√ Sholawat Wahidiyah Sebagai Produk Tasawuf Indonesia -->

Islam

Sholawat Wahidiyah Sebagai Produk Tasawuf Indonesia

Ibnu Rusyd
Saturday, November 9, 2019

Ad1

Ad2

Sholawat Wahidiyah Sebagai Produk Tasawuf Indonesia Dengan Misi Inklusivisme Global - Sholawat Wahidiyah yang lahir di Indonesia tentunya sangatlah luar biasa yang ada di dalamnya.

Dalam kesempatan kali ini wahidiyah.me menyajikan tentang Sholawat Wahidiyah Sebagai Produk Tasawuf Indonesia Dengan Misi Inklusivisme Global yang diambil dari Buku Tasawul Kultural : Fenomena Sholawat Wahidiyah karya Beliau Sokhi Huda.

Muallif Sholawat Wahidiyah
Muallif Sholawat Wahidiyah
Ada beberapa bagian yang bisa Wahidiyah.me sampaikan yaitu tentang Inti Ajaran, Visi dan Misi Inklusivisme Global Sholawat Wahidiyah dan  Inti dan Dimensi Ajaran wahidiyah.

Inti Ajaran, Visi dan Misi Inklusivisme Global Sholawat Wahidiyah

Sebagaimana dijelaskan pada bab-bab sebelumnya dalam Buku Tasawul Kultural: Fenomena Sholawat Wahidiyah karya Beliau Sokhi Huda bahwa Sholawat Wahidiyah lahir dari Indonesia. Hal ini berbeda dengan aliran-aliran tarekat (tasawuf) lainnya, khususnya yang diberi predikat mu’tabaroh, yang lahir di Timur Tengah.

Sholawat Wahidiyah memang hadir melalui proses spiritualitas yang bernuansa transcendental (komunikasi batiniyah dengan Allah Sang Ilahi). Namun secara cultural, lokasi bumi tempat ia lahir tidak mustahil turut berpengaruh terhadap corak ketasawufan, inti ajaran, serta visi dan misinya.

Disamping inti ajaran dan visi yang diembannya, Sholawat Wahidiyah mengemban misi Inklusivisme Global secara tandas. Dalam kaitan inilah layak diajukan tiga pertanyaan. Pertama; “apakah latar social yang pluralistic dan multicultural di Indonesia turut mengilhami karakter ketasawufan Sholawat Wahidiyah dengan misi Inklusivisme Globalnya ? “ Kedua; ”Apakah masyarakat Indonesia yang pluralistic dan multicultural dipandang oleh Sang Ilahi membutuhkan terlebih dulu terhadap Sholawat Wahidiyah sebagai konsumsi, sebelum masyarakat dunia di luarnya membutuhkan konsumsi itu ? “Ketiga; “Apakah kehadiran Sholawat Wahidiyah – dengan segenap hal yang ada padanya – murni atas kehendak Alloh ?”

Meski bagaimanapun atas jawaban ketiga pertanyaan di atas, dalam hemat penulis, Sholawat Wahidiyah tampil dan berkembang dengan sosok khasnya serta terus menerus mengalami uji kredibilitas dalam dinamika sejarahnya, dengan inti ajaran, visi, dan misi Inklusivisme global yang sebenarnya.

Inti dan Dimensi Ajaran wahidiyah

Dari gambaran utuh dan analisis tentang Sholawat Wahidiyah sebagaimana dijelaskan dalam bab II dan bab III di atas, dapat dipahami inti ajaran Wahidiyah yang mencakup sembilan pokok, yakni:

a. rekontruksi aqidah
b. rekontruksi akhlak
c. penghargaan atas jasa-jasa para pembaru (mujaddid)
d. strategi pembentukan ekuilibrium social
e. efesiensi dan produktifitas hidup pribadi dan social
f. revolusi psikis dan perilaku
g. responsibilitas social
h. strategi menyikapi kemungkaran, dan
i. berinfaq untuk kepentingan agama.

Inti pertama sampai dengan inti kelima (poin a sampai dengan poin e) bersumber dari ajaran dan tadisi mujahadah (pengejantawahan spiritual). Inti ketujuh dan kedelapan (poin g dan poin h) bersumber dari ruh aurod (amalan atau rangkaian kalimat dzikir) Sholawat Wahidiyah. Sedangkan inti kesembilan (poin i) merupakan ajaran keperilakuan untuk pemenuhan sarana / prasarana kepentingan ajaran dan perjuangan.

