMAH - akhlaq atau budi pekerti yang mulia. Rosululloh SAW bersebda :


اِنَّمَا بُعِثْتُ لِاُتَمِمَّ مَكَارِمَ الْاَخْلَاقْ


Artinya : "Sesungguhnya Aku diutus oleh Alloh supaya Aku menyempurnakan akhlaq yang luhur".


Di dalam Wahidiyah, Hadrotul Mukarrom Embah Yahi Muallif Sholawat, Wahidiyah RA wa QS merupakan contoh tauladan penampilan akhlaqul kariimah yng harus kita tiru. Baik dalam pangandikan (ucapan) maupun dalam tindakan, tindak-tanduk, unggah-ungguh dan sikap yang selalu tawaddlu', ramah dan hormat kepada siapa saja. Al Mukarrom Bapak K. Abdul Hamid Madjid,  putera Embah Yahi ke empat yang juga Ketua III PSW Pusat menyebut akhlaq Embah Yahi adalah akhlaqul Qur'an dan Hadits.


Baca Juga : Mujahadah Malam Tahun Baru 2021


Para hadirin hadirot!. 


Kembali kepada adab-adab Mujahadah. 


Adab lahir antara lain :


  • Badan,  pakaian dan tempat Mujahadah harus bersih, rapi dan sopan. Tetapi tidak disyaratkan harus sepenuhnya suci dari hadats. Cara duduknya juga harus sopan.
  • Gaya dan lagu membacanya harus seirama dan menngikuti gaya dan lagu yang dituntunkan oleh Hadrotul Mukarrom Embah Yahi Muallif Sholawat Wahidi¬yah RA wa QS.
  • Di dalam Mujahadah berjamaah, suara makmum tidak boleh lebih keras dari suara imam. Juga tidak boleh mendahului dan tidak boleh terlalu lambat dari imam (tidak boleh ndelewer). Yang menjadi imam jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lambat. Pokoknya jangan sampai menimbulkan tasywisy (mengganggu) kawan mujahadah.
  • Teriakan atau jeritan sebagai cetusan pengalaman batin sedapat mungkin supaya dicegah. Sebab tidak mustahil jeritan atau teriakan seperti itu ditumpangi oleh nafsu bertopeng. Ini sering diamanatkan oleh Hadrotul Mukarrom Embah Yahi RA wa QS.
  • Ketika "tasyaffu'an" dilagukan atau "nidak Fafirruu  Ilalloh" bersama-sama dengan menggunakan pengeras suara, mikropun tidak boleh dimonopoli oleh hanya satu dua suara saja. Semua suara harus bisa seragam masuk ke dalam mikropun. Terkecuali untuk memberi aba-aba.


Para hadirin hadirot!. 


Adab Mujahadah seperti ka¬mi terangkan di atas, mari kita perhatikan sungguh sungguh!. Sebab kalau tidak, sangat dikhawatirkan melampaui "haddul adab" yang bisa mengganggu dan merusak sirri-sirri fadilahnya sholawat. Harus kita ingat, membaca sholawat adalah secara berhubungan dengan Rosuululloh SAW.   Firman Alloh dalam Al Qur'an  Surat Al Hujurat Ayat 2 :


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ

Artinya : "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari".


Adapun adab batin antara lain :


  • Harus niat semata-mata ibadah kepada Alloh de¬ngan ikhlas tanpa pamrih-LILLAH!. Dengan mencetuskan rasa mahabbah - cinta kepada Rosu¬lulloh SAW yang mendalam.
  • Kiat mengikuti tuntunan Rosululloh SAW -LIRROSUL. ;
  • Niat mengikuti bimbingan Ghoutsu Hadzaz-Zaman RA - LILGHOUTS.

اَلْاَعْمَالُ تَصِيْرُ كَثِيْرَةِ النِّيَّةْ

Artinya : "Amal ibadah itu bisa raenjadi banyak karena disertai niat yang banyak".


