√ Muallif Sholawat Wahidiyah dan Penyiar Sholawat Wahidiyah -->

Islam

Muallif Sholawat Wahidiyah dan Penyiar Sholawat Wahidiyah

Ibnu Rusyd
Monday, October 7, 2019

Ad1

Ad2

Muallif Sholawat Wahidiyah dan Penyiar Sholawat WahidiyahKH Abdoel Madjid Ma'roef RA Muallif Sholawat Wahidiyah sebagai penyusun Sholawat Wahidiyah dan membentuk Lembaga atau Organisasi dalam Perjuangan Wahidiyah yaitu pada permulaan tahun lahirnya Sholawat Wahidiyah tahun 1964.

Beliau KH Abdoel Madjid Ma’roef QS Muallif (penyusun) Sholawat Wahidiyah dan pembimbing ummat masyarakat menuju sadar ma’rifat Billah wa Rosuulihi Shollalloohu 'alaihi wasallam tentunya sangat luar biasa. Baca juga : Sejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah Ra.
Muallif Sholawat Wahidiyah dan Penyiar Sholawat Wahidiyah
Muallif Sholawat Wahidiyah
Pada kesempatan kali ini Wahidiyah.me berusaha menyayikan tentang Muallif Sholawat Wahidiyah dan Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW), untuk mengawali uraian tentang Muallif Sholawat Wahidiyah dan Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) ini tentunya dengan suatu ungkapan bahasa yang indah, yakni untaian kata yang membawa berkah, terjiwai mahabbah dzauqiyah dan pancaran nur inayah yang terkandung dalam susunan Sholawat Wahidiyah adalah merupakan suatu bukti bahwa Muallifnya adalah orang yang arif Billah, sempurna dan agung disisi Alloh SWT wa Rosuulihi Shollalloohu 'alaihi wasallam, sebagaimana yang dikatakan Syekh Musthofa Thumum RA. 

Susunan Sholawat Wahidiyah
Muallif Sholawat Wahidiyah dan Penyiar Sholawat Wahidiyah
Lembaran Sholawat Wahidiyah
Dalam kitab manaqib Sayyid Muhammad Sirrul-khotami Al-Mirqoni RA hal. 18: 

ان سر الولى فىحزبه ومقامه فىصيغة صلاته على النبىصلىالله عليه وسلم فالاوصاف التى يصف بها  النبىصلىالله عليه وسلم فىصلا ته تشير الى درجة ذلك الولي ومقامه

Artinya kurang lebih : “Sesungguhnya sirrinya seorang wali itu ada dalam khizibnya, dan maqomnya ada dalam susunan Sholawatnya atas Nabi Shollalloohu 'alaihi wasallam. Maka beberapa sifat Nabi Shollalloohu 'alaihi wasallam yang tercantum di dalam susunan Sholawatnya adalah menunjukkan derajat dan maqom wali itu”.

Maka kiranya tidak berlebihan kita berkeyakinan bahwa beliau Muallif Sholawat Wahidiyah adalah seorang Kamil Mukammil, Ghouts dan Mujaddid (pembaharu) di bidang mental dan rohani di zamam in.


Muallif Sholawat Wahidiyah KH Abdoel Madjid Ma'roef senatiasa membimbing umat masyarakat untuk sadar kepada Alloh wa Rosuulihi Shollalloohu 'alaihi wasallam dengan suatu bimbingan yang praktis yang lazim kita kenal dengan Ajaran Wahidiyah; Lillah-Billah, Lirrosul-Birrosul, Lilghouts-Bilghouts, Yu’tii Kullaa Dzii Haqqin Haqqoh, Taqdiimul Aham Fal Aham Tsummal Anfa’ Fal Anfa’ dan ajaran ini adalah ajaran yang berdasarkan Al-Qur’an, Al-Hadits Nabi Shollalloohu 'alaihi wasallam  dan Ijma’ para Ulama’ Salafus Sholih. Baca Juga : Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah



Sholawat Wahidiyah oleh beliau diijazahkan secara mutlak kepada seluruh masyarakat tanpa pandang bulu dan golongan untuk diamalkan dan disiarkan kepada orang lain sesuai dengan tuntunan dan aturan yang telah dibimbingkan oleh Beliau dan lembaran Sholawat Wahidiyah.


Maka orang yang mengamalkan, baik yang menerima langsung dari Beliau QS maupun dari orang lain adalah disebut Pengamal Sholawat Wahidiyah atau Pengamal Wahidiyah atau Pengamal. Setiap Pengamal tidak lebih adalah berkedudukan sebagai murid Beliau, “Siapapun orangnya”. Dan setiap murid yang taat dan patuh  terhadap gurunya, ia akan menjadi pewaris ilmu sirri gurunya. 

