√ Wahidiyah | Hal-hal Yang Sering Dipermasalahkan Dalam Wahidiyah

Islam

Wahidiyah | Hal-hal Yang Sering Dipermasalahkan Dalam Wahidiyah

Ibnu Rusyd
Thursday, May 21, 2020

Ad1

Ad2

Wahidiyah

Wahidiyah - Di dalam Wahidiyah meliputi Sholawat, pengamalan, mujahadah, Ajaran, dan lembaga organisasinya, ada beberapa hal dan istilah yang belum dikenal oleh umat Islam pada umumnya, sehingga ketika disampaikan sering terjadi salah faham yang bisa meresahkan di masyarakat, lebih-lebih ketika penyampaiannya kurang mendasar dan kurang bijaksana. 

Wahidiyah meliputi dalam bidang Sholawatnya, Pengamalan, Mujahadah, Ajaran dan juga Organisasinya, yang sering terjadi selama ini baik dari media diantaranya Media Online, timbulnya permasalahan itu disebabkan tuduhan, pandangan, pendapat, hasil penelitian, dan sebagainya yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya atau karena ada perbedaan cara memandangnya. Misalnya sesuatu yang bersifat haqiqat dipandang dengan kacamata syari’at. Kemudian hal-hal tersebut disampaikan di tengah-tengah masyarakat tanpa adanya tabayyun (klarifikasi) dengan yang bersangkutan (lembaga PSW). Di sisi lain, timbulnya permasalahan bisa terjadi karena adanya oknum-oknum yang mengatasnamakan pengamal Wahidiyah yang menyimpang atau tidak sesuai dengan yang dibimbingkan oleh Muallif Sholawat Wahidiyah sendiri.

Wahidiyah Hal-hal Yang Sering Dipermasalahkan Dalam Wahidiyah

Dengan ini kiranya sangat diperlukan adanya penjelasan hal-hal yang dianggap salah. Mudah-mudahan tulisan ini bisa dimanfaatkan untuk menambah pemahaman, pengertian dan penerapan yang benar bagi para pengamal dan penyiar Wahidiyah agar penyampaian-nya kepada masyarakat lebih mudah diterima, difahami, dan diamalkan sehingga tidak menimbulkan permasalahan yang negatif. 

Begitu pula bisa dimanfaatkan dan dijadikan acuan/kajian bagi tokoh-tokoh agama dan masyarakat (Ulama dan Umara) ketika akan mengeluarkan pandangan dan fatwanya. 

Hal-hal Yang sering dipermasalahkan dalam Wahidiyah diantaranya sebagai berikut:

A. Hal GHOUTSU HADZAZ-ZAMAN

1. Suatu hal yang belum diketahui oleh umumnya umat Islam

Dalam bimbingan Muallif Sholawat Wahidiyah RA ada suatu hal yang belum diketahui oleh umumnya umat Islam (kecuali orang-orang tertentu/khash), yaitu masalah Ghouts atau Ghoutsu zaman, baik tentang keberadaan, kedudukan dan khashaishnya maupun cara memberikan hak, cara berhubungan dan bertawasul/ beristighatsah kepadanya. 

Oleh karena itu ketika diungkap secara umum sudah sewajarnya akan terjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam sendiri serta bisa memanaskan situasi jika masing-masing pihak tidak bisa menyikapinya dengan bijaksana. Namun kalau tidak diungkapkan oleh siapa saja yang mengetahuinya maka akan terkena kecamannya kitmanil-ilmi (menutup-nutupi ilmu) sebagaimana dalam hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Dalam Kitab Jami’ul-ahadits, Imam Suyuthi, hadits no. 23696 diterangkan:

“Barang siapa menutup-nutupi ilmu yang diketahuinya maka dia akan diikat besuk hari kiamat dengan pengikat dari api”. (H.R. At-Thabrani dari Ibni Abbas Ra.) (Jami’ul-ahadits, Imam Suyuthi, hadits no. 23696).

2. Masalah Ghouts termasuk masalah khilafiyah sebagaimana masalah khilafiyah lainnya

Khilafiyahnya seperti tawasul dengan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam atau para wali Allah SWT, bacaan manaqib, bacaan tahlil untuk orang yang telah meninggal dunia, istighatsah, dan sebagainya. Sebagian besar ulama terdahulu (jumhur) terutama yang berhaluan ahli sunnah wal-jama’ah (seperti yang diikuti oleh Jam’iyah NU) membenarkan bahkan melaksanakan dan menganjurkan hal-hal tersebut. Tapi juga ada golongan lain yang tidak membenarkan bahkan menolaknya dengan nada yang sangat keras.  

Golongan tersebut berpendapat bahwa tawassul bin-Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam wabil-auliya setelah wafatnya, tahlil untuk orang sudah meninggal dunia, dan istighotsah dengan selain Allah SWT itu termasuk kufur dan syirik akbar. Orang Islam yang melakukannya disamakan dengan orang musyrik yang menyembah berhala.

Dalam hal-hal tersebut Wahidiyah mengikuti ulama yang membenarkannya. Mengikutinya karena adanya dasar/ landasan naqlan wa’aqlan dari ulama terdahulu sebagaimana dalam uraian di nomor-nomor berikut ini.

3. Kalimah “GHOUTS” makna aslinya pertolongan

Lafadz “GHOUTS” bermakna isim fa’il (orang yang memberi pertolongan), boleh disebut Penuntun atau Pembimbing. Penuntun kepada kebaikan, pembimbing kepada keselamatan dan kebahagiaan yang diridloi ALLAH WA ROSUULIHI SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM fiddun-ya wal akhiroh. 

Penuntun dan penarbiyah khususnya di bidang menuju wushul-sadar-ma’rifat kepada ALLAH WA ROSUULIHI ROSUULIHI SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM dan penolong dari berbagai kesulitan dan problem-problem kehidupan lainnya sebagaimana dalam Buku Kuliah Wahidiyah, hal. 170, DPP PSW cetakan ke 13.

4. Ta’rif dan Keberadaan Al-Ghouts

Dalam Kitab Jami’ul-ushul fil-auliya’ termasuk yang dijadikan pegangan oleh Jam’iyah Thariqah karya Syekh al-Kamsyakhanawy an-Naqsyabandy, hal. 4 :

Wahidiyah | Hal-hal Yang Sering Dipermasalahkan Dalam Wahidiyah

Adapun pengertian wali Qutub dan para wali, dikatakan oleh para ulama: bahwasanya wali-wali qutub itu banyak. Karena setiap pemuka suatu kaum (dalam dunia kewalian) itu sebagai quthub bagi kaum tersebut. Adapun wali qutub yang sebagai Ghouts itu hanya seorang (di setiap zamannya).

Juga dalam Kitab At-Ta’arif, Muhammad abdur Rauf al-Manawy, hal 83 menjelaskan:

Wahidiyah | Hal-hal Yang Sering Dipermasalahkan Dalam Wahidiyah

Al-Aqthab adalah orang-orang yang telah dikaruniai beberapa hal (ahwal) dan kedudukan (maqamat). Sebutan ini bisa diperluas. Setiap orang telah dikaruniai suatu maqam dan dengan maqam tersebut di masanya dia sendirian maka dia disebut wali Quthub. Akan tetapi ketika di ucapkan “Al-quthbu” (quthb muthlaq) itu hanya seorang saja di setiap masa. Dialah “al-ghouts”. Dia sebagai sayyid (ber-kedudukan tertinggi) bagi ahli zamannya dan sebagai imam/pemimpin bagi mereka. 

Kitab-kitab yang menjelaskan tentang keberadaan Al-Ghouts, antara lain: 

1) Ruuhul-Ma’any fii tafsiril-Qu’an al-‘adhim was-sab’il ma’any (Tafsir Al-alusy): Syihabuddin Mahmud bin Abdillah Al-husainy, Juz 10/277 dan Juz 14/216 (al-maktabah asy-syamilah). 

2) Kasyful-khafa: Syekh al-‘Ajaluny Isma’il bin Muhammad Al-Jarahy hal. 27. 

3) At-Ta’rifat : Syekh ‘Ali bin Muhammad al-Jurjany, hal 162. (al-maktabah asy-syamilah). Dan masih banyak lagi lainnya.

Sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam : 

Wahidiyah | Hal-hal Yang Sering Dipermasalahkan Dalam Wahidiyah

"Sesungguhnya Allah memiliki 313 orang yang hatinya seperti hatinya nabi Adam, 40 orang yang hatinya seperti hatinya nabi Musa, tujuh orang yang hatinya seperti hatinya nabi Ibrahim, lima orang yang hatinya seperti hatinya malaikat Jibril, tiga orang yang hatinya seperti hatinya malaikat Mikail, dan seorang yang hatinya seperti hatinya malaikat Israfil. Maka ketika yang satu itu meninggal maka Allah menggantikannya salah satu dari tiga orang, ketika ada yang meninggal dari tiga orang tersebut Allah akan menggantikan salah satu dari lima orang, ketika dari lima orang itu ada yang meninggal Allah menggantikannya dari tujuh orang, ketika dari tujuh orang itu ada yang meninggal Allah menggantikannya dari 40 orang, ketika dari 40 orang itu ada yang meninggal Allah menggantikannya dari 313 orang, dan ketika dari 313 orang itu ada yang meninggal Allah menggantikannya dari orang umum. Maka (sebab doa) mereka Allah menciptakan kehidupan, kematian, menurunkan hujan, menumbuhkan tetumbuhan dan menolak bencana”. (H.R. Abu Nu’aim /Al-Hulyah I/7, dan Ibnu ‘Asakir dari Ibni Mas’ud Ra,).

Hadits tersebut juga dimuat pula dalam kitab: Jam’il-jawami’ atau Al-jami’ al-kabir: Syekh Jalaluddin As-Suyuthi, Juz I. hadits no. 7851, kitab Ad-durrul-mantsur fit-tafsiri bil-ma’tsur, Syekh Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H) Juz III/158. Jami’ul-ahadits, haditst no. 8289, Syekh Jalaluddin As-Suyuthi, Kitab Ruhul-bayan fi tafsiril-Quran, Isma’il Haqy bin Musthofa Al-istanbuly al-hanafy, Juz III/218 dan Juz 4 hal 334. Kitab Kasyful-khafa: Syekh al-‘Ajaluny Isma’il bin Muhammad Al-Jarahy hal. 25. Tafsir As-sirajul-munir 1/139, Kanzul-‘amal fi sunanil-aqwal, hadits no. 34629, Lisanul-mizan (Ibnu Hajar Al-Asyqalani) hadits no. 349, dan masih banyak lagi.

Dalam kitab Ruhul-bayan fii Tafsiri-Qur-an Juz 4/334 disebutkan :

Yang dimaksud “al-wahid” dalam hadits di atas ialah al-quthbu - al-ghouts yang kedudukannya di antara para wali Allah bagaikan titik tengah dari lingkaran yang berfungsi sebagai asnya, (dengan doa) beliau terjadilah kebaikan alam.

5. Kedudukan dan Khashaish Ghouts

a. Al-Ghouts sebagai pusat pandangan Allah di alam ini pada setiap masa dan sebagai mediator di antara Allah SWT dan hamba-Nya. 

Kata Syekh Zakaria dalam risalahnya, sebagaimana dalam Mirqatul-Mafatih 15/457:

Al-quthb yang disebut pula Al-ghouts adalah seseorang yang (dijadikan) sebagai tempat pandangan Allah dari alam ini pada setiap masa, dia di masa itu sebagai perantara antara Allah SWT dan hamba-Nya. Dia membagikan bimbingan spiritual (radiasi batin) kepada ahli wilayahnya sesuai dengan ketentuan dan kehendaknya (semuanya bi-iznillah).

b. Para wali Allah termasuk Al-Ghouts (sulthan auliya) sangat berjasa bagi kesejahteraan umat masyarakat. 

Dalam kitab Hilyatil-Auliya I/7 disebutkan:

Ditanyakan kepada Ibni Mas’ud perawi hadits di atas: Bagaimana bisa terjadi bihim yuhyii wayumiitu wayumthiru …?. Beliau menjawab: karena para hamba Allah tersebut memohon kepada Alloh SWT agar memperbanyak umat maka diperbanyaklah umat ini, memohon dihancurkannya orang-orang yang sombong maka di hancurkanlah mereka, memohon diturunkannya hujan maka diberi hujanlah mereka, memohon ditumbuhkannya tanaman untuk umat maka tumbuhlah tanaman di atas bumi, dan memohon ditolaknya bencana maka di hidarkanlah berbagai bencana sebab do’a mereka.

Begitu besar jasa-jasa para wali Allah SWT yang di antaranya adalah al-Ghouts sebagai sayyidnya dan sebagai perantara diantara Allah dan hamba-Nya (seperti uraian di atas). Namun kita umat manusia pada umumnya tidak memahami dan menyadari, apa lagi berterima kasih, Mari kita takkuri hal ini.

Dari dasar-dasar di atas bisa difahami bahwa Ghoutsu Zaman tidak hanya milik atau untuk pengamal Wahidiyah saja. Melainkan diperuntukkan bagi seluruh umat masyarakat (Jami’al-‘alamin). 

Hanya saja di dalam Wahidiyah masalah Ghouts Zaman dibimbingkan dengan detail oleh Muallif Sholawat Wahidiyah, baik tentang keberadaan, kedudukan, fungsi, wewenang, dan khashaishnya maupun cara memberikan hak, cara berhubungan dan cara bertawasul/beristighatsah dengannya terutama untuk menuju sadar kepada Allah SWT. 

Oleh karena itu bagi siapa saja terutama para mursyidul-ummah (pembimbing masyarakat) yang meyakini kebenaran dasar-dasar di atas seharusnya berusaha mengenali dan memanfaatkan keberadaan Ghoutsu Zaman terutama untuk menuju sadar kepada Allah SWT bagi diri masing-masing dan bagi umat masyarakat yang dibimbingnya.

6. Jalab dan Salab bagi Ghouts

a. Pengertian Jalab dan Salab

Langsung saja, bahwa Jalab arti bahasanya menarik dan salab arti bahasanya menolak, mencabut, atau menghilangkan. Terjadinya jalab dan salab bagi para wali Alloh atau lainnya (orang awam) itu pada hakikatnya tidak lepas dari izin, kehendak dan kekuasaan Alloh (bi-iznillah wairadatihi waqudrotihi). Artinya jalab dan salab adalah hak mutlak bagi Alloh SWT dan manusia yang diberi hak jalab dan salab hanyalah sebagai perantara (wasithah) saja. Syahid naqli terjadinya jalab dan salab antara lain sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam Kitab Subulussalam hadits no. 1370 :

“Ridlo Alloh disebabkan ridlanya kedua orang tua dan murka Alloh disebabkan marah-nya kedua orang tua”. (H.R. At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim, dari Abdillah bin ‘Amri bin al-‘Ash Ra)

Dalam hadits tersebut terdapat jalab dan salab. Ridla-Nya kedua orang tua menjalab (menarik) terjadinya ridla Allah SWT dan marahnya kedua orang tua meng-salab (menghilangkan) ridla Allah SWT. Jelas kan?

b. Jalab dan salab bagi para wali Allah khususnya al-Ghouts

Terjadinya jalab dan salab bagi para wali Allah khususnya al-Ghouts ada kalanya dengan ijabahnya do’a, sebab ridlo/marahnya atau dengan sikap (lahiriah/batiniah)nya dan bisa terjadi pula sebaliknya. 

Yakni orang awam dijadikan sebab di-salab atau di-jalabnya seorang sholeh atau auliya. Semuanya terserah kehendak Alloh SWT, karena pada hakikatnya tidak lepas dari izin, kehendak dan kekuasaan Allah (bi-iznillah wairadatihi waqudrotihi). Hanya saja terjadinya peristiwa jalab dan salab bagi para waliyullah khususnya al-Ghouts lebih banyak daripada lainnya karena beliau mustajabud-da’awat (seseorang yang mudah diijabah doanya).

Simak penjelasan di bawah ini:

Dalam kitab Taqribil-Ushul / Syekh Ahmad bin Zaini Dakhlan, hal 58 :

Syekh Abu Abbas Al-Mursy berkata: Penjelasan salab yang disandarkan kepada para wali Allah, dicontohkan si fulan meng-salab fulan lain (mencabut sesuatu yang dimiliki oleh fulan yang lain), itu dia bertawajuh (berdoa dengan sungguh-sungguh) kepada Alloh SWT agar mencabut sesuatu yang dimiliki oleh si fulan lain tadi. Jika Alloh menghendakinya maka pencabutan tersebut adalah dari Alloh SWT bukan dari yang berdo’a.

