√ Nidak FAFIRUU ILALLOOH Dengan Berdiri Menghadap Empat Penjuru

Islam

Nidak FAFIRUU ILALLOOH Dengan Berdiri Menghadap Empat Penjuru

Ibnu Rusyd
Monday, March 9, 2020

Ad1

Ad2

Sholawat Wahidiyah sebagaimana sholawat pada umumnya, termasuk juga tentang Nidak FAFIRUU ILALLOOH Dengan Berdiri Menghadap Empat Penjuru sudah sejalan dengan Dasar yang benar.

Nidak FAFIRUU ILALLOOH Berdiri

Langsung saja, sebagaimana permasalahan yang sudah wajar dan tentunya dianggap aneh masalah Nidak FAFIRUU ILALLOOH Dengan Berdiri Menghadap Empat Penjuru. Pada umumnya yang sudah wajar dan umum pada waktu Pelaksanaan Mujahadah Wahidiyah terutama ketika berjamaah biasanya diakhiri dengan nida’ “Fafirruu Ilallooh” berdiri dengan menghadap empat arah penjuru.


nida Wahidiyah


Dasar Doa dan Bacaaan FAFIRUU ILALLOOH

Nida’ artinya menyeru atau memanggil. “FAFIRUU ILALLOOH” adalah ayat Al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat 56 yang artinya “ Larilah kembali kepada Alloh.

Nidak “FAFIRRUU ILALLOOH” maksudnya; mengajak secara lahiriyah dan bathiniyah agar supaya kita dan masyarakat segera kembali mengabdikan diri dan sadar kepada Alloh wa Rosuulihi Sholallohu 'Alaihi Wasallam. secara umum yaitu dengan menjalankan hal-hal yang diridloi Alloh wa Rosuulihi Sholallohu 'Alaihi Wasallam dan menghindarkan diri atau meninggalkan hal-hal yang tidak diridloi oleh Alloh wa Rosuulihi Sholallohu 'Alaihi Wasallam, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang merugikan diri pribadi, keluarga dan masyarakat !

Menyeru umat masyarakat yang tempat tinggalnya berjauhan adalah suatu hal yang mustahil bisa didengar oleh telinga mereka atau masuk ke dalam lubuk hati mereka, sehingga seruan ini seakan-akan merupakan perbuatan yang tanpa arti. Agar seruan ini berarti yakni bisa sampai ke dalam lubuk hati mereka maka sebelumnya perlu didahului dengan permohonan kepada Alloh SWT. Yaitu dengan do’a:

Artinya : “Sampaikanlah ke seluruh alam seruan kami ini dan letakkan kesan yang mendalam dalam lubuk hati mereka” maka Alloh-lah nanti yang akan menyampai-kannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. 

Cara menyeru melalui batiniyah (tidak berhadapan/bertemu langsung dengan yang diseru) ini sebagaimana yang pernah dilakukan oleh nabi Ibrahim A.s. ketika selesai mendirikan baitullah. Hanya saja yang diseru oleh nabi Ibrohim: “agar ummat manusia melakukan ibadah haji”, dan yang diseru di sini: “agar mereka segera sadar kembali kepada Alloh SWT”. 

Dalam beberapa tafsir diantaranya Tafsir Ibnu Katsir Juz 5 hal. 414, Tafsir Al-Qurtuby Juz 5 hal 378, Tafsir Al-Alusy Juz 13 hal 48, tafsir Fathul Qodir Juz 5 hal 109, Tafsir Adhwa-ul bayan fi tafsiril-qur-an, Juz 4, hal 362, (al-maktabah Asy-syamilah) dan lain-lain. disebutkan:

Firmah Allah SWT “Dan panggillah manusia agar melakukan ibadah haji”. Yakni “panggilah manusia dengan mengajak mereka untuk melaksanakan ibadah haji ke bait ini yang telah Aku perintahkan membangunnya. Kemudian nabi Ibrahim berkata: Wahai Robku, bagaimana mungkin aku bisa menyampaikan panggilanku kepada manusia sedangkan suaraku tidak bisa menembus/sampai kepada mereka?. Dikatakan kepada nabi Ibrahim: “Panggillah (mereka) dan AKU yang menyampaikannya”.

Dengan berdasarkan Firman Alloh SWT: 

ادعونى أستجب لكم

Berdo’alah kepada-Ku Aku memberikan ijabah kepadamu (Surat Ghofir : 60) dan 

ناد وعلينا البلاع

dalam hikayah nabi Ibrohim di atas. 

