√ Peran Wasiat Muallif Sholawat Wahidiyah Tanggal 9 Mei dalam Wahidiyah -->

Islam

Peran Wasiat Muallif Sholawat Wahidiyah Tanggal 9 Mei dalam Wahidiyah

Ibnu Rusyd
Tuesday, October 8, 2019

Ad1

Ad2

Peran Wasiat Muallif Sholawat  Wahidiyah Tanggal 9 Mei dalam Wahidiyah - Muallif Sholawat Wahidiyah tepatnya pada tanggal 9 Mei 1986 memberikan Wasiatnya kepada para Penerus Perjuangan Kesadaran Fafiruu Ilalloh Wa Rososuulihii Sholallohu 'Alaihi Wa Sallam, tentunya punya peran yang sangat penting Wasiat Muallif Sholawat Wahidiyah itu sendiri.

Sudah kita ketahui bersama bahwa Hadrotul Mukarrom Mbah Yahi, Muallif Sholawat Wahidiyah Ra wa Qs, sudah sejak awal penyiaran Sholawat Wahidiyah tahun 1963 secara bijaksana telah memilih bentuk kepanitiaan, wadah organisasi sebagai lembaga khidmah yang beliau isim Beliau memberi tugas dan tanggungjawab serta Beliau bimbing dalam mengatur kebijaksanaan dan sekaligus memimpin pelaksanaan pengamalan, penyiaran dan pembinaan Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah.
Peran Wasiat Muallif Sholawat  Wahidiyah Tanggal 9 Mei dalam Wahidiyah
Peran Wasiat Muallif Sholawat  Wahidiyah Tanggal 9 Mei dalam Wahidiyah
Pada waktu itu, yakni kira-kira pada tahun 1963 organisasi tersebut yang diberi nama “PANITIA PUSAT PENYIARAN SHOLAWAT WAHIDIYAH” dilahirkan di dalam lingkungan masyarakat Pengamal Wahidiyah yang masih dalam keterbatasan  yang jauh dari pengalaman dan pengetahuan tentang berorganisasi, lebih-lebih bidang manajemen. Namun, bimbingan Hadrotul Mukarrom Muallif Sholawat Wahidiyah dengan menerapkan konsepsi Al Qur’an dan Al Hadits, mampu menumbuh kembangkan dan mendewasakan Panitia Pusat Penyiaran Sholawat Wahidiyah yang dikemudian hari berganti nama menjadi “PENYIAR SHOLAWAT WAHIDIYAH PUSAT”. Baca JugaMuallif Sholawat Wahidiyah dan Penyiar Sholawat Wahidiyah

Dalam pertumbuhannya, Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat juga tidak begitu saja terlepas dari kendala-kendala dan hambatan-hambatan. Namun alhamdulillah, berkat bimbingan Mbah Yahi Ra wa Qs, berkat Ajaran Wahidiyah, segala dapat diatasi dengan baik, betapapun tebalnya kemelut yang menyelimuti. Bahkan justru oleh Mbah Yahi Ra wa Qs dijadikan sebagai alat dan kendaraan untuk lebih meningkatkan kesadaran Fafirruu Ilallohi wa Rosuulihi SAW para Pengamal Wahidiyah yang kemudian memantulkan semangat juang dan tanggungjawab yang tinggi di dalam kelembagaan khidmah Perjuangan Fafirruu Ilalloohi wa Rosuulihi SAW.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan kita garis bawahi dari kepemimpinan Muallif Sholawat Wahidiyah Ra wa Qs di dalam membimbing dan mendewasakan Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat dan umumnya para Pengamal Wahidiyah yaitu menerapkan : 

Pertama : Firman Alloh dalam surat No. 3, Ali Imron Ayat 159

فَبِمَارَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلوْكُنْتَ فَظّاغَلِيْظَ القَلبِ لاَنْفَضُّوْامِنْ حَوْلِكْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْلهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الاَمْرِ فَاذَاعَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ اِنَّ اللهَ يُحِبُّ المُتَوَكِّلِيْنَ
أل عمران: 159

Artinya : "Maka dengan rahmat Alloh-lah kamu bersikap lunak dan lemah lembut kepada mereka : Dan sekiranya kamu bersikap keras lagi kasar, niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampunanlah mereka dan ajakalah mereka bermusyawarah dalam urusan mereka ; maka apabila kamu sudah membulatkan keputusan (atau sikap), maka bertawakkallah kepada Alloh; sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang tawakkal.


Dari ayat tersebut ada tiga hal yang perlu kita teladani dan kita terapkan sebagai modal dasar seorang pemimpin. Yaitu satu, “LINTA LAHUM” – berpenampilan lunak, lemah lembut, ramah tamah, tawadlu’, menaruh hormat dan menghargai siapapun. Kedua, “FA’FU ANHUM WASTAGHFIR LAHUM” – pemaaf dan suka memintakan maaf untuk orang lain. Ketiga, “WA SYAAWIRHUM FIL AMRI” – bermusyawarah dan rela mengorbankan pendapat pribadi untuk mengikuti pendapat terbanyak serta konsekwen menjalankannya. Ke empat “FATAWAKKAL ‘ALALLOOHI” – tawakkal pasrah kepada  Alloh, tidak mengandalkan usaha.