Kitab Karamatil-Auliya’, Sayyid Yusuf bin Isma’il An-Nabhany, Juz II/443 Menjelaskan :

Kata Imam Asy-Sya’rani: Aku mendengar Sayyid Ali Al-Khowash suatu waktu berkata: “Jauhilah penghinaan terhadap seseorang yang mempunyai pekerjaan remeh (hina), sebab sesungguhnya Alloh SWT terkadang memberi-kan kepadanya suatu kekuatan yang bisa melengser keimanan ulama dan orang-orang sholeh, yaitu ketika seorang alim dan sholeh merasa dirinya melebihi mereka (merasa ananiyah/’ujub). Bahwasanya petinggi Auliya’pun bisa di-salab (dilengser kedudukannya) oleh orang yang terendah, yaitu ketika dia merasa bahwa dirinya melebihi salah satu dari makhluq ini (merasa ananiyah/’ujub).”

c. Istilah Jalab Salab Bagi Al-Ghouts dan Auliya Alloh itu bukan buatannya pengamal Wahidiyah

Istilah jalab salab bagi Al-Ghouts dan Auliya Alloh itu bukan buatannya pengamal Wahidiyah sendiri, melainkan mengikuti ulama arifin dan aulia sholihin terdahulu. Oleh karena itu sebelum mengingkari atau menyesatkan harus memahami lebih dulu istilah-istilah yang mereka gunakan dengan pandangan luas, tidak hanya sekedar pendapatnya sendiri saja. 

Karena para Waliyullah terbuka hatinya sehingga bisa mengetahui berbagai hal yang tidak bisa dilihat oleh ulama syari’at atau masyarakat awam. 

Perhatikan kata asy-Syekh al-Imam al-‘arif Sayyid Abdul-Wahhab Asy-Sya’rani dalam kitabnya Al-Yawaqit wal-Jawahir:

“Ketahuilah (semoga Allah merahmatimu) sesungguhnya tidak boleh meng-ingkari terhadap suatu kaum (para arif billah/ahli haqiqat) kecuali setelah mengetahui dengan sebenarnya istilah-istilah bahasa yang mereka gunakan. Maka setelah itu ketika kita mengetahui perkataan mereka bertentangan dengan syari’at kita buang saja”. Syekh Majduddin al-Fayruzabadi berkata: “Tidak boleh bagi seseorang mengingkari terhadap kaum (para arif billah/ahli haqiqat) hanya dengan sekedar pendapatnya saja karena ketinggian martabat mereka di bidang kefahaman dan terbukanya hati (mereka dikarunia sesuatu yang tidak diberikan kepada orang awam/ulama’ syari’at)”.

d. TIDAK ADA doktrin keyakinan bahwa Al-Ghouts sebagai sosok paripurna yang tingkatannya melebihi kedudukan Nabi 

Dengan uraian di atas dapat dimengerti bahwa dalam Wahidiyah yang diperjuangkan oleh lembaga Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) sama sekali TIDAK ADA doktrin keyakinan bahwa Al-Ghouts sebagai sosok paripurna yang tingkatannya melebihi kedudukan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dan sehingga seandainya ada yang menuduhkan atau berkeyakinan seperti itu sudah jelas itu tuduhan yang tidak mendasar atau fitnah belaka.

Lebih-lebih yang menuduh atau yang menghakimi seperti itu belum pernah mempelajari pokok permasalahannya secara detail, atau mungkin hanya sekilas membaca buku-buku Wahidiyah dan mengambilnya sepotong-sepotong saja, atau hanya mendengarkan omongan orang tanpa melakukan tabayyun (klarifikasi) dengan mahkum ‘alaihim (para Penyiar Sholawat Wahidiyah). Cara tahkim seperti inilah pasti akan menimbulkan keresahan di masyarakat yang ujung-ujungnya timbul tuduhan bahwa Wahidiyah meresahkan masyarakat.


7. Siapa Pribadi Ghoutsu Hadza Zaman?

Mungkin dalam hati dan pikiran kita bertanya siapa Pribadi Ghoutsu Hadza Zaman? Jawaban yang paling tepat adalah “Walloohu a’lam”, karena pribadi seorang Ghoutsu Zaman itu dirahasiakan oleh Allah. Dirahasiakannya itu untuk menjaga kehormatan dirinya dan keselamatan umat terutama yang tidak menyadari atau tidak mengakui atas kedudukan Beliau.

Dalam kitab Syawahidul Haq hal 195 dan Mirqatul-mafatih Juz 15/458 :

Wahidiyah | Hal-hal Yang Sering Dipermasalahkan Dalam Wahidiyah

“Sungguh dirahasiakan perilaku (ahwal)nya Ghouts Al-Quthub dari orang-orang umum dan khusus, karena Alloh Yang Maha Benar tidak senang terhadap bahaya yang menimpa dirinya. Akan tetapi seorang ghouts mengenali orang alim, bodoh, dungu, cerdas, yang meninggalkan, yang mengambil, yang dekat, yang jauh, yang mudah, yang sulit, yang aman, dan yang mengkhawatirkan”.

Di dalam buku Kuliah Wahidiyah yang dikeluarkan oleh DPP PSW hal 173 (cetakan ke 12) atau 180 (cetakan ke 13) disebutkan: 

Adapun siapa pribadi Ghoutsu Haadzaz-Zaman itu?

Di dalam pengamalan Sholawat Wahidiyah tidak disyaratkan harus mengetahuinya. Sebab seperti sudah disebutkan di muka bahwa tidak ada identitas lahir yang dapat dikemukakan tentang pribadi seorang Ghouts, karena keadaan lahirnya biasa-biasa saja seperti umumnya Ulama. Cukuplah percaya tentang adanya Ghouts pada zaman sekarang ini. 

Percaya terhadap fungsi dan wewenangnya serta percaya adanya fadlol Alloh SWT berupa keistimewaan-keistimewaan yang dikaruniakan kepada Ghoutsu Hadzaz-Zaman yang berupa barokah, karomah, kemampuan memberi nadhroh dan tarbiyah di dalam perjalanan wushul ma’rifat kepada Alloh SWT yang di dalam Wahidiyah dikenal dengan istilah FAFIRRUU ILALLOH WA ROSUULIHI SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM.

Percaya bahwa Ghoutsu Hadzaz-Zaman, adalah sebagai perantara atau sababiyah bagi para pengamal Wahidiyah dikaruniai rahmat fadlol Alloh SWT dan Syafa’at Rosululloh Shallallahu 'Alaihi Wasallam berupa kejernihan hati, ketenangan batin dan ketenteraman jiwa bibarokati Sholawat Wahidiyah.

Tidak setiap orang dan tidak semua Pengamal Wahidiyah dikaruniai mengetahui atau mengenal secara jasmani maupun ruhani Ghoutsu Haadzaz-Zaman. Jika siapa saja atau diantara para Pengamal wahidiyah yang dikaruniai mengerti atau mengetahui labih-lebih mengenal siapa Ghoutsu Haadzaz-Zaman, adalah suatu fadlol dan rahmat dari Alloh yang besar sekali dan harus disyukuri dengan sesungguh-sungguhnya. 

Pengalaman batiniyah tersebut harus dimanfaatkan yang sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesadaran Fafirruu Ilalloohi Wa Rosuulihi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Tidak boleh dijadikan acara pembicaraan atau percakapan, lebih-lebih terhadap orang yang masih belum ada pengertian masalah tersebut. Jika tidak kebetulan, salah-salah bisa mengakibatkan ter-hijab di dalam hati.

Muallif Sholawat Wahidiyah sejak mulai menyiarkan Sholawat Wahidiyah (1963) sampai wafat beliau (1989) TIDAK PERNAH mengaku, mengumumkan, menyatakan, dan menyuruh mengakuinya bahwa pribadi beliau sebagai Ghoutsu Hadzaz Zaman. 

Adapun hubungan Pengamal Wahidiyah terhadap beliau adalah hubungan murid dengan guru (dalam suatu istilah) atau orang yang dibimbing dengan pembimbingnya. Semua Pengamal Wahidiyah, di mana saja berada, tanpa memandang kedudukan, sekalipun dari keluarga Beliau sendiri, dalam bidang pengamalan Sholawat Wahidiyah adalah sebagai Murid Beliau. 

Mereka yang ikut aktif dalam Perjuangan Wahidiyah oleh Beliau disebut “MAN A’AANA ‘ALAIHAA ILAA YAUMIL QIYAMAH’’. Bahkan semua Pengamal Wahidiyah oleh Beliau diangkat sebagai Wakil Beliau. Ini dalam segi rasa tanggung jawabnya dalam perjuangan Wahidiyah. (Wasiat 9 Mei 1986).

Di dalam Wahidiyah yang dikelola oleh lembaga Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) TIDAK ADA ketentuan, keputusan, doktrin kepercayaan, dan sebagainya bahwa “pimpinan tertinggi dalam Perjuangan Wahidiyah (PSW atau non PSW) saat ini sebagai Ghoutsu Zaman”. 

Kalau ada oknum pengamal atau kelompok yang mengatas-namakan pengamal Wahidiyah berkeyakinan atau menyatakan seperti di atas dengan mengadakan penghormatan yang berlebihan berarti mereka telah menyalahi dan menyimpang dari bimbingan Muallif Wahidiyah sendiri.

