√ Pengertian Sholawat Wahidiyah dan Sejarahnya -->

Islam

Pengertian Sholawat Wahidiyah dan Sejarahnya

Ibnu Rusyd
Friday, October 11, 2019

Ad1

Ad2

Pengertian Sholawat Wahidiyah dan Sejarahnya - Sudah kita ketahui bahwa Sholawat Wahidiyah mempunyai faedah atau manfaat yang pokok yaitu menjernihkan hati dan ma’rifat Billah wa Birroosulihi Sholallohu 'Alaihi Wa Sallam sebagaimana yang tertulis dalam Kartu Nida' Sholawat Wahidiyah.

Pada kesempatan kali ini Wahidiyah.me meneruskan pada tulisan sebelumnya yaitu tentang Pengertian Sholawat dan Sholawat Wahidiyah serta penjelasannya, pada tulisan kali ini kita fokus pada Pengertian dan Sejarah Sholawat Wahidiyah. Baca JugaPengertian Sholawat Dan Sholawat Wahidiyah Serta Penjelasannya

Pengertian Sholawat Wahidiyah

Pada umumnya dikalangan Masyarakat masih belum tahu apa itu Sholawat Wahidiyah, maka dalam kesempatan kali ini akan kami jelaskan apa itu Sholawat Wahidiyah. 
Muallif Sholawat Wahidiyah
KH. Abdoel Madjid Ma'roef RA Muallif Sholawat Wahidiyah
SHOLAWAT WAHIDIYAH adalah seluruh rangkain sholawat termasuk bacaan surat Al-fatihah awal dan Al-fatihah penutup serta kaifiyah atau cara dan adab pengamalannya sebagimana tertulis di dalam Lembaran Sholawat Wahidiyah.
Sholawat Wahidiyah lahir dari kandungan ruhani suci bersih berfrekuensi tauhid tinggi memancarkan sinar cahaya “Al-Haqu” mengajak ummat masyarakat Fafirruu Ilallooh wa Rosuulihi Sholallohu 'Alaihi Wa Sallam dari Muallifnya, Hadrotul Mukarrom Romo K.H Abdul Majid Ma’ruf Pengasuh Ponpes Kedonglo Kota Kediri Jawa Timur pada tahun  1963 M.

Pada awal bulan Juli tahun 1959, Beliau, Muallif Ra menerima “alamat ghoib”- istilah Beliau, dari Alloh SWT yang intinya “supaya ikut berjuang memperbaiki mental masyarakat lewat batiniyah” maka Beliau lalu memperbanyak munajat memohon kepada Alloh SWT. Do’a-do’a yang Beliau amalkan adalah do’a sholawat. Baca JugaSejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah Ra.

Pada Tahun 1961, Beliau menerima lagi “alamat ghoib” seperti yang Beliau terima bulan Juli 1959. Nadanya bersifat peringatan agar cepat-cepat melaksanakan inti “alamat ghoib” tersebut. Beliaupun lalu lebih tekun lagi meningkatkan munajat kepada Alloh SWT. Juga dengan do’a-do’a sholawat. Hampir semua sholawat yang ada di kitab-kitab sholawat Beliau amalkan. Sholawat Nariyah misalnya, dengan bilangan 4444 beliau khatamkan dalam tempo 1 jam. Jika Beliau naik sepeda, yang pegang setir tangan kiri, sementara tangan kanan masuk saku memutar tasbih. Dalam kondisi keprihatinan seperti itu tak seorang pun dari keluarga yang mengerti bahwa Beliau sedang melaksanakan tugas berat tetapi mulia dari Alloh SWT 

Saat Awal tahu 1963 Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah KH Abdeol Madjid Ma'roef RA menerima lagi “alamat ghoib” serupa dengan yang Beliau terima tahun 1959 dan tahun 1961. Nadanya lebih keras lagi ”Kulo malah dipun ancam menawi mboten enggal tumindak” (saya malah diancam jika tidak segerah malaksanakan) “sangkin keras ipun ancaman, kulo ngantos gumeter sa’ba’danipun puniko” (sangkin kerasnya ancaman, saya sampai gumeter sesudah itu ) - tambah Beliau.

