√ Kisah Robi'ah Al Adawiyah Seorang Sufi Wanita

Islam

Kisah Robi'ah Al Adawiyah Seorang Sufi Wanita

Ibnu Rusyd
Saturday, October 19, 2019

Ad1

Ad2

Kisah Robi'ah Al Adawiyah Seorang Sufi WanitaTokoh sufi wanita yaitu Robiah Al Adawiyah yang sangat terkenal di seluruh dunia karena kesuciannya, Ia berasal dari keluarga miskin, sejak kecil ia tinggal di kota Basrah, Ia sangat dihormati oleh orang-orang sholeh yang hidup pada masa itu.  Jiwa, raga, dan hatiya hanya dicurahkan untuk yang dicintainya, yaitu Alloh Subhanahu wata'ala,  wa Rosulihi Shollallohu'alaihi wasallam.

Kisah Robi'ah Al Adawiyah Seorang Sufi Wanita

Al-kisah, Pada malam Robi’ah dilahirkan ke dunia, tidak ada sesuatu barang yang berharga yang dapat ditemukan di rumah orang tuanya. Ayahnya adalah seorang yang sangat miskin, bahkan tidak ada minyak setetespun untuk memoles pusar putrinya. Tidak ada lampu penerangan dan tidak ada kain untuk selimut putrinya. Oleh ayahnya diberi nama Robi’ah karena ia adalah putri ke empat dari empat bersaudara yang kesemuanya putri. Baca Juga : Kisah Tangis Abu Bakar Radhiyallahu Anhu

kisah rabiah al adawiyah dilamar
kisah rabiah al adawiyah dilamar
“Pergilah kerumah tetangga kita si Fulan dan mintalah sedikit minyak untuk menyalakan lampu agar malam hari ini terlihat terang” Kata si Ibu menyuruh suaminya. Namun sang ayah telah bersumpah bahwa ia tidak akan meminta sesuatu apapun dari tetangga atau yang lainnya. Demi menenangkan hati isterinya, maka pergilah ia ke rumah tetangganya ber-pura-pura untuk meminta kepada tetangganya. Kemudian dia pulang dan berkata “Mereka tidak mau membukakan pintu”. 

Mendengar hal itu sedihlah hati isterinya, kemudian menangis dalam keadaan yang memprihatinkan ini, sang ayah hanya dapat menundukkan kepala sampai akhirnya tertidur dengan kepala di atas lutut. Dalam tidurnya, sang ayah bermimpi bertemu dengan Rosululloh Shollallohu'alaihi wasallam,  dan dihibur. “Janganlah engkau bersedih, karena bayi perempuan yang baru dilahirkan itu adalah Ratu kaum wanita dan akan menjadi penengah bagi 70 ribu orang di antara kaumku”. 

Kemudian Rosululloh Shollallohu'alaihi wasallam,  meneruskan “Besok, pergilah engkau menghadap Isa Az-Zadan, Gubernur Basrah, tulislah di atas kertas kata-kata berikut ini : “Setiap malam engkau mengirimkan Sholawat seratus kali kepadaku, dan setiap malam Jum’at empat ratus kali. Kemarin adalah hari Kamis malam Jum’at dan engkau lupa melakukannya. Sebagai penebus kelalaian-mu itu, berikanlah kepada orang ini empat ratus dinar yang telah engkau peroleh dengan halal”.

Ketika terbangun, sang ayah mencucurkan air mata. Kemudian ia menulis surat sesuai dengan pesan Rosululloh Shollallohu'alaihiwasallam,  kepadanya dan mengirimkannya kepada Gubernur Basrah melalui Pengurus Rumah Tangga Istana.

Setelah membaca surat yang diberikan sang ayah, Gubernur memerintahkan kepada bawahannya “Ambil 2.000 dinar dan bagikan kepada orang-orang miskin. Dan sebagai tanda syukurku kepada Rosululloh Shollallohu 'alaihi Wasallam yang telah memperingatkanku, berikanlah kepada Ayah Robi’ah 400 Dinar”. Kemudian lanjutnya “Aku harap engkau datang kepadaku sehingga aku dapat melihat wajahmu. Namun tidak pantas bagi orang seperti engkau untuk datang kepadaku, lebih baik  seandainya  akulah  yang  datang  dan  mengetuk  pintu rumahmu dengan jenggotku ini. Walaupun demikian, demi Alloh, aku bermohon kepadamu, apapun yang kamu butuhkankan, katakanlah padaku”.

