√ Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah

Islam

Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah

Ibnu Rusyd
Wednesday, October 2, 2019

Ad1

Ad2

Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah

Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah - Seorang sosok yang butuh kita teladani yakni KH Abdoel Madjid Ma'roef Muallif Sholawat Wahidiyah sebagai Pengarah Sholawat Wahidiyah yang pempunyai Akhlakul Karimah sebagaimana Rosuululloh Sholallohu 'alaihi Wa Sallam.

Beliau KH. Abdul Majid Ma'roef, sebagai Muallif sholawat Wahidiyah adalah sosok yang yang sangat sederhana dalam kehidupannya yang butuh kita tiru khususnya para Pengamal Sholawat Wahidiyah. PadaKesederhanaan Beliau Muallif tercermin dalam kehidupan sehari-hari dan tidak pernah sedikitpun mengajarkan kemewahan dan kemalasan.
Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah
Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah
kalau kita lihat dalam Cara berpakaian Muallif Sholawat Wahidiyah RA selalu sederhana, rapi dan sopan, sering terlihat mengenakan baju takwa warna putih. Kalau pergi untuk bersilaturahmi sering mengenakan celana panjang dan baju hem yang dimasukkan. Dari cara berpakaian beliau yang sederhana tersebut menyebabkan kebanyakan tamu heran (tidak seperti umumnya para kyai besar dalam berpakaian, seperti mengenakan jubah, sorban, dll).

Dalam kesempatan kali ini Wahidiyah.me berusaha menyajikan tentang Akhlakul Karimah dan Keteladanan Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah KH Abdoel Madjid Ma'roef RA untuk bisa dijadikan bacaan dan bisa kita praktekan Akhlak dan keteladanan beliau dan apa-apa yang nanti Wahidiyah.me uraikan tentang Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah bisa dipraktekkan lebih-lebih para Pecinta Beliau Rosuululloh Sholallohu 'Alaihi Wa Sallam. 

Maka dalam hal Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah yang berusaha Wahidiyah.me sampaikan tentang beberapa uraian yang serba singkat diantaranya : 
  • Tenggang Rasa Muallif Sholawat Wahidiyah RA
  • Kemurahan Hati Muallif Sholawat Wahidiyah RA
  • Ketegasan Muallif Sholawat Wahidiyah RA
  • Kepemimpinan Muallif Sholawat Wahidiyah RA

Semoga apa yang Wahidiyah.me sampaikan dan utarakan hanya sekedar sekilas bisa memberikan banyak manfaat khususnya bagi para Pengamal Sholawat Wahidiyah.

Tenggang Rasa Muallif Sholawat Wahidiyah RA

Akhlakul Karimah dalam bertetangga sangatlah penting kita terapkan dengan sebagik-baiknya, diantaranya dengan mencontoh Akhlakul Karimah Ulama/ Tokok atau kekasih Alloh yang dilihat Aklakul karimahnya bisa kita contoh lebih-lebih kita sebagai ummat Beliau Rosuulillah mencontoh Aklak Rosuulillah Sholallohu 'Alaihi Wa Sallam. 

Dalam kesempatan kali ini Wahidiyah.me berusaha mensajikan Akhlakul Karimah Muallif Sholawat Wahidiyah RA dalam bertetangga. Lansung saja pada suatu waktu ada acara di Jombang di rumah mertuanya Bapak H. Moh. Sifa', beliau disediakan tempat sare (tidur) di kamar lengkap dengan kasurnya, sedangkan penderek (pengikut) tidur di lantai. Di tengah malam beliau memeriksa keadaan para pendereknya, akhirnya beliau tidur diatas lantai dalam kamar.

Pernah dalam perjalanan beliau menyulutkan rokok untuk sang sopir, malahan menurut suatu cerita Pak Mahbub Fatah sebagai sopirnya ketika anderek-aken (mengantarkan) beliau ke Jakarta dalam rangka penyiaran, mereka merasa haus tetapi tidak berani mengungkapkannya. Tahu-tahu beliau memberi sebuah apel untuk pak Mahbub untuk dimakan sambil menyetir. 

Pernah ada seorang pengamal (keluarga Beliau RA) yang usul supaya beliau ngagem ageman (memakai pakaian) yang baik dan mahal, jawab beliau "Saya perasaan dengan teman-temanku pusat".

