√ Perjuangan KH Ihsan Mahin Pendiri Pesantren Attahdzib Jombang -->

Islam

Perjuangan KH Ihsan Mahin Pendiri Pesantren Attahdzib Jombang

Ibnu Rusyd
Wednesday, November 27, 2019

Ad1

Ad2

Perjuangan KH Ihsan Mahin Pendiri Pesantren Attahdzib Jombang - Siapa yang tidak kenal KH Ihsan Mahin Pendiri Pesantren Attahdzib Jombang, salah satu Pesantren terbesar di Jombang dan juga Pusat Kantor Sekretariat Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat.

Sejarah dan Konsep Dasar Pesantren  Attahdzib (PA)

Berdirinya Pesantren Attahdzib Jombang

Secara historis, Pesantren Attahdzib (PA) dirintis pertama kali oleh Hadratus-Syaikh Romo KH. Ihsan Mahin di desa Payak Mundil Ngoro Jombang pada tahun 1958. Bahkan ketika itu sudah sempat didirikan bangunan pondok. 


KH Ihsan Mahin Pendiri Pesantren Attahdzib Jombang
KH Ihsan Mahin Pendiri Pesantren Attahdzib Jombang
Dalam hal Tahun berdirinya Pesantren At-Tahdizb ada perbedaan pendapat, sebagaimana dalam acara Reuni IHSANNIAT tahun 2013 yang disampaikan oleh K. Zainuddin Tamsir Alumni PA dari Madiun, bahwa Pesantren Attahdzib berdiri pada : 

Hari : Senin Wage 
Tanggal : 17 Agustus 1959 H./ 12 Shofar 1379 H
Tempat : Payak Desa Rejoagung Kec. Ngoro Kab. Jombang Jatim 

dan pada tahun 1961 pindah ke Rejoagung Ngoro Jombang Jawa Timur. 

Berdirinya Pondok Pesantren Attahdzib berawal dari adanya keinginan beberapa pemuda yang ingin menimba ilmu kepada Hadratus-Syaikh Romo KH. Ihsan Mahin yang saat itu dikenal seorang yang mumpuni dalam bidang agama serta sabar, gigih, teguh pendirian, dan banyak riyadlah (menempa diri dengan puasa, dzikir, dan tafakkur), kemudian mereka melakukan kegiatan tersebut di rumah beliau. 

Karena keuletan dan daya karismatiknya sehingga nama beliau dikenal tidak hanya di wilayah Jawa Timur saja, akan tetapi hingga Jawa Tengah. Seiring perkembangan waktu, jumlah santri bertambah dan berkembang hingga memiliki elemen-elemen seperti Masjid, tempat belajar, dan pondokan yang meskipun pada awalnya amat sederhana, maka berubahlah statusnya menjadi sebuah Pesantren. Kemudian, karena beberapa pertimbangan strategis, pada tahun 1960 PA dipindah ke Rejoagung Ngoro Jombang. 


Pendirian Pesantren At-tahdzib (PA) dilatar belakangi oleh niat tulus ikhlas Hadratus-Syaikh Romo KH. Ihsan Mahin untuk menyebarkan ajaran agama Allah dan membantu para pencari ilmu Allah dengan tujuan li I'lai Kalimatillah (menjunjung tinggi agama Allah).

KH Ihsan Mahin menimba Ilmu Agama

Hadratus-Syaikh Romo KH. Ihsan Mahin adalah putera pendatang dari Jawa Tengah, tepatnya dari desa Surupan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri. Beliau Kh Ihsan Mahin belajar ilmu agama tidak dari satu pesantren saja, tetapi dari Ulama di berbagai pesantren; di antaranya : 
  1. Pesantren Sidosremo Surabaya dalam kepengasuhan Hadratus-Syaikh Romo KH Mas Muhajir selama 17 tahun, 
  2. Pondok Pesantren Jember, 
  3. Pondok Pesantren Kertosono, 
  4. Pondok Pesantren Termas Pacitan, dan 
  5. membantu mengajar di Pondok Pesantren yang berada di Udanawu Blitar bersama Putra dari Pondok Dersemo Surabaya, K. Darul Khoiri. 

