√ Revitalisasi Mujahadah Usbuiyah Kanak-Kanak

Islam

Revitalisasi Mujahadah Usbuiyah Kanak-Kanak

Ibnu Rusyd
Saturday, August 17, 2019

Ad1

Ad2

Revitalisasi Mujahadah Usbuiyah Kanak-Kanak

Revitalisasi Mujahadah Usbuiyah Kanak-Kanak - Mungkin anda masih bertanya-tanya mengenahi Revitalisasi dalam Mujahadah Usbuiyah oleh Kanak-kanak dalam pengamalan Sholawat Wahidiyah yang sebelumnya sudah kita bahas bersama tentang pelaksanaan Mujahadah Usbuiyah. 

Mari sebelum kita lebih jauh tentang Revitalisasi Mujahadah Sholawat Wahidiyah dalam Usbuiyah Kanak-Kanak, kita kaji dulu tentang apa itu Revitalisasi. Baca JugaMujahadah Usbuiyah Pengamal Sholawat Wahidiyah

Kata yang tidak asing bagi kita yaitu kata Revitalisasi, Kata Revitalisasi secara bahasa adalah proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali. Maka dalam Revitalisasi mujahadah usbuiyah kanak-kanak adalah proses menggiatkan atau menjadikan penting atau membangun kembali mujahadah usbuiyah kanak-kanak sebagai wahana revolusi mental hampir sama dengan konsep bapak Kita Presiden RI Ke-7 Bapak Ir. H. Joko Widodo dan penanaman karakter anak bangsa berbasis Lillah Billah, Lirrosul Birrosul

Revitalisasi Mujahadah Usbuiyah Kanak-Kanak
Revitalisasi Mujahadah Usbuiyah Kanak-Kanak
Mengapa dalam hal Revolusi Mental sangatlah penting bagi kita semua khususnya pada pembahasan kali ini kita tujukan pada kanak-kanak sebagai generasi penerus bangsa bahkan Dunia, apa lagi penanaman Karakter Bangsa pada anak berbasis LILLAH BILLAH, LIRROSUL BIRROSUL dianggap penting. Baca Juga : Ajaran Sholawat Wahidiyah

Coba kita perhatikan dalam kondisi sekarang ini, Pendidikan lebih mementingkan masalah yang bersifat materi dan ilmu pengetahuan daripada etika, akhlak dan moral, sedangkan persoalan yang sangat penting jarang dilakukan badahal sangat menentukan yaitu revolusi mentall dan juga penanaman karakter Bangsa pada generasi penerus kita yang berbasis Lillah Billah, Lirrosul Birrosul. Pada zaman sekarang ini bisa kita lihat bahwa tingginya dekadensi moral di semua elemen masyarakat mencerminkan adanya krisis etika. Pendidikan seharusnya dapat menyentuh berbagai aspek yaitu 

  • Jasmani, 
  • Rohani, 
  • Mental, 
  • Moral, 
  • Psikis dan 
  • Fisik. 

Jika aspek Jasmani, Rohani, Mental, Moral Psikis, dan fisik tidak menyentuh, maka pendidikan  tak ubahnya seperti pengajaran. 

Pendidikan Moral

Dalam pendidikan moral (moral education) keseharian sering dipakai untuk menjelaskan aspek-aspek yang berkaitan dengan etika. Pembelajarannya lebih banyak disampaikan dalam bentuk konsep dan teori tentang nilai benar (right) dan nilai salah (wrong). Sedangkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari tidak menyentuh ranah afektif (pembentukan sikap) dan psikomotorik (pembiasaan) dalam perilaku anak. Padahal sebenarnya pendidikan moral/akhlak, harus menyentuh sampai pada ranah afektif dan psikomotorik Dalam perilaku anak.

Nilai benar dan salah diukur oleh nilai-nilai islami yang harus merujuk pada Al-Qur’an dan As-Sunnah (dalam istilah wahidiyah harus Lillah-Billah, Lirrosul-Birrosul). Jika perilaku kaum Muslimin sudah tidak merujuk lagi pada Al- Qur’an dan As-Sunnah, dapat dikategorikan sebagai kaum yang tidak bermoral atau berakhlak.

