√ Keutamaan Membaca Shalawat Nabi Yang Paling Besar -->

Keutamaan Membaca Shalawat Nabi Yang Paling Besar

Ibnu Rusyd
25 January 2021

Ad1

Ad2

"Ittibaa'u Shuurotihi Sholallohu 'Alaihi Wasallam 'Ala Qolbil Musholli" merupakan Keutamaan Membaca Shalawat Nabi Yang Paling Besar Nilainnya, tentunya ada cara bagaimana kita berhubungan dengan Beliau Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wasallam atau istilah lain Atta'aluq Bijanabihi SAW.


Mari kita ketahui bersama Keutamaan Membaca Shalawat Nabi Muhammad Saw, Keutamaan Membaca Shalawat Nabi Di Hari Jumat, Keutamaan Membaca Shalawat Nabi Muhammad, Keutamaan Membaca Sholawat Nabi 1000 Kali, Manfaat Membaca Shalawat Nabi 100 Kali, Manfaat Membaca Shalawat Nabi Setiap Hari, Keutamaan Baca Shalawat Nabi, Manfaat Membaca Shalawat Nabi Sebelum Tidur tetapi dalam kesempatan kali ini kita fokus pada Keutamaan Membaca Shalawat Nabi Yang Paling Besar.

     

Cara Hubungan Dengan Rosuululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam


Dalam kesempatan-kesempatan yang dulu di Wahidiyah.me, sedikit banyak sudah diterangkan bahwa faedah membaca sholawat yang paling besar nilainya ialah "Ittibaa'u Shuurotihi Sholallohu 'Alaihi Wasallam 'Ala Qolbil Musholli" terbayangnya hati kepada Rosuululloh Sholallohu 'Alaihi Wa sallam. Istilah bahasa jawa "KETOK KETOEN"


Atta'aluq Bijanabihi SAW 


Kita yaqin bahwa eratnya hubungan jiwa dengan Rosuululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam merupakan pondasinya Iman dan taqwa dan menjadi patrinya mahabbah kepada Allah Wa Rosuulihii Sholallohu 'Alihi Wasallam, dan iman, taqwa dan Mahabbah itu merupakan bangunan keselamatan dan kebahagiaan hidup lahir batin di Dunia sampa di Akhirat.


Keutamaan Membaca Shalawat Nabi Yang Paling Besar

Maka oleh karena itu hubungan jiwa kita sebagai ummat kepada Rosuululloh SAW harus dibina dan dipelihara yang se erat-eratnya dan sebaik-baiknya. Adapun caranya "TA'ALLUQ" atau hubungan jiwa dengan Rosuululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam tersebut dalam kitab "Sa'aadatud Daaroini Fis Sholaati 'Ala Sayyidil Kaunaini" karangan Syeh Yusuf bin Ismail An-Nabhani ada dua cara. Satu hubungan "SHUURIYYUN" dan dua hubungan "MAKNAWI".


Hubungan SYUURIYYUN


Hubungan "SYUURIYYUN" dapat ditempuh melalui dua jalan, jalan kesatu : melaksanakan segala perintah Rosuululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam dan manjaui atau meninggalkan segala larangannya. 


Jadi melaksanakan "SUNNAH ROSUL" dengan konsekuen, lengkap dan tepat. Jelasnya melaksanakan Syariat Islam secara komplit, tepat dan sempurna dalam segala hubungan. Hubungan kepada Allah wa Rosuulihii Sholallohu 'Alaihi Wa Sallam dan hubungan di dalam masyarakat, terhadap makhluq pada umumnya.


Jalan kedua ialah "FANAK" atau lebur di dalam lautan mahabbah cinta kepada Beliau Rosuululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam. Memperbanyak membaca Sholawat, mengingat-ingat dan mengangan-angan dengan rasa syauk rindu kepada Rosuululloh SAW


Memperbanyak membaca atau mendengarkan keterangan-keterangan yang mengandung pujian-pujian dan penghormatan terhadap Beliau Kanjeng Nabi SAW yang menggerakkan dan menambah rasa bronto rindu yang mendalam. Begitu juga tafakkur mengangan-angan sifat-sifat mulia dan jasa-jasa dari Beliau Rosuululloh SAW.