Teman KH Ihsan Mahin di Pondok Udannawu Blitar

KH. Ihsan Mahin selama di Pondok Udannawu Blitar, beliau banyak teman yakni: 

Mbah Kyai Mudir, 
KH. Abdoel Madjid Ma’ruf (Muallif Sholawat Wahidiyah). 

Tidak lama kemudian beliau juga mengamalkan Sholawat Wahidiyah.

Istri KH Ihsan Mahin

Hadratus-Syaikh Romo KH. Ihsan Mahin mempunyai 4 istri yaitu : 

Pertama Ibu Nyai Bi’ah Payak Mundil Ngoro Jombang, 

Ke-Dua Ibu Nyai Hj. Hayuk Mu’minah Jombang dengan 7 putra ; KH. Ahmad Masruh, KH. Ahmad Aniq IM, Neng Indah Maharoh Kedunglo Kediri, Neng Zuhan Nafihah Jombang, Agus Ach. Dzaky Gf. M.HI, Neng Atikah, S.Ag dan Agus M. Ulumuddin, M.HI. 

Ke-Tiga Ibu Nyai Hj. Amimah dengan 5 putra ; K. Moh. Nafih, M.Sy (Pengasuh Pondok Al Ahsan Bareng Jombang, Agus Thohir Jombang, Neng Masna, Neng Khumasa’, dan Neng Sulasa’ dan 

Ke-Empat Ibu Nyai Hani’ Tulungagung. 

Setelah masa perintisan PA oleh Hadratus-Syaikh Romo KH. Ihsan Mahin  kemudia, kepemimpinan dan kepengasuhan PA dilanjutkan oleh putra tertua beliau, yakni Almukarram Romo KH. Ahmad Masruh Ihsan Mahin dan dibantu saudara-saudara beliau (Putra Putri pendiri PA). Berkat ketelatenan dan kepiawaian Almukarram Romo KH. Ahmad Masruh IM. dan didukung oleh semua pihak, maka pesantren ini berkembang dengan pesat, dan santrinya ada yang dari berbagai propinsi di Indonesia dan bahkan dari Luar Negeri.


Keberadaan Pesantren Attahdzib sekarang merupakan hasil dari sederetan usaha yang dirintis oleh Hadratus-Syaikh Romo KH Ihsan Mahin, kemudian dikembangkan Almukarram Romo KH. Ahmad Masruh IM. Keinginan mulia Hadratus-Syaikh Romo KH. Ihsan Mahin untuk mengabdikan ilmu kepada agama dan masyarakat diikuti oleh segenap usaha lahir dan batin Beliau. 

Bahkan salah satu hal yang cukup tandas adalah peran keterlibatan keluarga dalam masa-masa awal pembangunan pesantren sampai sekarang. Menurut informasi dari beberapa sumber terpercaya, bahwa pada saat membangun pondok, Hadratus-Syaikh Romo KH. Ihsan Mahin bersama anggota keluarganya hidup prihatin selama 40 hari. 

Tradisi hidup prihatin ini dilakukan hampir setiap tahun, karena kebutuhan sarana gedung seiring dengan semakin bertambahnya jumlah santri yang ingin belajar kepada beliau. Sebagian besar hasil panen tanaman milik keluarga digunakan untuk biaya pembangunan pondok. 

Di samping itu, peran para santri juga besar dalam realisasi seluruh bangunan pesantren, pendidikan formal, dan unit-unit yang ada di bawahnya, karena mereka menanamkan amal jariyah berupa tenaga untuk itu. Hal tersebut masih berlangsung sampai sekarang. Singkatnya, siapapun yang pernah belajar (nyantri) di PA, khususnya santri putera, maka dia sedikit banyak pernah menanamkan amal jariyah dalam realisasi seluruh bangunan tersebut. 