Dikisahkan dari KH. Zaenal Fanani, sekitar tahun 1969 pernah nderek (ikut) Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA ke desa Bandar Kidul (Kyai Mundir) dengan naik becak. Beliau Muallif di sebelah kanan, KH. Zaenal Fanani disebelah kiri, di tengah jalan kampung yang sempit lagi gelap dan sunyi becak terguling. KH. Zaenal Fanani di bawah beliau, KH. Zaenal Fanani bingung kalau bangun untuk menolong Beliau Muallif tentu akan jatuh ke tanah, sedangkan situkang becak melarikan diri ketakutan. 

Akhirnya Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah berusaha keluar dari becak dan KH. Zaenal Fanani menyusulnya. Pagi harinya Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah mengutus Jeng Hanik (Putrinya) ke rumah KH. Zaenal Fanani, katanya : "Saya disuruh Bapak untuk mohon maaf, karena tadi malam Bapak menindih kamu", spontan KH. Zaenal Fanani meneteskan air mata karena terharu akan budi luhur beliau.

Pada waktu ramai-ramainya orang mencari barang-barang antik dan harta karun (emas, mutiara, merah delima dsb.), waktu itu ada informasi bahwa di lokasi Kedunglo (Kediri) ada sebuah merah delima milik Mbah Kyai Haji Ma'ruf (Ayah Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA.). Kemudian ada orang yang minta izin pada beliau untuk mengambil merah delima tersebut. Jawab Beliau : "Menawi merah delimo dipundut, kulo kok perasaan kalian jin ingkang sami njagi" (Kalau merah delima diambil, saya kok perasaan dengan jin yang menjaga). Bayangkan, pernahkah kita mendengar tenggang rasa sedalam itu, padahal merah delima itu milik ayah beliau.


Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah


Dikisahkan KH. Zaenal Fanani :
"Saya H. Zaenal Fanani tanggal 11 Mei 1986 mulai sakit rematik yang sampai sekarang (waktu menulis - red) belum sembuh seratus persen. Pada suatu hari datang seorang pengamal, Edi namanya (masih ada hubungan keluarga dengan Beliau Muallif RA.) Begitu datang di rumah saya, mereka langsung menangis, setelah reda tangisnya mereka cerita : "Aku baru sowan Romo Yai, beliau berkata : "Yai Zaenal sakit, apa kamu sudah menjenguk? Biasanya kalau akan Mujahadah Kubro saya mesti sakit, tapi sekarang kok Kyai Zaenal yang sakit, apa mengganti sakit saya?" Edi menangis, sayapun ikut menangis karena haru dan gembira, yang mana saya dibebani memikul tugas yang berat tapi mulia. Selama sakit mulai tanggal 21 Mei 1986 amat banyak tarbiyahnadroh yang dikirimkan kepada saya. Di waktu sakit saya mohon tanya : "Apakah saya harus berobat?" Jawab Beliau "Lhaa inggih kangge ngisi bidang". (Lhaa iya untuk mengisi bidang).

Kemurahan Hati Muallif Sholawat Wahidiyah RA

Dalam Kehidupan tentunya banyak tantanga dalam kehidupan, begitu juga beliau Muallif Sholawat Wahidiyah, dalam hal ini tentunya betuh kita ketahui tentang kemurahan hati Muallif Sholawat Wahidiyah itu seperti apa.

Dalam keseharian Muallif Sholawat Wahidiyah adalah menerima tamu, Beliau tidak pernah menolak tamu, siapapun dan kapanpun waktunya. Beliau selalu menerima tamu dengan ramah dan tidak pernah mengecewakan tamu tersebut. Beliau juga terkadang menyelingi obrolan beliau dengan candaan, tetapi tidak berlebihan sehingga tidak menimbulkan tawa yang keras. Banyak cerita dari orang-orang yang bertamu ke beliau bahwa sebelum mereka mengutarakan maksud atau masalah mereka beliau telah menjawab terlebih dahulu.

Dalam menghormat tamunya, Muallif senantiasa berusaha menyesuaikan dengan kebiasaan tamunya. Bila tamu tersebut merokok, maka muallif-pxm ikut merokok bahkan menyalakan pemantiknya, walaupun Muallif sendiri jarang merokok. 

Setiap tamu yang datang dengan meminta restu atas segala hajatnya, muallif-pxm tidak pernah menyampaikan hal buruk (tidak boleh), tapi menyampaikan "nggeh sae" dan disarankan untuk memperbanyak membaca kalimah "Yaa Sayyidi Yaa Rosullalloh".