Hubungan MAKNAWI


Selanjutnya "HUBUNGAN MAKNAWI" juga dapat ditempuh melalui dua cara


Cara Pertama "HUBUNGAN MAKNAWI"


Pertama, senantiasa membayangkan atau ISTIHDLOR kepada pribadi Rosuululloh SAW yang mulia dan agung itu dengan rasa takzim mahabbah dan mahaabah atau kagum. Ini dapat dilakukan oleh mereka yang sudah pernah bertemu Rosuululloh SAW baik secara Rukyah - mimpi lebih-lebih Yaqodhotan - Melek-Melekan. Bagi yang belum pernah dapat mebanyangkan sifat-sifat Beliau SAW yang mulia dan agung itu, kepada Budi pekerti Beliau SAW yang luhur dan sebagainya.


Atau merasa seperti seolah-olah berada di hadapan Beliau SAW, seolah-olah mengikut dibelakang Beliau SAW dengan adab lahir batin sebaik-baiknya. Jika sudah pernah ziarah ke Makkah atau Madinah dapat membayangkan apa saja yang membekas baik di dalam hati. 


Umpamanya kepada Maqam Rosuululloh SAW, kepada Kakbah, kepada Masjid atau tempat-tempat bersejarah lain pada waktu Beliau SAW masih hidup memperjuangkan Islam memberi tuntunan kepada para umat.


Keutamaan Membaca Shalawat Nabi


Bermimpi bertemu Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah haq - benar. Tidak perlu ragu-ragu lagi, sebab syetan tidak dapat berpura-pura atau membo-membo menjadi Kanjeng Nabi SAW. Sabda Hadist Rosuulillah SAW antara lain :


مَن رَآنِي فقَدْ رَأَى الحَقَّ، فإنَّ الشَّيْطانَ لَا يَتمثَّلُ بي


"MAN ROAANII FAQOD ROAL HAQQO FAINNAS SYAITOONA LA YATAMATSALU BII"


Artinya : "Barang siapa yang mimpi melihat Aku, Maka Sungguh dia melihat kebenaran. Karena sesungguhnya setan tidak dapat berpura-pura sebagai aku".


Di dalam kitab "TA'THIIRIL ANAAM" kalimat "MAN ROAANII" diberi tafsir penjelasan "WALAU 'ALA AYYI SHUUROTIN WA HAALATIN" - Sekalipun menurut rupa dan keadaan bagaimanapun juga. Memang hasil mimpi seseorang tidak sama dengan yang dialami orang lain. Ada yang tepat persis seperti sifat-sifat Kanjeng Nabi SAW yang diterangkan di dalam kitab-kitab sejarah, ada lagi yang tidak seperti itu. Ini antara lain tergantung kepada jernih dan tidaknya hati orang yang bermimpi. Makin jernih makin baik hasilnya mendekati kebenaran yang senyatanya, tidak bedanya seperti kaca cermin.


Cara Kedua "HUBUNGAN MAKNAWI"


Cara TA'ALLUQ MAKNAWI yang kedua ialah mempraktekkan dalam hati atau menyadari kepada "HAQIQOH MOHAMMADIYYAH" yaitu senantiasa merasa menyadari bahwa asal kejadian segala Makhluq itu, termasuk dirinya sendiri dan gerak lakunya lahir batin, adalah "NUURU MOHAMMADIN SAW" - NUR MUHAMMAD


Disebutkan dalam suatu Hadist Qudsi : 


خَلَقْتُكَ مِنْ نُوْرِىْ وَخَلَقْتُ الْخَلْقَ مِنْ نُوْرِكَ  ( الحديث القدسيى)


"KHOLAQTUKA MIN NUURII WAKHOLAQTUL KHOLQO MIN NUURIKA"


Artinya : "Aku menciptakan engkau (Muhammad) dari Nur-Ku dan Aku mencipta segala makhluq dari Nur-mu".


