√ Amanat Muallif Wahidiyah KH Abdoel Madjid Ma'roef, Ra Tentang Keseragaman Mujahadah

Islam

Amanat Muallif Wahidiyah KH Abdoel Madjid Ma'roef, Ra Tentang Keseragaman Mujahadah

Ibnu Rusyd
Friday, October 25, 2019

Ad1

Ad2

Amanat Muallif Wahidiyah KH Abdoel Madjid Ma'roef, Ra Tentang Keseragaman Mujahadah - Keseragaman Mujahadah dalam Sholawat Wahidiyah tentunya tidak lepas dari adanya Tuntunan Mujahadah yang mengaturnya.

Dalam kesempatan kali ini sedikit akan kami utarakan tentang Amanah Muallif Wahidiyah KH Abdoel Madjid Ma'roef, Ra tentang Keseragaman Mujahadah dalam Wahidiyah. Baca Juga : Bimbingan Muallif Sholawat Wahidiyah Dalam Perjuangan Wahidiyah

Muallif Wahidiyah KH Abdoel Madjid Ma'roef, Ra.
Muallif Wahidiyah KH Abdoel Madjid Ma'roef, Ra.
Amanat Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA tentang Keseragaman Mujahadah

Amanat Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA tentang keseragaman Mujahadah pada saat Pengajian Al-Hikam dan Kuliah Wahidiyah hari Ahad pagi tanggal 22 Januari 1978 yang dimuat dalam Buku Pengajian Al-Hikam & Kuliah Wahidiyah edisi 27 sebagai berikut :

”Pokoknya yang penting kita harus senantiasa mengoreksi kepada pribadi dalam segala bidang. Umpamanya, maaf, dalam mujahadah. Mestinya ketika kita mujahadah berjamaah sebagai makmum, bacaan kita harus lebih rendah, lebih pelan dari bacaan imam. Dan kedua : membacanya tidak boleh mendahului bacaan imam. Ini perlu kita perhatikan. Sebab ini soal adab! Apa yang difirmankan Allloh di dalam Al-Qur’an itu tidak hanya untuk Kanjeng Nabi Muhammad Sholallohu 'Alahi Wasallam  saja. Segala imam agama, segala imam ibadah, itu menurut contohnya. Rosuululloh Sholallohu 'Alahi Wasallam adalah suatu contoh, harus diikuti".

Dalam Al Qur'an Surat Al Hujurat Ayat ke-2

Sholawat Wahidiyah


Artinya : "(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi dari suara Nabi, dan jangan kamu bersuara keras terhadap kepadanya seperti kerasnya antara yang satu ter-hadap yang lain. Jangan-jangan amal-mu sekalian terhapus dan kamu tidak merasa".

“Ayat tersebut sekalipun ditujukan kepada Kanjeng Nabi  , tapi merupakan juga sebagai tuntunan. Ketika kita makmum mujahadah, lebih-lebih makmum dalam sembahyang, seperti dijelaskan di dalam hukum fiqih, makmum jangan mendahului imam! Harus di belakang imam bacaannya, dan suaranya pun harus lebih rendah dari suara imam! La ini kita harus mengingatkan dalam segala bidang sekalipun soal remeh, soal yang ringan!”

Muallif Sholawat Wahidiyah Ketika menjadi Imam dalam Mujahadah

Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah, Ra, setiap meng-imami mujahadah (ber-jama’ah) mengenai nada, lagu, waqaf (berhenti), dan washalnya selalu tetap (tidak berobah) kecuali sedikit sekali. Baca Juga : Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah

Logo Penyiar Sholawat Wahidiyah

Logo Wahidiyah

Dengan ini dan dengan peringatan Beliau di atas berarti pelaksanaan mujahadah berjama’ah bagi para Pengamal Waidiyah harus seragam sebagaimana yang dituntunkan oleh Belau Muallif Sholawat Wahidiyah, Ra. Baca Juga : Perjuangan Penyiar Sholawat Wahidiyah

Dalam kesempatan yang berbeda Wahidiyah.me akan menyajikan hal-hal yang mendukung terlaksananya keseragaman dalam Mujahadah Wahidiyah.