√ Sejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah Ra. -->

Islam

Sejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah Ra.

Ibnu Rusyd
Tuesday, October 1, 2019

Ad1

Ad2

Sejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah Ra

Sejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah RaSeorang tokoh yang dicintai dan menjadi suri tauladan bagi umat manusia, kamil mukammil, revolusioner mujaddid mental, itulah gambaran paling sederhana dari KH Abdoel Madjid Ma'roef Muallif Sholawat Wahidiyah RA.

Mari kita lanjutkan tentang sejauh mana pengetahuan kita sebagai insan tentang sejarah Muallif Sholawat Wahidiyah, dalam kesempatan ini Wahidiyah.me berusaha mensajikan sejarah singkat dan sederhana tentang Muallif Sholawat Wahidiyah KH. Abdoel Madjid Ma'roef RA.

Sejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah Ra.
Muallif Sholawat Wahidiyah
Tidak ada salahnya dalam kesempatan kali ini Wahidiyah.me mengutarakan beberapa poin tentang Sejarah Muallif Sholawat Wahidiyah Ra diantaranya : 

  1. Sejarah Kelahiran Muallif Sholawat Wahidiyah
  2. Sejarah Masa Kecil Muallif Sholawat Wahidiyah
  3. Sejarah Masa Remaja Muallif Sholawat Wahidiyah
  4. Silsilah Keluarga Muallif Sholawat Wahidiyah RA.
  5. Pernikahan dan Rumah Tangga Muallif Sholawat Wahidiyah
  6. Wafatnya Muallif Sholawat Wahidiyah RA.
  7. Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif RA. 

Itulah diantara nanti yang berusaha Wahidiyah.me sajikan dalam tulisan ini, semoga bisa memberikan penyajian tentang Sejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah RA yang mudah dibaca dan difahami. Baca Juga : Mujahadah Wahidiyah Untuk Keamanan Ummat dan Masyarakat Jami' Al Alamin

Sejarah Kelahiran Muallif Sholawat Wahidiyah

Dalam Buku Biografi Muallif Sholawat Wahidiyah yang diterbitkan oleh Dewan Pimpinan Pusat Penyiar Sholawat Wahidiyah RA melalui Bidang Pendidikan bahwa Beliau Muallif  Sholawat Wahidiyah, KH. Abdoel Madjid Ma'roef dilahirkan dalam tradisi keagamaan yang kental, di Pondok Pesantren Kedunglo Kediri pada hari Kamis malam Jum'at Wage tanggal 6 Oktober 1916 M. Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah diwioskan (dilahirkan) dari keturunan/benih yang suci dan melalui rahim yang terjaga merupakan bukti awal keberadaannya. 

Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA adalah Putera ketujuh KH. Mohammad Ma'roef, seorang yang alim dan terkenal dengan kewaliannya, pendiri dan pengasuh Pesantren Kedunglo Kediri. Sedangkan ibu Muallif Sholawat Wahidiyah RA adalah Sayyidah Siti Hasanah adalah putri Kyai Sholeh Banjar Melati. 

Sejarah Masa Kecil Muallif Sholawat Wahidiyah

Sejarah singkat tentang Masa kecil Muallif Sholawat Wahidiyah sangatlah singkat dan tidak bisa kami utarakan panjang lebar. Dalam Masa kecil beliau Muallif Sholawat Wahidiyah merupakan anak kesayangan orang tuanya, dan ini dapat diketahui berdasarkan berbagai informasi yang menyebutkan bahwa KH.Mohammad Ma'roef selalu meminta kepada semua tamu  yang berkunjung ke Pesantren Kedunglo untuk mendoakan putranya tersebut lebih dari yang lain. 

Ketika berusia dua tahun, muallif dibawa ke Arab Saudi untuk ibadah haji oleh kedua orang tuanya. Di Mekkah, KH. Mohammad Ma'roef selalu menggendong beliau ke Baitulloh dan berdoa agar anak laki-laki yang berada dalam gendongannya kelak menjadi orang besar. Hal tersebut juga beliau lakukan di tempat-tempat mustajabah lainnya. Konon selama berada di Mekkah, beliau juga dikhitan disana dan hendak diambil anak oleh salah seorang ulama Arab. 