Jadi kalau begitu, Nur Muhammad itu tidak pisah sedetikpun dari Makhluq. Makhluq apa saja, jenis kasar maupun jenis halus, yang kelihatan dan yang tidak terlihat, yang lahir atau yang bathin, makhluq dunia maupun makhluq akhirat. Hakikat segala makhluq adalah Nur Muhammad SAW. 


Ini tidak cukup dimengerti secara ilmiah, tetapi harus diterapkan dalam DZAUQIYYAH, dalam rasa hati di setiap saat dan keadaan!. jadi angan-angan Krentek Hati atau Unek-Unek, fikiran, perasaan, baik rasa gembira maupun rasa susah, rasa sakit, begitu juga pendengaran, penglihatan, pembau hidung dan lain-lain, semuanya berasal kejadian dari Nur Muhammad SAW. Selanjutnya Nur Muhammad bersal dari Nur Allah.


Gambaran KAIN - BENANG -KAPAS.


Untuk memudahkan pemaham, kita membuat gambaran seperti di bawah ini, (Tapi harus kita akui bahwa gambaran tidak persis dengan apa yang digambarkan). Yaitu gambaran "KAIN - BENANG -KAPAS". Kain ibaratnya makhluq, benang ibaratnya Nur Muhammad dan kapas ibaratnya Nur Allah. Kain tersebut dari pada benang. Adanya benang di dalamnya, jadi haqiqat kain adalah benang. 


Jika kain dilepas benangnya menjadi lenyap kain itu - ADAM, tidak maujud atau wujud. Jadi kain itu sendiri tidak mempunyai hakikat wujud. Maka hakikatnya kain adalah benang, begitu juga makhluq. 


Makhluq tidak mempunyai hakikat wujud, hakikat wujudnya makhluq ini semua adalah Nur Muhammad. Ini yang harus disadari oleh setiap manusia. 


Dirasa secara dzauqiyyah, tidak cukup hanya pengertian ilmiah saja. Dirasa dan disadari dalam segala keadaan hidup ini, baik keadaan di dalam pribadinya sediri maupun yang di luar pribadinya. jadi mudahnya, terlihat makhluq, terlihat NUR MUHAMMAD SAW. berfikir, berangan-angan, bersama makhluq, sadar kepada NUR MUHAMMAD SAW. dan seterusnya.


Ini perlu dilatih dalam hati dan kesadaran, dan alhamdulillah dengan tambahan mengamalan Sholawat Wahidiyah latihan kesadaran kepada NUR MUHAMMAD SAW. tersebut dikaruniai kelancaran. 


Al hamdullillah kurang atau tidak mujahadah Sholawat Wahidiyah latihan hati seperti itu sukar dan pengertian hanya terhenti paling-paling pada tingkat ilmiah saja. Hanya sekedar memiliki "Ilmul Yakin" tidak mencapai tingkat "AINUL YAKIN" lebih-lebih "HAQQUL YAQIIN".


Melanjutkan gambaran "KAIN - BENANG - KAPAS"


Selanjutnya kita sadari bahwa benang terbuat dari kapas, Wujudnya benang disebabkan adanya kapas, tanpa kapas atau kapuk, benang tidak ada, tidak wujud. Jadi Hakikatnya benang adalah kapuk, begitu juga hakikat Nur Muhammad SAW adalah Nur Allah. 


Kalau dilangsungkan pengertiannya hakikat kain adalah Nur Allah, tapi kita disni sedang membahas kesadaran Nur Muhammad SAW. jadi kita batasi sampai pada pengetrapan kesadaran Nur Muhammad SAW tersbut. Tapi dalam praktek dzauqiyahnya sebenarnya tidak terpisah-pisah melainkan haalan Wa Dzauqqon - spontan dalam rasa.


