√ Peristiwa Pertama Asrama Wahidiyah Pertama

Islam

Peristiwa Pertama Asrama Wahidiyah Pertama

Ibnu Rusyd
Saturday, February 29, 2020

Ad1

Ad2

Wushul dibutuhkan guru yang bisa mewushulkan dengan berbagaimacam cara diantaranya dengan Sholawat Wahidiyah.


Peristiwa Asrama Wahidiyah Pertama

Dalam kesempatan kali ini Wahidiyah.me meneruskan artikel sebelumnya yakni tentang Peristiwa-Peristiwa yang Terjadi Di Awal Perjuangan Wahidiyah. Langsung saja bahwa, hanya dengan 'Alim ilmu tidak dapat mengantarkan wushul kepada Alloh Warosuulihii Sholalloohu 'Alaihi Wasallam, sekalipun Betapa Tinggi llmunya seseorang, seperti dikatakan dalam kitab Jami'ul Usul Auliya hal 149 :


Yang artinya : "Seaidainya orang telah mengumpulkan semua ilmu dan telah bersahabat beberapa kelompok manusia, mereka tidak sampai dikedudukan orang yang sempuma kecuali harus dengan Riadloh (Mujahadah) di bawah pimpinan guru mursyid yang kamil Iman yang nashih yang mendidik adab dengan syari'at dan alim segala fan".

Asrama Wahidiyah
Peristiwa Pertama Asrama Wahidiyah Pertama
Hikayah pada tahun 1964 diadakan Asrama Wahidiiyah atau Penataran Pendalaman Ilmiah Wahidiyah. Penataran tersebut adalah yang pertama kali dilaksanakan dalam perjuangan Wahidiyah. Pengisi dan pembimbingnya ditangani langsung oleh Beliau Muallif Sholawai Wahidiyah Ra sendiri. 

Peserta Asrama Wahidiyah Pertama

Peserta tetapnya berjumlah puluhan orang dari berbagai Daerah yang kurang lebih 40 % nya terdiri dari para Ulama dan Para Kyai, Penataran berlangsung secara non stop selama 7 hari 7 malam. 

Nama-Nama Peserta Asrama Wahidiyah Pertama

Nama-nama peserta Asrama Wahidiiyah atau Penataran Pendalaman Ilmiah Wahidiyah antara lain :

1. Bapak KH. Zainal Fanani, Tulungagung
2. Bapak Muhammad Ruhan Sanusi, Tulungagung.
3. Bapak Salim, Tulungogung
4. Bapak Sarkowi, Tulungagung
5. Bapak H. Mukhtar, Tulungagung
6. Bapak Zainuri, Tulungagung
7. Bapak K. Sa'idu, Tulungagung
8. Bapak Fadlil, Tulungagung.
9. Bapak Zainuri Mahfudz, Tulungagung.
10. Bapak Hurun, Tulungagung.
11. Papak Malahin, Tulungagung
12. Bapak AY Bastomi, Malang
13. Bapak Ajma'in, Malang
14. Bapak Shofwan, Malang
15. Bapak K. Mahmud Misbah, Malang
16. Bapak Mustaqim, Malang
17. Bapak H. Munawar, Malang
18. Bapak K Abdul Karim Hasyim, Tebuireng, Jombang
19. Bapak Agus Toha, Jombang
20. Bapak Maskat Jombang
21. Bapak Mahali, Kediri
22. Bapak Abd Jalil Jamsarin, Kediri
23. Bapak Yusuf, Jombang
24. Bapak Badrudin, Kediri
25. Bapak H.  Zainuri, Kediri
26. Bapak K Mahsun, Kediri 
27. Bapak Seno Aziz, Kediri
28. Bapak Ruba'i, Kediri
29. Bapak Qomari, Kediri
30. Bapak K. Hamzah, Blilar
31. Bapak K. Mahmud, Blilar
32. Bapak K. Damanhuri, Lodoyo, Blitar
33. Bapak Fadlan, Blitar
34. Baak K. Harun Rosyid, Madiun
35. Bapak Habib, Madiun.
36. Bapak K. Sa'id, Nganjuk.
37. Bapak K. Ahyat, Mojokerto
38. Bapak K. Mahfudh Shiidiq, Ngawi.

Mari, dalam kesempatan kali ini kita hormat Kepada Beliau-beliau di atas dengan mengadakan permohonan kepada Alloh dengan bacaan Al Faatihah.

Al Faatihah ...............