Selesai menerima uang pemberian Gubernur terse-but, pulanglah sang ayah, dan membeli berbagai keperluan. Ketika beranjak besar, Ayah dan Ibunya meninggal dunia. Pada suatu waktu Kota Basrah dilanda bencana kelaparan dan ia terpisah dari kakak-kakak perempuannya. Baca Juga : Kisah Kedermawanan Utsman Bin Affan

Suatu hari ketika sedang keluar dari rumah, ia terlihat oleh seorang penjahat yang segera menangkap dan menjual-nya seharga enam dirham untuk dijadikan budak. Sebagai budak belian, tentu saja ia disuruh untuk mengerjakan pekerjaan yang berat-berat.

Datingnya seseorang yang tak dikenal Ibu Robiah Al Adawiyah

Pada suatu hari ketika sedang berjalan-jalan, dating-lah seseorang yang tak dikenalnya menghampiri. Ia takut kemudian berlari, tiba-tiba ia terjatuh / tergelincir sehingga tangannya terkilir. Ia menangis sambil mengangguk-angguk-kan kepalanya ke tanah dengan berkata “Yaa Alloh, aku adalah orang asing di sini, tidak mempunyai ayah bunda, sebagai tawanan yang tidak berdaya, sedangkan tanganku cidera, namun, itu semua tidak membuatku bersedih hati karenanya. Satu-satunya yang aku harapkan adalah supaya aku dapat memenuhi kehendak-Mu dan mengetahui apakah Engkau berkenan atau tidak” 

“Robi’ah, janganlah kamu berduka !” terdengar suara berkata kepadanya,  “Kelak kemudian hari kamu akan dimu-liakan, sehingga malaikat iri kepadamu.” Kemudian Robi’ah kembali ke rumah majikannya.

Semasa di rumah majikannya yang dilakukan Rabi’ah di siang hari ia berpuasa dan melaksanakan tugas majikan dengan sebaik-baiknya, sedangkan pada malam harinya ia senantiasa berdo’a dan melaksanakan ibadah sepanjang malam.

Pada suatu malam, majikannya terbangun dari tidurnya dan ketika berjalan melewati jendela, terlihat olehnya Robi’ah sedang bersujud sambil berdo’a kepada Alloh Subhanahu wata 'ala  :“Yaa Alloh, Engkau Mahatahu bahwa hasrat hatiku hanyalah untuk dapat mematuhi perintah-Mu dan mengabdi kepada-Mu. Jika aku dapat merubah nasib diriku ini, niscaya aku tidak akan beristirahat sebentarpun dari mengabdi kepada-Mu. Namun engkau telah menyerahkan diriku di bawah kekuasaan seorang hamba-Mu”. 

Sepasang mata majikannya terbelalak lebar, bukan karena hanya mendengar do’a Rabi’ah, tetapi karena ia melihat suatu keajaiban, sebuah lentera/lampu tanpa rantai tergantung di atas kepala Rabi’ah yang menerangi seluruh rumah ia merasa takut, kemudian langsung pergi ke kamar tidurnya dan duduk termenung hingga fajar tiba. Keesokan harinya, si Majikan memanggil Rabi’ah dengan sikap lemah lembut, kemudian ia membebaskannya.

“Ijinkanlah aku pergi.” Kata Robi’ah kepada Majikannya. Setelah diberi ijin oleh Majikannya, kemudian ia pergi. Ia berjalan melewati padang pasir, menempuh perjalanan jauh menuju tempat sepi untuk ber-khalwat, mengabdikan diri kepada Alloh wa Rosulihi Shollallohu 'alaihi Wasallam, dan dengan tekun melaksanakan ibadah.

Beberapa lama kemudian, ia berniat untuk menunai-kan ibadah haji. Setelah mempersiapkan perbekalan secu-kupnya, berangkatlah ia bersama rombongan untuk menunaikan ibadah haji. Di tengah perjalanan, keledai yang dipergunakan untuk mengangkut barangnya mati, padahal pada saat itu berada di tengah-tengah padang pasir.

“Biarlah aku yang membawakan barang-barangmu” kata seorang laki-laki dalam rombongan itu menawarkan jasa. “Tidak, teruskanlah perjalanan kalian, bukan tujuanku untuk menjadi beban kalian” jawab Robi’ah. Kemudian rombongan itu melanjutkan perjalanan dan meninggalkan Rabi’ah seorang diri.

“Yaa Alloh !” Rabi’ah berseru sambil menengadahkan kepala, “Beginikah caranya raja-raja memperlakukan seorang wanita yang tidak berdaya di tempat yang masih asing ini?” “Engkau telah memanggilku ke rumah-MU, tetapi di tengah perjalanan, Engkau membunuh keledaiku dan meninggalkanku sebatangkara di tengah-tengah padang pasir.” Sebelum Rabi’ah meneruskan kata-katanya, tiba-tiba keledai yang mati itu bergerak, kemudian berdiri. Rabi’ah meletakkan barang-barangnya kembali di atas punggung binatang itu dan melanjutkan perjalanan.