Permohonan ini disetujui oleh KH. Mohammad Ma'roef, tetapi Nyai Hasanah keberatan sehingga beliaupun tetap dalam asuhan kedua orang tuanya.  Dikisahkan juga, sewaktu di Makkah KH. Mohammad Ma'roef mendapat isyarah bahwa kelak keturunannya (muallif) akan mewamai dunia. Ketika hal ini dikonfirmasi kepada muallif beliau menjelaskan bahwa mungkin yang dimaksud isyarah tersebut adalah Wahidiyah. Baca Juga : CARA PENGAMALAN SHOLAWAT WAHIDIYAH SESUAI BIMBINGAN MUALLIF RA

Sepulang dari Mekkah, muncul kebiasaan unik pada diri beliau. Beliau yang masih dalam usia tiga tahun (balita), hampir disetiap kesempatan berkata, "Qui dhawuha siro Muhammad" sambil meletakkan kedua tangannya diatas kepala. Kebiasaan semacam itu terus berlangsung hingga beliau memasuki usia tujuh tahun.

Sejak kecil muallif dikenal sebagai anak yang pendiam, namun beliau menggemari permainan yangmemiliki nilai kekompakan dan kebersamaan. Ini menunjukkan bahwa walupun pendiam muallif adalah pribadi yang suka silaturrahmi, berkumpul dan berorganisasi semenjak beliau masih kecil.

Muallif sejak dini diajarkan dan dididik untuk mencintai agama khususnya sholawatoleh kedua orang tuanya. KH. Mohammad Ma'roef mengajarkan kepada muallif untuk membaca sholawat setidak-tidaknya 100 kali dalam sehari, dan meningkat 1000 kali ketika ia menginjak usia baligh (+ usia 15 tahun).  Bahkan semakin hari, bacaan sholawat beliau semakin banyak dan meningkat.

Sejarah Masa Remaja Muallif Sholawat Wahidiyah

Dalam waktu Usia remaja Muallif dipenuhi dengan aktifitas yang begitu padat, Mulai dari pendidikan, keorganisasian, bahkan perjuangan kemerdekaan R.I. tanpa meninggalkan kebiasaannya membaca sholawat. Bahkan menurut beberapa sumber, Muallif Sholawat Wahidiyah rutin membaca Sholawat Nariyah sebanyak 4444 kali yang hanya ditempuh dalam waktu 1 jam.

Pendidikan muallif dimulai dari kedua orang tuanya, dan barulah setelah menyelesaikan pendidikan formal di HIS (Hollandsch Inlandsche School), beliau melanjutkan pendidikan agamanya ke berbagai pesantren.

Menurut catatan, pesantren yang pertama kali disinggahinya adalah Pesantren Jamsaren di Solo yang diasuh oleh Kyai Abu Amar. Di pesantren ini, Muallif Sholawat Wahidiyah RA hanya nyantri selama beberapa hari,  karena pengasuh pesantren pada saat itu menyuruh beliau kembali ke Kedunglo "Sampun Gus panjenengan kundur!”, sambil dititipi surat agar disampaikan kepada ayahnya.

Sepulang dari Jamsaren, beliau kemudian mondok di Mojosari Loceret Nganjuk, sebuah pesantren yang pada saat itu terkenal akan kealiman pengasuhnya yaitu Kyai Zainuddin. Namun setelah beberapa hari tinggal, beliau dipanggil Kyai Zainudin dan disuruh kembali ke Kedunglo untuk belajar sendiri dengan KH. Mohammad Ma'roef "Sampun Gus, panjenengan kondor mawon. llmu wonten ngriki sampun telas, sampun mboten wonten ingkang saged kawulo paringaken"

Panjenengan ngaos kemawon wonten romo panjenengan, Kiai Ma'roef, beliau langkung 'alim dibandingaken kawulo. Gus sampeyan sampun cukup, mboten usah mondok kundor mawon, wonten dalem kemawon" (Sudah Gus, kamu pulang saja. llmu yang ada di sini sudah habis, sudah tidak ada lagi yang dapat saya berikan. Kamu belajar saja kepada ayahmu, KH. Ma'roef, dia lebih mengetahui agama dibandingkan saya). Beliau pun kembali pulang ke Kediri dan matur kepada ayahnya kalau gurunya tidak bersedia memberinya pelajaran.