Sekali lagi hal-hal yang kita bahas di atas tadi harus kita terapkan dalam rasa hati secara kontinyu dalam segala keadaan dan segala waktu dan segala perbuatan. Tidak cukup hanya menjadi perbendaharaan ilmiah saja, lebih-lebih tidak boleh dipergunakan dalam pembicaraan atau mujadalah perdebatan, lebih-lebih terhadap orang-orang yang bukan ahlinya.


Berbahas-bahas atau musyawarah dengan orang-orang yang ahli untuk memperdalam diperbolehkan tetapi harus selalu diterapkan dalam hati. Disamping latihan-latihan hati, gat mujahadah Sholawat Wahidiyah dengan segala adab-adab ikhlas, takzim mahabbah dan sebagainya, al hamdulillah dikaruniai kelancaran dan kemajuan.


Shalawat-Shalawat bernadzom karya Muallif Sholawat Wahidiyah


Di bawah ini dinukilkan Sholawat-Sholawat bernadzom juga ta'lifan Beliau Mukarrom Bapak KH. Abdul Mmadjid Ma'roef. Jika diamalkan banyak disamping Mujahadah Sholawat Wahidiyah, lebih-lebih jika diamalkan dengan mudawamah al hamudlillah besar sekali manfaatnya dalam hati terhadap kesadaran "BIHAQIQOH MUHAMMADIYYAH"


Mari, kita terapkan dalam hati apa-apa ilmiah yang sudah kita miliki yang baru kta bahas dimuka tadi, terutama ketika membaca Sholawat-Sholawat di bawah ini:


AL FAATIHAH

 

بسم الله الرحمن الرحيم

عَلَيـْــــــكَ وَاْلآلِ أَياَ خَـــــــيْرَ اْلأَناَمْ *  أَلْحَمْدُ للهِ الصَّــــلاَ ةُ وَالسَّـــــــلاَمْ

فَاشْفَعْ لَناَ فَاشْفَعْ لَناَ عِنْدَ الْكَرِيمْ * رَبٌّ كَرِيمْ وَأَنـْتَ ذُوْ خُلُقٍ عَظِيمْ


BISMILLAHIR ROHMANIR ROHIIM


AL HAMDULILLAHIS SHOAATU WASALLAM # ALAIKA WAL ALI AYAA KHOIROL ANAM

ROBBUN KARIIM WA ANTA DZUU KHULQIN 'ADHIM # FASYFA' LANAA FASYFA' LANA 'INDAL KARIM


Artinya : "Segala Puji bagi Allah, Sholawat salam kusanjungkan kepangkuan-Mu beserta Keluarga - Duhai sebaik-baik manusia". 


"Tuhan Maha Mulia dan Engkau memiliki akhlaq yang agung, maka syafa'atilah kami, syafa'atilah kami, disisi Allah Tuhan Maha Mulia".


يَا مَنْ بِهِ قَدْ عُرِفَ الْخَلَّاقُ * لَوْلَاكَ مَا خُلِقَتِ الْخَلَائِقُ


YAA MAN BIHI QOD 'URIFAL-KHOLLAAQU # LAULAAKA MAA KHULIQOTIL KHOLAAQU


Artinya : "Duhai Kanjeng Nabi yang sebab dikenalnya Tuhan Maha Pencipta, jika tidak sebab engkau Kanjeng Nabi, segala makhluq tidak diciptakan".


Suatu hadist Qudsi menyebutkan : 


لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ مَا خَلَقْتُ الْاَفْلَاكَ (الحديث القدسى)

LAULAAKA LAULAAKA MAA KHOLAQTUL AFLAAKA


Artinya : "Jika tidak sebab Engkau Muhammad, jika tidak sebab Engkau Muhammad, Aku tidak mencipta cakrawala".


