√ Kiat-Kiat Penyiaran Sholawat Wahidiyah -->

Islam

Kiat-Kiat Penyiaran Sholawat Wahidiyah

Ibnu Rusyd
Tuesday, October 8, 2019

Ad1

Ad2

Kiat-Kiat Penyiaran Sholawat WahidiyahBahwa suatu tindakan, pasti ada tujuan yang ingin dicapai, dan  untuk mencapai tujuan Kesadaran Penyiaran Wahidiyah tersebut pasti melalui beberapa proses dan tahap atau terdapat Kiat-kiat Penyiaran Sholawat Wahidiyah tentunya.

Adapun tahapan atau proses mencapai tujuan dalam Kiat-Kiat Penyiaran Sholawat Wahidiyah tentunya tidak lepas dari hasil dan pengalaman-pengalaman yang pernah dialami. Baca JugaMujahadah Wahidiyah Untuk Keamanan Ummat dan Masyarakat Jami' Al Alamin

Pengalaman adalah guru yang paling bijaksana, sebab pengalamanlah yang mampu menempa seseorang dalam menggapai tujuannya, tanpa pengalaman seseorang takkan dapat mendapat kiat-kiat yang jitu dan tak juga tahu jurus-jurus yang meng-KO penghambatnya.


Sholawat Wahidiyah
Kiat-Kiat Penyiaran Sholawat Wahidiyah
Orang bijak berkata : “Lain ladang lain belalang, lain danau lain ikannya”berarti lain tempat lain cara, lain orang lain bicara, lain tujuan lain kiatnya, lain padagang lain taktiknya.

Sholawat Wahidiyah adalah suatu wadah yang baru dalam mengemban ajaran Lillah-Billah, Lirrosul-Birrosul, dan Lil Ghouts-Bil Ghouts, dan setersunya bahwa setiap yang baru mendapatkan tantangan dari yang lama, walau sebaik apapun yang baru itu dan sejelek apapun yang lama. 

Rosululloh sendiri mendapat tantangan maha dahsyat dan supra hebat dari kalangan orang-orang lama, padahal yang baru itu lebih baik, lebih jernih, sedang yang lama sangat kotor dan batil.

Itukah kenyataan, fakta terbukti serta sejarah mencatatnya. Perjuangan pantang menyerah, berbagai kiat tersaji. Kerabat dekat sebagai batu pijakan perjuangan Beliau pertama, tertatih lambat berjalan, walau sering diterima dengan caci dan maki yang tidak manusiawi. Ajakan Beliau ditolak dengan berbagai cara menurut watak mereka, ada yang menolak dengan kasar bak bola api terlontar dalam telinga, itulah Abu Jahal dan Abu Lahab. Ada juga yang menolak dengan sopan bagai penuh harapan untuk diulang, namun tak juga terbuka pintu hatinya, itulah Abu Tholib si Paman tercinta. Baca JugaSejarah Singkat Muallif Sholawat Wahidiyah Ra.

Kalau kita menoleh dan melirik perjuangan Rosululloh SAW, cukuplah kiat-kiat Beliau Muallif Sholaawat Wahidiyah KH Abdoel Madjid Ma'roef RA dalam perjuangan Islam sebagai uswatun hasanah kita, dalam berkiat memperjuangkan SHOLAWAT WAHIDIYAH banyak sekali pengorbanan atau perjuangan yang tidak sedikit. 

Dalam kesempatan kali ini Wahidiyah.me berusaha mengupas tentang bagiamana Kiat-Kiat Penyiaran Sholawat Wahidiyah, untuk mengawali Kiat-Kiat Penyiaran Sholawat Wahidiyah diantaranya :

A. KIAT (TAKTIK)

Kiat dan taktik adalah semakna yaitu suatu tatacara untuk mencapai tujuan dengan melihat kesempatan yang ada, yang disesuaikan dengan situasi kondisi, baik kondisi personal atau kondisi masyarakat.

Kondisi sesorang akan berbeda dengan yang lain, karena perbedaan status sosial. Hal ini akan mudah dimengerti akan tetapi kondisi masyarakat sangat sukar dipahami karena kemajemukannya.

Seorang pejuang Wahidiyah harus jeli dan mampu membeda-bedakan perbedaan yang abstrak ini, sehingga tepat sasaran dan tepat bicara dalam  pensosialian SHOLAWAT WAHIDIYAH ini.