Perlu dipertegas lagi, dari uraian tersebut dapat difahami bahwa al-Ghouts dipilih oleh Allah sendiri dan diperuntukkan umat masyarakat secara luas, tidak hanya khusus untuk pengamal Wahidiyah saja. 

Siapa saja berhak meyakini keberadaannya dan memanfaatkannya sebagai wasilah dalam berbagai hal khususnya untuk menuju kesadaran kepada Allah SWT wa Rosulihi Shallallahu 'Alaihi Wasallam

Wahidiyah tidak mengklaim bahwa Ghoutsu-zaman hanya untuk pengamal Wahidiyah. Hanya saja dalam hal ini para pengamal Wahidiyah harus lebih bersyukur karena telah mendapatkan bimbingan praktis tentang Ghoutsu Hadzaz zaman dari Muallif Sholawat Wahidiyah yang masa akhir-akhir ini belum/ tidak ada satupun ulama yang membimbingkan hal tersebut secara lengkap yang disertai dengan cara-cara berhubungan dengannya.

Di dalam kitab Ihya al-Ghozali disebutkan alasan tertutupnya keberadaan al-Abdal lebih-lebih al-Ghohts dari pandangan masyarakat umum:

Keberadaan wali Abdal terhenti (tidak diperlihatkan) di atas bumi dan menutup diri dari pandangan para ulama umum dikarenakan para wali abdal merasa tidak kuat melihat ulama masa kini, karena (menurut wali Abdal) sebenarnya mereka itu orang-orang bodoh (tidak mengenal) Billah, sedangkan menurut diri mereka dan menurut pandangan orang-orang bodoh menganggapnya sebagai ulama’. (Ihya ‘Ulumuddin, Al-Ghozali, Juz I bab Min ‘alamati ulama akhirat).

8. Keuntungan dan kerugian

Di dalam buku-buku Wahidiyah dijelaskan tentang keuntungan bagi orang-orang yang mengenal dan mendapatkan bimbingan dari seorang arif Billah lebih-lebih seorang kamil-mukammil atau Al-Ghouts. 

Contoh dalam Buku Kuliah Wahidiyah yang dikeluarkan oleh DPP PSW, hal 178 (cetakan ke 13). Di dalam kitab Taqriibul Ushul Litas-hiilil Wushuul Fii Ma’-rifatir-Robbi War-Rosuli Shallallahu 'Alahi Wasallam, disebutkan :

Wahidiyah | Hal-hal Yang Sering Dipermasalahkan Dalam Wahidiyah

“Hatinya seorang ‘A’rif Billah itu merupakan Hadlrotulloh dan pancaindranya sebagai pintu-pintu-Nya; maka barang siapa yang mendekat kepadanya dengan pendekatan yang layak (tepat) dan sesuai dengan kedudukannya, terbukalah pintu-pintu Hadrotulloh baginya”. (Taqriibul Ushul 58).

Seorang ‘Arif Billah lebih-lebih Al-Ghouts dalam tarbiyah praktisnya kepada masyarakat atau muridnya, selain bimbingan bidang syari’at, beliau menfokus-ahamkan bimbingan praktis (tidak hanya teori/ilmiah) tentang kesadaran kepada Allah SWT (tauhid Billah, ikhlash Lillah, tawakkal kepada Allah, dan sebagainya), meningkatkan rasa mahabbah (cinta), ta’dhim (mengagungkan) kepada Rosululloh Shallallohu 'Alaihi Wasallam wa-auliyaillah, menghiasi batinnya dengan akhlaq mahmudah, dan bimbingan mujahadatin-nafsi, cara membersihkan penyakit/ kotoran bathiniah, sifat-sifat tercela dari hati, seperti takabbur (kesombongan), ‘ujub (membanggakan diri), riya’ (pamer kebaikan), sum’ah (menonjol-nonjolkan kebaikan), dan penyakit ananiyah (keakuan), misalnya merasa bahwa dirinya sebagai orang alim, cerdik, kuasa, mampu, kaya, dan sebagainya tanpa menyadari bahwa semuanya itu Billah. 

Seseorang yang hatinya masih dikuasai oleh ananiyah sekalipun dia seorang alim maka tanpa disadari dia masih selalu menyekutukan Allah (syirk billah) sekalipun syirik khofi.

Betapa untungnya seseorang jika dalam hidupnya mendapatkan tarbiyah/ bimbingan praktis seperti di atas dari seorang ‘Arif Billah lebih-lebih dari Al-Ghouts dan bisa menerapkannya dengan tepat, baik mendapatkannya secara langsung maupun lewat perantara. 

Begitu pula sebaliknya. Betapa meruginya orang-orang yang tidak mendapatkan bimbingan seperti di atas, semasa hidupnya sehingga hatinya masih dikuasai oleh imperialis nafsu. Sedangkan mereka tidak merasa dan tidak menyadarinya sampai akhir hayatnya. 

Berarti mereka mati dalam keadaan masih berlumuran dosa-dosa batiniyah. Kiranya tidaklah berlebihan jika dalam buku Kuliah Wahidiyah disebutkan kata Syekh Dawud Al-Makhola dalam buku Kuliah Wahidiyah yang dikeluarkan oleh DPP PSW hal 179 (cetakan ke 13, untuk mencontohkan bentuk kerugian bagi orang yang tidak mendapatkan bimbingan seperti di atas dan sebagai berikut :

Wahidiyah | Hal-hal Yang Sering Dipermasalahkan Dalam Wahidiyah

Barang siapa hidup di dunia ini tidak bertemu dengan seorang kamil yang mendidik-nya, maka dia akan keluar dari dunia (meninggal dunia) dalam keadaan berlumuran dosa besar, sekalipun ibadahnya seperti ibadah jin dan manusia”. (Taqriibul Ushuul 53)

Yang dimaksud dosa-dosa besar di sini adalah dosa-dosa batiniyah seperti ujub, riya’, takabbur, sum’ah, ananiyah, dan sebagainya. Dosa-dosa batiniah lebih sulit penyembuhannya tanpa adanya pembimbing rohani yang ahli atau membidanginya.

Maqolah tersebut bukan merupakan ajaran atau doktrin dalam Wahidiyah. Melainkan suatu penjelasan tentang kerugiannya orang yang tidak mendapatkan bimbingan di bidang rohani yang sehingga sekalipun amal ibadah lahiriyahnya seberapa banyaknya kalau hatinya masih diliputi penyakit batiniyah seperti di atas maka tidaklah berlebihan jika dikatakan matinya masih berlumuran dosa besar. Adapun syawahid dari Qur’an dan hadits banyak sekali, yaitu ancaman dan kecaman bagi yang hatinya masih diliputi penyakit-penyakit batiniyah tersebut.

Yang lebih penting lagi bagi kita semua sebelum mengingkari kata-kata ulama ahli haqiqat seperti di atas adalah mengoreksi hati kita sendiri (muhasabatun-nafsi) dengan sejujur-jujurnya. 

Sudah bersihkah hati kita dari penyakit-penyakit batiniyah di atas? Sudah bisakah hati kita menerapkan ikhlash Lillah dan tauhid Billah dalam segala amal perbuatan kita?? Sudah mampukah segudang ilmu pengetahuan yang kita miliki mengobatinya? Atau bahkan sebaliknya? Yakni semakin bertambah ilmunya kita semakin bertambah pula takabbur, riya’, dan sum’ahnya kita? Yang lebih parah lagi jika kita terjangkit penyakit-penyakit tersebut tapi tidak menyadari bahkan merasa sudah lebih tepat sehingga dengan mudah dan tanpa beban kita menyalahkan dan menyesatkan pihak lain tanpa penelitian yang mendalam. Apakah sepantasnya kita termasuk dalam ayat di bawah ini?

Dalam Al Qur'an Surat Al-Kahfi Ayat 103-104 :



103. Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" 104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya (tersesat) dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya (merasa baik). (Q.S. Al-Kahfi 103-104)

B. FATWA MUI TENTANG WAHIDIYAH SESAT

Sebelum kita lihat apa benar Wahidiyah Sesat menurut MUI, mari kita lihat Redaksi aslinya Fatwa MUI tentang Wahidiyah:

Wahidiyah | Hal-hal Yang Sering Dipermasalahkan Dalam Wahidiyah

Wahidiyah | Hal-hal Yang Sering Dipermasalahkan Dalam Wahidiyah

Munculnya Fatwa MUI tentang Wahidiyah Sesat Tanggapan Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) memberikan tanggapan sebagaimana berikut :

1. Penjelasan tentang jalab dan salab bagi Ghouts Hadzaz Zaman sudah cukup jelas uraian di atas. 

2. Wahidiyah yang dikelola oleh PSW tidak pernah menerbitkan buku “Kumpulan teks Wahidiyah” seperti itu. 

3. Tanggapan masalah tuduhan doktrin keyakinan lihat di atas

4. Di dalam buku Kuliah Wahidiyah juga ada nuqilan dari kitab Taqriibul Ushuul sebagai berikut:

Wahidiyah | Hal-hal Yang Sering Dipermasalahkan Dalam Wahidiyah

“Andaikata tidak ada “Waahiduz-Zaman” yang senantiasa tawajjuh kepada Alloh memohonkan bagi urusan makhluq, tentulah datang suatu perintah Alloh yang mengejutkan mereka kemudian menghancurkan mereka”.

