√ Bimbingan Muallif Sholawat Wahidiyah Dalam Perjuangan Wahidiyah -->

Islam

Bimbingan Muallif Sholawat Wahidiyah Dalam Perjuangan Wahidiyah

Ibnu Rusyd
Wednesday, October 23, 2019

Ad1

Ad2

Bimbingan Muallif Sholawat Wahidiyah Dalam Perjuangan Wahidiyah - Muallif Sholawat Wahidiyah KH Abdoel Madjid Ma'roef Ra penyusun Sholawat Wahidiyah beserta ajarannya yang sudah kita ketahui yaitu Ajaran Wahidiyah : Lillah Billah Lirrosuul Birrosuul, Lil Ghouts Bil Ghouts, Yuktii Kulla Dzii Haqqin Haqqoh, dan Taqdiimul Aham Fal Aham Tsummal Anfa' Fal Anfa'.

Dalam kesempatan kali ini Wahidiyah.me menfokuskan dalam tulisan Bimbingan Muallif Sholawat Wahidiyah Dalam Perjuangan Wahidiyah yang meliputi: tentang Ketegasan beliau Muallif Sholawat Wahidiyah KH Abdoel Madjid Ma'roef RA terhadap Penyimpangan dalam Wahidiyah, Cara mentarbiyah beliau Muallif Sholawat Wahidiyah dan beberapa sikap Muallif Sholawat Wahidiyah dalam Perjuangan Wahidiyah. Baca JugaAkhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah

Muallif Sholawat Wahidiyah
Muallif Sholawat Wahidiyah
KETEGASAN MUALLIF SHOLAWAT WAHIDIYAH TERHADAP PENYIMPANGAN

Dalam hal ketegasan Muallif Sholawat Wahidiyah KH Abdoel Madjid Ma'roef RA kira-kira tahun 1970 terdapat kasus dalam tubuh Pusat Wahidiyah, tepatnya ada seorang pengamal namanya Bapak Fadlan dari Desa Mbening Ludoyo Blitar. Mereka termasuk pengamal yang tertua. Mereka mengadakan kegiatan sendiri di rumahnya dengan tata cara sendiri, ajaran dan sistem sendiri. Mereka dibantu seorang yang bernama Bastomi dari Bululawang

Disana mengadakan istilah KOMENWA (Komando Mental Wahidiyah), Bongkar Pasung, dan sebagainya. Akhirnya malah berani mengeluarkan pernyataan bahwa Sholawat Wahidiyah ibarat Sigar Semongko Separo (Belah Semangka Separo), di Kedunglo sebagai tempat teori, dan separo di Mbening sebagai tempat praktek. 

Semakin lama penyimpangan semakin membara, akhirnya Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA. mengutus H. Zaenal Fanani dengan bapak Mochtar Mbandar (Aim.) supaya mengingatkan Bapak Fadlan dan Cs-nya untuk mengikuti Pusat Wahidiyah. 

Setelah saya kembali, sowan kepada Beliau Muallif Sholawat Wahidiayh RA. melaporkan hasil tugas H. Zaenal Fanani dengan bapak Mochtar Mbandar (Aim.), bahwa mereka tidak akan mengikuti Pusat Sholawat Wahidiyah. 

Ketiak beliau Muallif mendengarkan laporan dari beliau H. Zaenal Fanani dan Bapak Mochtar Mbandar (Aim.) Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah Dawuh : 

"Kalau tidak mau mengikuti Pusat, inggih kajenge mlampah piyambak, nanging sampun ndamelSholawat Wahidiyah". 

(Kalau tidak mau mengikuti Pusat. ya biarlah berjalan sendiri, tapi jangan memakai Sholawat Wahidiyah). 

Setelah peristiwa tersebut kelompok Pak Fadlan Cs bubar total moril dan materil. "Na'udzubiilahimindzalik"

Logo Penyiar Sholawat Wahidiyah

sholawat wahidiyah

CARA MENTARBIYAH MUALLIF SHOLAWAT WAHIDIYAH RA

Dalam hal memberikan kuliah wahidiyah dalam acara Wahidiyah untuk Penderek (pengikut) supaya bicara dulu (memberikan kuliah lebih dahulu) sebelum Beliau Muallif Sholawat Wahidiayh RA, Jadi beliau yang terakhir. 

Beliau paring (memberikan) fatwa berisikan pembinaan peningkatan ajaran yang bijak dan halus, terutama bagi penderek (pengikut) yang bicara di muka pasti merasa dibetulkan, diluruskan, ditingkatkan. Kalau sedang kena batinnya, karena kesalahan, dalam kuliah rasanya malu, menyesal, sampai beberapa waktu baru hilang. 