Menanam Karakter Anak Bangsa berbasis Lillah Billah, Lirrosul Birrosul

Sebelum kita lanjutkan mungkin ada yang belum jelas dengan istilah Lillah Billah, Lirrosul Birrosul, maka dalam kesempatan kali ini kami utarana tengtang apa itu Lillah Billah dan Lirrosul Birrosul.

Lillah Billah

Apa itu yang dinamakan konsep Lillah Billah kok sampai sangat perlu untuk diketahu dan sangat dasar dalam mewujudkan generasi yang luar biasa atau generasi Emas.

LILLAH, Artinya : segala perbutan apa saja lahir maupun batin, baik yang hubungan langsung kepada Alloh wa Rosuulihiin shollallohhu ‘alaihi wasallam, maupun yang hubungan didalam masyarakat, bahkan dalam hubungan dalam sesama makhluq, baik kedudukan hukunnya wajib, sunnah atau mubah asal bukan perbuatan yang tidak diridloi Alloh, bukan perbuatan yang melanggar hukum/norma-norma kehidupan, melaksanakannya supaya disertai niat beribadah mengabdikan diri kepada Alloh dengan ikhlas tampa pamrih!. LILLAAHI TA’ALA !.

Baik pamrih ukhrowi, lebih-lebih pamrih duniawi !. Jadi hidup kita 100% harus kita curahkan untuk beribadah mengabdikan diri kepada Alloh dengan disertai niat LILLAH tersebut. Adapun perbuatan yang melanggar hukum melanggar undang-undang, perbuatan yang terlarang atau merugikan, seperti maksiat atau mungkarot, sama sekali tidak boleh diniati ibadah LILLAH; dan kita harus berusaha menjauhi dan menghindari. Di dalam menjauhi dan menghindari itulah yang harus dengan niat ibadah LILLLAH !. Demikian seterusnya didalam segala perbuatan apa saja. Termasuk makan, minum, bekerja, tidur, istirahat, dan sebagainya !


IKHLAS TANPA PAMRIH : semata-mata karena dan untuk Alloh. Tidak berarti menutup pintu harapan ingin pahala, surga dan sebagainya atau takut siksa neraka dan sebagainya. Kita harus ingin kepada hal-hal yang baik yang menguntungkan dan harus takut pada hal-hal yang buruk yang merugikan. Akan tetapi di dalam ingin atau takut itulah yang harus kita niati ibadah LILLAH, sebab kita memang diperintah supaya berharap pada pahala, surga dll, dan supaya takut kepada siksa, neraka dan dll. Jadi amal-amal ibadah kita apa saja seperti sembahyang, puasa dan baca Al-Qur’an, dzikir, baca sholawat, menolong orang dan sebagainya, jangan sampai didorong oleh rasa ingin atau takut, melainkan didorong oleh pengabdian diri, niat ibadah kepada Alloh dengan ikhlas tanpa pamrih!.

Apa itu Billah

Sekarang apa itu Billah, beda dengan Lillah adapun Billah yaitu dalam segala kehidupan, gerak-gerik kita atau perbuatan atau tindakan apa saja lahir dan batin, supaya dalam hati senantiasa merasa bahwa yang menciptakan dan menitahkan serta menggerakkan itu semua adalah ALLOH MAHA PENCIPTA !. Jangan sekali-kali mengaku atau merasa bahwa kita mempunyai kemampuan sendiri.


Itu mutlak, dalam segala hal supaya merasa begitu. Baik dalam keta’atan maupun maksiat, harus merasa BILLAH !. tampa kecuali !. ini kita harus sadari!. Itu sedikit gambaran tentang Lillah dan Billah.

Lirrosul dan Birrosul

Baru saja kita ketahui tentang Konsep Lillah dan Billah, dalam konsep Lirrosul dan birrosul ini tidak bisa lepas daripada Lillah Billah atau disamping niat ibadah LILLAH seperti dimuka, supaya juga disertai dengan niat LIRROSUL, yaitu niat mengikuti tuntunan Rosululloh shollallohu alaihi wasallam. 


Asal, bukan perbuatan yang tidak diridloi Alloh, bukan perbuatan yang merugikan. Banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menerangkan LIRROSUL.

Adapun Birrosul penerapannya seperti BILLAH keterangan dimuka, akan tetapi tidak mutlak dan menyeluruh seperti BILLAH, melainkan terbatas dalam soal-soal yang tidak dilarang oleh ALLOH wa Rosulihi sholallohu ‘alaihi wasallam. Jadi dalam segala hal apapun, segala gerak-gerik kita lahir dan batin, asal bukan hal yang dilarang oleh Alloh wa Rosulihi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam disamping sadar BILLAH kita supaya merasa bahwa semuanya itu mendapat jasa dari Rosulullohu Shollallohu ‘Alaihi Wasallam inilah yang dinamakan dengan Konsep Birrosul!.

Revolusi Mental dan menanam Karakter Anak Bangsa

Kembali lagi pada pembahasan tentang Revolusi Mental, bahwa perkara yang penting ini mungkin ada pertanyaan : 

Siapakah kelompok yang bertanggung jawab untuk merevolusi mental serta menanam karakter anak bangsa yang berbasis Lillah Billah, Lirrosul Birrosul? 

Menurut para ahli pendidikan bahwa pendidikan anak itu menjadi tanggung jawab tiga kelompok lingkungan, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat. 

Sehubungan dengan itu maka di website Wahidiyah.me akan di uraikan tentang:
  1. Peran dan tanggung jawab pendidikan anak di lingkungan keluarga dan sekolah.
  2. Peran dan tanggung jawab pendidikan anak di lingkungan Masyarakat.
  3. Pentingnya kerjama sama antara keluarga dengan masyarakat dalam pendidikan anak.
Dalam kesempatan kali ini akan dibahas satu persatu dalam artikel yang berkelanjutan, dalam kesempatan kali ini kita fokus pada "Peran dan tanggung jawab pendidikan anak di lingkungan keluarga dan sekolah" akar lebih jelas dan lenkap pembahasan di Website Wahidiyah.me.

Peran dan tanggung jawab pendidikan anak di lingkungan keluarga dan sekolah

Pendidikan dilingkungan keluarga adalah pendidikan yang pertama dan utama, karena kesempatan yang pertama belajarnya anak adalah di lingkungan keluarga, bukan di luar lingkungan keluarga. 

Sejak kecil bahkan sejak dalam kandungan si anak telah mendapatkan pendidikan dari ibunya, sampai anak bisa bergaul dengan temannya (diluar lingkungan keluarga), hal ini bisa di lihat pada tindakan anak yang sering meniru tindakan orang tua atau keluarganya. 

Misal; Ketika orang tua makan sambil berdiri atau jalan, maka anak akan menirukannya. Jika orang tua rajin sholat, mujahadah maka anak menirukan atau ikut-ikutan sholat dan mujahadah.

Disamping itu, kesempatan untuk mendapatkan pendidikan relatif lebih lama dibanding kesempatan pendidikan diluar lingkungan keluarga. Sehingga sangat tidak dibenarkan bagi orang tua membiarkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang hanya mengikuti kodratnya tanpa ada bimbingan baik dari orang tua sendiri maupun dari orang lain yang dipercaya untuk membinanya.

Di dalam kodratnya seorang anak memiliki dua potensi, yaitu potensi positif (perilaku yang baik/moral/akhlaq) dan potensi negatif (prilaku yang tidak baik). untuk memanifestasi potensi positif pada diri anak maka anak perlu diberikan pendidikan kesadaran kepada Alloh SWT, karena kesadaran kepada Alloh SWT adalah sumber segala potensi positif maupun negatif.