Ke dua : Firman Alloh dalam surat no. 5 Al Maidah Ayat 2 :

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى البرِّ وَالَتقوَى وَلاَتَعَاوَنُوْا عَلَى الاِثمِ وَالعُدْوَان

Artinya kurang lebih : "Dan tolong menolonglah kamu sekalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan".

Ke tiga : Surat No. 3 Ali Imron Ayat 103 :

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاتَفَرَّقوْا -3.ال عمران. 103

Artinya : "Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Alloh dan janganlah kamu sekalian bercerai berai".

“HABLULLOH” di dalam Wahidiyah kami rasa bisa diartikan “Kesadaran Fafirruu Ilalloohi wa Rosuulihi SAW”. Jadi menjaga kesatuan, persatuan dan kekompakan.

قرِّبْ وَاَلفْ بَيْنَنَا يَا رَبَّنَا

Orang yang tidak kompak namanya “SYADZ”. MbahYahi RA wa QS pernah mandawuhkan hadist :

مَنْ شَدَّ شَدَّ فِى النَّارِ -الحديث

Ke Empat : Surat no. 59 Al-Hasyr Ayat 9 :

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلىَ اَنْفُسِهِمْ وَلوْ كَانَ بهمْ خصاصة 59 - الحشر:9

Makna murod : “Dan mereka lebih mengutamakan pihak lain daripada diri sendiri, sekalipun diri sendiri dalam kesusahan atau kesulitan.

Dari tahun ketahun, di bawah bimbingan dan restu Mu’alif Sholawat Wahidiyah RA wa QS , PSW Pusat beberapa kali diadakan renovasi perbaikan. Baik mengenai personalia, mengenai struktur dan tatalaksana kerjanya. Yaitu mengikuti dinamika kehidupan masyarakat bangsa Indonesia yang sedang memacu diri dalam era pembangunan bangsa dan negara  dan untuk memenuhi kebutuhan Perjuangan Wahidiyah itu sendiri. Baca JugaSejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah Ra.

Pada pertengahan bulan Desember 1985 diadakan “MUSYAWARAH KUBRO WAHIDIYAH  I". Musyawarah Kubro Wahidiyah I ini mengahasilkan Garis-Garis Pokok Arah Perjuangan  Wahidiyah, memilih Ketua dan Wakil Ketua  Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat dan memilih Ketua, Wakil Ketua dan Anggota “MAJELIS PERTIMBANGAN” yang kemudian hari dikenal dengan sebutan “DEWAN PERTMBANGAN PERJUANGAN  WAHIDIYAH” disingkat “DEWAN”. Jadi sejak itu di Pusat lahirnya Sholawat Wahidiyah Kedunglo Kediri ada dua lembaga PSW Pusat dan DEWAN.

Logo Penyiar Sholawat Wahidiyah

Peran Wasiat Muallif Sholawat  Wahidiyah Tanggal 9 Mei dalam Wahidiyah
Diharapkan dengan adanya dua lembaga itu Perjuangan Wahidiyah akan lebih maju dan berkembang. Kedua lembaga bisa saling  isi mengisi dan bantu membantu. Namun dalam praktek, sesudah ada Dewan justru mulai timbul gesek-gesekan dari Pusat Wahidiyah Kedunglo Kediri. Kedua lembaga tidak bisa bekerja sama secara singkrun. 

Dari hari ke hari  ketimpangan sosial itu menggejala ke arah perpecahan. Sementara itu di lingkungan Pondok Kedunglo, pun mulai muncul kasus-kasus kepengurusan Pondok, disamping ada lagi beberapa persoalan yang juga bisa mengganggu Perjuanagn Wahidiyah. Dengan arif bijaksana Hadrotul Mukarrom Mua’alif Sholawat Wahidiyah RA wa QS secara langsung menunjuk dan menugasi sebuah team yang di kenal dengan nama “TEAM-3”, terdiri dari H Mohammad Syifa, KH Ihsan Mahin dan K Mohammad Djazuli Yusuf, ditugasi untuk menyelesaikan berbagai problem yang ada di Pusat Kegiatan Wahidiyah Kedunglo. Team-3 ini bekerja atas petunjuk langsung dari Muallif Sholawat Wahidiyah RA wa QS dan bebas tidak mempunyai hubungan yang mengikat dengan siapapun.

Dalam rangka mengemban tugasnya, Team-3 mengundang seluruh personil PSW Pusat, Dewan, bebrapa Kab/Ko dan beberapa Pengamal Wahidiyah yang terlibat persoalan. Yaitu pada tanggal 9 Mei 1986 hari Jum’at atau Sabtu kalau tidak salah, dan hadir memenuhi undangan terserbut kurang lebih 115 orang, Pada penutupan persidangan yang dipimpin langsung oleh Team-3, Hadrotul Mukarrom Muallif Sholawa Wahidiyah RA wa QS berkenan memberikan fatwa dan amanat, pada pembukaan fatwa beliau, Beliau mengutarakan kata-kata yang kurang lebih :

“……… dan terutama kalau terpaksa kami meninggalkan dunia yang fanak ini”. Itulah dasarnya, maka fatwa amanat tersebut lalu kita namakan “ WASIAT MUALLIF SHOLAWAT WAHIDIYAH 9 MEI 1986”. 