Contohnya sebagai berikut : 

Bapak H. Zaenal Fanani pernah memberikan kuliah sebelum Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA. tentang penghuni neraka itu yang paling banyak adalah kaum wanita, sehingga kaum wanita banyak yang menangis. 

Setelah Bapak H. Zaenal Fanani, lalu Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA. memberikan kuliah dan menerangkan bahwa sifat laki-laki dan perempuan di dunia ini tidak sama dengan di akherat, meskipun di dunia wanita tetapi kalau hatinya selalu sadar itu lelaki diakherat. Sebaliknya walau di dunia fisiknya laki-laki, tetapi kalau tidak sadar hatinya, itu perempuan di akherat, akan termasuk penghuni neraka. 

Mendengar dawuh itu Bapak H. Zaenal Fanani merasa malu, bodoh dan gegabah. Rasanya seperti didhodhog di dalam dada, tapi di batin itu merasa senang karena merasa ditingkatkan pengertian Bapak H. Zaenal Fanani

Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah Ra KH Abdoel Madjid Ma'roef pernah dawuh :
  1. "Kalau ada amalan atau cara wushul kepada Allah yang lebih cepat dan lebih mudah dari pada Sholawat Wahidiyah, Saya dan keluarga dan seluruh pengamal Sholawat Wahidiyah, Saya ajak pindah kesitu. Hal ini bukan soal baru, tapi tiap-tiap orang besar, Nabi-nabi, Rasul-rasul semboyannya demikian semua".
  2. "Kalau ada orang yang mau merusak Sholawat Wahidiyah dari jauh mereka sudah hancur sendiri ".
  3. Saya yakni H. Zaenal Fanani, pernah mendengar dhawuh Beliau RA. akan mengadakan jama'ah Mujahadah orang-orang buta, lama saya nanti-nanti kapan hal itu terjadi, akhirnya saya sadar bahwa saya bodoh. Yang dimaksud beliau orang buta itu adalah orang buta hati. 

Dikisahkan oleh KH. Moh. Ruhan Sanusi:

Beliau KH. Moh. Ruhan Sanusi dipanggil oleh Muallif Sholawat Wahidiyah RA KH Adoel Madjid Ma'roef RA untuk diajak ke Jamsaren, di perjalanan KH. Moh. Ruhan Sanusi banyak didhawuhi Muallif Sholawat Wahidiyah RA KH Adoel Madjid Ma'roef RA, misalnya tentang nonton bioskop. Muallif mengajak nonton di Gedung Bioskop Garuda. 

Di situ beliau menjelaskan bahwa hakikat dari bioskop itu adalah karena adanya sinar dari proyektor, kalau sinar dilepas, maka bioskop tidak ada, begitu juga makhluk ini ada karena adanya sorotan dari Allah SWT. Apabila sorotan dari Allah SWT itu tidak ada, maka makhluk juga tidak ada, adanya makhluk karena diwujudkan oleh Allah SWT. Baca Juga : Biografi Singkat Romo KH Moh Ruhan Sanusi

BEBERAPA SIKAP MUALLIF SHOLAWAT WAHIDIYAH RA.

Dalam hal ini yakni beberapa sikap Muallif Sholawwat Wahidiyah RA kami sampaikan secara singkat dan padat yaitu sebagai beirkut : 

  1. Sehubungan dengan dana box, beliau muallif men-dhawuh-kan dilaksanakan tiap hari lebih utama ketimbang sekali waktu walau jumlahnya sama besar.
  2. Mujahadah 40 hari itu batas minimalnya seperti di lembaran, sehingga kalau jumlahnya lebih banyak dari jumlah yang ada di lembaran, diperbolehkan.
  3. Dalam setiap bepergian beliau muallif RA. sangat membatasi untuk berbicara.
  4. Tiap bulan Ramadhan ba'da Isya' beliau membaca al-Qur'an 2 juz . 

Itulah sekilas tentang Bimbingan Muallif Sholawat Wahidiyah Dalam Perjuangan Wahidiyah meliputi Ketegasan Muallif Sholawat Wahidiyah Terhadap Penyimpangan, Cara Mentarbiyah Muallif Sholawat Wahidiyah Ra dan Beberapa Sikap Muallif Sholawat Wahidiyah Ra. yang Wahidiyah.me sampaikan, semoga bermanfaat khususnya dalam perjuangan Kesadaran Fafiruu Ilalloh Wa Rosuulihii Sholallohu 'Alaihi Wasallam.