Muallif Sholawat Wahidiyah RA kemudian melanjutkan pendidikan keagamaannya (ngaji) kepada ayahnya KH. Mohammad Ma'roef, dan hanya sesekali waktu pada bulan Ramadhan beliau mengikuti pondok/asrama Ramadhan, diantaranya di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, yang diasuh oleh KH. Hasyim Asy'ari dan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang diasuh oleh KH. Abdul Manaf. Karena itulah bagi Muallif Sholawat Wahidiyah RA, mbah Ma'roef adalah syaikhul waalid, yakni guru sekaligus orangtua beliau.

Penting dikemukakan, bahwa disamping bimbingan kedua orang tuanya, Muallif banyak menimba ilmu dari kakak perempuannya, yakni Nyai Romlah. Dialah yang senantiasa meluangkan waktunya dalam mendampingi Muallif belajar. Dalam pembelajaran, muallif melakukannya secara sembunyi-sembunyi dan hampir tidak pernah menonjolkan hasil belajarnya di depan seseorang terlebih-lebih di hadapan masyarakat umum.  

Berikut dhawuh muallif terkait tentang pendidikan pesantrennya:

"Kulo mboten natos mondok, Inggih natos dateng Mojosari-Nganjuk. Nanging kalian Kyai Zainuddin didhawuhi "Gus panjenengan kundur kemawon, wonten dalem mawon Lajeng kulo wangsul.Boten dangu kulo lajeng mondok dateng Lirboyo, Wonten Lirboyo kulo boten kraos. Kulo lajeng wangsul. Inggih puniko.Nggih mugi-mugi manfaat kemawon."

"Saya tidak pernah belajar di pesantren, Ya pernah ke Mojosari- Nganjuk. Namun Kyai Zainuddin (pengasuh pesantren) berkata kepada saya :"Gus kamu pulang saja, di rumah saja. Tidak lama saya ke pesantren Lirboyo. Di Lirboyo saya tidak betah (krasan, Jawa) lalu saya pulang. Yah, sampai sekarang ini. Ya mudah-mudahan bermanfaat saja."

Tercatat kisah menarik saat Muallif Sholawat Wahidiyah muda mendapat mandat untuk menggantikan KH. Mohammad Ma'roef mengikuti forum musyawarah para Kyai. Forum ini sekarang biasa disebut forum bahtsul masa'il / forum yang membahas pcrmasalahan sosial keagamaan pen. Dalam forum tersebut terdapat masalah yang cukup pelik dan komplek, sehingga sempat membuat peserta forum kesulitan mencari rujukan dan membuat keputusan hukum/fikih.


Sejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah Ra.
Dalam keheningan tersebut tiba-tiba salah seorang kyai meminta uraian dan pendapat Muallif Sholawat Wahidiyah yang masih muda. Maka Muallif-pun menjelaskan bagaimana duduk permasalahan serta memberikan gambaran solusi terkait diskusi/musyawarah itu. Spontan para peserta musyawarah terkagum-kagum dengan kecakapan dan kekuatan hujjah hukum yang disampaikan muallif. 

Berawal dari itulah Muallif Sholawat Wahidiyahpun disegani dan banyak menuai pujian, dan sejak itulah kedalaman dan keluasan ilmu muallif khususnya di bidang fikih diketahui oleh para ulama. 

Setelah pulang dari pesantren dan menetap di Kedunglo, Muallif terlibat aktif dalam gerakan pemuda Anshor. Sebagai putra kyai terpandang, Muallif muda sering mendampingi para kyai sepuh dalam pertemuan-pertemuan yang membahas berbagai masalah sosial, keagamaan dan masalah perjuangan kemerdekaan R.I. Misalnya pertemuan di Bandar Kidul Kediri yang kemudian menghasilkan keputusan untuk mengirim para pemuda Kediri mengikuti pelatihan militer di Jawa Barat. 