Kulo lajeng ndamel oret-oretan inggih puniko sholawat   ..... اللهم كما انت اهله  (saya lalu membuat oret-oretan yaitu sholawat   ....اللهم كما انت اهله “sakderengipun kulo mboten gadah angen-angen bade nyusun sholawat, malah anggen kulo ndamel kaleh ngglosoh” (sebelumnya saya tidak punya angan-angan akan menyusun sholawat, malahan saya membuatnya sambil tidur-tiduran) “niki kulo nameaken Sholawat Ma’rifat” (ini saya beri nama “Sholawat Ma’rifat”). Waktu itu belum ada lafad Ya Alloh sesudah تمام مغفر تك dan seterusnya.

Beliau mengutus beberapa orang dari santri Kedunglo untuk mengamalkan “Sholawat Ma’rifat” tersebut sebagai tajribah – percobaan untuk mengetahui buahnya. Antara lain H. Mochtar dari Bandar Lor dan Moch. Dahlan asal Blora Jawa Tengah. Alhamdulillah hasinya positif berupa ketenangan batin dan makin banyak ingat kepada Alloh. Di mana-mana selalu membahas Alloh. 

Beberapa waktu kemudian Beliau menyusun lagi Sholawat “……..اللهم يا واحد “. Beliau beri nama Sholawat Wahidiyah, mengambil berkah dari Asma’ul Husna الواحد bermakna Esa. 

Sholawat inipun ditajribah - diamalkan beberapa orang santri. Hasilnya lebih positif lagi, banyak ingat kepada Alloh, banyak menyadari dosa-dosa yang telah diperbuat kemudian bertobat beristighfar mohon ampunan kepada Alloh SWT. Bahkan diantaranya ada yang sampai menagis-nangis histeris menyesali dosa. 

Tidak lama dari itu Beliau menyusun lagi sholawat ... يا شافع الخلق الصلاة والسلام dan Beliau beri nama صلوات ثلج الغيوب لتبريد حرارة القلوب (Sholawat Salju Ghoib untuk mendinginkan hati yang panas). Disingkat ثلج القلوب (saljunya hati). Ketiga sholawat tersebut dirangkai menjadi satu diberi nama SHOLAWAT WAHIDIYAH

Kemudian diberi keterangan cara-cara mengamalkan dalam bahasa Jawa huruf Arab Pego. Di bagian akhir keterangan ditambahkan kalimat “menawi sampun jangkep 40 dinten mboten wonten perubahan manah, kingin dipun tuntut dunyan wal ukhron – Kedunglo Kediri” (Jika sesudah diamalkan 40 hari tidak ada perubahan dalam hati, boleh dituntut di dunia dan di akhirot). Masyarakat waktu itu menyebut kalimat tersebut “garansi” atau “jaminan”

Dalam waktu relatif singkat, Sholawat Wahidiyah sudah tersebar luas diamalkan oleh masyarakat khususnya di Jawa Timur. Mulai muncul adanya “kontras” yang menentang Sholawat Wahidiyah. Itu disebabkan hanya salah paham kurang pengertian. Ada yang mengisuhkan “sholawat impian”, ada sholawat dari Jin, dan macam-macam. Para kontras itu tidak mempunyai landasan ilmiah dan tidak rasional dan tidak jelas sumbernya. Hanya kata orang, kata si Anu. 

Pada pertengahan tahun 1964 di Kedunglo, Kediri diadakan Asrama Wahidiyah (semacam penataran istilah sekarang) selama 6 hari untuk menerima pelajaran dan bimbingan langsung dari Muallif Ra mengenai cara pengamalan Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyah. Diikuti lebih kurang 35 kiai dan tokoh-tokoh masyarakat yang sudah mengamalkan Sholawat Wahidiyah dari daerah Kediri, Tulungagung, Blitar, Malang, Jombang, Mojokerto, Surabaya dan Madiun.

Mengenai Ajaran Wahidiyah, yang paling ditekankan waktu itu adalah masalah iman, masalah tauhid, yaitu kesadaran BILLAH - لا حول ولا قوة الا بالله ,di samping soal adab dan akhlak.

Ketika sampai pada menjelaskan Sholawat Saljul Qulub, Beliau Ra dengan luas dan gamblang menerangkan tentang “hakikat wujud” NUR MUHAMMAD, disertai dengan iktibar-iktibar yang gampang dicerna akal meresap kedalam hati. Bagaikan ada pancaran batin yang menyinari kalbu para peserta penataran, mulai bermunculan isak tangis rindu mahabbah kepada Rosulullohi Sholallohu 'Alaihi Wa Sallam Kedunglo berubah menjadi “kedong eloh” (kedung air mata) santri-santri kedonglo meskipun tidak mengikuti penataran tersentak ikut menjadi cengeng. Menangis saking mendalamnya rasa rindu mahabah kepada Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wa Sallam Waktu inilah Muallif Ra KH Abdoel Madjid Ma'roef menambahkan kalimah nida' "Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh" sesudah Sholawat Saljul Qulub.