Masing-masing inti tersebut Wahidiyah.me jelaskan hanya sebagian saja sebagaimana di bawah ini.

a. Rekontruksi aqidah

Wahidiyah menempatkan aspek (dimensi teologi) sebagai fondasi pertama dan utama bagi seluruh system ajarannya. Sintem ini meliputi bidang  hakikat dan syari’at dengan priranti ma’rifat  (kesadaran yang mengarah pada puncaknya, yakni diperolehnya ridla alloh SWT.

Oleh karena itulah diantara lima pokok ajarannya, secara tegas pada urutan pertama diajarkan prinsip Lillah-Bilah (hanya karena dan untuk Alloh SWT-sebab izin dan pertolongan alloh SWT).

Tauhid diajarkan secara tandas dan ditanamkan secara kuat dalam ajaran Wahidiyah. Tauhid inilah yang dijadikan sebagai fondasi segala bentuk amal perbuatan ibadah, mu’amalah, dan akhlak. Pada prakteknya, niat Lillah-Billah itu dipasang secara tegas dalam perbuatan apapun, selain perbuatan-perbuatan terlarang dan merugikan, yang dilakukan oleh pengamal Wahidiyah. Hal ini juga dimaksudkan secara tegas untuk mengantisipasi pengaruh syirik, bahkan syirik samar (syirik khafi) sekalipun.

Dalam ajaran wahidiyah dijelaskan bahwa perbuatan yang tidak Lillah-Billah dapat terjebak ke dalam Linnafsi-binnafsi (hanya karena dan untuk nafsu- sebab karsa dan dinilai membahayakan bagi Iman – tauhid pelakunya. Bahkan bahayanya tidak hanya menimpa pelaku sendiri, tetapi juga dapat menimpa orang atau pihak lain dalam system kehidupan.

Kemudian atas dasar prinsip Lillah-Bilah itu, ajaran wahidiyah menjunjung tinggi keemurnian dan keteguhan tauhid, serta syari’at (hokum Islam) yang telah digariskan oleh Alloh Swt. Disinilah ditemukan ajaran wahidiyah – termasuk praktek-praktek perbuatan para pengamalnya-yang berusaha mengamalkan syari’at Islam secara utuh dan sungguh-sungguh. Bentuk konkritnya – sebagai contoh dalam ibadah- adalah mempertandas niat dan menjunjung tinggi kesucian demi kesempurnaan ibadah . itupun masih didekorasi dengan tatakrama yang baik dalam pelaksanaannya, misalnya : busana ibadah, perbuatan fisik, dan penataan rohani.

Demikian itu tidak bersifat eksklusif, karena Wahidiyah mempertegasnya dengan seruan “fafirruu Ilallooh” (bergegaslah kembali kepada Alloh) yang dilakukan kearah empat penjuru dunia. Seruan itu dilakukan dengan suara lantang secara serentak oleh jamaah Wahidiyah. Seruan tersebut memperlihatkan adanya dimensi dakwah dalam ajaran Wahidiyah. Pada seruan itu terkandung makana bahwa Wahidiyah berjuang untuk melakukan rekontruksi akidah secara global.
Dalam hemat penulis, makna secara rinci seruan itu adalah : 
  1. Seruan untuk memurnikan dan meneguhkan iman dan tauhid
  2. seruan mengantisipasi pengaruh syirik dan egoisme diri,
  3. seruan menjunjung tinggi syari’at Islam dan mengamalkannya secara utuh dan sungguh-sungguh

b. Rekontruksi Akhlaq

Wahidiyah mengajarkan agar ummat manusia berakhlak dengan akhlak Rosululloh Muhammad SAW (takhalluq biakhlaaqi Rosuulillah Muhamad SAW). Ajaran ini berarti menjadikan Rosululloh Muhammad SAW sebagai perhatian utama keteladanan (uswah hasanah) dalam segala segi dan aspek kehidupan. Ajaran ini bersumber dari pokok kedua ajaran Wahidiyah, yakni “Lirrosul-Birrosul” (niat mengikuti tuntunan Rosulillah SAW-sebab jasa Rosulillah SAW). Dalam kaitan ini, oleh karena tauhid merupakan fondasi dalam system ajaran Wahidiyah, maka Wahidiyah mengajarkan bahwa niatnya harus dobel dalam segala perbuatanyang tidak melanggar syari’at Islam, yakni niat “Lillah dan niat Lirrosul”. 