Sungguh amal jariyah para santri tersebut sangat mulia dan berharga bagi mereka  sendiri, agama, maupun masyarakat secara luas. Sebab, gedung-gedung tersebut tegak dengan tujuan mulia untuk mencetak para ‘Alim yang kelak diharapkan dengan ilmunya menjadi para pioner yang meneruskan perjuangan Islam untuk membina dan membimbing masyarakat agar faham agama dan menjadi pengamal agama yang baik.

Selain peran para santri, peran masyarakat sekitar juga besar, khususnya dalam masa-masa awal (babat alas) pendirian PA. Dengan rasa syukur dan penghargaan yang tinggi atas keberadaan PA, mereka (masyarakat sekitar) ikut berpartisipasi dalam bentuk apa pun sesuai dengan kemampuannya. Bahkan beberapa pelaku sejarah mengisahkan keterlibatan para ibu masyarakat sekitar untuk ikut mengusung bambu, kayu, dan batu bata sebagai cikal bakal pembangunan gedung-gedung pondok. 

Dengan segenap syukur dan ketulusannya, mereka juga memberikan apa pun yang bisa mereka berikan, meski itu berupa ubi kayu (póhóng) atau air putih kepada para santri dan masyarakat yang ikut kerja bakti dalam guthékan (gedung sederhana dalam masa awal pondok) dan gedung-gedung lainnya.

Perjuangan KH Ihsan Mahin Dalam Wahidiyah

KH Ihsan Mahin juga penah ditugaskan turba ke Medan pada tahun 1995, pada saat itu transportasi umum sangat terbatas. Sehingga untuk menggunakn transportasi itu membutuhkan dana yang tidak sedikit, dan kondisi ekonomi beliau belum begitu mapan.

Pondok At-Tahdzib ngoro Jombang merupakan salah satu bukti sejarah yai ihsan mahin. Yang sekarang selalu daijadikan tempat diadakannya mujahadah kubro dan dulu menjadi kantor secretariat Dewan Pimpinan Pusat Penyiar Sholawat Wahidiyah (DPP PSW). 

KH Ihsan Mahin Pendiri Pesantren Attahdzib Jombang

Awal Mujahadah Kubro di Psantren At-Tahdzib (PA)

Pada tahun 1993 menjadi kubro pertama di pondok At-Tahdzib yang sering disebut PA. sebelum tahun 1993 mujahadah kubro dilaksakan di kedunglo, dikarenakan setalah berpulangnya beliau Muallif Sholawat Wahidiyah KH Abdoel Madjid Ma'roef RA pada tahun 1989 terjadi masalah di intern pengurus sholawat wahidiyah. 

KH Ihsan Mahin Pendiri Pesantren Attahdzib Jombang
KH Ihsan Mahin Dalam acara Mujahadah Kubro Wahidiyah
Akhirnya organisasi Penyiar Sholawat Wahidiyah mengalami masa keterpurukan, dan Beliau KH Ikhsan mahin menurut beberapa sumber menjadi salah satu tokoh yang memperjuangkan bangkitnya kembali PSW sebagaimana dibentuk oleh mualif, dengan segala perjuangan beliau, akhirnya pada tahun 1993, mujahadah kubro dipindahlan dari kedunglo ke Pesantren Attahdzib (PA) atas persetujuan pengurus DPP PSW.

KH Ihsan Mahin Mendapat sebagian Aurod Wahidiyah

Yai ihsan menerima aurot Allohumma Kama Anta Aahluh pada tahun 1958. Beliau pada saat di pacitan mendapat isyaroh mendengan suara allohuma kama anta ahluh

Pada saat itu beliau belum mengenal sholawat wahidiyah namun sudan mengenal Mualif Sholawat Wahidiyah dikarenakan beliau juga sering bersiraturohmi dengan mbah Ma’ruf Profesor Do'a

Dikarenakan yai ihsan pada saat itu adalah kiai yang dikenal beberapa orang sakti, sehingga beliau tidak jarang bertemu dengan Muallif secara kasat mata. Setelah bertemu Mualif Sholawat Wahidiyah ketika sowan kepada mbah Ma’ruf, beliau kaget karena mengetahui suara yang pernah beliau dengar dipacitan ternyata sama persis dengan salah satu aurot mujahadah. Mulai saat itu beliau yai ihsan menjadi dekat bahkan sangat dekat kepada beliau Muallif sholawat wahidiyah. 