Seruan “Fafirruu Ilalloh” dilakukan dalam pengamalan Sholawat Wahidiyah yang didahului do’a permohonan seperti di atas dengan harapan disampaikan oleh Alloh SWT dengan kesan yang mendalam ke dalam lubuk hati mereka.

Baca Juga Sejarah Lahirnya Sholawat Wahidiyah Lengkap

Cara atau Prakteknya Nidak 

Adapun cara atau Prakteknya Nida 4 Penjuru dalam Pengamalan Sholawat Wahidiyah kurang lebih seperti dibawah ini :

  • Berdiri tegak menghadap ke arah barat untuk yang pertama, kedua tangan lurus di samping, pandangan lurus ke depan.
  • Membaca surat Al-Fatihah sekali, FAFIRRUU ILALLOOH tiga kali dan WAQUL-JAA-AL HAQQU …..” sekali. Kemudian menghadap ke arah utara, timur, dan selatan dengan bacaan yang sama dengan yang pertama. Semuanya itu agar dilakukan dengan sungguh-sungguh sepenuh hati dan merasa menyeru umat masyarakat yang di hadapannya.
Menyeru dengan menghadap ke arah orang-orang yang diseru akan menambah kemantapan/ kesungguhan batin. Selain itu juga lebih sopan dari pada berpaling dari mereka yang diseru.

Baca JugaMengenang Akhlakul-Karimah Muallif Sholawat Wahidiyah, Ra.

Cara menyeru melalui batiniyah (tidak berhadapan langsung dengan yang diseru) dan menghadap ke empat arah penjuru ini juga pernah dilakukan oleh nabi Ibrahim ketika melaksanakan perintah Alloh SWT agar menyeru manusia untuk melaksana-kan ibadah haji ke Baitulloh, sebagaimana uraian dalam hal Nida’ fafirruu sebelum ini. Dalam beberapa tafsir disebutkan:

Kemudian nabi Ibrahim As. menyeru di atas gunung Abi Qubais : 

“Hai manusia seseungguhnya tuhanmu telah bangun bait dan mewajibkan ibadah haji kepada kalian maka penuhilah panggilan tuhanmu itu”. Nabi Ibrahim, As, menolehkan wajah (menghadap) ke utara, selatan, timur dan barat. Maka setiap orang yang ditaqdirkan melaksanakan ibadah haji yang dilahirkan dari tulang rusuk pria dan rahim ibu-ibu menjawabnya “LABBAIK ALLOHUMMA LABBAIK” sebagaimana dalam Tafsir As-sirajil Munir, Juz 1 hal. 2604, Tafsir Al-Lubab, Juz 11 hal 409, Tafsir Al-Baghowi Juz 5 hal 378, tafsir Fathul Qodir Juz 5 hal 109, (al-maktabah Asy-syamilah) dan lain-lain.

Timbul Pertanyaan "Apa Boleh Mengikuti Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim AS"

Dengan ini timbullah pertanyaan “apa boleh dalam hal tersebut mengkuti yang dilakukan oleh nabi Ibrahim As.?” Jawabannya “boleh” karena dalam syari’at islam banyak terdapat syari’at dan ketetapan hukum yang sama atau memang diambil/ diadopsi dari syari’at nabi-nabi sebelumnya (syar’u man qoblana) dan yang lebih banyak dari syari’at nabi Ibrahim As.

a. Dalam tafsir Al-Baghowy (Juz 5 hal 51) disebutkan:

Di dalam tafsirnya ayat “Tsumma auhayna …..” para ahli ilmu ushul berkata: Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wasallam diperintah untuk melakukan syari’at nabi Ibrahim As kecuali yang telah disalin (mansukh) dalam syari’atnya. Sesuatu yang tidak disalin tetap menjadi syari’atnya.

b. Dalam tafsir Al-Khozin (Juz 2 hal 419) disebutkan:

