√ Acara Walimatul Khitan Putra Muallif Wahidiyah, Gus Mik Merasa Ditengah Harimau Besar

Islam

Acara Walimatul Khitan Putra Muallif Wahidiyah, Gus Mik Merasa Ditengah Harimau Besar

Ibnu Rusyd
Tuesday, February 11, 2020

Ad1

Ad2

Acara Walimatul Khitan Putra Muallif Wahidiyah, Gus Mik Merasa Ditengah Harimau Besar - Siapa yang tidak kenal dengan Gus Mik, Terkenal Ampunya merasa pada waktu acara Walimatul Khitan Putra Muallif Sholawat Wahidiyah RA merasa di tengah-tengah harimau yang besar-besar.

Pada acara Walimatul Khitan Agus Abdoel Hamid

Muallif Wahidiyah
Keluarga Muallif Sholawat Wahidiyah
Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef QS RA mengundang ulama besar dari berbagai daerah di Jawa Timur disamping keluarga dan undangan lainnya. 

Hadir Bintang Tamu Istimewa

Hadir sebagai bintang tamu (tamu khusus) pada acara yang digelar pertengahan tahun 1964 itu antara lain :

K.H. Abdoel Wahab Hasbullah, Pengasuh Pondok Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang yang juga sebagai Rois ‘Am Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) III (1946-1971). 

Juga hadir K.H. Mahrus Ali Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang juga sebagai Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Jawa Timur dan turut hadir pula K.H. Abdoel Karim Hasyim pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, serta K.H. Hamim Jayuli (Gus Mik) putra K.H. Djazuli Utsman Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri. 

Acara Walimatul Khitam 

Pada acara Walimatul Khitan ini acara mau’idhatul hasanah (pengajian/hikmah walimatul khitan) ditiadakan. Susunan acara lengkapnya adalah : 

Pembukaan 
Pembacaan Ayat-ayat Suci Al-Quran, 
Sambutan Panitia Penyelenggara dan sambutan-sambutan. 

Sambutan shahibul hajah disampaikan oleh beliau Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef QS RA sendiri. 

Kemudian diteruskan sambutan yang kedua dari K.H. Abdoel Wahab Hasbullah dan sambutan yang ke tiga dari K.H. Mahrus Ali.

Gus Mik Menyampaikan Sambutan Ketua Panitia

Gus Mik yang pada waktu itu mendapat tugas sebagai ketua panitia dalam sambutannya antara lain berkata:

كُلُّ جَمْعٍْ مُؤَنَّثٌ

Kalimat lengkapnya dari syair :

لَيْتَ قَوْمِيْ تَجَمَّعُوْ # وَبِقَتْلِىْ تَحَدَّ ثُوْا
لاَ أُبَا لِىْ بِجَمْعِهِمْ # كُلُّ جَمْعٍْ مُؤَنَّثٌ

Artinya : “Barangkali kaumku berkumpul dan membicarakan tentang cara membunuh aku. Aku tidak peduli dengan kumpul mereka. Sebab orang banyak (beraninya mengeroyok) itu seperti betina (tidak menunjukkan kejantanan)”.

Selanjutnya Gus Mik menyatakan “Saya merasa di tengah-tengah harimau yang besar-besar". Supaya saya tidak takut dan ragu, semua ini saya anggap tidak ada. Dengan nada berat Gus Mik melanjutkan sambutannya.

Para hadirin ! Siapakah sebenarnya Agus Abdoel Madjid itu ?, Pertanyaan itu dijawab oleh Gus Mik sendiri; 

Beliau adalah Roisul ‘Arifin

Hadirin ! Seumpama beliau Syekh Abdoel Qodir al Jailani masih hidup, saya yakin beliau akan juga ikut mengamalkan sholawatnya Agus Abdoel Madjid ini!”.

Baca Juga :  



Sambutan Shahibul Hajah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef QS RA

Dalam sambutannya sebagai shohibul hajah beliau Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef QS RA memberikan ijazah Sholawat Wahidiyah kepada para tamu yang hadir. Di antara dawuh yang beliau sampaikan dalam sambutannya antara lain sebagai berikut : 

“Nuwun sewu, kulo nggadahi amalan Sholawat Wahidiyah. Menopo Panjenengan kerso kulo ijazahi ?” 
(Maaf, saya punya amalan sholawat (Sholawat Wahidiyah). Apakah anda mau saya ijazahi ?). 
Jawaban Para Peserta yang Hadir

Spontan hadirin menjawab dengan suara gemuruh dan serempak “kerso (mau)”

Di antara mereka ada yang setengan berdiri, bahkan K.H. Wahab Hasbullah dengan berdiri dan mengacungkan tangan menyambut ijazah tersebut dengan suara lantang:

قبلت أ وّلا

(Saya menerima paling dulu) dengan mengulanginya tiga kali.

Atas ijazah yang disampaikan Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma’roef QS RA itu, sambutan-sambutan selanjutnya berisi tanggapan terhadap Sholawat Wahidiyah (Ma’rifat) yang baru saja beliau ijazahkan. 

Tanggapan K.H. Abdoel Wahab Hasbullah

Di antaranya tanggapan dari K.H. Abdoel Wahab Hasbullah adalah sebagai berikut 

“Hadirin! Ilmunya Gus Madjid itu dalam sekali. Ibaratnya sumur yang dalamnya sepuluh meter, sedangkan saya hanya memiliki ukuran (kedalaman) satu sampai dua meter saja”. 

Lanjut dawuh beliau “Sholawatnya Gus Madjid akan saya amalkan”. 

Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh