√ Psikologi Perkembangan Anak Dalam Pengamalan Sholawat Wahidiyah -->

Islam

Psikologi Perkembangan Anak Dalam Pengamalan Sholawat Wahidiyah

Ibnu Rusyd
Sunday, September 8, 2019

Ad1

Ad2

Psikologi Perkembangan Anak Dalam Pengamalan Sholawat Wahidiyah

Psikologi Perkembangan Anak Dalam Pengamalan Sholawat Wahidiyah - Pada kesempatan yang sangat tepat ini kami inggin mengkaji tentang Psikologi Perkembangan Anak dalam Pengamalan Sholawat Wahidiyah yang sebelumnya sudah kita maklumi bersama yang mana karena Psikologi pada perkembangan Anak sangatlah penting kita ketahui, oleh sebab itu tidak ada salahnya kita kaji bersama tentang Psikologi Perkembangan Pada Anak dalam Wahidiyah.

Untuk mengawali pada kesempatan mengkaji pada Psikologi Perkembangan Anak dalam Perjuangan Sholawat Wahidiyah, terlebih dulu memohon hidayah dan taufiq Alloh Subhaanahu Wata’aala, syafa’at Rosuululloohi Shollalloohu ‘Alaihi wasallam dan barokah nadhroh Ghoutsi haadzaz zamaan Rodliyalloohu ‘Anhu. Dengan harapan Pembinaan kanak-kanak Wahidiyah yang merupakan bagian dari perjuangan Wahidiyah dapat di laksanakan seoptimal mungkin. Kurangnya pembinaan kanak-kanak Wahidiyah berarti merosotnya perjuangan Wahidiyah, sebab kanak-kanak sebagai kader penerus perjuangan Wahidiyah di masa mendatang pembinaan kanak-kanak Wahidiyah ini tidak akan mencapai hasil yang optimal, jika para pembinanya tidak ditingkatkan kemampuannya baik aqliyah ataupun dzauqiyahnya. Baca Juga : Revitalisasi Mujahadah Usbuiyah Kanak-Kanak


Psikologi Perkembangan Anak Dalam Pengamalan Sholawat Wahidiyah
Psikologi Perkembangan Anak Dalam Pengamalan Sholawat Wahidiyah
Sehubungan dengan itu para pembina kanak-kanak perlu membekali diri dengan berbagai ilmu yang menunjang keberhasilan tugas pembinaan tersebut. Diantara ilmu yang dipelajari ialah ilmu jiwa anak atau Psikologi Perkembangana Anak. Ilmu ini memaparkan gejala-gejala kejiwaan atau tingkah laku anak, sehingga para pembina itu dalam penyampaian materi sesuai dengan sikon kejiwaan anak, maka dalam kesempatan ini akan berusaha menyajikan tentang Psikologi Perkembangan Anak Dalam Pengamalan Sholawat Wahidiyah.

Anak-Anak dalam Undangan-Undang Negara

Perlu kita ketahui sebelum melanjutkan pembahasan tengitang Psikologi Perkembangan Anak Dalam Pengamalan Sholawat Wahidiyah, apa itu yang dimaksud anak dalam undang-undang negara nomor : 23 tahun 2002 Bab I pasal 1:1, tentang perlindungan anak. Bahwa : 
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun termasuk anak dalam kandungan.

Jadi menurut undang-undang tersebut anak usia dini atau TK, anak usia SD dan anak usia SMP masuk kategori anak yang mendapat perlindungan khusus.

Dalam wahidiyah.me ini, penulis tidak memaparkan secara keseluruhan gejala kejiawaan atau tingkah laku anak, namun hanya memaparkan gejala kejiwaan anak yang dapat memudahkan para pembina khususnya Pembina Kanak-Kanak Wahidiyah dalam melaksanakan tugasnya sebagia bembina Kanak-Kanak Wahidiyah.

Kesempatan yang sangat tepat ini dalam Wahidiyah.me akan sedikit banyak memaparkan gejala-gejala kejiwaan anak yang disampaikan oleh para ahli ilmu jiwa seperti : 
  • Dr. YULIANI NURONI SUJIONO, M.Pd bukunya berjudul KONSEP DASAR PENDIDIKAN ANAK USIA DINI 
  • Dr. H. SAMSU YUSUF LN., M.Pd bukunya berjudul PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANAK DAN REMAJA 
  • Drs. H. AHMAD FAUZI bukunya berjudul PSIKOLOGI UMUM
FASE USIA DINI/USIA TK

Pengertian Usia Dini



Pada Fase Usia Dini atau pada Umumnya pada waktu Anak Usia Kelas TK seorang anak yang usia dini adalah seseorang individu yang sedang menjalani proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan elanjutnya. 
Kita ketahui bahwa Dalam UU nomor 22 tahun 2003 pasar 28 : 1, tentang sistim penindidikan nasional menyebutkan : 

Pendidikan anak usia dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan merupakan prasarat untuk mengikuti pendidikan dasar. 

Pendidikan anak pada usia dini (PAUD/TK) adalah pemberian upaya untuk menstimulasi, membeimbing mengasuh dan pemberian kegiatan pembelajaran yang akan menghasilkan kemmpuan dan keterampilan anak pendapata Dr. YULIANI, tentang konsep PAUD h. 7. 

Pada anak usia dini telah ada kemampuan-kemampuan baik bidang motorik, kognitif, sosial, intelektual maupun keagamaan. Kemampuan-kemampuan tersebut akan berkembang dengan baik, manakala lingkungannya menunjang untuk memupuk berkembangnya kemampuan-kemampuan itu dengan baik. 

Perlu kita ketahui bahwa Usia dini yaitu usia lahir sampai enam tahun, merupakan usia yang sangat menentukan dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Usia itu sebagai usia penting bagi pengembangan intelejensi permanen dirinya. Mereka juga mempu menyerap informasi yang sangat tinggi menurut Dr. YULIANI, konsep dasar PAUD h. 7.

Ciri-Ciri Umum Anak Usia Dini

Menunrut para jiwa tersebut, bahwa ciri-ciri umum anak usia dini (AUD) itu adalah mereka pada masa peka, masa egoisentris, maka suka meniru, masa berkelompok, masa berekploitasi dan masa pembangkangan. 

Kemampuan-Kemampuan yang dimiliki Anak Usia Dini

Disamping itu bahwa Anak Usia Dini mempunyai atau ada kemampuan-kemampuan yang dimiliki pada anak PAUD diantaranya : 
  1. Mulai menyadari hak dan kepentingan orang lain (3 tahun) 
  2. Mulai mengetahui aturan-aturan (3 tahun)
  3. Rasa ingin tahunya kuat (3 tahun)
  4. Dapat menunjukkan rasa sayang kepada orang lain (3 yahun) 
  5. Suka meniru dan berminat pada kegiatan orang lain (3-4 tahun) 
  6. Mampu melaksanakan perintah lisan tiga kali berturut-turut dengan benar (3-4 tahun)
  7. Mampu berfantasi dan berimajinasi (4-5 tahun) 
  8. Menyukai minat yang tinggi dalam bermain peran (4-6 tahun)
  9. Berkaitan dengan permainan sosial, biasanya mampu bekerja sama, bermusawarah (4-6 tahun)
  10. Jika keagamaannya bersifat resektif (menerima) meskipun banyak bertanya (5-6 tahun) 
  11. Penghayatan keagamaan belum mendalam, meskipun telah melakukan atau berpartisipasi dlam berbagai kegiatan ritual (5-6 tahun)
  12. Hal ketuhanan di pahamkan secara ideasencritei (menurut hayalan pribadinya) 
  13. Dapat membaca nyaring dengan lafal dan intonasi yang wajar (6 tahun) 
  14. Dapat mendeklamasikan dan melagukan puisi
  15. Anak mengerti bahwa beberapa kata mempunyai arti dan fungsi (6 tahun)
  16. Kemampuan untuk peka terhadap perasaan dan kebodohan orang lain 
  17. Perlu di ingat, bahwa anak usia ini dalam menerima pengetahuan masih disertai dengan permainan karena daya pikirnya masih terbatas dan lain-lain.
Dari paparan gejala-gejala kejiwaan atau tingkah laku PAUD ini, maka para pembina Kanak-Kanak Wahidiyah hendaknya dapat mensikapi dengan mengarahkan kepada anak-anak tersebut. 

Misal : anak yang suka meniru mendorong kepada para pembina Kanak-Kanak Wahidiyah untuk berperilaku yang baik, para pembina Kanak-Kanak Wahidiyah harus konsekwen antara ucapan dan tindakannya, sebab akan ditiru oleh anak-anak. 

Adapun sikap anak yang ingin tahu, harus di sikapi dengan baik, melayani pertanyaan-pertanyaan mereka dengan alasan yang bisa diterima oleh akal mereka. 