Setelah beberapa hari menempuh perjalanan padang pasir, ia terasa letih sekali, dan sebelum berhenti ia berseru kepada Alloh “Yaa Alloh, tubuhku terasa letih, ke arah manakah yang harus ku tuju ?. Aku ini hanyalah segumpal tanah, sedang rumah-Mu terbuat dari batu. Yaa Alloh aku bermohon kepada-Mu, tunjukkanlah diri-MU.”

Alloh berfirman dalam hati sanubari Rabi’ah, “Robi’ah, engkau sedang berada di atas sumber kehidupan delapan belas ribu dunia. Tidakkah engkau ingat betapa Musa telah bermohon untuk melihat-KU dan gunung-gunung terpecah menjadi 40 keping. Karena itu, cukuplah engkau dengan nama-Ku saja”.

Suatu ketika Rabi’ah menderita sakit yang gawat, kemudian ia ditanya apa penyebab sakit yang dideritanya itu. “Aku telah menatap surga, dan Alloh telah menghukumku” jawab Robi’ah.

Ketika Hasan Basri datang mengunjungi Rabi’ah, ia melihat salah seorang Pemuka kota Basrah berdiri di depan pintu pertapaan Rabi’ah, ia hendak memberikan sekantong uang emas kepada Rabi’ah dan Pemuka itu menangis. Hasan Basri bertanya kepada Pemuka itu “Mengapa engkau menangis ?” “Aku menangis karena wanita suci zaman ini” Jawab Pemuka itu. “Karena jika kehadirannya tidak ada lagi, celakalah umat manusia. Aku membawakan uang emas sekedar untuk biaya perawatannya, namun aku kawatir kalau-kalau Rabi’ah menolaknya, bujuklah agar ia mau menerima uang ini”. 

Maka masuklah Hasan Basri ke dalam pertapaan Rabi’ah dengan membawa uang itu. Rabi’ah menatap Hasan Basri dan berkata “Dia telah menafkahi orang-orang yang telah menghujjahnya. Apakah Dia tidak akan menafkahi orang-orang yang mencintai-Nya. Sejak aku mengenal-Nya, aku berpaling dari manusia ciptaan-Nya. Aku tidak tahu kekayaan orang itu halal atau tidak, maka bisakah aku menerima pemberiannya ?. Pernah aku menjahit  pakaianku  yang  robek  dengan diterangi lampu dunia, beberapa saat aku lengah tidak ingat kepada Alloh karena lampu tersebut, hingga akhirnya aku sadar, kemudian pakaian itu kurobek kembali pada bagian yang telah aku jahit itu dan hatiku menjadi lega. Mintalah pada Pemuka itu agar aku tidak lengah lagi dan kembalikan uang emas itu kepadanya.”

Abdul Wahid Amir dan Sofyan  Ats Tsauri mengunjungi Rabi’ah ketika sakit

Suatu ketika Abdul Wahid Amir dan Sofyan  Ats Tsauri mengunjungi Rabi’ah ketika sakit. Tetapi karena keduanya merasa segan, mereka tidak berani menegur atau menyapanya. “Engkaulah yang berkata” Kata Abdul Wahid kepada Sofyan. Kemudian Sofyan berkata kepada Rabi’ah, “Jika engkau berdo’a, niscaya penderitaanmu ini akan hilang”. Rabi’ah menjawab, “Tidak tahukah engkau, siapa yang menghendaki aku menderita seperti ini ? Bukankah Alloh ? “Ya” Jawab Sofyan. “Bagaimana mungkin engkau tidak mengetahui hal ini. Engkau menyuruhku memohonkan hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya ? Bukankah itu tidak baik apabila kita menentang sahabat kita sendiri ?” “Apakah yang engkau inginkan, Robi’ah ? Sofyan bertanya lagi.  “Sofyan, engkau adalah orang yang terpelajar, tetapi mengapa engkau bertanya pula “apakah yang aku inginkan ?” “Demi kebesaran Alloh” Rabi’ah berkata tegas, “Telah dua belas tahun aku menginginkan buah kurma segar. Engkau  tentu tahu bahwa di kota Basrah, buah kurma harganya sangat murah. Tetapi hingga saat ini aku  tidak  pernah menginginkan sesuatu, sedang Alloh tidak menginginkan-Nya, maka kafirlah aku. Engkau harus menginginkan sesuatu yang diinginkan-Nya karena semata-mata agar engkau dapat menjadi hamba-Nya yang sejati, tetapi lain lagi jika Alloh Subhanahu wata'ala,  sendiri memberikan-Nya”

Sofyan terdiam, kemudian ia berkata lagi kepada Rabi’ah “Karena aku tidak dapat berbicara mengenai dirimu, maka engkaulah yang berbicara mengenai diriku”.