Yaa Sayyidii Yaa Rosuulalloh

Masih dalam pertengahan tahun 1964, sesudah Mujahadah Kubro Wahidiyah pertama yang waktu itu disebut “Eka Warsa”, Beliau Ra mengundang sebagian kyai dan tokoh masyarakat dari daerah Kediri, Tulungagung, Jombang, Malang, Mojokerto dan Surabaya. Ditambah lagi beberapa Pengurus Pondok Kedunglo. Musyawarah membahas langkah-langkah penyiaran dan pembinaan Wahidiyah dipimpin langsung oleh Beliau Muallif Ra. 

Akhirnya memutuskan membentuk lembaga khidmat perjuangan Wahidiyah yang diberi nama “Panitia Pusat Penyiaran Sholawat Wahidiyah”. Diketuai oleh KH Moh. Yassir dari Jamsaren Kota Kediri. Bertugas dan bertangungjawab mengatur penyiaran dan pembinaan Wahidiyah di bawah bimbingan Muallif Ra. Di kemudian hari nama tersebut diganti menjadi ”Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat”

Berturut-turut pernah menjadi Ketua Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat sesudah KH Moh. Yasir antara lain KH Achyat dari Mojokerto, K Ahmad Jazuli Al Hafidz dari Bumi Ayu Jawa Tengah dan KH Agus Hamim Jazuli (Gus Mik) dari Ploso, Mojo, Kediri. 

Ketika Gus Mik menjadi Ketua (sekitar tahun 1968 – 1969) muncul sebuah kasus. Sekelompok Pengamal Wahidiyah mengadakan kegiatan asrama Mujahadah selama seminggu di Desa Bening, Lodoyo, Blitar diberi nama “KOMENWAH” (Komando Mental Wahidiyah). 

Kegiatan mujahadahnya memang serempengan top-topan, di antaranya ada acara “membisu” selama tiga hari. Kelompok ini tidak mengikuti tata cara dan ketentuan dari Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat. Hadlrotul Mukarrom Muallif Ra lalu mengutus dua orang, yaitu H Mochtar dan KH Zaenal Fanani Tulungagung untuk mengingatkan supaya mereka mematuhi kebijaksanaan Pusat (PSW Pusat yang dimaksud). Mendapat jawaban : 

“Tidak bisa, Wahidiyah itu ibarat sigar semangka. Separo teori di Kedunglo, separo prakteknya di Bening sini. Sudah praktek kok disuruh teori”. 

Beberapa hari kemudian pimpinan “KOMENWAH” datang menghadap Romo Muallif Ra. Romo Muallif Ra langsung dawuh : 

“Anu Pak Fulan (bukan nama asli), panjenengan ngawontenaken kegiatan punopo kemawon nyumanggakaken, nanging menawi mboten mengikuti Pusat (PSW Pusat yang dimaksud), ampun ndamel nama Wahidiyah”.

“Anu Pak Fulan, Anda mengadakan kegiatan apa saja silahkan, tapi kalau tidak mengikuti Pusat jangan menggunakan nama Wahidiyah”.

Beberapa waktu kemudian “KOMENWAH” bubar dengan sendirinya, dan pimpinannya meninggal dunia.

Dari hari ke hari penyiaran Wahidiyah berjalan pesat ke berbagai pelosok daerah tanah air di Jawa dan luar Jawa meskipun pihak yang kontras juga terus menjalankan pelarangan dengan berbagai macam cara. Hubungan adanya kontras Beliau Muallif Ra memberikan amanat-amanat Perjuangan Wahidiyah tidak mengenal istilah musuh. Adanya kontras adalah kesalahan kita tidak bisa memberikan penjelasan mengenai Wahidiyah. 

Mereka bukan lawan, tetapi kawan perjuangan yang setia. Sebab dengan adanya kontras, tentunya kita lebih meningkat mujahadah memohon kepada Alloh SWT. Kontras memberikan dorongan kepada kita”.

Sementara itu secara bertahap hadrotul Mukarrom Romo Muallif Sholawat Ra menambahkan amalan untuk melengkapi Sholawat Wahidiyah. Pada awal tahun 1965 dalam Asrama Wahidiyah ke 2 Beliau Ra menjelaskan panjang lebar tentang GHOUTSUZ-ZAMAN. 