Ahli sepak bola bukan hanya kuatnya otot yang diandalkan, slidding dan teckling  dalam bermain bola sangat menentukan, mencuri kesempatan dan pemberian umpanpun sangat membantu dalam mengegolkan suatu harapan.

Kalau ahli perang bukan mengandalkan peluru saja, taktik mengecoh musuh adalah kiat yang maha jitu (lihat perang Saddam dan Amerika), oleh karena itulah Rosululoh SAW bersabda :

عن جابر رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :  الحرب خدعة متفق عليه

Artinya : Dari Jabir Ra, berkata: Rosululloh SAW bersabda : Peperangan adalah tipu daya. (Mutafaqun alaih).

Penyiaran Wahidiyah bukanlah sebagai perang, tetapi taktik penyiaran adalah taktik peperangan yang penuh siasat.

Dakwah Wahidiyah adalah sebagai perang urat saraf, dengan tekanan-tekanan secara kejiwaan yang berkepanjangan, bila ajakan kita ditolak. Tak jarang para Penyiar Sholawat Wahidiyah ini dihinggapi rasa stres, putus asa dan apatis pesimistis.

Jangan bangga penyiaran kita disambut, hati gembira, dada membusung bagaikan orang menang dalam peperangan. Namun juga jangan merasa kalah perang, dada menciut, muka terbuang, bak bumi tak ada tempat pijakan, manakala penyiaran Wahidiyah kita ditolak.

Ingatlah “kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda”, kegagalan adalah harta karun dibalik batu cadas, dikorek tangan yang panas ditinggal mana yang tega, sedikit demi sedikit itulah jalan terbaik dan terbijak, tangan tak payah harta karunpun terpeluk  mesra.

B. PENYIARAN

Penyiaran dari kosa kata siar yang diambil dari bahasa Arab Syi’ar, artinya ramai dengan penuh kebaikan.

Yang dimaksud “PENYIARAN” di sini ialah mensosialisasikan atau memasyarakatkan Wahidiyah di bermasyarakat, sehingga semua aspek hidup masyarakat selalu ber-Wahidiyah. Misalnya membaca Subhaanalloh, Astaghfirulloh dan Yaa Sayyidii Yaa Rosuulullooh, sebagai ucapan refleksitas keseharian mereka. Yang dengan demikian ini maka Wahidiyah menjadi Syi’ar, ramai dengan indah, semarak bertiup diindra pendengaran insani.

Kesiaran Wahidiyah terasa tergelar di mana-mana. Wahidiyah kumandang di waktu Subuh terasa sejuk bagai turun bersama embun pagi, sayup terdengar di pagi hari, bagai kicauan burung menyongsong sinar surya pagi, pujian-pujian Wahidiyah dikala senja, bagai penghantar sang matahari dalam melambaikan tangan untuk tenggelam dalam peraduannya, bila petang tiba maghribpun berlalu, mega merah menjadi kekuningemasan, tibalah waktu Isya’, Wahidiyahpun terkumandang dibalik adzan Isya’ terasalah Wahidiyah mengucap salam “Selamat tidur penggemarku”


Kiat-Kiat Penyiaran Sholawat Wahidiyah

Upayakan semua masyarakat untuk mendengar lantunan Wahidiyah. Bila ia sekali tak suka, bila dua kali ia tak merasa, bila tiga kali tak ada reaksi, itulah hati yang mati. Namun bila tiga kali ada kontras dan reaksi itulah saat yang tepat untuk membidikkan “penyiaran”. Sebab hatinya sudah tergoyang dan syi’ar Wahidiyah sudah membiusnya.

Demikian disabdakan Rosul SAW :

الحكمة ضالة المؤمنين حيث وجدها التقطها

Rosul SAW bersabda: “Kesempatan yang baik adalah harta temuan bagi mukmin, maka bila ia mendapatkannya jangan disia-siakan”.

C. KIAT-KIAT PENYIARAN 

Dalam penyiran Islam, Rosululloh SAW tak serampangan taktik dan kiat-kiat Beliau lalui dengan baik.

Bersuri tauladan kepada Beliau dalam penyiaran Wahidiyah sangatlah utama, sebab meniru yang baik berarti baik, dan meniru yang sukses adalah kesuksesan, tapi faktor orangnya sangat menentukan, demikian syair berkata :

فتشبهوا ان لم تكونوا مثلهم   #   ان التشابه بالرجال فلاح

Tirulah bila kau tak seperti mereka, sebab meniru orang yang baik adalah sebagai kebaikan.