Dikisahkan pernah suatu saat ada tamu dari Jakarta yang bertanya tentang Wahidiyah. Tamu itu datang ketika waktu ashar. Kemudian beliau menjelaskan panjang lebar pada tamunya sehingga waktu mendekati maghrib. Karena mengetahui maghrib akan tiba, tamu tersebut mohon diri pada beliau dengan maksud ingin mengikuti jama'ah sholat maghrib yang diimami oleh beliau. Setelah tamu itu keluar, beliau lalu kebelakang kemudian beliau memukul bedug (jika beliau memukul bedug itu artinya beliau tidak bisa mengimami sholat dan menyerahkan kewajiban imam kepada para pengurus). 

Setelah usai sholat maghrib tamu tadi kembali ke ndalem beliau untuk pamit. Sesampainya di ruang tamu dia terkejut karena ternyata supirnya telah disana. Ketika dia ditanya apakah dia masuk karena dia disuruh, supir itu menjawab bahwa dia masuk dengan keinginan dia sendiri. Kemudian dia masuk dan ngobrol dengan beliau sehingga beliau tidak bisa mengimami sholat maghrib. Saat itulah tamu itu mengetahui alasan mengapa beliau tidak mengimami sholat maghrib, ternyata setelah dia keluar untuk ke masjid sopirnya masuk menemui beliau. Ini menunjukkan bahwa beliau sangat menghormati tamu-tamu beliau, siapapun dia. 

Kemurahan hati Muallif dikenal begitu besar dalam semua bidang. Demikian juga ketika muallif merespon isu dan fitnah terhadap dirinya dan Wahidiyah, beliau hanya mengatakan agar mereka mendapatkan balasan yang baik -mendapat hidayah Pen. Nasehat serupa juga disampaikan kepada para pengikutnya, agar selalu memandang sisi positif terhadap mereka yang belum berkenan dan atau tidak menerima Wahidiyah.

Berikut disampaikan catatan sejarah yang terjadi di Tulungagung Jawa Timur Pada Tahun 1968. Saat itu pengontrasan/penolakan ulama yang dipelopori KH. Mahrus Ali masih begitu kencang dan kuat.

Di Desa Tanjungsari yang waktu itu merupakandaerah dengan tingkat kerusakan moral sangat parah yang ditandai merajalelanya perilaku pencurian, perjudian, perzinahan dan perbuatan menyimpang lain. Melihat kenyataan tersebut seorang tokoh bernama Abd. Syukur merasa khawatir dan kemudian mendiskusikannya dengan KH. Zainal Fanani (waktu itu KH. Zainal baru menetap di Tanjungsari) untuk mencari ulama yang dinilai mampu memberikan pencerahan moral kepada masyarakat sekitar. 


K Zainal Fanani - Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah
K Zainal Fanani - Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah
Dari diskusi tersebut kemudian menyepakati untuk menghadirkan muallif dalam sebuah pengajian umum. Singkat cerita, muallif-pun bersedia dengan syarat harus diadakan pengamalan wahidiyah selama 40 Hari. Tamat 40 hari sebelum kerawuhan (kedatangan) Beliau RA, panitia mengadakan siaran ke desa-desa tetangga dengan kendaraan dokar waktu itu, bahwa di Tanjungsari akan diadakan pengajian umum oleh KH. Abdul Madjid, di samping itu diberikan juga undangan kepada para kyai sekitarnya, termasuk Kyai Abd. Hadi dari Ploso Kandang tetangga desa Tanjungsari. 

Alhamdulillah hadirin cukup banyak, dan dalam pengajiannya Muallif menerangkan dan mengajarkan Sholawat Wahidiyah. Kyai Abdul Hadi pun diberi lembaran Sholawat Wahidiyah, namun menjawab "Aku besuk kari-kari bae" (Aku besok belakangan saja). Rupanya mereka lapor atasannya (Syuriah NU), dalam hal ini Bapak Kyai Makhrus Ali dari Lirboyo. Dan di sana dijawab bahwa Sholawat Wahidiyah itu batal, sesat, haram diamalkan. Sampai-sampai di Pondok Lirboyo ditulis lebih kurang "HARAM MENGAMALKAN SHOLAWAT WAHIDIYAH" Dan supaya dianjurkan kepada seluruh anggota NU lewat Cabang-cabang dan Anak Cabang sampai Ranting-rantingnya. 