Pada saat itulah lahir dari kandungan Beliau Ra :
  ………. يا ايها الغوث سلام الله  Masih dalam tahun 1965 juga. Beliau Ra menambahkan kalimat nida’ (kalimat manggil) : FAFIRUU ILALLOOH dan WAQUL JAA ‘ALHAQQU ………

Tahun 1968 Beliau Ra ijazahkan lagi : Yaa Robbanaalloohumma Sholli Sallimi ....  Menjelang PEMILU 1971 Beliau Ra tambahkan lagi amalan  : 
………. يا شافع الخلق حبيب الله   
Tahun 1972 Beliau Ra menambahkan do’a :   
اللهم بارك فيما خلقت و هذه البلدة  ( belum ada kata ياالله ).
Tahun 1973 bacaan ففروا الى الله dan …….. وقل جاء الحق dirangkai menjadi satu didahului dengan do’a : ............ بسم الله الرحمن الرحيم  اللهم بحق اسمك الأعظم
Tahun 1978 Beliau Ra menambahkan do’a :  ………اللهم بارك فى هذه المجاهدة يا الله 
Tahun 1981 Beliau Ra adakan penyempurnaan lagi yaitu menjadi : 
اللهم بارك فيما خلقت و هذه البلدة  يا الله . وفى هذه المجاهدة  يا الله

Tanggal 27 Jumadil Akhir 1401 H atau tanggal 2 Mei 1981 M Lembaran Sholawat Wahidiyah ditulis dengan huruf Al Qur’an (huruf Arab) disertai keterangan cara pengamalan, penerapan Ajaran Wahidiyah dan ijazah mutlak untuk diamalkan dan disiarkan seperti tertulis pada Lembaran Sholawat Wahidiyah sampai sekarang ini.

Dalam pengamalan Sholawat Wahidiyah yang disebut Mujahadah, Beliau Ra selalu memberi tekanan supaya betul-betul memperhatikan adab-adab Mujahadah. Adab baca harus sesuai dengan ilmu tajwid : makhroj, panjang pendeknya, waqof dan washolnya bacaan, gaya dan lagu baca harus seragam sesuai yang dicontohkan oleh Beliau Ra. Lebih jelas, baca Buku Tuntunan Mujahadah dan acara-acara Wahidiyah !.

Dalam bidang penyiaran dan pembinaan, Beliau Ra mengamanatkan supaya selalu bijaksana disesuaikan dengan situasi dan kondisi ! Tetapi terlalu bijaksana bisa mengakibatkan keglonjoman !

Seirama dengan penambahan amalan dalam melengkapi Sholawat Wahidiyah, lembaga Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat juga diadakan penyempurnaan-penyempurnaan, disesuaikan dengan kebutuhan perjuangan Wahidiyah mengikuti perkembangan dinamika kehidupan masyarakat. 

Badan Pembina Wanita, Badan Pembina Remaja, Badan Pembina Kanak-Kanak Wahidiyah terus mendapat mendapat bimbingan khusus dari Beliau Ra agar betul-betul bisa mengfungsikan diri di dalam Perjuangan Wahidiyah.

PERISTIWA PENTING YANG PERLU DIKETAHUI

Pada Tanggal 7 dan 9 Mei 1986 hadrotul Mukarrom Romo Muallif Sholawat Wahidiyah Ra menyampaikan “WASIAT” di hadapan ± 115 hadirin-hadirot dan Pengurus PSW Pusat dan PSW Daerah serta Pengamal Wahidiyah yang hadir waktu itu. Baca JugaPeran Wasiat Muallif Sholawat Wahidiyah Tanggal 9 Mei dalam Wahidiyah

Adapun Inti wasiat pada tanggal 7 dan 9 Mei 1986 hadrotul Mukarrom Romo Muallif Sholawat Wahidiyah Ra yaitu:
  1. Pondok Kedunglo – adalah hak waris.
  2. SMP dan SMA Wahidiyah.
  3. Diijinkan asal tidak mempengaruhi kehidupan Pondok dan Masjid Kedunglo, dan tidak mengganggu Perjuangan Wahidiyah.
  4. SOAL WAHIDIYAH
Wahidiyah adalah seperti perjuangan Islam pada umumnya, bukan hak waris. Para Penyiar Sholawat Wahidiyah dan Para Pengamal Wahidiyah adalah “wakil saya”. Al Waakil Atsiirul Muwakkil, Muwakkil kuasa penuh, Adapun Syarat-syarat sanggup menjadi wakil yaitu:

Segala perbuatan dan perkataan maupun ucapan apa saja, yang merugikan perjuangan terutama, yang menjadikan fitnah terutama, ini supaya dibuang sama sekali.