Muallif Sholawat Wahidiyah muda juga gemar berolah raga khususnya sepak bola. Jadi meskipun beliau telihat sangat pendiam dan nampak kurang pergaulan, tetapi kenyataannya beliau adalah seorang yangluwes dalam pergaulan. 

Keaktifan Muallif di organisasi terus berlanjut meski beliau sudah menikah. Beliau pernah menjabat sebagai Pimpinan Syuriah NU Kec. Mojoroto tahun 1948 dan Syuriah NU cabang Kodya Kediri. Namun setelah beliau Muallif  Sholawat Wahidiyah dan ajarannya tahun 1963 beliau tidak lagi aktif di organisasi tersebut. 

Pada tahun 1970 Muallif menunaikan ibadah haji, dan sekembalinya dari tanah suci, beliau menyampaikan bahwa Sholawat Wahidiyah telah disowankan kepada shohibul sholawat.

Muallif Sholawat Wahidiyah praktis menjadi pengasuh Pondok Kedunglo pada tahun setelah wafatnya KH. Mohammad Ma'roef. Dalam masa kepengasuhannya, Pondok Kedunglo berkembang pesat. Pondok Kedunglo sangat terkenal terutama dibidang pencak silatnya. Pada masa itu terjadi persaingan yang cukup ketat antara pesantren-pesantren di Kediri dengan pesantren Lemkari (sekarang LDII). 

Setelah lahirnya Sholawat Wahidiyah, muallif tidak lagi mengajar kitab-kitab diniyah namun hanya membacakan kitab al-Hikam untuk pengajian umum. Pada mulanya pengajian ini diadakan pada hari Rabu tetapi hanya sedikit dari masyarakat sekitar saja yang mengikuti. 

Kemudian pengajian itu di pindah di hari Jum'at dan mulai bertambah banyak yang mengikuti. Pada saat itu ada yang mengusulkan supaya pengajian itu di adakan pada hari Minggu sehingga para pegawai bisa mengikuti. Usui tersebut diterima oleh beliau dan berlangsung sampai menjelang beliau wafat. 

Disamping itu beliau juga meluangkan waktu pada setiap hari Selasa untuk mengkajikan dengan mbah Mundzir, dan beliau tidak merasa keberatan dengan hal ini. Meskipun mualliftidak ikut mengajarkan kitab diniyah pondok, tetapi beliau gemarmathla'ah. Bahkan saat matla'ah beliau seakan lupa dengan kegiatan lain, seperti makan dan tidur, walaupun hanya untuk istirahat sejenak. Maka tidak diragukan lagi bahwa beliau menjadi seorang ulama' besar yang mumpuni segala bentuk disiplin ilmu, terutama tentang ilmu syari'at. 

Itulah sedikit ulasan tentang Sejarah Masa Remaja Muallif Sholawat Wahidiyah

Silsilah Keluarga Muallif Sholawat Wahidiyah RA.

Silsilah Keluarga Muallif Sholawat Wahidiyah sangatlah sempurna dan luar biasa, sebelum kami lanjutkan bahwa beliau Muallif Sholawat Wahidiyah merupakan putra ketujuh dari sepuluh bersaudara, yaitu: Ny. Musta'inah, Agus Muhammad Sayyid Yasin, Ny. Siti Aminah, Ny. Siti Saroh, Ny. Siti Asiyah, Ny. Siti Romlah, KH. Abdoel Madjid, K. Abdul Malik, Ny Siti Fatimah dan Ny Siti Maimunah. 

Sejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah Ra.
Keluarga Muallif Sholawat Wahidiyah
Dalam hal tentang Silsilah Muallif Sholawat Wahdiyah bisa kita lihat dari beberapa arah diantaranya melihat silsilah muallif Sholawat Wahidiyah dari garis keturunan Ayah dan dari garis Keturunan Ibu.