Suasana masyarakat menjadi ramai akan adanya siaran larangan tersebut, walaupun masyarakat belum tahu apa itu Sholawat Wahidiyah. Adapun masyarakat Tanjungsari dan sekitarnya yang terdiri dari rakyat biasa, ABRI juga  ada jumlahnya  ± 200  orang  yang  sudah terlanjur mengamalkan lembaran 40 hari, dan sedang berjalan 20 hari. 

Dari pihak yang kontras semakin marah sehingga mengadakan pengajian umum di Masjid Ploso Kandang tepi jalan raya jurusan Blitar. Dihadiri Kyai dari Kediri dan Kyai Abdul Hadi juga ikut bicara yang maksudnya melarang mengamalkan Sholawat Wahidiyah, malahan ada kata-kata yang tidak patut didengar, antara lain : 

"Wahai si A dan si B dan si C, jangan amalkan Sholawat Wahidiyah karangannya Kyai Majid, yang mengaku pernah bertemu Kanjeng Nabi Sholallohu 'Alaihi Wa Sallam dan Nabi Khaidir yang tidak mungkin karena dia masih makan nasi dll, itu hanya rekayasa untuk mencari uang saja". 

Kata-kata yang lebih parah lagi : 

"Pokoknya jangan ikut celeng boloten" 

dan banyak lagi perkataan yang menghina, melecehkan dan menfitnah Muallif Akhirnya pengamal Sholawat Wahidiyah Tanjungsari yang sedang 40 harian berkumpul musyawarah memutuskan untuk mengirim utusan ke Muallif dengan maksud melaporkan peristiwa yang baru terjadi, pada waktu itu yang menjadi utusan, Bpk. Syukur ditemani seorang. 


Waktu itu masih sukar kendaraan, akhirnya nunut (ikut) truk, sampai di Kedunglo tengah malam terpaksa mengetuk pintu rumah Muallif. Setelah bertemu, Muallif Sholawat Wahidiyah RA berkata : "Ada apa Pak Syukur malam-malam datang ?" Pak Syukur kemudian menjelaskan apa adanya, sampai melaporkan kata-kata "Ojo manut celeng boloten"

Setelah menerima laporan dan pengaduan tersebut, muallif justru berkata: 

"Mugo-mugo Piyambake Kuwalat Sae" 

bahkan Muallif juga menambahi dengan, "kedahipun kito matur nuwun. Jalaran, kito lak lajeng mundhak mempeng mujahadah to?" 

(Semoga dirinya kuwalat yang baik. Malahan, seharusnya kita berterima kasih. Sebab kita kan lantas lebih tekun bermujahadah).

Sebetulnya para jama'ah kecewa akan jawaban Muallif yang pemurah itu, tapi al hamdulillah pengamalan terus di laksanakan sampai 40 hari, padahal situasi waktu itu amat mengerikan, setiap ada mujahadah para pengontras selalu mengacau sehingga hampir perang fisik.


Di sisi lain mereka yang menolak Sholawat Wahidiyah mengadakan pertemuan di Balai Rakyat Tulungagung, untuk musyawarah tentang Wahidiyah. Beberapa Kyai yang datang antara lain Kyai Karang Kates Kediri dan dari Tulungagung dll. Dalam acara itu ada Kyai yang cerita bahwa dia menemui beliau Muallif RA. seraya bertanya : 

"Sholawat Wahidiyah itu dari mana ?

Dijawab oleh Muallif dengan kata singkat dan bijaksana

"Karangan saya sendiri".  

Ketegasan Muallif Sholawat Wahidiyah RA

Beliau Muallif RA. merupakan pribadi yang memiliki kesempurnaan akhlak. Dalam hal perjuangan Wahidiyah, apabila ditemukan pelbagai penyimpangan, maka tidak segan-segan Muallif menunjukkan ketegasannya.

Sebagai perenungan, perlu diungkapkan bahwa sekitar tahun 1970 terjadi penyimpangan dalam tubuh Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat, tepatnya ada beberapa orang pengamal generasi pertama, termasuk Bapak Fadlan dari Desa Mbening Ludoyo Blitar. Mereka mengadakan kegiatan sendiri di rumahnya dengan tata cara sendiri, ajaran dan sistem sendiri. Mereka dibantu seorang yang bernama Bastomi dari Bululawang. Disana mengadakan istilah KOMENWA (Komando Mental Wahidiyah), Bongkar Pasung, dan istilah lain. 