Gambaran taktik penyiaran Islam Beliau adalah sebagai berikut :

1. Penyiaran di kalangan keluarga.

Alloh telah membimbing Beliau dalam penyiaran Islam, sebelum semua telinga kafirin mendengar Islam, Islam telah tersiar dulu dikalangan keluarga Beliau. Celakalah, bagi pejuang Wahidiyah yang justru keluarganya belum mencintai Wahidiyah, ia mendapat tantangan dari keluarganya sendiri dimana tantangan keluarga itu lebih menjegal perjuangan.

Oleh karenanya Alloh SWT menggariskan perjuangan Beliau dengan sabda :

قوا انفسكم واهليكم نارا   - التحريم. 6

Bebaskan dirimu dan keluargamu dari siksa neraka.

2. Penyiaran dikeluarga dekat / kerabat.

Setelah Beliau sukses penyiaran Islam dikalangan keluarga, Beliau melirik keluarga-kerabat dekatnya, paman, makcik, bibi dan saudara-saudara sepupu Beliau.

Bagai salesman dalam menjajakan barang, masuk pintu keluar pintu kata manis bahasa sopan, bahkan ditolak dan bentak, tak kan kendorkan kepalan tangan.

Bendera telah berkibar, lengan baju telah tersingsing, sekali melangkah pantang menyerah, demikian Ibnu Malik bersemboyan :

لا اقعد الجبن عن الهيجاء #  ولوتوالت زمرالاعداء

Takkan aku terduduk mundur dari medan tempur, walaupun berlapis-lapis rombongan musuh.

Penolakan penyiaran Islam oleh para kerabat Beliau, Beliau jadikan sebagai ancang-ancang dalam menerjang barisan penentang yang lebih besar dan dahsyat. Kiat ini diwahyukan oleh Alloh SWT : 

واتذر عشيرتك  الاقربين

Dan takut-takutilah kerabat-kerabat dekatmu. 

Bagi Penyiar Sholawat Wahidiyah supaya berkiat seperti ini, promosikanlah Wahidiyah-mu kepada kerabat dekatmu, ditolak itu biasa dan bila diterima itulah harapan.

3. Dakwah secara rahasia (Dakwah sirri)

Setelah keluarga dekat dan kerabat dekat Beliau tersiari Islam, langkah perjuangan Beliau diminta oleh Alloh untuk semua orang pada umumnya, sebagaimana firman Alloh SWT :

ياايهاالمدثر. قم فانذر. -المدثر. 1-2

Wahai orang yang berselimut, bangunlah ! dan takut-takutilah ! (orang-orang kafir) dari siksa Alloh.

Sasaran pertama para orang yang kenal kental, teman dekat, sahabat karib serta handai taulan. Para kaum du’afa tertindas, miskin papa adalah orang-orang yang radang hatinya, mudah diajak dialog karena mengharap “sang pembela”.

Disinyalir di Al-Qur’an kaum kaya dan orang yang berkedudukan itu congkak dan keras hati, demikian ayat menyebut :

كلا ,ان الانسان ليطغى ان رأه  استغنى - العلق  6-7

Jangan, Sekali-kali jangan. Sesungguhnya manusia itu pasti congkak apabila merasa dirinya kaya.

Sikaya sukar dipengaruhi, maka ia akan mengelak dengan berbagai dalih, sibuk kek, repot kek, bahkan belum sempat untuk berpikir. 

Kegigihan perjuangan belum tentu membuahkan hasil yang gemilang, lihat perjuangan Nabi Nuh As, 950 tahun berjuang hanya 80 orang yang beriman kepada Beliau. Namun nilai perjuangan bukan dilihat dari hasilnya, namun kesungguhannya. Nabi Sulaiman As. dengan waktu singkat orang sejagad tunduk kepada Beliau, namun Alloh tetap menobatkan Nabi Nuh As. Sebagai Ulul ‘azmi, tidak kepada Nabi Sulaiman As.

Demikian jualah perjuangan Wahidiyah, jangan melihat hasilnya bila tak ingin putus asa, walau kau ditolak dan dibentak itulah berlian adanya di sisi Alloh SWT. Rosuululloh SAW bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما دعوت  احدا الى الاسلام الا كانت له كبوة غير ابى بكر .

Tidak pernah aku mengajak masuk Islam kepada seseorang kecuali selalu menolak dan berbengong-bengong, kecuali Abu Bakar.