Ajaran tersebut ditanamkan secara kuat dalam ruang kesadaran iman dan diwujudkan secara sungguh-sungguh di lapangan kesadaran perbuatan nyata. Puncak yang ingin dicapai oleh ajaran itu adalah menjadikan Rosululloh SAWsebagai uswatun hasanah dan usaha diri pengamal secara sungguh-sungguh agar menjadi umat yang baik Beliau.

Dalam kaitan itu, ada hal yang dapat diangkat sebagai contoh perbandingan, yakni Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan tersebut pertama kali dalam sejarah Islam diselenggarakan oleh Shalahuddin al-ayyubi, seorang panglima perang. Maksud peringatan itu adalah untuk membangkitkan semangat para pasukan Islam dan mempersatukan ummat Islam dalam perjuangan. Apabila Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW semacam itu merupakan momen untuk menyegarkan kesadaran, maka ajaran Wahidiyah menjadikan ruh peringatan itu sebagai ruh dalam setiap perbuatan untuk terwujudnya akhlaq mulia (al-akhlaqul karimah). Disinilah ditemukan adanya dimensi keperilakuan dalam ajaran Wahidiyah tentang rekontruksi akhlaq.

Dalam hemat penulis, keterwujudan akhlak mulia seperti itu seirama dengan kandungan sabda Baginda Nabi Muhammad SAW yang artinya : “aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak”. 
  
c. Penghargaan atas Jasa-jasa Pembaru (Mujaddid)

Inti ajaran tentang “penghargaan atas jasa-jasa para pembaru (mujaddid)” ini bersumber dari pokok ketiga ajaran wahidiyah, yakni ‘Lilghouts-Bilghouts” (karena mengikuti bimbingan Ghoutsi hadzaz-Zaman RA – sebab jasa dan kesadaran memperoleh bimbingan rohani dari Ghouts Hadzaz-zaman RA).
Wahidiyah mengajarkan bahwa cara penerapannya sama dengan penerapan Lilah dan Lirrosul, yaitu disamping niat ikhlas semata-mata karena Alloh (Lillah) dan niat mengikuti tuntunan Rosululloh SAW, supaya ditambah lagi niat mengikuti bimbingan Ghouts Hadzaz-zaman RA- Lilghouts. Niat tersebut diterapkan dalam hati, tidak mengubah ketentuan-ketentuan yang ada dibidang syari’at, dan terbatas pada hal-hal yang diridloi Alloh SWT dan Rosululloh SAW. Hal-hal yang terlarang  seperti maksiat misalnya, sama sekali tidak boleh disertai niat tersebut.

Penulis memahami bahwa konsep tentang Ghouts sebagai pembaru (mujaddid) rohani memperolah tempat yang strategis  dalam ajaran Wahidiyah. Ghouts yang dipandang Alloh, mengemban amanat untuk melakukan pembaruan (tajdid) rohani dan akhlak umat manusia, serta penyelamatan dalam kelangsungan sejarahnya. Ghouts – dengan amanat yang diembannya –dipandang sebagai wakil Alloh pada kurun-kurun sejarah manusia, pasca masa hidup Rosululloh Muhammad SAW. Oleh karena sedemikian strategis keberadaan Ghouts, maka Wahidiyah mengajarkan agar manusia, khususnya para pengamalnya, menghormati keberadaan dan peran penting Ghouts. Demikian ini memperlihatkan adanya kesadaran tentang menejemen bimbingan rohani manusia dalam perilaku keberagamannya.

Pada prakteknya, kesadaran tentang peran strategis Ghouts dan sikap penghargaan terhadapnya diwujudkan dalam empat bentuk sebagai berikut. 
Pertama; sikap memperhatikan dan mengamalkan dengan sungguh-sungguh bimbingan Ghouts dalam hal kerohanian untuk tercapainya wushul(ma’rifat, kesadaran) kehadirat Alloh SWT. Kesadaran ini merupakan energi yang menggerakkan segenap potensi diri dan kesanggupan jiwa untuk mencapai ridlo Alloh SWT, dengan melaksanakan syari’at-Nya secara utuh dan sungguh-sungguh.