Adapun Silsilah Muallif Sholawat Wahidiyah dair garis Keturunan Ayah yaitu :

1. Nabi Muhammad SAW
2. Sayyidah Fatimah
3. Sayyid Hasan
4. Sayyid Abdulloh Al-Shadiq
5. Sayyid Alwi
6. Sayyid Muhammad Abdulloh
7. Sayyid Ahmad Abdulloh
8. Sayyid Hafidz Al-Bas
9. Sayyid Ali Rahmad Abdulloh
10. Sayyid Umar Abu Hasan
11. Sayyid Usman Karim
12. Sayyid Ali Shadiq Abdulloh
13. Sayyid Alawi Abdulloh
14. Sayyid Abdulloh Alawi
15. Sayyid Malik Musthofa
16. Sayyid Abdurrahman Karim
17. Sayyid Ghozali Al-Bas
18. Sayyid Abdulloh Ghozali
19. Sayyid Abdulloh Al-Aziz
20. Sayyid Ihsan Nawawi
21. Sayyid Hanafi Musa
22. Sayyid Abdulloh Al-Malik
23. Sayyid Zainuddin
24. Sayyid Abdulloh Musa
25. Sayyid Abdurrahman
26. Sayyid Syafi'i
27. Sayyid Sholeh
28. Sayyid Abdur Rozaq
29. Sayyid Syafi'i
30. Sayyid Abdul Madjid (Badal Kediri)
31. Sayyid Mohammad Ma'roef
32. Sayyid Abdoel Madjid Ma'roef

Sedangkan nasab dari jalur ibu Muallif Sholawat Wahidiyah adalah :

1. Sayyidina Muhammad SAW.
2. Sayyidatina Fatimah
3. Sayyid Husain
4. Sayyid Ali Zainal Abidin
5. Sayyid Ilyas Muhammad Al-Baqir
6. Sayyid Ja'far Shodiq
7. Sayyid Ali al-'Aridh
8. Sayyid an-Naqib Ar-Rum
9. Sayyid 'Isa al-Bashri
10. Sayyid Ahmad al-Muhajir
11. Sayyid Abdulloh
12. Sayyid Alawi
13. Sayyid Muhammad
14. Sayyid Alawi
15. Sayyid Muhammad
16. Sayyid Alawi
17. Sayyid Amir Abdul Malik
18. Sayyid Abdulloh Khan
19. Sayyid Jamaluddin Husain
20. Sayyid Maulana Ishaq
21. Sayyid 'Ainul Yaqin
22. Sayyid Pangeran Keroso
23. Sayyid Abdulloh
24. Sayyid Ali Yasin
25. Sayyid Abdul Mursyid
26. Sayyid Abdur Rahman
27. Sayyid Basyaruddin
28. Kyai Abna' (Banjar Melati)
29. Sayyid Ali Ma'lum
30. Sayyid Zainal 'Abidin
31. Nyai Rofi'ah
32. Kyai Sholih
33. Nyai Hasanah
34. Sayyid Abdoel Madjid Ma'roef

Pernikahan dan Rumah Tangga Muallif Sholawat Wahidiyah

Selama hidupnya muallif Sholawat Wahidiyah RA menikah dua kali, Kedua istrinya merupakan putri kyai, istri pertamanya, Nyai Shofiyah adalah putri Kyai Hamzah, Tawangsari Tulungagung. Sedangkan istri keduanya bernama Nyai Suwati, seorang janda berasal dari Panjen Malang

Terkait pernikahan Muallif, disebutkan, bahwa beliau pernah dijodohkan dengan putri ulama besar di Kediri, namun karena suatu hal maka pernikahan tersebut tidak terlaksana. Baru ketika muallif Sholawat Wahidiyah berusia 27 tahun, beliau menikah dengan Ning Shofiyah baca Ummul Wahidiyah- putri pasangan K. Moh. Hamzah dan Nyai Umi Kulsum Tulungagung. 