“Engkau adalah orang yang baik, kecuali dalam satu hal, yaitu engkau mencintai dunia, sedangkan engkaupun suka membacakan haidts-hadits !” Sofyan sangat tergugah hatinya dan berseru “Yaa Alloh ! kasihanilah aku”

Tetapi Rabi’ah mencela : “Tidak malukah engkau mengharapkan Alloh, sedangkan engkau sendiri tidak mengasihi Alloh?”

Pada suatu ketika Malik bin Dinar mengunjungi Rabi’ah. Dia menyaksikan Rabi’ah menggunakan gayung pecah untuk bersuci dan minum, sebuah tikar dan batu bata yang kadang-kadang dipergunakannya sebagai bantal. Menyaksikan itu semua hati Malik bin Dinar menjadi sedih.

“Aku mempunyai teman-teman yang kaya” kata Malik “Jika engkau menghendaki sesuatu, akan aku mintakan kepada mereka.”

“Malik, engkau telah melakukan kesalahan yang besar” jawab Robi’ah “Bukankah yang menafkahi aku dan menafkahi mereka adalah satu, yaitu Alloh”   “Ya” jawab Malik. “Apakah yang menafkahi orang-orang miskin itu lupa kepada orang-orang miskin karena kemiskinannya ?, dan apakah Dia hanya ingat kepada orang-orang kaya karena kekayaan mereka?” tanya Rabi’ah. “Tidak”  jawab Malik.

Robi’ah meneruskan, “ Jadi karena Dia Mengetahui keadaanku, bagaimana aku harus mengingat-Nya ? Beginilah yang dikehendaki-Nya, dan aku menghendaki seperti yang dikehendaki-Nya”.

KetikaRabi’ah harus meninggalkan dunia yang Fana'

Ketika tiba saatnya Rabi’ah harus meninggalkan dunia ini, orang-orang yang menungguinya meninggalkan kamarnya dan menutup pintu kamar itu dari luar. Kemudian mereka mendengar dari kamar Rabi’ah, “Wahai jiwa yang tenang dan damai ! kembalilah kepada Tuhanmu dengan berbahagia”. Setelah beberapa saat tidak ada lagi suara yang terdengar, mereka lalu membuka pintu dan mendapatkan Rabi’ah telah meninggal dunia.

Setelah Rabi’ah meninggal dunia, ada seseorang yang mimpi bertemu dengannya dan ia bertanya : “Robi’ah, bagaimana engkau menghadapi Munkar dan Nakir?”

Rabi’ah menjawab, “Kedua malaikat itu datang kepadaku dan bertanya : “Siapakah Tuhanmu?” Aku menjawab : “Pergilah kepada Tuhanmu dan katakan kepada-Nya : “Diantara berjuta-juta makhluk yang ada, janganlah engkau melupakan seorang wanita tua yang lemah, aku hanya memiliki Engkau di dunia yang luas ini, aku tidak pernah lupa kepada-Mu, tetapi mengapa Engkau mengirim utusan hanya sekedar menanyakan siapa Tuhanmu kepadaku”

Betapa berat dan murninya kadar keimanan yang dimiliki oleh Rabi’ah Al Adawiyah. Setiap langkah dan detak jantungnya dipergunakan untuk mengabdi dan mengingat kepada Alloh semata. Semoga iman Billah Rabi’ah tertanam pada diri kita semua Pengamal Wahidiyah, karena kita yakin bahwa Muallif Sholawat Wahidiyah mampu menanamkan iman Billah kepada pengikut-pengikutnya yang senantiasa meningkatkan mujahadah-mujahadah dan selalu menerapkan ajaran LILLAH-BILLAH, LIRROSUL-BIRROSUL, dan LILGHOUTS-BILGOUTS, serta selalu menghadiri dan melaksanakan apa yang telah digariskan Muallif Sholawat Wahidiyah. Baca Juga : CARA PENGAMALAN SHOLAWAT WAHIDIYAH SESUAI BIMBINGAN MUALLIF RA

wahidiyah

Semoga kita dikaruniai hati yang jernih, batin yang tenang dan kokoh, jiwa yang tenang sehingga berhasil wusul, sadar ma’rifat kepada Alloh Subhanahu wata 'ala wa Rosulihi Shollallohu 'alaihi Wasallam, suatu kondisi batiniyah yang menjamin keselamatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup lahir batin dunia dan akhirat yang mendapat ridho Alloh Subhanahu wata 'ala  Amin.

Inilah sekilas kisah perjuangan Ibu Robiah Al Adawiyah Seorang Sufi Wanita yang butuh kita contoh salah satu wanita yang tangguh dan patut untuk dicontoh, semoga bisa memberikan manfaat yang banyak bagi kita semua.