Maka di dalam Mujahadah Pengamalan Ulang 40 Hari ini dapat kita tambah niat seperti tertulis pada temanya . Yaitu kita niat menyongsong datangnya tahunbaru Hijriyyah 1414, memohonkan bagi para Hujjaaj, memohonkan bagi Perjuangan Wahidiyah utamanya bagi Musyawarah Kubro dan Mujahadah Kubro, memohonkan ummat jamii'al 'alamiin semoga segera berduyun-duyun Fafirruu Ilalloh, memohonkan bagi suksesnya PJPT II.


Kemudian adab baatin yang penting lagi yaitu :


  • Merasa bisa Mujahadah ini sebab digerakkan oleh Alloh - BILLAH ;
  • Merasa dalam Mujahadah ini mendapat syafa'at Rosululloh SAW - BIRROSUL;
  • Merasa mendapat nadhroh bimbingan dari Ghoutsu Hadzaz-Zaman RA - BILGHOUTS ;


Pokoknya jangan sekali-kali merasa mempunyai ke-mampuan sendiri tanpa digerakkan oleh Alloh!.


Adab batin yang penting lagi yaitu ISTIHDLOR, merasa berada di hadapan Rosululloh SAW, Jelasnya, Kita berdoa memohon kepada Alloh SWT, di hadapan Rosululloh SAW, maka harus hati-hati, jangan nglirik sana nglirik sini,  jangan sembarangan !.


Rosululloh SAW bersabda :

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ عِنْدَ قَبْرِىْ سَمِعْتُهُ وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ نَائِيًا اَبْلَغْتُهُ

Artinya : "Barang siapa membaca sholawat kepada-Ku di dekat kubur-Ku maka Aku mendengarnya, dan barang siapa membaca sholawat kepada-Ku dari tempat yang jauh, maka Aku yang mendatanginya".


Mari para hadirin hadirot, masalah istihdlor ini kita terapkan sungguh-sungguh!. Kemudian termasuk adab batin yang penting lagi yaitu  : TADZALLUL,  TADHOLLUM dan IFTIQOR.


Tadzallul : merasa hina sehina-hinanya dan nlongso atau merasa setulus-tulusnya.


Tadhollum : merasa dholim dan berlarut-larut penuh dosa Bahkan merasa menjadi sumbernya segala dosa. Dosa kepada Alloh Wa Rosuulihi SAW, dosa kepada kedua orang tua, bapak dan ibu terutama, dosa kepada guru, dosa kepada pimpinan, dosa kepada murid, dosa kepada anak buah, dosa kepada saudara, kepada tetangga, dosa kepada kawan dan dosa kepada sesama makhluq pada umumnya. Semua harus kita akui dengan jujur di dalam kita bermujahadah.


Iftiqor : Dengan pengakuan dosa seperti itu maka timbul rasa butuh sekali, Butuh kepada maghfiroh ampunan Alloh SWT,  butuh ke¬pada syafa'at pertolongan Rosululloh SAW, butuh kepada tarbiyyah nadhroh dan doa restu Ghoutsu Hadzaz-Zaman RA.

لَا يَكُوْنُ الْفَضْلَ اِلاَّ لِلْمُنْكَسِرَةِ قُلُوْبُهُمْ اَلْمُتَعَارِضَةِ لِلنَّفَحَاتِ اْلِالَهِيَّةْ

Artinya : "Fadlol pertolongannya Alloh Ta'ala tidak akan di berikan kecuali kepada orang-orang yang hatinya merasa hancur hina dina merasa dholim berlumuran dosa yang mau merintih meratap tangis membutuhkan pertolongan dari Alloh SWT".


Mari para hadirin hadirot !. Mari kita akui sejujur-jujurnya di hadapan Alloh Wa Rosuulihi SAW.


betapa banyak printah-printah Alloh yang tidak kita laksanakan,  bahkan kita selewengkan kite salah gunakan!. Betapa banyak larangan-Iarangan Alloh yang kita lanngar karena nuruti  nafsu!I. Betapa banyak Syari'at Rosululloh SAW yang kita langgar kita nodai!.  Betapa jauh sudah,  kita menyalah gunakan dan menyelewengkan, menodai kemurnian Ajaran Wahidiyah?. Berapa kali kita menyakitkan hati orang tua?. Mari para hadirin hadi¬rot;  semuanya kita akui secara jujur di dalam Mujahadah-Mujahadah nanti  !.    AL FAATIHAH  !.