Itulah sebagian peserta Dalam acara Asrama Wahidiyah Pertama. 

para Pembaca yang tercinta, saat itu biasa diduga bahwa ikut sertanya para Kyai dalam Asrama tersebut dilatar belakangi tujuan yang berbeda-beda. 

Tujuan Peserta mengikuti Asrama Wahidiyah Pertama

Ada yang memang ingin mendalami ilmiyah Wahidiyah, ada yang ingin mencocokan ilmu oengetahunannya dengan ilmu Wahidiyah, bahkan ada yang terang-terang ingin beradu ilmu dengan Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA,: 

Kalau saya kalah hujjah saya siap berguru kepadanya (kepada Beliau Muallif Sholawal Wahidiyah, Ra pen) kata seorang Kyai.

Ternyata pelaksanaan acara Asrama atau penataran itu para peserta hanya menerima kuliah Wahidiyah dari Beliau Mualliaf Sholawat Wahidiyah RA, dengan diselingi beberapa kali mujahadah. 

Suasana Asrama Wahidiyah Pertama

Demikian itu berlangsung dari gelombang kegelombang dengan tenang dan terlib. Semua bimbingan Beliau terfokus pada pengertian, pemantapan dan penerapan Ajaran Wahidiyah. 

Di samping Al-Qur'an dan Al-Hadits, dalil-dalil yang Beliau sampaikan banyak dari dawuh-dawuh Ulama Shufi terdahulu. Dawuh-dawuh Beliau saat itu kemudian diabadikan dalam buku-buku Wahidiyah khususnya dalam buku Kuliah Wahidiyah.

Begitu suasana perjalanan Asrama Wahidiyah mulai hari pertama sampai hari ke lima. Namun suasana menjadi berubah setelah memasuki hari ke enam. Pada hari itu Beliau muali menjelaskan tentang "Billah".  Dawuh Beliau anatara lain : 

Semua itu Billah ma'siat sekalipun. 

Di sinilah para Kyai yang ikut penataran mulai tidak bisa menerima (pusaing tujuh keliling)

Pertanyaan Para Peserta Asrama Wahidiyah Pertama

Dengan uneg-uneg yang tidak bisa ditahan, para Kyai tersebut mengajuban berbagai pertanyaan dengan bernada banggel (membantah), terutama beliau-beliau yang ikut sertanya sengaja niat "Beradu Ilmu" Penanya dan pertanyaan-pertanyaannya antara lain : 

1. Al Mukarrom K.H. Harun Rosyid, Madiun

Nuwun sewu Kyai, Kalau semua itu "Biilah" lalu bagaimana cara saya memperbedakan sesuatu yang benar dan yang salah? Kemuadian kalau sudah Billah apakah Syari'at dihilangkan ?

2. Bapak K.H. Mahfudh Shidiq, Mgawi.

"Kyai mintak penjelasan kalau "aku" itu dihilangkan, lantas bagaimana misalnya saya akan pergi ke Kedunglo, lantas ada seseorang bertanya : "Bapak akan pergi kemana ? "Bagaimana jawab saya kalau "aku" harus dihilangkan? Apa saya jawab "Gusti Allah akan ke Kedunglo" Gen ... Semua yang hadir tidak bisa menahan gelak tawanya".

3. Bapak H Zainun Mustarom, Kediri

"Nuwun sewu Kyai. Bagaimana jelasnya Billah itu ? Kok semua Billah. Seumpama Kyai, saya naik sepeda, itu yang naik saya atau Gusti Allah ? (Kadirin gerr ...) Atau saya beserta Gusti Alloh ? (hadirin semakin gerr ...) tidak bisa menahan tawa". 

4. Bapak K Mahmud, Kepanjen, Malang.

"Nuwun sewu Kyai. Ada anjuran "Akuilah kesalahanmu !" Apakah itu tidak tabrakan (bertentangan) dengan ayat :

خيره وشره من الله

(Baik dan buruk semuanya dari Alloh)

Dalam kesempatan lain ada pertayaan lagiو antara lain ;

  1. Apa rahasianya berhadiah Fatihah kepada Ghoutsu Hadzaz Zaman, RA. tidak disebut nama orangnya, hanya jabatannya saja ?.
  2. Apa perbedaan antara penerapan "Billah" daengan Istighroq" 
  3. "Ada istilah di luar Wahidiyah "manunggaling kawuto dangan Gusti (menyatunya hamba dengan Tuhannya)'' Apakah itu sama dengan penerapan Biilah ?.
  4. Penerapan ikhlas yang diajarkan Wahidiyah kok langsung penerapan Billah. Maksud saya : Apakah orang awarn akan mampu ? Sedangkan ikhlus itu sendiri ada tiga tingkatan. Ibarat anak bersekolah masih kelas satu diberi pekerjaannya kelas tiga apakah mampu ?