Isi dari pada wasiat yang pokok menyangkut tiga hal. Yaitu Pondok Kedunglo, kemudian SMP dan SMA Wahidiyah, dan ketiga Sholawat Wahidiyah.

Wasiat beliau yeng mengenai Wahidiyah, sekalipun beliau mendawuhkan dengan gaya bahasa tadzalul sebagaimana biasanya sebagai ciri khas tarbiyah Wahidiyah, namun jiwa dari pada wasiat tersebut mempunyai makna yang tinggi dan mendalam, dan bernada keras  !. artinya, mengandung peringatan dan ancaman !. dalam wasiat itu Beliau mengangkat semua Pengamal Wahidiyah sebagai wakil beliau . wakil beliau yang harus melestarikan Perjuangan Kesadaran Fafirru Ilalloh wa Rosuulihi Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam.  Wakil beliau dalam Perjuangan Wahidiyah yang harus bertanggungjawab kepada Alloh SWT wa Rosuulihi SAW, dan juga kepada Muallif Sholawat Wahidiyah sebagai muwakkil. 

الوكيل اثير الموكل

“Wakil adalah atsiirul (kepanjangan tangan atau fotocopy muwakkil)”.

Kemudian Beliau memberikan “weleran” atau pagar yang sama sekali tidak boleh dilanggar oleh para wakil. Disamping itu Beliau juga menunjuk beberapa nama personil untuk beliau tugaskan mengerjakan tugs-tugas dalam kelembagaan PSW Pusat. Pada bagian akhir wasiat beliau, Beliau memberikan peringatan keras bahkan semacam sangsi terhadap siapa saja yang tidak mengindahkan kepentingan Perjuangan Fafirruu Ilalloohi Wa Rosuulihi SAW padahal ada kemampuan dan kesempatan.

Adapun wasiat yang hubungan dengan Pondok Kedunglo dan SMP/SMA Wahidiyah tidak mempunyai keterkaitan secra langsung, namun makna yang tersirat di dalam wasiat 9 Mei 1986 tersebut membimbing para Pengamal Wahidiyah untuk mempunyai kepedulian terhadap Wahidiyah yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. 

Dengan kata lain para Pengamal Wahidiyah dan utamanya PSW semua tingkat khususnya  PSW Pusat mempunyai kewajiban moral untuk “cawe-cawe” agar dapatnya wasiat dengan cara dan kebijakan di dalam cawe-cawe itu. Mu’allif Sholawat Wahidiyah RA wa QS mendawuhkan masalah Pondok Kedunglo dan SMP SMA Wahidiyah di dalam forum pertemuan para Pengamal para pengamal Wahidiyah dan PSW Pusat, tentunya ada maksud dan makna tarbiyyah Wahidiyah. 

Disamping itu, Pondok Kedunglo mempunyai makna historis sebagai temapt lahirnya Sholawat Wahidiyah, dan SMP/SMA Wahidiyah sebagai lembaga Pendidikan juga mempunyai fungsi mendidik kader-kader Wahidiyah. Dengan demikian warna dan rupa Pondok Kedunglo dan SMP/SMA Wahidiyah tidak bisa lepas dari tanggung jawab moral para Pengamal Wahidiyah pada umumnya dan PSW khususnya, utamanya PSW Pusat.

Dalam uraian Wahidiyah.me ini tentunya bisa kami simpulkan Peran Wasiat Muallif Sholawat  Wahidiyah Tanggal 9 Mei dalam Wahidiyah itu mempunyai kesimpulan antara lain : 
  1. Wasiat 9 Mei ’86 merupakan “Motor Penggerak” Roda Perjuangan Kesadaran   Fafirru Ilalloohi wa Rosuulihi SAW.
  2. Wasiat 9 Mei ’86 dapat dijadikan sebagai “tongkat komando” strategi Perjuangan Wahidiyah.
  3. Wasiat 9 Mei ’86 merupakan “Sumber dasar” hukum dan kebijakan dalam Perjuangan Wahidiyah.
  4. Wasiat 9 Mei ’86 memiliki “sangsi hukum” di dalam Perjuangan Wahidiyah.
  5. Wasiat 9 Mei ’86 memberikan “peluang bagus” bagi peningkatan kesadaran Fafirruu Ilalloohi wa Rosuulihi SAW.

Inilah yang bias Wahidiyah.me utarana tentang Peran Wasiat Muallif Sholawat  Wahidiyah Tanggal 9 Mei dalam Perjuangan Wahidiyah dengan segala keterbatasan dan kekurangan, sangat Wahidiyah.me harapkan adanya perbandingan, koreksi maupun kritik dari semua pihak dan saya mohon maaf atas hal-hal yang kurang berkenan ! terutama tentang Peran Wasiat Muallif Sholawat  Wahidiyah Tanggal 9 Mei dalam Wahidiyah. (MRs)