Tentang hadiyah tsawaabul a'maal - menghadiahkan pahalanya amal-amal ibadah.


Para hadirin hadirot !. 


Pahala dari Mujaha¬dah kita ini, semua kita hadiahkan. Yang dihadiahkan bukan hanya pahalanya bacaan Surat Al Fatihah saja, melainkan pahala dari pengamalan seluruh rangkaian Sholawat Wahidiyah. Mulai dari Al Fatihah yang pertama, sampai Al Fatihah penutup.


Bahkan, di dalam Wahidiyah diajarkan supaya segala pahala yang dikaruniakan Alloh kepada ki¬ta, baik pahala dari amal ibadah yang kita lakukan sendiri maupun pahala yang kita terima dari kiriman kaum Muslimin lain, semua kite hadiahkan. Dan pahalanya kite menghadiahkan ini kite hadiah¬kan lagi,dan Seterusnya.  


Pokoknya pahala dari baik itu amal ibadah wajib seperti sholat, zaka puasa, haji dan lain sebagainya, maupun pahalanya amal ibadah sunnah seperti pahalanya membaca Al Our'an,  pahalanya membaca Tahlil, pahalanya mem¬baca zikir, membaca sholawat, pahalanya menolong orang dan sebagainya dan sebagainya,  semuanya ki¬ta hadiahkan.


Kalau semua pahala dihadiahkan, lalu apa yang tertinggal buat diri kita ?. Firman Alloh dalam Surat Al Baaqarah Ayat 147 :

اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

Artinya : "Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu". 


Kita tidak boleh ragu atau kuatir. Alloh bahkan justru akan membalas kebaikan sepuluh katii lipat. Surat Al An'am Ayat 160 : 

مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَه عَشْرُ اَمْثَالِهَا

Artinya : " Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya ".


Di dalam pengamalan Sholawat Wahidiyah, hadiah dihaturkan utamanya,  takdhiiman wa mahabbatan kepada Junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wa sallama dan kepada Hadroti Ghoutsi Hadzaz-Zaman dan seterusnya. Hanya dua itu yang dituliskan. 


Dawuhnya Hadrotul Mukarrom Embah Yahi Muallif Sholawat Wahidiyah RA wa QS, itu hanya untuk meringkas, dan diambil yang paling pokok dan paling kompeten (mempunyai wewenang). Jadi sebenarnya, dawuh Beliau,  bisa ditambah dan diperluas kepada siapa saja yang dikehendaki. Misalnya kepada orang tua, kepada guru, kepada anak, kepada murid, kepada saudara, kepada orang-orang terkemuka dan lain-lain. 


Pokoknya kepada siapa sa¬ja yang ada hubungan. Baik hubungan moril maupun hubungan materiel. Asal tidak disalah gunakan, pesannya Embah Yahi RA wa QS. Siapa saja, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Secara umum, bisa ditambah kepada jami'il Mukminin wal Mukminaat wal Muslimin wal Muslimat bangsa jin dan bangsa manusia sejak Kanjeng Nabi Adam 'alaihissalam ila yaumil qiyaamah.


Adapun caranya hadiyah, cukup dalam batin sa¬ja,  tidak perlu diucapkan.  Imam Mujahadah juga tidak perlu memperdengarkan bacaan "ILA HADROTI" dan seterusnya. Lebih-lebih kalau ada tambahan-tambahan yang dihadiyahi. Sebab mungkin bisa me-nimbulkan gangguan terhadap "hudluurul qolbi. Adapun jika memang perlu diketahui oleh orang ba¬nyak, misalnya pada waktu ada hajad kirim doa, nama-nama yang dimaksud diberitahukan dalam ko-mentar sebelum Mujahadah.


Siapa-siapa yang peting dihadiyahi dalam Mujaha¬dah-Mujahadah, kita makmum saja kepada siapa-siapa yang dihadiyahi oleh Muallif Sholawat Wahidiyah. Ini lebih gampang dan pasti tepat sasaran.


Para hadirin hadirot !, Rohimakumulloh !.