Dan dalam pernikahan tersebut turut hadir beberapa ulama dan tokoh masyarakat yang tidak hanya berasal dari Kediri. Hal ini tentu wajar, karena KH. Mohammad Ma'roef sebagai orang tua muallif merupakan tokoh sentral yang memiliki jaringan keulamaan sangat luas.

Dari pernikahan dengan Nyai Shofiyah, muallif dikaruniai 14 orang keturunan, yaitu Ning Unsiyati (Almh), Ning Nurul Isma, Ning Khuriyah (Almh), Ning Tatik Farichah, Agus Abdul Latif, Agus Abdul Hamid, Ning Fauziah (Almh), Ning Djauharotul Maknunah, Ning Istiqomah, Agus Moh.Hasyim Asy'ari (Aim), Ning Tutik Indiyah, Agus Syafi' Wahidi Sunaryo, Ning Khuswatun Nihayah dan Ning Zaidatun Inayah.

Sedangkan dari hasil pernikahannya dengan Nyai Suwati, muallif dikaruniai dua putra, yaitu Gus Irfan dan Gus Nafa'. Namun pada usia 11 tahun Gus Irfan meninggal dunia, demikian juga dengan Gus Nafa' yang meninggal dunia ketika berusia satu tahun. Nyai Suwati juga wafat sewaktu muallif masih hidup. 

Wafatnya Muallif Sholawat Wahidiyah RA.

Muallif Sholawat Wahidiyah RA. Sempat dibawa ke rumah sakit dan dirawat di RSUD Gambiran Kediri selama tiga hari, satu hari kemudian tepatnya pada hari Selasa Wage tanggal 7 Maret 1989 (28 Rojab 1410 H), beliau wafat di rumahnya Kedunglo. Jenazah dimakamkan pada hari Rabu Kliwon tanggal 8 Maret 1989 (29 Rojab 1410 H). Beliau dimakamkan di ndalem depan dengan iringan tasyafu' yang dilantunkan oleh puluhan ribu pentakziah. 

Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif RA. 

K.H. Abdul Majid Ma'roef, Muallif sholawat wahidiyah adalah sosok yang yang sangat sederhana dalam kehidupannya. Kesederhanaan muallif tercermin dalam kehidupan sehari-hari dan tidak pernah sedikitpun mengajarkan kemewahan dan kemalasan.

Cara berpakaian Muallif RA. selalu sederhana, rapi dan sopan, sering terlihat mengenakan baju takwa warna putih. Kalau pergi untuk bersilaturahmi sering mengenakan celana panjang dan baju hem yang dimasukkan. Dari cara berpakaian beliau yang sederhana tersebut menyebabkan kebanyakan tamu heran (tidak seperti umumnya para kyai besar dalam berpakaian, seperti mengenakan jubah, sorban, dll). 

Mengenai hubungan dengan tetangga dan masyarakat, muallif sangat ramah dan sering meluangkan waktu untuk sulaturahmi ke rumah mereka. Beliau sering jalan-jalan untuk silaturahmi, dan dalam bepergian sering naik becak, terkadang juga naik sepeda onta -sepeda Onthel-. Di samping itu, muallif juga terkadang silaturahmi ke tempat para pengamal di luar daerah, seperti Pacitan, Banten, Jakarta, dan lain sebagainya.  Bahkan pada silaturahmi keluar daerah yang pertama, yakni ke Pacitan, muallif hanya naik truk dan sesampainya di sana, beliau jalan kaki menuju tempat yang dituju. 

Terkait kesederhanaan dan kerapian muallif terdapat kisah menarik yang terjadi di Malang. Saat itu muallif sedang menghadiri sebuah acara Wahidiyah dengan mengenakan pakaian yang rapi layaknya seorang pejabat. Dan kebetulan salah seorang penderek/pengikut muallif memakai pakaian layaknya ulama. Maka terjadilah salah paham dikalangan jama'ah yang menganggap penderek tersebut sebagai ulama dan muallif dianggap sebagai pendereknya. Melihat hal ini, muallif tidak tersinggung apalagi marah, bahkan beliau hanya tersenyum saja. 