“Waahiduz-Zaman” yang dimaksud tidak lain adalah Ghoutsu Hadzaz-Zaman atau Sulthonul Auliya.

Di dalam buku Kuliah Wahidiyah yang diterbitkan oleh DPP PSW tidak ada takhsis (penunjukan) kepada nama seseorang sebagai Ghoutsu Zaman dan Juru Selamat.

Kalau difahami dengan saksama mafhum maqalah tersebut tidaklah berlebihan sebagaimana yang dituduhkan (lihat hadits Ibnu Mas’ud di hal. 3 dan 4) dan juga ada hadits yang serupa mafhumnya (hadits yang panjang) :

….. dan tiada kaum yang menolak pemberian zakat (tidak mau mengeluarkan zakatnya) melainkan mereka telah mencegah hujan dari langit, dan seandainya tidak ada bintang/hewan mereka tidak akan diberi hujan ……. (H.R. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Sayyidina ‘Ali, Ibni Mas’ud, Hudzaifah, Ibni ‘Auf, dan Abi Sa’id al-Hudry.) hadits no. 8623.

Apakah hadits ini juga merupakan doktrin kepada ummat agar meyakini bahwa binatang/hewan itu sebagai juru selamat yang mendatangkan hujan?? Bukan begitu. Alloh SWT menurunkan hujan itu karena belas kasihan-Nya kepada binatang/hewan. Begitu pula Alloh SWT menghindar-kan bencana dari makhluq-Nya penuh kedhaliman ini sebab do’anya para Wali Alloh yang diantaranya Wahiduz Zaman. Jelas kan???

5. Isi Fatwa MUI Tentang Wahidiyah Sesat

Dalam Fatwa MUI No. 25/Kep/MUI-Kota TSM/VI/2005 tanggal 28 Juni 2005 telah ditentukan bahwa “ajaran Yayasan Perjuangan Wahidiyah” yang dijadikan landasan/ dasar melarang atau menentukan sesatnya Wahidiyah. 

Dengan ini perlu adanya pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

a. Wahidiyah yang manakah yang dilarang atau dianggap sesat oleh Fatwa MUI tersebut? Karena dalam Wahidiyah sendiri ada Wahidiyah yang diwadahi dalam Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW), Yayasan Perjuangan Wahidiyah (YPW), dan Jamaah Perjuangan Wahidiyah Miladiyah (JPWM). Maaf munculnya JPMW bukan sebagai penengah konflik sebagaimana yang dituduhkan.

b. Kalau yang dimaksud salah satunya saja, misalnya hanya “Yayasan Perjuangan Wahidiyah” yang dianggap sesat, kenapa Fatwa MUI menyebutnya “Wahidiyah” secara umum, tidak mentakhsis “Yayasan Perjuangan Wahidiyah”? sehingga menimbulkan keresahan di kalangan pengamal Wahidiyah yang tidak dianggap sesat. Seandainya terjadi amuk masa terhadap pengamal Wahidiyah yang tidak dianggap sesat, siapa yang disalahkan? Sudah pasti, Pengamal Wahidiyah lagi yang dianggap meresahkan masyarakat. Adilkah cara seperti itu?

c. Kalau yang dimaksud sesat itu Wahidiyah secara mutlak (semuanya):

Apakah dalam ketentuan MUI, bahwa kasus penyimpangan oknum (klompok) tertentu dalam Wahidiyah itu sudah bisa dijadikan hujjah untuk memutuskan kesesatan Wahidiyah secara umum?

Kenapa sebelum memutuskan “hukum sesat” terhadap Wahidiyah, MUI selaku hakim penentu fatwa tidak menghadirkan mahkum ‘alaih (missal-nya pengurus PSW) untuk mendengarkan tuduhan kesesatannya dan memberikan hak jawab atau penjelasan lebih detail (dasar/landasan) tentang hal-hal yang dituduhkan sesat itu? Apakah cara seperti itu sudah sesuai dengan aturan Islam? Kenapa hanya dengan data-data yang dikumpulkan dari berbagai pihak yang mungkin diantaranya ada yang punya muatan kepentingan pribadi atau mempunyai cara pandang yang berbeda (Misalnya sesuatu yang bersifat haqiqat dipandang dengan kaca mata syari’at, ya hasilnya pasti berbeda. Penelitian masalah tawasul bin-nabi SAW yang dilakukan oleh orang yang meng-syirik-kan tawasul bin-nabi Saw), lalu MUI sudah berani memutuskan suatu kesesatan tanpa melakukan tabayyun dengan yang bersangkutan? 

Sedangkan dalam al-Qur-an sudah ditegaskan:

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah (hukuman) kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (Q.S. Al-hujurot : 6)

Lebih-lebih pihak-pihak yang membawa dan mengumpulkan data tersebut orang-orang yang kurang/tidak menguasai permasalahannya, misalnya urusan haqiqat ditangani oleh orang yang tidak faham tentang haqiqat, urusan tawasul bin-Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam ditangani oleh orang-orang yang inkar tawasul, maka terjadilah sebagaimana sabda Nabi SAW:

Ketika suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya tunggulah kerusakannya. (H.R. Bukhori dari Abi Hurairah, Ra, No. hadits 59)

Kenapa MUI yang mengeluarkan fatwa sesat itu tidak mengirimkan selembar suratpun tetang fatwanya kepada lembaga PSW (DPP PSW)? melainkan menyebarkannya melalui instansi dan media masa atau media elektronik sehingga yang bersangkutan belum mengetahuinya tapi di sana-sini sudah gencar tuduhan penyesatan terhadap Wahidiyah yang mungkin bisa berakibat terjadinya keresahan, kekerasan, dan per-pecahan di kalangan masyarakat. Begitukah yang dimaksud “bilhikmah, mau’idhah hasanah, dan mujadalah hasanah” dalam Q.S.16: An-Nahl:125:

Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah [bijaksana] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ayat tersebut menuntunkan aturan dan tahapan da’wah mengajak kembali ke jalan Alloh. Di akhir ayat disebutkan bahwa hanya Alloh yang lebih mengetaui siapa yang tersesat dan siapa yang mendapat petuntuk. Tapi para tokoh Islam sekarang kok begitu mudah mangatakan dan memberikan FATWA SESAT, KUFUR, terhadap suatu bimbingan (amaliah) hanya menggunakan pemahaman, dugaan, qiila waqool, dan ra’yunya sendiri tanpa mengadakan penelitian yang lebih detail. Ingat sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.

Yang lebih beraninya kalian memberikan fatwa (hanya dengan dasar pendapatnya sendiri) itulah yang lebih berani masuk neraka.

Barangsiapa memberi fatwa tanpa hujjah/pembuktian maka dosanya menimpa kepada yang memberi fatwa.(H.R. Ad-Daylami dari Abi Hurairah Ra. (musnad Ad-Daylami Juz I nomor hadits 161)

Apakah memang begitu prosedur / mekanisme penyebaran fatwa MUI? Kalau tidak, apakah cara yang dilakukan MUI itu sudah sesuai dengan tuntunan Islam (al-Qur’an dan al-Hadits)? Apakah cara seperti itu tidak termasuk namimah (adu domba) yang dilarang oleh Rosululloh SAW dalam sabdanya:

Ingat, kalian akan aku beritau apa itu idloh. ‘idloh adalah adu domba yang bisa memecah belah diantara masyarakat.

6. Harapan DPP PSW

Jika yang dimaksud sesat dalam fatwa MUI itu hanya salah satu dari tiga kelompok tersebut, DPP PSW berharap agar MUI yang telah mengeluarkan fatwa itu berkenan mencabut fatwanya dan menggantikannya fatwa baru yang menyebutkan lembaga tertentu yang dianggap sesat. 

Kemudian fatwa baru itu disebarkan kepada pihak-pihak yang telah menerima fatwa yang lama, baik instansi maupun media. Begitulah resiko nadamah yang diakibatkan tidak adanya tabayyun. Bahkan seluruh personil MUI pasti berkeyakinan bahwa apa saja yang difatwakan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT terutama di hari akhir nanti.