Sayyid Ibrohim Ad-Dasuqy RA berkata :

ولد القلب خير من ولدالصلب فولد الصلب له ارث الظاهر من الميراث وولد القلب له ارث الباطن من السر - كذا فى الطبقات الكبرى ج 2  167

Artinya : “Anaknya hati (rohani) itu lebih baik dari pada anak keturunan jasmani. Anak jasmani adalah sebagai pewaris lahir dari beberapa harta waris, dan anak hati adalah sebagai pewaris bathin dari ilmu sirri”.

Demikian pula orang yang berpredikat sebagai murid berkewajiban untuk tunduk patuh terhadap tuntunan dan aturan yang telah ditetapkan oleh gurunya atau istilahnya “Pasrah Bongkoan”.

المريد عند الشيخ كالميت عند يدي الغاسل

Artinya : “Seorang murid terhadap gurunya harus seperti mayid di bawah kedua tangan orang yang memandikannya”.

Ini pengertiannya luas sekali, termasuk harus menyerah sam’an wa thoatan wa tadhiiman wa mahabbatan, menerima dan menjalankan apa saja yang telah dibimbingakan dan digariskan oleh guru. 

Di dalam Wahidiyah, kita harus sam’an wa tho’atan dan konsekwen menjalankan apa saja yang telah dibimbingkan dan ditentukan oleh Muallif Sholawat Wahidiyah; yaitu Sholawat Wahidiyah, Ajaran Wahidiyah, dan Kelembagaan PSW yang dibentuk sendiri oleh Muallif. Maka barang siapa yang mengubah, menambah, mengurangi atau tidak mengindahkan ketentuan tersebut, lebih-lebih menyimpang atau mengingkari, ia akan terjerumus ke dalam su’ul adab dan masuk “uququl ustadz” melukai guru. Disebutkan dalam kitab Jami’ul-ushul hal 105 :

عقوق الأستاذ لا توبة له

Artinya Kurang lebih“Melukai guru itu tidak bisa ditaubati”

Selain Sholawat Wahidiyah dan Ajaran Wahidiyiah, Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) adalah satu-satunya lembaga atau organisasi dalam Perjuangan Wahidiyah yang dibentuk oleh  Muallif Sholawat Wahidiyah sendiri pada permulaan tahun lahirnya Sholawat Wahidiyah tahun 1964.

Logo Penyiar Sholawat Wahidiyah
Logo Penyiar Sholawat Wahidiyah

Dibentuknya lembaga  khidmah perjuangan “Penyiar Sholawat Wahidiyah” (PSW), tidak lain adalah wujud kearifan, kebijaksanaan dan keagungan Beliau QS di dalam mengamanatkan perjuangan Wahidiyah kepada kita, karena antara lain :

Pertama : 

Obyek sasaran Perjuangan Wahidiyah adalah masyarakat ummat manusia seluruh dunia-jamial ‘alamiin, yang memiliki strukur sosial, ekonomi, budaya, agama dan adat istiadat yang sangat beragam, majemuk, sangat komplek dan multi dimensional.

Kedua :

Tugas-tugas Perjuangan Wahidiyah yang sangat luas dan berat itu, pasti akan mengahadapi tantangan, hambatan, gangguan dan ancaman yang mustahil bisa diselesaikan secara pribadi atau individual.

Ketiga : 

Untuk memelihara kemurnian pengamalan Sholawat Wahidiyah dan Ajarannya jangan sampai menyimpang atau bergeser sedikitpun dari apa yang telah dibimbingkan oleh Muallif Sholawat Wahidiyah QS.

Keempat :

Jangan sampai Perjuangan Wahidiyah dimanfaatkan atau ditumpangi oleh ambisi kepentingan yang bersifat subyektif, baik pribadi maupun kepentingan kelompok.

Maka beliau memberi tugas dan wewenang kepada lembaga atau organisasi PSW ini untuk mengatur kebijaksanaan dan tanggungjawab di dalam Perjuangan Wahidiyah meliputi bidang Pengamalan, Penyiaran, dan Pendidikan Wahidiyah, serta mengusahakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh Perjuangan Wahidiyah. Baca Juga : CARA PENGAMALAN SHOLAWAT WAHIDIYAH SESUAI BIMBINGAN MUALLIF RA
Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) sebagai suatu lembaga khidmah bisa disebut sebagai thoriqoh dan sunnah Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah QS. Maka seluruh pengamal Sholawat Wahidiyah, baik yang menyadari maupun tidak, adalah sebagai murid Beliau  Muallif Sholawat Wahidiyah QS. Dan seorang murid wushul ma’rifat Billah itu wajib mengamalkan thoriqoh atau sunnah gurunya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Taqriibul-usul hal. 228 :

المريدمن يفنى إرادته بإرادة الشيخ فمن عمل برأيه أمرا فهو ليس بمريد

Artinya : “Seorang murid wushul ma’rifat itu menghapus atau meleburkan pedapat dan kemauannya dengan pendapat dan kemauan guru (semata-mata menjalankan, mengikuti dan mentaati keputusan gurunya). Barang siapa melakukan perkara (yang ada hubungannya dengan wushul) mengikuti pendapatnya sendiri maka ia sudah tidak termasuk muridnya.