مِنْ نُوْرِكَ الْخَلْقُ جَمِيْعًا خُلِقَا * وَاَنْتَ مِنْ نُوْرِ الَّذِى قَدْ خَلَقَا


MIN NUURIKAL KHOLQUU JAMII'AN KHULAQO # WA ANTA MIN NUURIL LADZII QOD KHOLAQO


Artinya : "Segala Makhluq tercipta dari Nur-Mu Kanjeng Nabi dan Engkau dari Nurnya Zat Yang Maha Mencipta".


يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهِ حَقًّا اَجْمَعِينْ * اَنْتَ اِمَامُ الْاَنْبِيَا وَالْمُرْسَلِينْ 


YAA KHOIRO KHOLQILLAHI HAQQON ADJMA'IIN # ANTA IMAAMUL AN BBIYA WAL MURSALIIN


Artinya : "Duhai sebaik-baik makhluq Allah dengan Haq, Engkaulah imamnya para Anbia' dan Mursaliin".


يَا اَيُّهَا الرَّسُوْلُ يَا محمد * يَا صَاحِبَ الْمَقَامِ يَا مَحْمُوْدُ 


YAA AYYUHAR ROSULU YAA MUHAMMAD # YAA SHOOHIBUL MAQOOMI YAA MAHMUUDU


Artinya : "Duhai Kanjeng Rosul Duhai Kanjeng Nabi Muhammad, Duhai Penghuni Maqom luhur, Duhai Nabi terpuji".


يَا اَيُّهَا الشَّفِيْعُ يَا مُشَفَّعُ * كُلُّ شَفِيْعٍ هُوَ مِنْكَ يَشْفَعُ


YAA AYYUHAS SYAFII'U YAA MUSYAFFA'U # KULLU SYAFII'IN HUWA MINKA YASYFA'U


Artinya : "Duhai Kanjeng Nabi pemberi Syafaat, Duhai Kanjeng Nabi yang diterima syafa'atnya oleh Allah setiap yang memberi syafa'at itu berasal dari pada-Mu".


يَآشَافِعَ اْلخَلْقِ الصَّلاَةُ وَالسَّـلاَمُ  *  عَلَيْـكَ نُوْرَالْخَلْقِ هَـادِيَ اْلأَنَمُ


 وَأَصْــلَهُ وَرُحَـهُ أَدْرِكْـنِى  *  فَقَـدْ ظَلَمْـتُ أَبَـدًا وَّرَبِّـنِى


   وَلَيْـسَ لِى يَاسَـيِّدِى سِوَاكَا  *  فَإِنْ تَرُدَّ كُنْـتُ شَخْصًا هَالِكَا


يَا سَـيِّدِىْ يَارَسُـوْلَ اللهْ


YAA SYAFI'AL-KHOLQISH-SHOLAATU WASSALAAM  * ‘ALAIKA NUUROL KHOLQI HAADIYAL ANAAM 

WA ASHLAHUU WA RUUHAHU ADRIKNII * FAQODH DHOLAMTU ABADAW-WAROBBINII 

WA LAISA LII YAA SAYYIDII SIWAAKA * FA-IN TARUDDA KUNTU SYAKHSON HAALIKAA 


YAA SAYYIDII YAA ROSUULALLOH !.


Artinya : Duhai Kanjeng Nabi pemberi Syafa’at makhluq Kepangkuan-MU sholawat dan salam kusanjungkan Duhai Nur cahaya makhluq, pembimbing manusia Duhai unsur dan jiwa makhluq, bimbing dan didiklah diriku Maka sungguh aku manusia yang dholim selalu tiada arti diriku tanpa engkau Duhai Yaa Sayyidii jika engkau hindari aku (akibat keterlaluan berlarut-larutku), pastilah ku kan hancur binasa.


Duhai Pemimpinku, Duhai Utusan Allah


Itulah ulasan atau penjelasan tentang Keutamaan Membaca Shalawat Nabi Yang Paling Besar, Cara Hubungan Dengan Rosuululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam atau istilah yang umumnya yaitu Atta'aluq Bijanabihi SAW semoga bermanfaat dan menambah kecintaan kita kepada beliau Rosuululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam, aamiin.