Untuk anak yang suka pada permainan peran, mungkin bisa dilatih menjadi guru, menjadi imam mujahadah Wahidiyah, menjadi MC dalam acara-Acara Wahidiyah yang sudah dibimbingkan oleh Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA, KH. Abdoel Madjid Ma'roef RA. dan pada kegiatan lain sebagainya yang sudah umum dikalangan Pengamal Sholawat Wahidiyah atau diluar Wahidiyah.
Mengingat dalam diri anak-anak ada rasa menerima keagamaan, maka anak sudah waktunya di ajari tentang : 
  • Ibadah Mahdloh, 
  • Ajaran Sholawat Wahidiyah yaitu ajaran Lillah Billah, Lirrosul Birrosul dan seterusnya 
  • Diajarai surat-surat pendek dan lain sebagainya. 
Tentunya dalam diri seorang anak yang telah ada kesadaran adanya hak atau kepentingan orang lain, ini berarti pembina Kanak-Kanak Wahidiyah perlu menyampaikan kewajiban dan hak dalam hubungan dengan orang lain.
Pendekatan semua gejala kejiwaan kejiwaan/tingkah laku yang telah dipaparkan Wahidiyah.me di atas, para pembina Kanak-Kanak atau Seksi Pembina Kanak-Kanak Wahidiyah sangatlah perlu mengarahkan kondisi anak tersebut dengan Ajaran Wahidiyah atau Ajaran Sholawat Wahidiyah yang telah dibimbingkan oleh Muallif Sholawat Wahidiyah agar anak sejak usua dini sudah terbiasa tidak lepas dari Tugasnya sebagia manusia.

FASE USIA SEKOLAH DASAR (SD) 

Dalam Fase anak-anak dalam Usia Sekolah Dasar (SD) ini Wahidiyah.me akan memaparkan pendapat Dr. H. Syamsu Yusuf dan Drs. H. Ahmad Fauzi sebagaimana pada Fase Usia Dini atau Usia TK, tetapi tidak semua gejala-gejala kejiwaan atau tingkah laku dalam Wahidiyah.me penulis utarakan akan tetapi, kami ambil gejala-gejala kejiwaan anak yang bisa dikembangkan dengan pembinaan Kanak-Kanak Sholawat Wahidiyah atau Pembinaan Kanak-Kanak Wahidiyah.

Menurut Para Ahli tentang Fase Usia Sekolah Dasar

Menurut para ahli usia sekolah dasar itu 6-12 tahun, pada usia ini anak sudah dekat mereaksi rangsangan intelektual, daya berfikir sudah berkembang kearah berpikir konkrit dan rasional. Usia dini merupakan masa berkembang pesatnya kemamouan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata. Pada usia ini anak mempunyai kesanggupa menyesuaiakan diri sendiri dengan sikap kerjasama dan mau memperhatikan kepentingan orang lain. Keinginan anak bertambah kuat untuk diterima menjadi anggota kelompok. 

Menginjak usia ini anak milai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima di masyarakat, dia mulai belajar mengendalikan ekspresi emosinya. 

Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, termasuk pula tingkah laku belajar emosi yang positif seperti : 
  • Perasaan senang, 
  • Bergairah, 
  • Bersemanagat, 
  • Ingin tahu dan sebagainya
Akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap belajar. Demikian sebaliknya, bila emosi negatif yang menyertai individu, maka proses belajar akan terhambat. 