Hingga pada titik akhir, mereka mengeluarkan pernyataan bahwa Sholawat Wahidiyah ibarat Sigar Semongko Separo (Belah Semangka Separo), di Kedunglo sebagai tempat teori, dan separo di Mbening sebagai tempat praktek. Semakin lama penyimpangan semakin membara. 

Akhirnya Muallif mengutus KH. Zaenal Fanani dengan bapak Mochtar (Bandar Kediri) supaya mengingatkan bapak Fadlan beserta kelompoknya untuk mengikuti bimbingan Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat. Setelah muallif menerima laporan bahwa mereka tidak akan mengikuti Pusat Sholawat Wahidiyah, Beliau dhawuh: 

"Kalau tidak mau mengikuti Pusat, inggih kajenge mlampah piyambak, nanging sampun ndamel Sholawat Wahidiyah"

(Kalau tidak mau mengikuti Pusat, ya biarlah berjalan sendiri, tapi jangan memakai Sholawat Wahidiyah). 

Setelah peristiwa tersebut kelompok KOMENWA bubar total moril dan materiil. 

Ketegasan Muallif tersebut memberikan pemahaman bahwa semua kegiatan yang mengatasnamakan Wahidiyah harus sesuai dengan bimbingan dan ketentuan yang telah digariskan oleh Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat.

Diceritakan pula bahwa sikap Muallif dalam membubarkan MPW yang dianggap menghambat perjuangan Wahidiyah merupakan bagian dari ketegasan beliau dalam mengambil keputusan demi perjuangan Wahidiyah.

Menanggapi maraknya penolakan terhadap Sholawat Wahidiyah, sekali lagi Muallif  Sholawat Wahidiyah menunjukkan ketegasannya dengan dhawuh bahwa: 

"Kalau ada orang yang mau merusak Sholawat Wahidiyah dari jauh mereka sudah hancur sendiri"

Jelas ini merupakan sikap muallifyang masih mentoleransi adanya penolakan, namun beliau tidak mentoleransi apabila menjurus pada sikap perusakan.

Kepemimpinan Muallif Sholawat Wahidiyah RA

Menurut beberapa sumber, Muallif disebut memiliki sifat kamal, yang berarti lebih mengutamakan kasih sayang dan pemaaf ketimbang pemaksaan kehendak. Muallif juga tidak pernah menunjukan otoritasnya sebagai tokoh sentral yang paling dimuliakan dikalangan pengamal Sholawat Wahidiyah. 

Beliau senantiasa mengedepankan musyawarah dengan bapak-bapak pusat setiap kali mendapatkan laporan atau diminta pendapat (dhawuh) tentang Kewahidiyahan.

Ketika mengambil keputusan, Muallif merupakan sosok yang tenang dan tidak terburu-buru. Dalam masalah tertentu, muallif lebih memilih memaafkan dan selalu memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, walaupun beliau memiliki kompetensi untuk mengambil sebuah tindakan. 

Dalam memimpin keluarga, Muallif selalu membina berdasarkan kesesuaian dengan karakter masing-masing anggota keluarga. Misalkan dengan Agus Latif beliau lebih sering mengajak diskusi. Sedangkan dengan Agus Hamid beliau lebih sering mengajak untuk mujahadah. 

Dalam hubungan dengan para santri, beliau lebih mempercayakan para santri kepada para pengurus. Beliau juga tidak pernah memarahi santri meskipun mereka bersalah, melainkan hanya mengingatkan dengan bijaksana dan biasanya disampaikan secara umum diforum terbuka.

Menurut KH. Ihsan Mahin, kepribadian Muallif diibaratkan seperti halnya : 

bumi yang memberikan pelayanan kepada siapapun tanpa pamrih, hormat kepada siapapun, dan ramah kepada siapapun

Muallif dinilai tidak membeda-bedakan siapapun hanya karena kelas sosial, kegamaan, ekonomi ataupun jabatan. 

Itulah sekilas Akhlakul Karimah dan Keteladanan Muallif Sholawat Wahidiyah yang dianatranya, Tenggang Rasa Muallif Sholawat Wahidiyah Ra, Kemurahan Hati, Ketegasan, dan kepemimpinan Muallif Sholawat Wahidiyah RA semoga bisa kita contoh sebagiamana yang telah diberikan oleh Muallif Sholawat Wahidiyah.