Di dalam dunia tasawwuf, menghadiahkan paha¬la amal-amal ibadah seperti kami terangkan di atas,   termasuk bagian dari cara-cara TAWAASUL-berwasilah atau berkonsultasi. Artinya kita berdoa kepada Alloh SWT dengan memohon bantuan atau jangkungan dari arwah beliau-beliau yang kita tawassuli. Dengan harapan beliau-beliau ikut memper kuat permohonan-doa kita kepada Alloh SWT.


Sekalipun beliau-beliau sudah wafat meninggalkan dunia yang fanak ini, namun arwahnya tetap hidup di sisi Alloh dan terjamin. Kita harus yakin tentang hal ini. Kalau ragu-ragu berarti ingkar terhadap firman Alloh Surat Ali Imron Ayat 169 :


وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ

Artinya : " Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki, ".


Itu orang yang terbunuh di dalam sabilillah te¬tap hidup di sisi Alloh. Lebih-lebih Junjungan kita Rosuululloh SAW, para Anbiya, para Mursalin, para Sulthonul Auliya, para Auliya dan Sholihiin. Arwahnya tetap hidup di sisi Alloh.


Pernah suatu ketika kami mohon bertanya ke¬pada Hadrotul Mukarrom Embah Yahi Muallif Shola-wat Wahidiyah RA wa QS sewaktu Beliau masih sugeng.  


"Nuwun sewu Romo, apakah ziarah kubur pa¬ra Auliya itu masih memberi manfaat?". Beliau menjawab :  "Malahan,  beliau-beliau orang-orang baik itu di alam kubur lebih kuat dukungannya jika ditawassuli,  sebab antara lain sudah tidak katutan sifat basyariyyah".


Para hadirin hadirot  ! .


Marilah kita menghaturkan hadiah bacaan Al Fatihah satu kali kepada beliau-beliau yang kita sebutkan di atas  !.        AL FAATIHAH  !.


Para hadirin hadirot !.


Kita lanjutkan mengenai Sholawat Wahidiyah. Nama Wahidiyah diambil dan ngalap barokah dari Asmaa'ul A'dhom "AL WAAHIDU" yang terdapat dalam sholawat yang pertama "ALLOHUMMA YAA WAAHIDU..." "Yaa Alloh, Yaa Tuhan Maha Satu".Tuhan Maha Satu. Satu Sifat-NYA, satu Af'al-NYA, Satu Zat-NYA. Satunya Tuhan tidak sama dengan sa-tunya makhluq.


"WAHIDIYAH" arti secara harfiyyah adalah bangsa satu, atau raudahnya kesatuan dan persatuan Jadi Sholawat Wahidiyah dapat diartikan Sholawat Kesatuan dan Persatuan. Meraang, tugas Muallif Sholawat Wahidiyah adalah mempersatukan ummaat, mengejak ummat bersatu untuk menuju sadar kepada Alloh Wa Rosuulihi SAW.  Seluruh Pengamal Wahidiyah dihimpun "ala qolbin waahid" - satu hati dalam perjalanan menuju wushul sadar kepada Alloh Wa Rosuulihii SAW. Satu hati dalam membentuk dan membina akhlaqul karimah. Satu hati dalam memikul tanggung jawab sebagai pewaris Kholifah Alloh di bumi. 


Satu hati dalam pembangunan manusia seutuhnya. Satu hati dalam mewujudkan "BALDATUN THOYYIBATUN WA ROBBUN GHOFUR"  sesuai Pancasila dan UUD 1945.

Diantara khowasnya atau keistimewaan kalimah AL WAAHIDU,  seperti disebutkan di dalam kitab Sa'aadatud-Daaroin,  Rosululloh SAW bersabda yana artinya kurang lebih:


"Al Waahidu" termasuk Asma Alloh yang Agung. Ba¬rang siapa berdoa dengan itu, diijabahi, barang siapa memohon dengan itu dikabulkan.