Anak usia dini mulai mengenal konsep moral (mengenai benar, salah, atau baik buruk). sehingga perlu dikembngkan kesadaran adanya akibat perbuatan baik ataupun perbuatan buruk diantaranya : 
  • Sikap keagamaannya bersifat reseptif disertai dengan pengertian.
  • Pandanggan dan paham ketuhanan diperoleh secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman kepada indikator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungannya. Kwalitas keagamaan anak akan dipengaruhi oleh proses pembentukan atau pendidikan uang diterimanya. 
  • Pada usia dini, ada kecenderungan memuji diri sendiri 
  • Anak suka membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.
  • Pada usia 6-8 tahun anak menghendaki nilai raport yang baik, tanpa mengingat prestasinya memang pantas atau tidak.
  • Anak usia SD ini, amat reaktif ingin tahu, ingin belajar. 
  • Menjelang akhir masa ini telah ada minat pada hal-hal dan mata pelajaran khusus yang oleh para ahli ditafsirkan mulai menonjolnya faktor-faktor/bakat bakat khusus sampai kira-kira usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang-orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. 
  • Pada masa ini anak (usia 10-12 tahun) memandang (nilai angka raport) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah. 
  • Pada ahir masa ini biasanya disebut masa poeral.
  • Tingkah laku anak-anak poeral di tunjukkan untuk berkuasa. Yang di idam-idamkannya adalah sikuat, sijujur, si juara. 
  • Sikap tingkahlaku anak poeral juga ekstravers, berorientasi diluar dirinya, hal ini mendorong untuk mencari teman sebaya guna memebuhi kebutuhan psikisnya. Pada mereka dorongan bersaing besar sekali karena masa ini diberi arti “Competitive Socialisation.”
  • Anak poeral menerima otoritas orang tua dan guru sebagai suatu hal yang wajar, karena itu para ortu dan pembina diharapkan oleh mereka untuk berbuat adil. 
Dari uraian/pendapat ahli tersebut di atas maka para pembina kanak-kanak wahidiyah sangat perlu untuk meningkatkan penjelasan mengenai ajaran Sholawat wahidiyah pada anak anak usia SD ini, hal ini disebabkan daya intlektualnya sudah lebih tinggi dan nasionalanya.

Para pembina Kanak-Kanak Wahidiyah perlu mengarahkan dengan bijak

Mengenai adanya gejala kejiwaan yang kurang positif, para pembina Kanak-Kanak Wahidiyah perlu mengarahkan dengan bijak dengan disertai alasan-alasan yang bisa diterima oleh akal mereka. Mengingat anak usia SD ini telah mengenal konsep moral maka para pembina Kanak-Kanak Wahidiyah, perlu menyampaikan kaidah-kaidah agama yang halal dan yang haram. 

Kwalitas keagamaanna seorang Anak-Anak Usia Dini akan dipengaruhi oleh proses pembentukan atau pendidikan

Adapun kwalitas keagamaanna seorang Anak-Anak Usia Dini akan dipengaruhi oleh proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya, oleh karena itu para pembina Kanak-Kanak Wahidiyah harus secara intensif memberikan arahan-arahan masukan-masukan tentang pengetahuan dan pengalaman keagamaan pada merek (ajaran-ajaran Wahidiyah) menyikapi gejala kejiwaan yang mulai tumbuh, sikap kerjasama dan mau memperhatikan kepentingan orang lain, maka pembina perlu memberi arahan dan meningkatkan rasa kepedulian terhadap masyarakat (permasalahan-permasalahan masyarakat, utamanya permsalahan anak-anak). 

Perasaan anak yang ingin tahu, ingin belajar banyak hal harus direspon pembina  Kanak-Kanak Wahidiyah dengan baik jangan dianggap sepele. Salah satunya Beri mereka masukan-masukan ilmu pengetahuan yang positif dan bermanfaat. Insya Alloh ajaran-ajaran Wahidiyah syarat dengan ilmu pengetahuan yang bermanfaat. 

Keinginan anak untuk berkompetitif, perlu kita sikapi dengan baik, adakan seleksi atau lomba-lomba seperti baca puisi, kiro’atul qur’an secara tartil, lomba mujahadah, lomba sholat, lomba tahlil dan sebagainya. 

Dengan paparan gejala-gejala kejiwaan atau tingkah laku tersebut di Wahidiyah.me ini diharapkan pembina kanak-kanak Wahidiyah lebih meningkat kwalitasnya khususnya pada Fase Usia Sekolah Dasar ini. 

FASE USIA SEKOLAH MENENGAH/MASA REMAJA

Pendapat Dr. H. Syamsu dan Drs. H. Ahmad Fauzi tentang gejala-gejala kejiiwaan anak pada fase usia sekolah menengah ini, yang pada dsarnya tidak ada perbedaan prinsip. Oleh sebab itu penulis memaparkan pendapat-pendapat dua orang ahli ilmu jiwa ini untuk di ambil hal-hal yang ada korelasinya dengan pembinaan kanak-kanak Wahidiyah.

Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja, hal ini dikarenakan usia remaja itu berkisar antara 12-22 tahun, para ahli ilmu jiwa mengelompokkan usia remaja ini menjadi tiga, yakni : 

1. Remaja awal usia 12-15 tahun (pra remaja) 
2. Remaja Madya usia 15-18 tahun (remaja) 
3. Remaja Akhir usia 19-22 tahun

Menurut Salzman bahwa, remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung pada orang tua ke arah kemandirian (independen), minat seksual, perenungan diri, perhatian terhadap nilai-nilai estetika dan isu-isu moral. 