Para pembaca, yang terhormat !

Dijawab dengan singkat dan mudah dirasakan dipahami oleh Muallif Sholawat Wahidiyah

Semua pertanyaan yang diajukan, kepada Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah, Ra. dijawab dengan singkat dan mudah dirasakan dipahami. Sehingga jawaban Beliau itu bagaikan salju yang memadamkan api yang membara. 

Maaf, disini Wahidiyah.me tidak memuat jawaban-jawaban Beliau, bagi pembaca yang memerlukan pengertian atau jawaban supaya memusyawarahkan dengan para pengamal atau yang dianggap lebh mampu atau langsung kepada Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) Pusat dan mempelajari atau mendalami Buku-Buku Wahidiyah terutama Buku Kuliah Wahidiyah. 

Penataran Pada hari Ketujuh atau yang terakhir

Setelah para peserta penataran menerima dawuh-dawuh, fatwa dan amanah dari Madlrotul Muallif Sholawal Wahidiyah, Ra. yang dibarengi sorotan Nadhroh selama mengikuti penataran Aswama Wahidiyah itu, sampailah hari akhir.

Suasana Puncak keharuan

Pada hari penutupan itu suasana dalam penataran lebih haru lagi, lebih-lebih pada saat Beliau menguraikan syarat-syarat seseorang bisa menjadi guru (guru wushul/mursyid) dan syarat-syaratnya menjadi murid (orang yang berguru wushul kepada Allah. 

Puncak keharuan dengan diwanai jerit tangis yang berkepanjangan, ketika Beliau dawuh : 

Syaratnya seorang menjadi guru, yaitu harus mampu memberi (menarbiyah) kepada muridnya sekalipun di tempat yang jauh, misalnya murid di tempat terbenamnya matahari dan guurnya di tempat terbitnya matahari, si guru mampu menarbiyah, itulah guru.

Syarat menjadi Murid

Selain itu seoarang guru tidak mengharap sedikitpun dari hak milik si murid, sedang syarat menjadi murid yaitu harus kalmayyit (pasrah bongkokan)

Pikiran, kesempatan, tenaga adalah diserahkan bulat-bulat kepada guru

Apa saja yang ada pada diri murid termasuk pikiran, kesempatan, tenaga adalah diserahkan bulat-bulat kepada guru, suami istri sekalipun.

"Begitu beratnya menjadi guru dan begitu banyaknya syarat menjadi murid" lanjut dawuh Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA.

"Apalagi saya menjadi guru, menjadi murid saja saya tidak mampu" Suasana majelis seketika itu semakin gemuruh dengan jerit tangis.

Kemudian Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah meneruskan dawuhnya : "Mari kita bersama-sama saja sowan kepada Allah Wa Rosuulihii Sholallohu 'Alaihi Wasallam Wa Ghoutsi Hadaz Zaman, RA !.

Suasana dalam majelis sudah agak reda, tinggal sisakan bekas tangis yang terdengar di sana sini, namun sebelum diakhiri Beliau Dawuh : "Kalau saya, kalian anggap menjadi guru ...... (dengan sayup-sayup dan tersendat-sendat beliau meneruskan):

(Jauh sekali, jauh sekali, jauh sekali)

Saat itu suasana gemuruh kembali, bahkan melebihi sebelumnya. Pada saat itu Bapak Muhammad Ruhan Sanusi yang duduk tepat dihadapan Beliau tidak sadarkan diri bersungkur sambil berkata : 

Romo. ...... Panjenengan Guru Kulo sampai Tiga kali ualngan dengan tersendat-sendat karena lupakan tanginya.

Pembaca yang terhormat, penjelasana tentang Syarat-Syarat menjadi guru wushul dan menjadi murid wushul telah termuat dalam buku-buku Wahidiyah, terutama dalam materi pembinaan Wahidiyah dan bulletin "Kembali", Silahkan mempelajarinya.

Penataran Wahidiyah yang pertama itu merupakan penggodokan dan penggemblengan kader-kader Wahidiyah yang pertama. Berangkat dari situ pula awal berbagai kegiatan, baik di tingkat pusat maupun di daerah-daerah yang sebelumnya belum ada. Setelah itu, dengan restu Hadlrotul Muallif Sholawat Wahidiyah, Ra jamaah-jamaah Mujahadah di desa-desa mulai terbentuk. buku-buku Wahidiyah mulai diterbitkan dan terus diupayakan kesempurnaannya sampai sekarang.