Firman Alloh dalam Surat Al-An’am ayat 90 memberi isyarat kepada baginda nabi Saw agar mengikuti syari’at dan sunnah-sunnah para nabi sebelumnya. Ada dikatakan: Alloh memerintah Baginda Nabi Sholallohu 'Alahi Wasallam agar mengikuti para nabi sebelumnya tentang seluruh akhlaq terpuji, perilaku yang diridloi, sifat-sifat yang luhur yang sempurna, seperti sabar terhadap gangguannya orang-orang bodoh (orang-orang belum mengerti) dan memaafkan mereka. Ada dikatakan lagi: Beliau Nabi Muhammad Sholallohu 'Alaihi Wasallam diperintah mengikuti syari’at para nabi sebelumnya kecuali ada ketentuan dalil lain. Menurut pendapat ini ayat di atas menunjukkan bahwasanya syari’at nabi-nabi sebelum nabi kita juga disyari’atkan bagi kita. (Tafsir Al-Khozin)

c. Dalam kitab Kasyfil-Asror (Juz 6 hal 73) disebutkan juga tentang Nida


nidak wahidiyah
d. Sekalipun begitu juga ada sebagian ulama berpendapat bahwa syari’at nabi-nabi terdahulu tidak boleh dilakukan di dalam syari’at Islam kecuali ada nash memerintahkannya. 

Dalam kitab Adlwaaul-bayan disebutkan:


nidak wahidiyah

Pelaksanaan nida’ "FAFIRRUU ILALLOOH” dalam Wahidiyah adalah seruan kepada ummat masyarakat bukan berdo’a kepada Alloh, dan juga bukan pelaksanaan ibadah mahdloh yang harus ada tuntunan dari Rosulullah Sholallohu 'Alaihi Wasallam, hanya saja pelaksanaannya mengikuti pendapat ulama yang memperboleh-kan melakukan dan mengikuti syar’u man qoblana yang belum mansukh (disalin). Dalam hal ini mengikuti nabi Ibrahim As, tentang :

  • Menyeru kepada ummat masyarakat dari jarak jauh (tidak berhadapan/bertemu langsung) sekalipun kondisi yang diseru dan isi seruannya berbeda. Seruan nabi Ibrahim As, kepada ummat manusia pada saat itu masih di alam roh (belum dilahirkan) untuk melekukan ibadah haji ke baitulloh. Seruan di sini ditujukan kepada bangsa jin dan manusia (jami’al-alamin), baik yang sudah dilahirkan maupun yang masih di alam roh agar segera kembali mengabdi kepada Alloh SWT (Fafirruu Ilallooh). Dalam hal ini belum ada nash yang melarangnya;
  • Nabi Ibrahim As, mengeluh bahwa suaranya tidak mungkin bisa sampai kepada yang diseru sehingga Alloh SWT tetap menyuruh dan berjanji akan menyampaikannya. Dengan ini dalam Wahidiyah juga dibimbingkan sebelum menyeru/nida’ didahului permohonan kepada Alloh SWT agar nida’/seruannya disampaikan ke dalam lubuk hati ummat masyarakat jami’al alamin. Dalam hal berdo’a seperti ini belum ada nash yang melarangnya;
  • Nabi Ibrahim menyeru dengan menghadap empat penjuru sudah pasti dengan petunjuk Alloh SWT. Seruan dalam Wahidiyah menghadap yang diseru dengan tujuan menjaga adabnya menyeru dan agar lebih menambah kemantapan/ kesungguhan batin ini karena mengkuti nabi Ibrahim As. dalam pelaksanaan akhlaq hamidah dan af’al mardliyah di atas, yakni adab dan kesopanan dalam memanggil. Dalam hal ini juga belum ada nash shoreh yang melarangnya.
Dari uraian di atas mana yang dianggap “Penggunaan Dalil yang Menyalahi Kaidah Ilmu Tafsir”? Tafsir mana yang dimaksud? Oleh karena itu, para penentu hukum (Kyai), para mufti (pemberi fatwa) sebelum menentukan keputusan suatu masalah di masyarakat umum seharusnya mengadakan kajian yang lebih mendalam sampai mengetahui prakteknya. Tidak hanya dengan baca buku-bukunya saja atau hanya mendengarkan laporan orang-orang yang belum pasti mengetahui pokok masalahnya. Lebih-lebih membacanya hanya sekilas saja atau ketika membaca sudah didahului rasa benci, tuduhan negatif dan sebagainya. Dengan cara tersebut penentuan hukumnya bisa jadi tidak ikhlas Lillahi Ta’ala atau tidak li-idhharil-haq (untuk mencari kebenaran).

Ada suatu contoh yang agak lucu; ada seorang penentu hukum sebelum dia memutuskan kesesatan pada suatu perbuatan dia mengawalinya dengan kalimat “Entah bagaimana prakteknya”…. Lha prakteknya saja belum tau, kenapa sudah begitu tegas menjatuhkan atau menentukan hukumnya? Yah mudah-mudahan tidak terulang lagi.