Bila Wahidiyah kau jajakan kepada seseorang, lalu dia menolak dan berbengong-bengong itulah Sunnatulloh.

4. Dakwah terang-terangan

Setelah Alloh SWT membimbing Beliau dalam langkah-langkah berjuang dan nampaknya Beliau sudah mapan dalam perjuangan, Alloh mengobarkan semangat juang, dengan firman-Nya :

فاصدع  بما تؤمر واعرض عن المشركين  - الحجر 94

Sigaplah apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang Musyrik.

Tanpa ragu Beliau kibarkan bendera perjuangan, Beliau tabuh genderang perang, tak takut resiko tapi penuh perhitungan. Reaksi Kafirin-pun cepat, sehingga Beliau dan para Pengikut diembargo ekonomi oleh orang kafir dan diasingkan di sebuah pegunungan kecil, 3 bulan lamanya.

Kiat ini yang paling banyak tantangan dan perlawanan, maka kepada saudara-saudara Penyiar Sholawat Wahidiyah yang berani mengambil kiat perang terbuka (Dakwah Jahr) ini harus siap ilmu, siap mental dan siap argumentasi. Mungkin anda akan diembargo dalam kehidupan sosial, diisolir dari masyarakat, demikian juga keluarga saudara.

5. Majelis Ta’lim / Pengajian

Dalam pengajian idaroh, atau pengajian secara anjangsana, maka undanglah tetangga dekat saudara, rasa uweh pekewuh bagi tetanggamu itulah yang mengharuskan mereka pasti datang, maka jebaklah mereka dengan pengajian-pengajian ala Wahidiyah.

6. Pergaulan yang baik

Kesupelan bergaul juga menentukan keberhasilan Penyiaran Wahidiyah dengan ngobrol kesana kemari, berbasa-basi, kemudian fokuskan obrolan ke Wahidiyah.

7. Orang upahan / pekerja

Seorang pekerja adalah orang yang benar-benar dalam posisi kalah, ia mudah dipengaruhi sehingga besar kemungkinan akan menerima untuk mengamalkan Sholawat Wahidiyah.

8. Dalam iven-iven tertentu

Misalnya dalam iven olah raga, tampilkan pemuda Wahidiyah untuk peserta olah raga Volly ball misalnya dengan kostum “Ikatan Volly Pemuda Wahidiyah Cabang…….”. 

Dalam iven ini bukan kalah atau menang, tetapi momentumnya yang amat tepat itulah tujuannya.

9. Kelompok-kelompok Pengajian

Seorang yang difigurkan sebagai kiai adalah sebagai panutan santrinya, baik santri tua atau muda maupun kanak-kanak, sebab masyarakat kita sangat-sangat paternalistis, apa-apa minta restu kiai.

10. Membagi-bagikan Lembaran Sholawat Wahidiyah secara cuma-cuma

Kiat ini berdampak amat positif, sebab dikala ia menerima lembaran ini diterima dengan tidak kontrol, seolah hatinya hanya berkata lembaran apa itu aku ingin tahu. 

Setelah dibuka dan dibaca ternyata Lembaran Sholawat Wahidiyah, dia tidak berani membuang sembarangan sebab itu Sholawat, membaca juga belum mau sebab belum cocok, akhirnya dibiarkan lembaran itu merana. Lain hari ditemukan lembaran itu dan harus dibuka lagi, demikian seterusnya yang akhirnya tergores dengan Wahidiyah.

“Banyak jalan menuju Roma” demikian pepatah berkata, yang artinya bahwa untuk mencapai tujuan banyak kiatnya, yang satu buntu yang lain bisa untuk berlalu.

Demikian juga dengan Penyiaran Sholawat Wahidiyah bagai seribu satu kiat, sehingga tak ada kata “tempatku sukar ditembus Wahidiyah”, itu kata pemalas yang harus dikikis diperjuangan Fafirruu ilalloh wa Rosuulihi SAW.

Lelaki banyak akal, Pejuang banyak kiat, bila anda sebagai lelaki pejuang, maka akal dan kiat adalah kehidupan sehari-hari.

Inilah sedikit yang bisa Wahidiyah.me utarakan tentang Kiat-Kiat Penyiaran Sholawat Wahidiyah bisa menjadikan tambahnya himmah kita  dalam perjuangan Wahidiyah khususnya dan juga tidak lepas dari kemauan dan dorongan mujahadah kita, sebagai pengamal Sholawat Wahidiyah. (MA)