Pada masa remaja awal ini, ditandai oleh sifat-sifat negatif remaja. Sifat negatif tersebut: kurang suka bekerja, kurang suka bergerak, lekas lemah menarik diri dari masyarakat, suka tidur. 

Dalam tinjauan psikologi Erikson berpendapat bahwa masa remaja berkaitan erat dengan perkembangan perasaan atau kesadaran akan jatidirinya. Remaja dihadapkan pada pertanyaan yang menyangkut keberadaan dirinya. Seperti : siapa saya, bagaimana masa depan saya, bagaimana peran di masyarakat, bagaimana kehidupan beragama.
Pada masa remaja, pengaruh orang tua sudah berkurang karena remaja sudah masuk kelompok teman sebaya, dalam rangka mencapai perkembangan kemandiriannya. Selama periode ini, kelompok sebaya dipandang dapat memberikan imbalan sosial yang lebih menarik dibandingkan dengan keluarganya.

Pada masa ini ada kecenderungan untuk mengikuti opini, pendapat dan kebiasaan orang lain (teman sebaya). 

Jika remaja masuk pada kelompok teman sebaya yang positif berperilaku moralis atau agamis, maka remaja tersebut kemungkinan besar akan menampilkan pribadinya yang baik. 

Ditinjau dari segi kognitif menurut (menurut Pioget) masa remaja sudah mencapai tahap operasi formal (operasi kegiatan-kegiatan mental tentang berbagai gagasan). Secara mental remaja telah dapat berpikir logis tentang berbagai gagasan yang abstrak.

Pada masa remaja awal, terjadi perubahan jamani yang cepat, sehingga memungkinkan terjadinya kegoncangan emosi, cemas dan hawatir bahkan kepercayaan agama juga mengalami kegoncangan. Kegoncangan dalam keagamaan ini muncul disebabkan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal kaitannya dengan matangnya organ seks yang mendorong remaja untuk memenuhi kebutuhan tersebut.  Disisi lain ia tahu perbiatan itu dilarang agama. 

Sedangkan faktor eksternal berkaitan dengan budaya masyarakat yang tidak jarang bertentangan dengan nilai-nilai agama. 

Sedangkan pada remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosi.
Pada masa remaja (remaja madya) muncul dorongan-dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat dinilai baik oleh orang lain. 

Hal ini didorong rasa puas dengan adanya penilaian positif dari orang lain tentang perbuatannya. Menurut Kudwi Arti Stiono (suara pembaharuan 7 maret 1997) pada umumnya remaja berada pada tingkatan konfensional atau tahap ketiga, yaitu berprilaku sesuai dengan tuntunan dan harapan kelompok. Jika kelompok itu menganut nilai-nilai moral yang baik, maka remaja itu akan beik, jika kelompok itu kelompok brutal, sudah pasti peristiwa tawuran, perkelahian antar kelompok remaja akan terjadi. 

Menurut Dr. Samsu ada dua faktor yang dapat meningkatkan perkembangan moral remaja: 
  1. Orang tua yang mendorong anak untuk berdiskusi secara demokratik dan terbuka mengenai berbagai isu.
  2. Orang tua yang menerapkan disiplin terhadap anaknya dengan teknik berfikir induktif 
Adapun Faktor yang terakhir yaitu Orang tua yang menerapkan disiplin terhadap anaknya dengan teknik berfikir induktif ada beberapa bagian yaitu : 
  • Masa remaja akhir, sudah mampu memahami dan mengarahkan diri untuk mengembangkan dan memelihara identitas dirinya. 
  • Remaja berusaha untuk bersikap hati-hati dalam berperilaku memahami kemampuan dan kelemahan dirinya. 
  • Meneliti dan mengkaji makna, tujuan dan keputusan jenis manusia seperti apa yang ia inginkan.
  • Memperhatikan etika masyarakat, keinginan orang tua dan sikap teman-temannya.
  • Mengembangkan sifat-sifat pribadi yang di inginkan.
Semoga dengan uraian Wahidiyah.me ini bisa memberikan banyak manfaat terutama lebih faham dengan Psikologi Perkembangan Anak Dalam Pengamalan Sholawat Wahidiyah yang sudah kami utaran di atas dan bisa menambah wawasan kita bersama khususnya dalam perjuangan kesadaran kepada Alloh Wa Rosuulihii Sholallohu 'Alaihi Wa Sallam.