Kisah tersebut menunjukkan bahwa muallif bukanlah pribadi yang sombong dan suka menonjolkan dirinya, melainkan pribadi yang santun dan mudah bergaul dengan kesederhanaannya.

Dengan kesederhanaan yang tertanam kuat dalam jiwa, muallif  Telah menjadi sosok kepala keluarga yang sangat luar biasa. Beliau selalu menerapkan kerja sama dalam setiap pekerjaan rumah tangga. Muallif bahkan sering mencuci dan membersihkan pakaian keluarga, pakaian putra-putrinya dan pakaian siapapun yang terserak, beliau kumpulkan lalu beliau cuci. Beliau muallif RA. bila menjumpai pakaian yang kotor di rumah, maka akan langsung mencucinya dan tidak peduli pakaian itu milik siapa.Sehingga mbah Nyai paling kuatir kalau ada pakaian kotor yang berserakan dan diketahui oleh muallif RA.

Beliau sangat bersih, tidak pernah koproh dan selalu rapi. Bahkan ketika masa muda beliau selalu memakai dasi setiap menghadiri acara, (saat beliau masih menjadi anggota Anshor) meskipun pada saat itu para ulama' mayoritas mengharamkan dasi karena dianggap menyerupai orang kafir, yakni Belanda. Selain rapi dan bersih, beliau juga senang dengan keindahan dan seni. Dalam masalah ini muallif pernah mengungkapkan rumah itu hendaknya suci seperti masjid dan bersih seperti rumah sakit.

Dibidang ekonomi, Muallif juga sangat sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari beliau dibantu mbah Nyai. Sering mbah Nyai memetik kangkung yang ada disebelah timur pondok (saat itu Pondok Pesantren Kedunglo masih dikelilingi rawa) untuk dijual ke pasar Bandar, lalu hasilnya digunakan untuk membeli berasdan tidak jarang Muallif sekeluarga hanya makan sayur kangkung saja. Terkadang beliau memetik kelapa (insyaallah ada 3 batang kelapa di sekitar rumah beliau) untuk sayur sehari-hari. Muallif  selalu membantu mbah Nyai menyelesaikanpekerjaan rumah tangga. Kalau mbah Nyai akan memasak sayur santan, terkadang muallif yang memarut kelapanya dan mbah Nyai yang membuat bumbunya. Muallif juga membantu mengasuh putra-putrinya yang masih kecil-kecil, memandikan, mendandani bahkan menyuapi.

Lebih dari itu, muallif dikenal sangat dermawan. Tak jarang tamunya yang sowan dan nampak tidak punya biaya untuk pulang diberi biayamuallif. Pernah pula muallif membevi belanja kepada seorang pengamal yang tidak punya penghasilan.

Diceritakan bahwa pada suatu hari rumah muallif dimasuki pencuri, saat itu sebenarnya muallif mengetahuinya, tapi beliau malah masuk kamar. Setelah si pencuri selesai melakukan aksinya dengan membawa barang-barang dalam balutan kain yang besar, si pencuri itupun pergi. Keesokan harinya si pencuri kembali ke rumah muallif dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya dan hendak mengembalikan barang-barang yang telah dicurinya, tapi beliau muallif malah memberikan dengan ikhlas semua barang yang telah dicuri dan memaafkan perbuatan si pencuri itu. 

Bukti lain dari kedermawanan dan sifat pemaaf muallif adalah pernah suatu ketika muallif bepergian dengan didampingi H.Abdul Rohim (Kepanjen Malang) dengan menggunakan kendaraan bus, ditengah perjalanan jam tangan yang dikenakan muallif dicopet orang, tapi tidak bisa, mengetahui hal tersebut H. Abdul Rohim langsung marah dan hendak memberi pelajaran pencopet tadi, namun muallif mencegahnya, bahkan muallif kemudian melepas jam tanganya kemudian memberikan kepada pencopet tersebut. 

Itulah sekilas tentang Sejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah Ra yang bisa kami utarakan dalam Wahidiyah.me semoga bisa memberikan banyak manfaat terutama dalam menerapkan bimbingan Muallif Sholawat Wahidiyah.(Bdwp)