Peletakan Batu Pertama Masjid Pesantren At-Tahdzib

Beliau bisa dikatakan sangat dengan muallif, dikarenakan muallif sangat sering silaturohmi kerumah yai ihsan. Bahkan masjid di PA tersebut peletakkan batu pertamanya dilakukan oleh Beliau muallif Sholawat Wahidiyah RA. dengan Mbah Siti Khotidjah Wonogiri.

Perjuangan KH Ihsan Mahin dalam Wahidiyah

Beliau dalam perjuangan sangat gigih, bahkan beliau pernah dawuh kepada santrinya : 

“Lek santriku muleh ko pondok trus gak gelem berjuang, gak tak daku santri, timbangane tuntut menuntut nok akherot”

Tantangan KH Ihsan Mahin

Bahkan setelah masyarakat umum mengetahui bahwa yai ihsan adalah penyiar sholawat wahidiyah, beliau dilarang mengisi acara di seluruh kecamatan ngoro. Padahal sebelumnya beliau sangat sering mengisi pengajian di ngoro jombang, PA pun mendapat imbas dari larangan tersebut. 

Namun seiring waktu, larangan tersebut pun mereda dan hilang, bahakan ketika beliau menjadi pengurus organisasipun sudah berlaku larangan tersebut. Walaupun ketika ditugaskan turba, beliau dan tim diberikan uang transportasi, namun itu sangat minim bahkan kurang, bisa dikatakan beliau yang penting bisa berangkat. 


KH Ihsan Mahin Turba di Daerah

Berhubungan pada tahun itu Dewan Pimpinan Cabang Penyiar Sholawat Wahidiyah juga terletak di pelosok daerah, sehingga berjalan kaki dan bersepeda pancal merupakan hal biasa bagi beliau. 

Turba Mendapatkan Amplop Kosong

Sudah menjadi sebuah tradisi, Tim Turba dari Dewan Pimpinan Pusat Penyiar Sholawat Wahidiyah (DPP PSW) ketika pulang selalu diberikan amplop dari Dewan Pimpinan Cabang Penyiar Sholawat Wahidiyah (DPC PSW) setempat, namun dikarenakan kondisi ekonomi dan keadaan sekitar, tidak jarang tim dan terkhusus yai ihsan mahin mendapatkan amplop namun kosong, sehingga beliau juga tidak jarang menjual baju atau jam tangan untuk biaya transpportasi pulang. 

KH Ihsan Mahin Pendiri Pesantren Attahdzib Jombang
KH Ihsan Mahin Pendiri Pesantren Attahdzib Jombang
Turba KH Ihsan Mahin 1 Bulan Fuul

Bisa dikatakan juga, jika beliau KH Ihsan Mahin untuk pulang saja kehabisan uang otomatis beliau juga tidak bisa memberikan nafkah untuk keluarga yang beliau tinggal dirumah, dan pada saat itu turba dilakukan tidak sebentar, bahkan bisa selama 25 hari.

Kulo disukani bojo, pondok, santri dan semuanya berkat wahidiyah

Mengaca dari perjuangan beliau yai Ihsan Mahin, bisa dikatakan bahwa beliau sangat mencintai Muallif Sholawat Wahidiyah dan perjuangan. Beliau meninggalkan keluarga, pekerjaan bahkan tidak memikirkan tentang fasilitas. Beliau selalu giat, gigih dan bersemangat dalam berjuang. Sempat beliau dawuh  : "Kulo disukani bojo, pondok, santri dan semuanya berkat wahidiyah".