Khowasnya "Al Waahidu" lagi,  yaitu menghilangkan rasa kebingungan, rasa gelisah, rasa kesempitan dan kesusahan, rasa kuatir dan rasa kecewa dan rasa menyesal. Barang siapa yang mem¬baca atau mewiridkan "AL WAAHIDU" 1000 satu majlis dengan sepenuh hati khudlu', maka dia dikaruniai Alloh tidak mempunyai rasa takut kepada makhluq. Pada hal takut kepada makhluq itu merupakan sumber malapetaka di dunia dan akhirot. Dia hanya takut kepada Alloh, tidak takut kepada selain Alloh.


"Allohumma Yaa Waahidu Yaa Ahad...." 


"AL AHADU" juga termasuk Asmaul A'dhom . "YAA AHAD" artinya  : duh.  Tuhan Maha Esa. 


Di dalam dunia Kema'rifatan ada tingkat-tingkat ma'rifat. 


Ada "MA'RIFAT WAHIDIYAH",   

ada MA'RIFAT AHADIYAH". 

Ada lagi Ma'rifat Uluhiyyah dan Ma'rifat Rububiyyah.


Yang diajarkan di Wahidiyah hanya Ma'rifat Wahidiyah dan Ma'rifat Ahadiyah. 


Di dalam kitab Al Hikam disebutkan ada "Waliyun Yabqo" dan "Waliyun Yafna". Wali Bakok dan Wali Fanak. 

وَلِيٌّى يَبْقَى يَرَى اللهَ فِى كُلِّ شَيْءٍ

"Wali Bakok" melihat Alloh ada pada segala sesuatu". 

Di samping melihat Alloh, melihat makhluq. Melihat Alloh dengan mata hati, bukan dengan mata lahir. Jadi tidak seperti melihat makhluq. Bahasa yang lebih ringan, sadar, atau ingat ke¬pada Alloh. 


Di dalam prakteknya yaitu menerapkan sadar BILLAH - LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH. Ini yang harus kita latih di dalam hati kita terus menerus. Lupa,  segera ingat lagi, lupa kembali lagi dan seterusnya. Fafirruu Ilalloh, Ini yang disebut "MA'RIFAT WAHIDIYAH".

وَلِيٌّى يَبْقَى فَلَا يَرَى مَعَ اللهِ شَيْئًا

"Wali Fanak",  tidak kelihatan sesuatu, melainkan hanya Alloh yang kelihatan".

لَا مَوْجُوْدَ اِلاَّ اللهْ

Tidak ada yang wujud selain Alloh. 

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُ

"Segala sesuatu hancur (tidak wujud) kecual; hanya Alloh". 


Ini disebut  "MA'RIFAT AHADIYAH". Di dalam Wahidiyah dipraktekkan dengan ISTIGHROG. 


Para hadirin hadirot!.


Kiranya kita cukupkan sekian dulu Kuliah Session pertama dalam rangka Mujahadah Pengamalan 40 Hari. Insya Alloh pada Session ke II besok ma¬lam Jum'at Pon tgl 13 Mei 1993 bertepatan tgl 22 Dzul Qo'dah 1413 H kita sambung lagi.


Atas perhatian para hadirin hadirot, kami ucapkan terima kasih teriring doa "Jazaakumullohu khoirooti wa Sa'aadaatid-dunya wal akhiroh" . Semoga diridloi Alloh Wa Rosuulihi SAW Wa Ghoutsi Hadzaz-Zaman RA, dan membuahkan manfaat dan baro¬kah sebanyak-banyaknya, khususnya untuk meningkatkan kesadaran Fafirruu Ilallohi Wa Rosuulihi SAW dan umumnya fiddiini waddunya wal akhiroh  !. Amiin !. Segaia kekurangan dan kekhilafan mohon dimaafkan  !.


Selamat-bermujahadah i

Selamat berjuang Fafirruu Ilalloh !.

Wassalaamu 'alaikum, Wr. Wb.

Kedunglo,  27 April 1993


Utulah Kuliah Wahidiyah Dalam Rangka Mujahadah  Pengamalan  Ulang  40 Hari pada Session Pertama yang dilanjutkan pada Session Kedua yang disajikan oleh Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat, Kedunglo Kediri Jawa Timur adapun yang tanda tangan beliau KH. Moh. Ruhan Sanusi Ketua V Mewakili Para Ketua PSW Pusat, semoga bermanfaat dan bisa menyajikan Session ke Dua.