Dalam kitab At-thobiqotul Kubro juz I hal 170 dan kitab Al-Bahjatus-saniyah hal. 27 disebutkan :

رأس مال المريدالمحة والتسليم وإلقآء عصا المعاندة والمخالفة والسكوت تحت مراد شيخه. واذا كان المريدكل يوم فىزيادة المحبة والتسليم لشيخه أمن من القطع فان عوارض الطريق وعقبات الإلتفات والإدارات هى التى تقطع عن الإمدادوتحجب المريدعن الوصول الى المراد

Artinya Kurang Lebih : “Modal pokok murid wushul ma’rifat itu mencintai gurunya dengan cinta imaniyah dan menyerahkan keputusannya, tidak menentang dan tidak melakukan suatu keputusan yang berlawanan dengan keputusan gurunya. Dan ketika seorang murid setiap hari selalu tambah rasa cinta dan menyerahkan keputusannya kepada gurunya, selamatlah ia dari putusnya hubungan dengan gurunya. Sesungguhnya membaharui (merubah) sunah dan dari keputusan guru, memalingkan perhatian kepada guru lain dan mengganti keputusan yang sudah dikehendaki atau ditetapkan gurunya adalah yang memutuskan tarbiyah dan nadhroh gurunya serta menjadi hijab (penghalang) yang menggagalkan tujuan murid”.

Perlu diketahui bahwa cinta kepada guru kamil yang dimaksud itu adalah cinta imaniyah (cinta dari nurnya iman atas keagungan dan kesempurnaan guru) seperti cinta kepada Rosuululloh Shollalloohu 'alaihi wasallam, bukan cinta dari watak fisik yang disebut watak adz-zaatiyah atau mahabbah basyariyah (cinta nafsu) seperti cintanya anak dengan bapak, dan cinta suami kepada istri atau sebaliknya.

Dalam kitab Al-Ibris hal 210 disebutkan :

إن همّة الشيخ الكامل هى نور إيمانه بالله وبه يربى المريد ويرقيه من حالة إلى حالة فان كانت محبّة المريد للشيخ من نور إيمانه أمدّه الشيخ حضر اوغاب بل ولو مات ومرت عليه الاف من السّنين, ومن هناكان أوليآء كل قرن يستمدّون من نور إيمان النبى صلىالله عليه وسلم  ويربـيّـهم ويرقيهم (عليه أفضل الصلاة وأزكى السلام) لأن محبتهم فيه صلىالله عليه وسلم محبة صافية خالصة من نور إيمانهم.وان كانت محبّة المريد فى الشيخ من ذات المريدلان نورايمانه انتفع مادام حاضرا واذا غابت الذات عن الذات وقع الانقطاع.

Artinya kurang lebih : “Sesungguhnya semangatnya guru yang sempurna itu dari nur iman Billahnya, dan Billahnya guru itu bisa membimbing ma’rifat dan meningkatnya murid dari tingkat ketingkat selanjutnya. Oleh sebab itu apabila cintanya murid kepada gurunya itu dari nur imaniyah, maka memancarlah nur ma’rifatnya guru kepada murid, baik ketika guru itu hadir atau tidak hadir, bahkan sekalipun guru itu sudah meninggal dalam seribu tahun yang lalu. Dari sinilah para wali Alloh kurun (abad) selalu berusaha mendapat pancaran nur imannya Rosuulillah Shollalloohu 'alaihi wasallam, dan Beliau Shollalloohu 'alaihi wasallam membimbing dan meningkatkan mereka karena cintanya kepada Rosuulullah Shollalloohu 'alaihi wasallam adalah cinta yang bersih dan murni dari dari nur imannya. Dan apabila cintanya kepada guru dari pengaruh tabi’at fisik tidak muncul dari nur imannya  kepada keagungan gurunya, maka cintanya itu bermanfaat ketika gurunya hadir, dan ketika sudah pisah (tidak hadir) maka putuslah nadhrohnya.

Perlu disadari bahwa yang memutuskan hubungan tarbiyah dan nadhroh guru ma’rifat itu apabila murid sudah  memalingkan keyakinannya kepada guru lain yang dianggap setingkat dengan gurunya atau gantinya, karena seorang wali Alloh yang sudah kamil apalagi yang kamil mukammil setelah meninggal rohnya selalu berhubungan dengan muridnya. Maka seorang murid tidak perlu mencari guru lain untuk wushul.