C. HAL ISTIGHROQ

Mari kita perhatikan dengan baik tentang Istighroq dalam Pengamalan Wahidiyah sebagaimana berikut :

1. Istighroq dalam Wahidiyah

Istighroq yang dilakukan dalam Wahidiyah juga sering dipermasalahkan di kalangan masyarakat dan sering dijadikan bahan tuduhan bahwa Wahidiyah mengajarkan faham wihdatul wujud, ittihad, atau hulul. Lagi-lagi dengan tuduhan ini banyak orang yang mengatakan bahwa Wahidiyah sesat tanpa menyelami lebih dalam. 

2. Makna Istighroq

Makna istighroq dari segi bahasa adalah berusaha tenggelam atau menghabis-kan. Misalnya istighroq fil-bahri (berusaha tenggelam dalam laut), istighroqul-‘umri (menghabiskan umurnya). 

3. Macam Istighroq dalam wahidiyah

Di dalam buku Kuliah Wahidiyah disebutkan bahwa isighroq yang sehubungan dengan Allah SWT ada dua yaitu :

Istighroq Wahidiyah 

Pengertian Istighroq Wahidiyah 

ISTIGHROQ WAHIDIYAH yaitu penerapan/penjiwaan dalam hati kandungan “Laa haula walaa quwwata illaa Billaah“ dengan ruang lingkup yang lebih luas. Dengan adanya “laa” berfaedah “linafyil-jinsi” maka ma’na luasnya “tiada daya apapun dan tiada kekuatan apapun (di alam ini) melainkan dicipta (dijadikan) oleh Alloh SWT (BILLAH). 

Tauhid Billah di sini disebut “Istighroq Wahidiyah” maksudnya “Tauhid Billah” ini harus selalu diterapkan dan dirasakan hingga menjadi i’tiqad di dalam hati pada segala keadaan, segala tingkah, segala gerak-gerik lahir batin. Mutlak dalam segala hal tanpa ada pengecualian (istitsna’) semuanya BILLAH.

Jangan sampai salah pengertian dan penerapan. Tauhid Billah atau penerapan Billah di atas adalah penjiwaan dalam i’tikaq batin dari pandangan haqiqat (isnad haqiqi). Adapun menurut pandangan lahir (isnad majazi) atau dalam perkataan basyariah tetap menggunakan istilah yang berlaku. 

Misalnya ucapan: milikku, buatanku, kekuatanku, dan sebagainya tidak merusak ketauhidan tersebut selama hatinya tetap merasa Billah.

“Katakanlah (wahai Muhammad) segala sesuatu itu datang dari ALLOH”. (4-An-Nisaak-78).

Seberapa pentingnya ilmial dan penerapan tauhid Billah atau Istighroq Wahidiyah?

Firman ALLAH dalam Surat Az-Zumar-65 : “Dan sungguh telah diwahyukan kepada-Mu dan kepada orang-orang (Nabi-Nabi) sebelum Engkau, jika Engkau melakukan syirik pasti amal-amal-Mu menjadi lebur, dan (oleh karenanya) Engkau termasuk golongan orang-orang yang mengalami kerugian besar”. (39-Az-Zumar-65).

Dalam kitab At-tartib al-farid: Setiap orang yang beri’tiqad bahwasanya ada sesuatu yang ikut mencampuri Allah dalam ciptaan-Nya dia menjadi kafir, sebagaimana orang yang beri’tikad bahwa ada selain Allah yang berhak disembah dia juga menjadi kafir. (At-tartib al-farid; Abu Tauhid Luqman Hasan Amin)

Dalam kitab Tuhfatul-Ahwadzi :

Barangsiapa yang beri’tiqad bahwasanya ada sesuatu selain Alloh yang bisa memberi manfaat dan madharat dengan sendirinya (tanpa Billah) maka sungguh dia menyekutukan Allah (syirik yang terang-terangan).

Pembimbingan tentang penerapan tauhid Billah inilah dalam Wahidiyah termasuk hal yang di ahamkan di samping bimbingan Lillah, Lir-Rosul, Bir-Rosul (syari’at) dan seterusnya untuk dijadikan I’tikad secara dzauqiyah dalam jiwa. Tidak hanya terbatas pada pembahasan atau kajian ilmiah saja.

Istighroq Ahadiyah.

Pengertian ISTIGHROQ AHADIYAH

ISTIGHROQ AHADIYAH maksudnya tenggelam “fii Ahadiyyati Dzaatillah”. Tenggelam di dalam keesaan Allah.

Istighroq Ahadiyah adalah termasuk karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya yang berupa musyahadatul-qolbi (ter-bukanya hati) atau mukasyafah sampai mengalami fana’ fii dzaatillah dengan rasa dalam i’tikad (dzauqiyah i’tiqodiyah) yang tidak mungkin bisa diuraikan dengan susunan kalimat apapun. 

Tapi hatinya merasakan adanya dan dzauqiyah tersebut tidak akan bisa dirasakan oleh orang lain yang tidak dikaruniainya. Sebenarnya ungkapan kalimat wihdatul-wujud, ittihad, hulul, manunggaling kawulo dengan gusti, metode nol, dan sebagainya itu semua-nya tidak/belum tepat dengan apa yang sebenarnya dirasakan oleh yang dikaruniai istighroq ahadiyah (fana’ fidza-dzat) tersebut. 

Oleh karena itu ketika dzauqiyah itu diungkapkan dengan susunan kata pastilah terjadi polemik pro dan kontra di kalangan ummat Islam sendiri bahkan sampai ada yang dengan tegas menghukuminya kufur atau syirik.

Dalam contoh nyata; seseorang yang makan gula dan merasakan manisnya dia tidak mungkin bisa menguraikan rasa manis yang dia rasakan dengan susunan kalimat apapun. 

Tapi dia meyakini adanya rasa manis dan rasa itu tidak bisa dirasakan atau diketahui oleh orang lain yang tidak atau belum pernah makan gula. Seandainya ada orang yang menguraikan rasa manisnya gula dengan bentuk kalimat apapun maka uraiannya itu tidak akan bisa tepat dengan apa yang sebenarnya dia rasakan. 

Oleh karena itu yang lebih tepat bagi yang belum pernah merasakan manisnya gula tidak perlu mentang-mentang mengingkari adanya rasa manis dalam gula. Minimal diam, tidak memberikan komentar yang membingungkan orang lain.

Istighroq ahadiyah atau fana’ fidz-dzat yang sebenarnya itu tidak menafikan hukum syari’at. Karena seseorang ketika mengalami fana’ fidz-dzat yang sebenarnya (bukan fana’-fana’-an) dia dikenai hukum syar’y sama dengan orang yang hilang akalnya (ghoiru mukallaf), sehingga apa saja yang dia ucapkan sekalipun kalimat “ana al-haq” misalnya, dia tidak terkena hukum kufur karena dia dalam kondisi tidak mukallaf menurut pandangan hukum syar’y. 

Akan tetapi ketika dia sudah shahw (normal basyariyahnya) dia dikenai hukum syar’i lagi, sehingga ketika dalam kondisi shahwi (normal basyariyahnya) dia tidak boleh mengatakan atau mengajarkan rasa/ pengalaman yang dia alami ketika fana’ terutama yang bermuatan nafyil-khalqi wanafyis-syar’i. 

Sehubungan dengan yang terakhir inilah Syekh Junaid dengan tegas berkata:

Seandainya aku punya kekuasaan pasti aku pukul lehernya orang yang mengatakan “tiada apa-apa di sana selain Alloh”, karena dilihat dari redaksi perkataan itu menentukan/menetapkan tiadanya makhluq dan tiada-nya semua syari’at yang berkaitan dengan makhluq tersebut”.

Ketegasannya syekh Junaid tersebut untuk memberi peringatan kepada orang yang pernah mengalami fana’ agar tidak mengungkapkan rasa atau pengalaman fana’nya kepada orang lain yang bukan ahlinya dengan kalimat mutasyabihat (yang berbau nafyil khalqi wanafyisy-syari’ah). 

Sedangkan Syekh Junaid sendiri meyakini adanya atau terjadinya fana’ fidz-dzat bagi seseorang yang dikaruniainya, bahkan husnudhan kita beliau sendiri juga pernah bahkan sering mengalaminya. Hal ini seperti yang dikutib dalam kitab ‘Awarifi-ma’arif, Syekh As-Sahrowardi : Kata syekh Junaid: fana’ yaitu sirnanya segala sesuatu dari sifat-sifatmu.

Dalam buku Kuliah Wahidiyah dan dalam lembaran Sholawat Wahidiyah disebutkan cara praktek istighroq ahadiyah: adalah berdiam lahir dan batin tidak membaca / mewiridkan apa-apa. 