Disamping menanamkan pendidikan kesadaran kepada Alloh SWT juga perlu diberikan pendidikan kesadaran kepada Rosululloh SAW sebagai utusan yang membawa petunjuk-petunjuk dari Alloh SWT.

Rosululloh SAW bersabda:
يَا مَعْشَرَ اْلمُسْلِمِيْنَ، مَنْ رَّزَقَهُ اللهُ بِوَلَدٍ فَعَلَيْهِ بِتَاْءدِيْبِهِ وَتَعْلِيْمِهِ
 فَان مَنْ عَلَّمَ وَلَدَهُ وَاَدَّبَهُ رَزَقَهُ اللهُ شَفَاعَتَهُ
 (وَمَنْ تَرَكَ وَلَدًا جَاهِلًا كُلُّ ذَنْبٍ عَمِلَهُ عَلَيْهِ، (رواه البخاري

"Wahai kaum muslimin barang siapa di karuniai anak oleh Alloh, maka wajib baginya mendidik adab dan mengajari anaknya ilmu pengetahuan (agama), maka sesunguhnya barang siapa mengajari ilmu pengetahuan (agama) dan mendidik adab kepada anaknya maka Alloh memberikan pertolongan kepadanya, dan barang siapa meninggalkan anak dalam keadaan bodoh (tidak mengenal ilmu agama) maka segala dosa yang telah dilakukan anaknya dia ikut menerima adzab/akibatnya” (HR. Bukhori).

Jadi jika orang tua atau keluarga tidak mendidik anaknya tentang kesadaran kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka segala dosa yang telah dilakukan anaknya, orang tua ikut menerima adzabnya, akibat tidak memberikan pendidikan kesadaran kepada Alloh dan Rosul-Nya.

Pendidikan kesadaran kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya SAW

Pendidikan kesadaran kepada Alloh SWT dan Rosul-Nya SAW ialah Pendidikan yang mengantarkan manusia menuju sadar atau ma'rifat atau mengenal kepada Alloh SWT wa Rosulihi SAW. Baca Juga : Sholawat Wahidiyah salah satu Solusi menyelesaikan Masalah dan penerapannya dalam Kehidupan

Dalam suatu maqolah oleh ibnu ruslan di kitab az-zubad Disebutkan: 


Awwalu Wajibin Alal Insani Ma'rifatu Ilahin Bistiqoni 

"kewajiban manusia yang pertama ialah ma'rifat kepada Allah dengan yakin"

Pendidikan dilingkungan sekolah seperti telah kita maklumi Bersama, bahwa si anak akan mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman dari guru dan temannya dilingkungan sekolah sedangkan tidak semua lembaga pendidikan sekolah memberikan pendidikan moral atau Akhlaq yang berbasis Lillah Billah, Lirrosul Birrosul sebagaimana yang kita jelaskan di atas.

Oleh karena itu maka para orang tua seyogyanya memilih lembaga pendidikan yang berbasis Lillah Billah, Lirrosul Birrosul, jika ternyata para orang tua kesulitan untuk mendapatkan lembaga pendidikan yang seperti itu maka ortu atau keluarga perlu mencari pendidikan Moral atau Akhlaq berbasis Lillah Billah, Lirrosul Birrosul di lingkungan masyarakat. 

Inilah sedikit banyak kita jelaskan di wahidiyah.me tentang Revitalisasi Mujahadah Usbuiyah Kanak-kanak yang fokus pada bagian pertama yaitu tentang 'Peran dan tanggung jawab pendidikan anak di lingkungan keluarga dan sekolah" dan pada kesempatan yang berbeda akan kita jelasnyak tentang "Peran dan tanggung jawab pendidikan anak di lingkungan Masyarakat" dan Pentingnya kerjama sama antara keluarga dengan masyarakat dalam pendidikan anak. Semoga dengan tulisan yang serba terbatas ini di Wahidiyah.me bisa memberikan banyak manfaat yang sebesar-besarnya.