Dikatakan dalam kitab Al-Ibris hal 237:

لان الشّيخ الذى يرى مريده الإلتفات الى شيخ غيره يقطع عنه المآدة فلايكون منتفعابالأول ولا بالثانى

Artinya kurang lebih : “Sesungguhnya guru kamil ketika melihat muridnya telah memalingkan keyakinannya kepada guru lain, maka putuslah tarbiyah dari gurunya, dan murid tidak akan dapat menerima manfa’at dari guru kedua yang diyakininya.

Dikatakan dalam kitab Taqriibul -Ushul :

ينبغى لمن خدم كبيرا كاملا ثمّ فقده أن لا يصحب من دونه إلا اذا كان أكمل منه

Artinya : Seharusnya bagi orang yang berkhidmah (berguru wushul) kepada pembesar wali kamil setelah ditinggal wafat tidak perlu berguru wushul kepada orang yang tingkatan (ma’rifat dan ilmunya) di bawahnya, kecuali sudah menemukan guru yang lebih sempurnanya segala-galanya.

Dalam kitab Al-Ibris hal 210 disebutkan :

قال بعض الصالحين بعد وفاة شيخه : كنت أتكلف الذهاب إلى زيارته فى قبره كثيرا فوقف عليّ فى المنام.قال لى إن ذاتى ليست بمحجوبة فى القبر بل هى فى العالم كله عامرة له مائلة وفى اى موضع تطلبـنى تجدنى, فانك لوتوسلت بى إلى الله عز وجل فإنى أكون معك حينئذ ثمّ أشارإلى العالم كله فقال وانا فيه بأجمعه وإياك أن تظنّ اناربك عز وجل غير محصورفى العالم وانا محصور به هذاماسمعته منه رضى الله عنه.

Artinya kurang lebih  : "Syekh Ahmad Al-Mubarok RA. pengarang kitab Al-Ibris berkata : “Sebagian orang-orang sholeh menceritakan dirinya setelah ditinggal wafat gurunya; “Aku memaksa diriku untuk sering berziarah ke kubur guruku, seketika itu; pada waktu malam aku bermimpi beliau berdiri di hadapanku dan berkata kepadaku; “Sesungguhnya keberadaanku tidak diikat di alam kubur, bahkan keadaanku bertempat pada pada seluruh alam ini semua, dan di mana saja tempat yang kamu ingin bertemu denganku, pasti aku menyertaimu ketika engkau bertawasul. Kemudian beliau memberi isyarat dengan menuding seluruh pandangan dalam alam ini seraya berkata; “Saya menempati alam ini semua, dan jagalah dirimu dari persangkaan, jangan sampai menjadikan bahwa aku Tuhanmu karena Tuhan tidak dibatasi alam dan aku tetap dibatasi alam. Demikian perkataan guruku yang aku dengarkan”.
   
Dalam  kitab Taqriibul Ushul hal. 68 disebutkan :

قال الشيخ على وفارضى الله عنه : لفلاح المريدمع أستاذه ثلاث علامات أيحبه بالإيثار ويتلقى منه كل ماسمعه منه بالقبول ويكون معه فى شؤنه كله بالموافقة.

Artinya kurang lebih : “Syekh Ali Wafa RA berkata : tanda-tanda keselamatan seorang murid dalam berhubungan dengan gurunya ada tiga; Pertama, mencintai gurunya dengan lebih mengutamakan kehendak guru dan keputusannya dari pada kehendak dan keputusannya sendiri. Kedua ; apa yang didengar dan ditemukan dari ucapan atau keputusan gurunya (langsung atau tidak ) diterima/diikuti apa adanya. Ketiga; semua keputusan yang diambil dan dilakukan harus sesuai dan cocok dengan keputusan gurunya.

Oleh sebab itu mari kita berhati-hati di dalam ikut mengamalkan dan atau menyiarkan Sholawat Wahidiyah yang tidak lain adalah perjuangan milik beliau Muallif Sholawat Wahidiyah QS. sendiri, yang kita yakini bahwa pada hakekatnya beliau sendiri mampu menyiarkan Sholawat Wahidiyah kepada umat masyarakat tanpa bantuan kita. 

Namun karena kearifan dan keagungan beliau Muallif Sholawat Wahidiyah, maka beliau menghargai dan memberi kepercayaan kepada kita untuk ikut menyiarkan Sholawat Wahidiyah kepada masyarakat. 

Akan tetapi dengan kepercayaan yang diberikan tidak akan merubah predikat kita sebagai pengamal atau murid belaiu Muallif Sholawat Wahidiyah QS yang wajib taat dan patuh terhadap apa yang telah dibimbingkan dan ditetapkan.(mjy)