Segala konsentrasi pikiran, perhatian, perasaan, penglihatan, pendengaran dan sebagainya diarahkan tertuju kepada ALLOH. Tidak ada acara kepada selain ALLOH ! Hanya ALLOH ! Titik ! Bukan kepada lafal ALLOH ! Tetapi ALLOH – Tuhan ! Uraian cara tersebut dimaksudkan untuk latihan memusatkan hati hanya kepada Alloh SWT. 

Dengan disertai seringnya latihan seperti itu dan didukung dengan mujahadah-mujahadah diharapkan Allah SWT mengaruniakan fadlol-Nya yang berupa kekuatan istighroq ahadiyah.

Pembahasan tentang Istighroq Wahidiyah dan Ahadiyah atau fana’ fii dzatillah di kalangan ulama ‘arifin, ulama ahli haqiqat, ulama tashawuf dan para wali Alloh SWT bukan hal yang asing atau aneh lagi. 

Hal istighroq ini disebutkan dalam kitab-kitab yang membahas ilmu-ilmu haqiqat, seperti Ihya Ulumuddin al-Gozali, beberapa syarah al-Hikam (Syarh Ibnu ‘Ibad, syarh Asy-Syarqowy, Al-Hikam Al-‘Atho-iyah (Syekh Abdul Majid Asy-Syarnubi), Iqodhul-himam (Syekh Abul-Abbas Ahmad bin Muhammad Al-Husainy), Jami’ul-ushul fil-auliya’ (Syekh Dliyauddin Ahmad mustofa an-Naqsabandy), al-Kasyfu ‘an haqiqotish-shufiyah (Syekh Mahmud Abdur-Rouf al-Qasim), Mafaatihul-ghoib (Al-Imam Fakhruddin Ar-Rozi), Tafsir Ruhul-Ma’any (Syekh Syihabuddin Mahmud Al-Husaini al-Alusy), Tafsir Asy-Sya’rawy (Syekh Muhammad Mutawaly Asy-Sya’rowi), Tafsir Haqqy (Syekh Haqqy), Al-Fawaatihul-Ilaahiyah (Syekh Ni’matulloh bin Mahmud An-Nakhjawani), Taqribul-Ushul Fii ma’rifatillaahi war-Rosul (Syekh Zainy Dakhlan), dan masih banyak lagi lainnya. 

Sekalipun begitu juga ada firqah dalam Islam yang mengingkari adanya tingkatan Wahidiyah dan Ahadiyah tersebut. Yakni firqah yang tidak sependapat dengan adanya ilmu haqiqat. Dalam hal ini Wahidiyah mengikuti ulama yang membenarkan adanya Wahidiyah dan Ahadiyah, Wallohu a’lam.

D. HAL GARANSI

Di dalam lembaran Sholawat Wahidiyah yang diedarkan kepada masyarakat dengan Cuma-Cuma pada tahun-tahun pertama penyiaran yaitu sekitar tahun 1964-1968 tertulis kata-kata dalam bahasa Jawa huruf Arab Pego :

“MENAWI SAMPUN JANGKEP 40 DINTEN BOTEN WONTEN PEROBAHAN MANAH, KINGING DIPUN TUNTUT DUN-YAN WA UKHRON, KEDONGLO KEDIRI”

Indonesianya : 

“Jika sudah cukup pengamalan 40 hari tidak ada perubahan dalam hati, boleh dituntut dunia maupun akhirat. Kedunglo Kediri”.


E. Nida’ FAFIRUU ILALLOOH

Pengertian Nida' FAFIRUU ILALLOOH

Nida’ artinya menyeru atau memanggil. “FAFIRUU ILALLOOH” adalah ayat Al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat 56 yang artinya “ Larilah kembali kepada Alloh.

Nidak “FAFIRRUU ILALLOOH” maksudnya; mengajak secara lahiriyah dan bathiniyah agar supaya kita dan masyarakat segera kembali mengabdikan diri dan sadar kepada Allah wa Rosuulihi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, Secara umum yaitu dengan menjalankan hal-hal yang diridloi Allah wa Rosuulihi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan menghindarkan diri atau meninggalkan hal-hal yang tidak diridloi oleh Allah wa Rosuulihi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang merugikan diri pribadi, keluarga dan masyarakat.

Tujuan Nida' FAFIRUU ILALLOOH  

Menyeru umat masyarakat yang tempat tinggalnya berjauhan adalah suatu hal yang mustahil bisa didengar oleh telinga mereka atau masuk ke dalam lubuk hati mereka, sehingga seruan ini seakan-akan merupakan perbuatan yang tanpa arti. Agar seruan ini berarti yakni bisa sampai ke dalam lubuk hati mereka maka sebelumnya perlu didahului dengan permohonan kepada Alloh SWT. Yaitu dengan do’a:

artinya “Sampaikanlah ke seluruh alam seruan kami ini dan letakkan kesan yang mendalam dalam lubuk hati mereka” maka Alloh-lah nanti yang akan menyampaikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Cara Nidak melalui Jalan Bathiniyah

Cara menyeru melalui batiniyah (tidak berhadapan/bertemu langsung dengan yang diseru) ini sebagaimana yang pernah dilakukan oleh nabi Ibrahim A.s. ketika selesai mendirikan baitullah. Hanya saja yang diseru oleh nabi Ibrohim: “agar umat manusia melakukan ibadah haji”, dan yang diseru di sini: “agar mereka segera sadar kembali kepada Allah SWT”. 

Dalam beberapa tafsir diantaranya Tafsir Ibnu Katsir Juz 5 hal. 414, Tafsir Al-Qurtuby Juz 5 hal 378, Tafsir Al-Alusy Juz 13 hal 48, tafsir Fathul Qodir Juz 5 hal 109, Tafsir Adhwa-ul bayan fi tafsiril-qur-an, Juz 4, hal 362, (al-maktabah Asy-syamilah) dan lain-lain disebutkan :

Firmah Allah SWT “Dan panggillah manusia agar melakukan ibadah haji”. Yakni “panggilah manusia dengan mengajak mereka untuk melaksanakan ibadah haji ke bait ini yang telah Aku perintahkan membangunnya. Kemudian nabi Ibrahim berkata: Wahai Robku, bagaimana mungkin aku bisa menyampaikan panggilanku kepada manusia sedangkan suaraku tidak bisa menembus/sampai kepada mereka?. Dikatakan kepada nabi Ibrahim: “Panggillah (mereka) dan AKU yang menyampaikannya”.

Dengan berdasarkan Firman Alloh SWT: ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ (Berdo’alah kepada-Ku Aku memberikan ijabah kepadamu)(Surat Ghofir : 60) dan ناد وعلينا البلاغ dalam hikayah nabi Ibrohim di atas, seruan “Fafirruu Ilalloh” dilakukan dalam pengamalan Sholawat Wahidiyah yang didahului do’a permohonan seperti di atas dengan harapan disampaikan oleh Alloh SWT dengan kesan yang mendalam ke dalam lubuk hati mereka.

F. Nida’ FAFIRUU ILALLOOH Dengan Berdiri Menghadap Empat Penjuru

Pelaksanaan Mujahadah Wahidiyah terutama ketika berjamaah biasanya diakhiri dengan nida’ “Fafirruu Ilallooh” berdiri dengan menghadap empat arah penjuru.

1. Dasar do’a dan bacaan seruannya sebagaimana diuraikan sebelum ini. 

Adapun cara/ prakteknya adalah:

a. Berdiri tegak menghadap ke arah barat untuk yang pertama, kedua tangan lurus di samping, pandangan lurus ke depan.

b. Membaca surat Al-Fatihah sekali, FAFIRRUU ILALLOOH tiga kali dan WAQUL-JAA-AL HAQQU …..” sekali. Kemudian menghadap ke arah utara, timur, dan selatan dengan bacaan yang sama dengan yang pertama. Semuanya itu agar dilakukan dengan sungguh-sungguh sepenuh hati dan merasa menyeru umat masyarakat yang di hadapannya.

2. Menyeru dengan menghadap

Pada waktu menyeru dengan menghadap ke arah orang-orang yang diseru akan menambah kemantapan/ kesungguhan batin, selain itu juga lebih sopan dari pada berpaling dari mereka yang diseru.

3. Cara menyeru melalui batiniyah

Cara menyeru melalui batiniyah (tidak berhadapan langsung dengan yang diseru) dan menghadap ke empat arah penjuru ini juga pernah dilakukan oleh nabi Ibrahim ketika melaksanakan perintah Allah SWT agar menyeru manusia untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, sebagaimana uraian dalam hal Nida’ fafirruu sebelum ini. 