Logo Penyiar Sholawat Wahidiyah
Sholawat Wahidiyah

Detik-Detik Wafatnya Muallif Sholawat Wahidiyah Ra.

Hadrotul Mukarrom Romo Muallif Sholawat Wahidiyah Ra wafat pada hari Selasa Wage 29 Rojab 1409 H = 7 Maret 1989 M di ndalem tengah Kedunglo. Di makamkan hari Rabo pagi tanggal 8 Maret 1989 M + pukul 09.00 WIB. Baca Juga : Sejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah Ra.

Para Keluarga Bermujahadah disisi Jenazah Muallif Sholawat Wahidiyah RA
Keluarga Bermujahadah disisi Jenazah Muallif Sholawat Wahidiyah RA

Keluarga Bermujahadah disisi Jenazah Muallif Sholawat Wahidiyah RA

Pada malam Rabonya, hadrotul Mukarromah Ibu Nyahi Hj ShofIyah Madjid paring dawuh kepada para Ketua PSW Pusat yang waktu itu berjumlah 9 orang dan beberapa orang putra-putri Beliau kurang lebih :

“Embah Yahi (Romo Muallif RA) mboten paring dawuh wasiat punopo-punopo. Anak kulo ingkang sampun saged diajak petung wonten sekawan inggih puniko Nurul, Tatik, Latif, Hamid. Nanging menawi Tatik sampun criyos mboten bade menetap wonten Kedunglo. Dados kantun tigo. Tinggalane Embah Yahi wonten kalih, Pondok Kedunglo lan Wahidiyah. Tinggalane Mbah Yahi ingkang arupi Pondok, anggit kulo Pondok Putri kersane diurusi Nurul, Pondok Putra diurusi Hamid, lan sekolahan diurusi Latif. Wondene tinggalane Embah Yahi ingkang arupi Wahidiyah, kulo suwun anak-anak kulo sedoyo sareng-sareng kaliyan Bapak-bapak Pusat meneruskan Perjuangan Wahidiyah tinggalane Embah Yahi”. – Setuju ! Nderek dawuh. Sahut para yang hadir.

(Embah Yahi tidak memberi wasiat apa-apa. Anak saya yang sudah bisa diajak petung ada empat, yaitu Nurul, Tatik, Latif, Hamid. Tetapi kalau Tatik sudah bilang tidak akan menetap di Kedunglo. Jadi tinggal tiga. Peninggalan Embah Yahi ada dua, Pondok Kedunglo dan Wahidiyah. Peninggalan Embah Yahi yang berupa Pondok, angan-angan saya Pondok Putri biar diurusi oleh Nurul, Pondok Putra diurusi oleh Hamid dan sekolahan diurusi Latif. Adapun peninggalan Embah Yahi Wahidiyah, saya mohon anak-anak saya semua bersama-sama dengan Bapak-bapak Pusat meneruskan Perjuangan Wahidiyah).

Kenyataan pada saat pemakaman jenazah Rabo pagi yang diumumkan berbeda dengan apa yang didawuhkan Embah Nyahi tersebut.

Saat Pemakaman Jenazah Muallif Sholawat Wahidiyah RA


Saat Pemakaman Jenazah Muallif Sholawat Wahidiyah RA

Saat Pemakaman Jenazah Muallif Sholawat Wahidiyah RA

Ribuan Manusia yang menghormat Pemakaman Jenazah Muallif Sholawat Wahidiyah


Ribuan Manusia yang menghormat Pemakaman Jenazah Muallif Sholawat Wahidiyah

Ribuan Manusia yang menghormat Pemakaman Jenazah Muallif Sholawat Wahidiyah

Penulis menyampaikan permohonan maaf atas hal-hal yang kurang berkenan dalam tulisan di Wahidiyah.me ini, semoga Alloh SWT wa Rosuulihi Sholallohu 'Alaihi Wa Sallam wa Ghoutsi Hadzaz Zaman Ra mengampuni dan meridloinya sehingga tulisan ini memberi manfaat bagi Perjuangan Wahidiyah, perjuangan kesadaran FAFIRRUU ILALLOOHI WA ROSUULIHI Sholallohu 'Alaihi Wa Sallam !, Amiin !, Kepada semua pihak dimohon koreksi pembetulan atas kekeliruan dan kesalahan ! Terima kasih. (mrs)