Kedua; kedudukan Ghouts dimasukkan ke dalam aurod (amalan, rangkaian kalimat dzikir dan doa) Sholawat Wahidiyah. Sesuatu yang diharapkan dari Ghouts dalam aurod tersebut adalah nadhroh, yakni pancaran bimbingan agar diperoleh wushul (ma’rifat, kesadaran) kehadirat Alloh SWT. Demikian ini ditempatkan dalam kerangka dua ayat firman Alloh dalam al-qur’an. Pertama; pada surat 2/ al-baqoroh ayat 154: “Dan janganlah kalian berkata : bahwa orang-orang yang gugur dijalan Alloh itu mati; melainkan mereka tetap hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya.” Kedua; pada surat 3/ ali Imran, ayat 169: “Dan janganlah kalian mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati; melainkan mereka tetap hidup di sisi Tuhannya dan mereka memperoleh rizqi (kenikmatan besar)”.

Atas dasar kedua ayat tersebut dijelaskan dalam Wahidiyah bahwa, jika orang yang mati syahid saja tetap hidup, apalagi para Nabi, para Rosul, dan para kekasih Alloh. Oleh karena itulah dalam Wahidiyah diyakini secara kuat potensi Ghouts yang membimbing rohani umat manusia dalam usaha tercapainya wushul  kehadirat Alloh.

Ketiga; sikap memberikan hadiah fatihah kepada Ghouts sebagai terima kasih pada Ghouts. Ini juga terkait dengan harapan memperoleh nadhroh Ghouts sebagaimana penjelasan pada poin kedua di atas. 
    
Pada prakteknya, hadiah fatihah itu tidak hanya disampaikan pada Ghouts semata, tetapi juga kepada Nabi Muhammad SAW, para pendukung Ghouts, serta seluruh kekasih (Wali) Alloh. Hadiah fatihah ini dibaca pada awal kali sebelum rangkaian aurod Sholawat Wahidiyah dibaca. Sedangkan urutan hadiah fatihah itu adalah:

1. hadiah fatihah kepada Nabi Muhammad SAW,
2. hadiah fatihah kepada Ghouts dan para pendukungnya
3. hadiah fatihah  kepada seluruh para wali Alloh. 

Bahkan ketika hadiah fatihah disampaikan kepada para Wali Alloh, ditambahkan deretan kata-kata “Rodliyalloohu Ta’ala ‘anhum” (semoga Alloh SWT meridloi mereka).

4. memohonkan ampun untuk Ghouts serta seluruh kekasih (Wali) Alloh – dalam deretan istighfar (permohonan ampun) setelah shalat fardlu. Sedangkan lafadz lengkap istighfar itu adalah sebagai berikut : 


istighfar wahidiyah


أستغفرالله العظيم لى ولوالدي ولأصحاب الحقوق الواجبة علي ولوالدى رسول الله صلى اله عليه وسلم وأزواجه وذرياته وآله وأصحابه ولغوث هذا الزمان وأعوانه وسآئر أوليآء الله رضى الله تعالى عنهم ولجميع من عمل بهذه الصلواة الواحدية ومن أعان عليها إلى يوم القيامة ولجميع المؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات
ArtinyaAku memohon ampun kepada Alloh yang Maha Agung (1) untukku (2) untuk kedua orang tuaku (3) untuk orang-orang yang mempunyai hak yang wajib aku penuhi (4) untuk kedua orang tua Rosulillah SAW, para istrinya, para keturunannya, keluarganya, dan para sahabatnya (5) untuk Ghouts zaman ini, untuk semua orang yang mengamalkan Sholawat Wahidiyah ini dan orang yang mendukungnya sampai hari kiamat, dan (7) untuk semua orang mukmin laki-laki dan perempuan yang hidup dan yang mati diantara mereka.

Pada terjemahan tersebut penulis beri nomor, dengan maksud agar mudah dibaca bagian-bagiannya yang menjadi sasaran istighfar.

Dengan demikian, seluruh penjelasan dalam bagian ini menunjukkan bahwa Wahidiyah mengajarkan penghargaan kepada para pembaru (mujaddid), khususnya para pembaru rohani dan akhlak umat manusia. 

Oleh karena itulah fatihah dan istighfar (permohonan ampun kepada Alloh) tidak hanya disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW dan Ghouts serta seluruh Wali Alloh. Inilah sekilas tentang Sholawat Wahidiyah Sebagai Produk Tasawuf Indonesia Dengan Misi Inklusivisme Global yang kelanjutannya akan dibawah pada kesempatan yang akan datang.