Dalam beberapa tafsir diantaranya Tafsir As-sirajil Munir, Juz 1 hal. 2604, Tafsir Al-Lubab, Juz 11 hal 409, Tafsir Al-Baghowi Juz 5 hal 378, tafsir Fathul Qodir Juz 5 hal 109, (al-maktabah Asy-syamilah) dan lain-lain disebutkan:

Kemudian nabi Ibrahim As. menyeru di atas gunung Abi Qubais : “Hai manusia sesungguhnya tuhanmu telah bangun bait dan mewajibkan ibadah haji kepada kalian maka penuhilah panggilan tuhanmu itu”. Nabi Ibrahim, As, menolehkan wajah (menghadap) ke utara, selatan, timur dan barat. Maka setiap orang yang ditakdirkan melaksanakan ibadah haji yang dilahirkan dari tulang rusuk pria dan rahim ibu-ibu menjawabnya “LABBAIK ALLOHUMMA LABBAIK”)

4. Apakah boleh mengikuti Nabi Ibrahim AS

Dengan ini timbullah pertanyaan “apa boleh dalam hal tersebut mengikuti yang dilakukan oleh nabi Ibrahim As.?” Jawabannya “boleh” karena dalam syari’at islam banyak terdapat syari’at dan ketetapan hukum yang sama atau memang diambil/ diadopsi dari syari’at nabi-nabi sebelumnya (syar’u man qoblana) dan yang lebih banyak dari syari’at nabi Ibrahim As.

a. Dalam tafsir Al-Baghowy (Juz 5 hal 51) disebutkan:

Di dalam tafsirnya ayat “Tsumma auhayna …..” para ahli ilmu ushul berkata: Nabi Muhammad SAW diperintah untuk melakukan syari’at nabi Ibrahim As kecuali yang telah disalin (mansukh) dalam syari’atnya. Sesuatu yang tidak disalin tetap menjadi syari’atnya.

b. Dalam tafsir Al-Khozin (Juz 2 hal 419) disebutkan:

Firman Alloh dalam Surat Al-An’am ayat 90 memberi isyarat kepada baginda nabi Saw agar mengikuti syari’at dan sunnah-sunnah para nabi sebelumnya. Ada dikatakan: Alloh memerintah Baginda Nabi SAW agar mengikuti para nabi sebelumnya tentang seluruh akhlaq terpuji, perilaku yang diridloi, sifat-sifat yang luhur yang sempurna, seperti sabar terhadap gangguannya orang-orang bodoh (orang-orang belum mengerti) dan memaafkan mereka. Ada dikatakan lagi: Beliau SAW diperintah mengikuti syari’at para nabi sebelumnya kecuali ada ketentuan dalil lain. Menurut pendapat ini ayat di atas menunjukkan bahwasanya syari’at nabi-nabi sebelum nabi kita juga disyari’atkan bagi kita. (Tafsir Al-Khozin)

c. Dalam kitab Kasyfil-Asror (Juz 6 hal 73)

d. Sekalipun begitu juga ada sebagian ulama berpendapat bahwa syari’at nabi-nabi terdahulu tidak boleh dilakukan di dalam syari’at Islam kecuali ada nash memerintahkannya. 

5. Pelaksanaan nida’

Pelaksanaan nida’ "FAFIRRUU ILALLOOH” dalam Wahidiyah adalah seruan kepada umat masyarakat bukan berdoa kepada Allah, dan juga bukan pelaksanaan ibadah mahdloh yang harus ada tuntunan dari Rosulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam , hanya saja pelaksanaannya mengikuti pendapat ulama yang memperbolehkan melakukan dan mengikuti syar’u man qoblana yang belum mansukh (disalin). Dalam hal ini mengikuti nabi Ibrahim As, tentang:

a. Menyeru kepada umat masyarakat dari jarak jauh (tidak berhadapan/bertemu langsung) sekalipun kondisi yang diseru dan isi seruannya berbeda. Seruan nabi Ibrahim As, kepada umat manusia pada saat itu masih di alam roh (belum dilahirkan) untuk melakukan ibadah haji ke baitullah. Seruan di sini ditujukan kepada bangsa jin dan manusia (jami’al-alamin), baik yang sudah dilahirkan maupun yang masih di alam roh agar segera kembali mengabdi kepada Allah SWT (Fafirruu Ilallooh). Dalam hal ini belum ada nash yang melarangnya;

b. Nabi Ibrahim As, mengeluh bahwa suaranya tidak mungkin bisa sampai kepada yang diseru sehingga Allah SWT tetap menyuruh dan berjanji akan menyampaikannya. Dengan ini dalam Wahidiyah juga dibimbingkan sebelum menyeru/nida’ didahului permohonan kepada Allah SWT agar nida’/seruannya disampaikan ke dalam lubuk hati ummat masyarakat jami’al alamin. Dalam hal berdo’a seperti ini belum ada nash yang melarangnya;

c. Nabi Ibrahim menyeru dengan menghadap empat penjuru sudah pasti dengan petunjuk Alloh SWT. Seruan dalam Wahidiyah menghadap yang diseru dengan tujuan menjaga adabnya menyeru dan agar lebih menambah kemantapan/ kesungguhan batin ini karena mengkuti nabi Ibrahim As. dalam pelaksanaan akhlaq hamidah dan af’al mardliyah di atas, yakni adab dan kesopanan dalam memanggil. Dalam hal ini juga belum ada nash shoreh yang melarangnya.

6. Dianggap Penggunaan Dalil yang Menyalahi Kaidah Ilmu Tafsir

Dari uraian di atas mana yang dianggap “Penggunaan Dalil yang Menyalahi Kaidah Ilmu Tafsir”? Tafsir mana yang dimaksud? Oleh karena itu, para penentu hukum (Kyai), para mufti (pemberi fatwa) sebelum menentukan keputusan suatu masalah di masyarakat umum seharusnya mengadakan kajian yang lebih mendalam sampai mengetahui prakteknya. Tidak hanya dengan baca buku-bukunya saja atau hanya mendengarkan laporan orang-orang yang belum pasti mengetahui pokok masalahnya. Lebih-lebih membacanya hanya sekilas saja atau ketika membaca sudah didahului rasa benci, tuduhan negatif dan sebagainya. Dengan cara tersebut penentuan hukumnya bisa jadi tidak ikhlas Lillahi Ta’ala atau tidak li-idhharil-haq (untuk mencari kebenaran).

Ada suatu contoh yang agak lucu; ada seorang penentu hukum sebelum dia memutuskan kesesatan pada suatu perbuatan dia mengawalinya dengan kalimat “Entah bagaimana prakteknya”…. Lha prakteknya saja belum tau, kenapa sudah begitu tegas menjatuhkan atau menentukan hukumnya? Yah mudah-mudahan tidak terulang lagi. 

Begitulah dasar dan landasan berbagai masalah yang digunakan Wahidiyah yang dikelola oleh Lembaga Khidmah Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW), Sekretariat DPP: Pesantren Attahdzib (PA) Rejoagung, Ngoro, Jombang, Jawa Timur.

Berita fitnah, pemutarbalikan fakta, atau tuduhan sesat terhadap Wahidiyah sejak awal disiarkannya Sholawat Wahidiyah sampai saat ini memang sering terjadi. Yang memperihatinkan adalah timbulnya hal-hal tersebut dari kalangan umat Islam sendiri bahkan terbilang tokohnya dengan tanpa adanya tabayyun sebelum-nya.

Sebagaimana dalam Media Online, ketika umat masyarakat Klik Kata "WAHIDIYAH" di Google masih banyak yang KEARAH WAHIDIYAH KURANG BAIK dan juga muncul kata : Wahidiyah kediri, wahidiyah sesat, wahidiyah adalah, wahidiyah artinya, wahidiyah menurut gus dur, wahidiyah kedunglo, wahidiyah menurut cak nun, wahidiyah sesat atau tidak.

Sholawat Wahidiyah dan Bimbingan Praktisnya (Ajaran Wahidiyah) bagaikan obatnya berbagai macam penyakit hati yang atsarnya baru bisa dirasakan jika sudah diamalkan dan diaplikasikan. 

Sehebat apapun khasiat obat jika hanya dihafalkan resep atau dikaji komposisinya, tapi tidak dikonsumsi maka tidak akan ada atsarnya. Oleh karena itu, silakan pelajari dengan saksama dan amalkan Sholawat wahidiyah ini serta aplikasikan bimbingan praktisnya. Mudah-mudahan Allah SWT membuka pintu hidayahNya kepada kita bersama. Amiin. Lihat lampiran Sholawat Wahidiyah dan keterangannya di halaman berikut ini. (Zainuddin Tamsir, Ketua DPP PSW Madiun).